CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 110


__ADS_3

Adiba baru saja selesai menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya, sedangkan Rendra tengah berada di dalam kamar mandi saat ini. setelah menyiapkan segala keperluan suaminya, Adiba berniat untuk keluar dari kamar tetapi ponsel Rendra berbunyi membuatnya mengurungan niat dan lebih memilih untuk melihat ponsel suaminya tersebut.


Dia berjalan perlahan menuju kearah ponsel yang bertengger di atas nakas meja itu, Adiba langsung meraih ponsel tersebut melihat siapa yang menelpon saat ini. tak ada namanya disitu sebuah nomor asing yang tertera di layar ponsel suaminya.


“Apa aku angkat saja, siapa tahu penting” gumam Adiba dan langsung mengangkat panggilan tersebut.


“Hai apa kabar Beb, lama sekali mengangkat panggilanku” terdengar suara manja diseberang sana, seketika mata Adiba melebar dan mulutnya terbungkam begitu saja mendengar suara perempuan manja memanggil suaminya.


“Halo beb, kau disana kan? aku sebentar lagi datang ke negaramu. Bukannya orang tuaku sudah menemui orang tuamu” lagi suara itusemakin mengejutkan Adiba.


“Siapa anda beraninya memanggil suamiku beb, kau pelakor atau simpanan suamiku” tukas Adiba yang geram tak bisa menahan emosinya mendengar suara yang sengaja dimanjakan.


“Maaf anda yang siapa? Kenapa nomor Rendra kau yang jawab” tukas suara di seberang sana.


“Saya istrinya paham, dasar orang sinting.” Kesal Adiba dan mematikan ponselnya begitu saja menaruhnya di nakas kembali. Dia perlahan duduk di pinggir ranjang, tubuhnya terasa lemas mendengar suara perempuan yang menelpon Rendra barusan, dan apa tadi orang tua perempuan itu menemui mertuanya.


“Perempuan itu siapa? Dan kenapa orang tuanya menemui Papa Frans dan Mama Citra, kenapa mertuaku tidak bilang apa-apa” batin Adiba, dan dirinya terasa gelisah memikirkan semua itu.


“Sayang, Are you oke?” ucap Rendra yang berjalan mendekati Adiba yang duduk terdiam di pinggir kasur mereka. Rendra sendiri baru saja keluar dari kamar mandi, dia masih menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


Adiba langsung berbalik menatap sang suami, kilatan tajam ia tujukan pada suaminya.


“kamu punya selingkuhan? Kalau punya bilang saja nggak usah kamu sembunyikan” tukas Adiba langsung berdiri dan mengintrogasi suaminya.


“Selingkuhan apa sih sayang, kamu kalau ngomong jangan asal” Rendra sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adiba, ia tampak terkejut tak percaya dengan ucapan istrinya yang langsung menuduhnya seperti itu.


“Udahlah nggak usah bohong, kamu mau nikah lagi. Kalau kamu mau nikah lagi lebih baik ceraikan aku saja” pungkas Adiba atanya benar-benar tampak tak bersahabat.


“Astaga, kamu ngomong apa sih. Siapa juga yang mau nikah lagi, nggak usah asal bicara deh kamu.”


“Aku nggak asal bicara, barusan ada perempuan nelpon kamu. manggil kamu beb segala, ditambah orang tuanya sudah bertemu dengan orang tua kamu. kamu sama orang tua kamu sengaja sembnyiin dari aku” cercar Adiba menatap Rendra dengan mata merahnya menahan bulir air mata yang kemungkinan akan keluar dari pelupuk matanya saat ini. dimana dia membayangkan hal itu, apalagi coba yang bukan ia pikirkan soal Rendra yang akan menikha lagi, kedua orang tua saling bertemu apalagi kalau bukan membahs itu.


“Perempuan siapa sayang? kamu tenang dulu. kita ngomong baik-baik, ingat kamu lagi hamil itu jangan mikir aneh-aneh bisa nggak” tukas Rendra.


Rendra langsung berjalan cepat mendekat kearah ponselnya saat ini, karena Adiba diam saja sambil berusaha mengatur nafasnya.


“Siapa sih yang nelpon ngomong aneh-aneh sama kamu, kamu nggak usah dengerin omongan nggak jelas itu. siapa juga yang mau nikah lagi” ucap Rendra sambil mengecek ponselnya dan sesekali dia melihat Adiba yang tak menanggapinya sama sekali.

__ADS_1


..............................................................


“Dimakan” ucap Tama saat dia menaruh beberapa bingkisan makanan dan juga minuman di meja kerja Kania saat ini. apa yang dilakukan Tama itu tak luput dari tatapan rekan kerja yang lainnya. Kania yang tadinya tidak melihat kearah Tama, langsung melihat pria itu saat menaruh makanan dimejanya.


“Apa ini?” tanya Kania tak mengerti.


“Makanan kesukaanmu, habiskan” tukas Tama sebelum pergi.


“Tidak takut dilihat orang lain” cibir Kania sambil memperhatikan sekelilingnya.


“Kenapa harus takut,” ucap Tama tak menggubris tatapan pegawainya yang mencuri-curi pandang kearah mereka.


“Mau mu apa sih kak, kak Tama aneh tahu nggak beberapa hari ini” pungkas Kania.


“Ingin tahu isi hatimu yang masih ada namaku didalamnya” pungkas Tama,


“Aku pergi dulu, pekerjaanku banyak, habiskan anak kecil” ucap Tama sambil mengusap kepala Kania sebelum pergi, dan pria itu langsung pergi dengan melemparkan senyum manisnya pada Kania yang tertegun melihat itu.


“Apa-apaan itu, ah..asal kakak tahu hatiku masih berdebar buat kakak. Nih lihat makin berdebarkan sekarang” gumam Kania yang terpukau dengan ketampanan Tama, tangannya terus memegangi dadanya berdebar karena ulah Tama barusan.


“Wiih, ciee..dapat apa tuh dari pak bos. Kalian pacaran ya?” berbagai pertanyaan diajukan beberapa rekan Kania yang berada disitu.


“Belum..eh maksudnya nggak jangan asal bicara deh kalian. Sudah-sudah, lebih baik kalian kerja sekarang” ucap Kania dan langsung mengambil beberapa bingkisan makanan yang dibawa Tama tadi dan menaruhnya dibawah meja. senyum tak lepas dari bibirnya saat melihat makanan itu, dan melihat wajah Tama tadi yang menaruh keperdulian padanya.


......................................


Jam istirahat makan siang dihabiskan Rendra berdiam diri di sofa ruangannya, ia memijat kepalanya sendiri kepalanya begitu pusing saat ini. pagi-pagi tadi Adiba sudah marah padanya karena nomor tidak jelas yang menelponnya dan saat di kantor meetingnya gagal total, cliennya tak mau bekerja sama dengan perusahaannya ditambah saat ini menunggu Jeremy tak kunjung datang juga semakin membuatnya kesal.


“Siapa sebenarnya yang menlponku tadi pagi dan bilang hal-hal tidak jelas. Apa mungkin Gwen yang menelponku, tapi tidak mungkin nomornya sudah aku blokir” ucap Rendra dan kemudian menyangkalnya.


Tak berselang pintu ruangan terbuka, menampakkan wajah kesal Jeremy saat ini.


“Ada apa sih kak, tahu sendiri aku sedang sibuk” kesal pria itu.


“Kau pikir kau saja yang sibuk, cepat kemari dan tutup pintunya” tegas Rendra pada adiknya tersebut.


Jeremy menuruti perkataan sang kakak, dia langsung menutup pintu saat ini

__ADS_1


“Jangan bilang kakak mau bahas soal Gwen, perempuan sinting itu?” tukas Jeremy langsung.


“Tidak, kenapa kau membicarakan Gwen?”


“Bukan soal perempuan sining itu?”


Rendra menggeleng tanda dia tidak akan membahas perempuan itu.


“Kenapa kau membicarakan Gwen?” tanya Rendra yang curiga soal Jeremy yang tiba-tiba membahas perempuan bernama Gwen.


“Aku semalem nggak sengaja denger Papa marah-marah sama orang tua Gwen yang datang kerumah”


“Apa? orang tua Gwen datang kerumah. Kenapa?” Rendra cukup terkejut mengetahui hal itu.


“Aku tidak tahu, karena aku langsung mengajak orang tua calonku dan calonku ke halaman belakang saat dua orang tua perempuan sinting itu datang” jelas Jeremy.


“Kenapa orang tua Gwen datang kerumah, jangan-jangan yang menelponku pagi tadi Gwen dan bilang aneh-aneh pada Adiba” ucap Rendra yang langsung curiga kala memang benar Gwenlah yang menelponnya tadi pagi.


“Gila, perempuan itu sinting banget ternyata. Tapi bukannya dia bilang tidak suka padamu, terus kenapa sekarang dia ngejar-ngejar kamu. jangan-jangan dia..” ucap Jeremy menggantung sambil melihat kearah kakaknya.


“Jangan-jangan kenapa?”


“Jangan-Jangan dia dulu hamil anak kamu kak, dan sekarang dia minta tanggung jawab”


“Auggh sakit,.”erang Jeremy kesakitan sambil memegangi dahinya.


“jangan asal kamu, aku tidak pernah tidur dengannya” tukas Rendra menahan kekesalan terhadap adiknya yang bicara sembarangan.


“Yakin?” tanya Jeremy seakan tak percaya.


Rendra terdiam, sambil berpikir keras kalau dia benar-benar tak pernah menyentuh Gwen sama sekali.


Jeremy sendiri hanya memperhatikannya saja, dia mengamati wajah kakaknya yang tampak mengingat dengan keras soal itu


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2