CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 81


__ADS_3

Adiba sedang melihat kakaknya yang berada didalam kamar tengah di dandani oleh perias, ini sudah kedua kalinya Oki di rias untuk berganti baju setelah melangsungkan akad dia langsung ganti baju lagi.


Adiba melihatnya hanya diam saja, dia tidak sendiri melainkan bersama bunda Julia nya alisa bibinya yang mengurus dirinya selama ini.


“Kok diam aja sih anak bunda, kenapa?” tanya Julia saat melihat Adiba yang diam menatap kakaknya yang tengah dirias.


“Nggak pa-pa bun, cuman bayangin ibu aja pasti ibu senang lihat mbak Oki akhirnya nikah juga” jawab Adiba meskipun dia terlihat tidak inging mengungkapkan kegundahannya tapi bundanya itu pasti tahu apa yang dia rasakan terpaksa membuatnya jujur saat ini.


“Pastilah, dia juga pasti senang lihat Oki sama kamu sudah punya pendamping”sahut Julia memegang bahu anaknya itu.


“Udah ya nggak usah sedih terus nanti mbak kamu juga sedih loh lihat kamu begini, kasihan anak yang kamu kandung” lanjut Julia menatap sang anak yang langsung melihatnya saat dia berkata begitu.


“Bunda tahu kalau aku lagi hamil sekarang?” Adiba terkejut soal bundanya yang tahu dia saat ini tengah hamil tahu darimana bundanya itu.


“Iya bunda tahu, tadi bunda tanya sama Rendra kok kalian telat dateng nya habis darimana, terus dia cerita kalau habis ke dokter kandungan dulu” jelas Julia pada anaknya itu.


“Oh, aku kira bunda hebat benar langsung tahu kalau aku hamil”


“hehehe ya nggak lah, kalau Rendra nggak kasih tahu bunda nggak tahu. memang bunda paranormal” tukas Julia sambil tersenyum.


“Kalian lagi ngomongin apa?” ucap Oki yang berbalik melihat kearah Adiba dan juga Bibinya yang duduk di belakang dirinya itu. Oki yang sedari tadi tengah dirias kini sudah selesai dan membuatnya bisa berbicara dengan bibinya dan juga Adiba.


“Nggak ngomongin apa-apa kok Ki,” jawab Julia sambil berdiri dan mendekati keponakannya itu.


Begitu juga Adiba yang ikut berdiri menghampiri kakaknya dan juga bibinya itu,


“Kakak cantik banget” ucap Adiba yang terpukau dengan kakaknya yang mengenakan gaun pengantin.


“makasih adikku, mbak juga mau ngucapin makasih ya sama kamu karena mau datang kesini padahal mbak nggak bilang soal tanggal mbak nikah” ucap Oki sedikit sesal dalam ucapannya itu karena lupa untuk bilang tanggal pernikahannya pada sang adik.


“Nggak pa-pa kok mbak” lirih Adiba berusaha menyembunyikan kekecewaannya sebenarnya dia sedikit kecewa karena kakak satu-satunya tidak memberitahukan tanggal pasti pernikahannya.


“Nah itu yang ingin bibi tanya sama kamu sama ayah kamu, kenapa Kok Adiba sama Rendra nggak kalian beritahu tanggalnya waktu ketemu beberapa waktu lalu” cercar Julia pada Oki, jujur dia tidak terima jika anaknya seakan terbuang di keluarganya sendiri.


“Aku lupa mau ngasih tahunya bi, tapi aku ngomong sama ayah. Kata ayah iya dia mau ngasih tahu Adiba sama Rendra. Tapi ayah apa nggak ngasih tahu kamu dek?” ucap Oki yang memang memberitahu ayahnya untuk menghubungi Adiba kapan dia menikah.


“Nggak mbak, aku sama Rendra tahunya dari Papa Frans yang ngabari ku. Dia thu dari ayah, maaf ya mbak bukannya apa-apa tapi kenapa ayah malah nelpon ayah mertua aku daripada aku” ucap Adiba yang mencoba memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.


“Mbak nggak tahu dek, malah mbak kira ayah nelpon kamu langsung” Oki benar-benar tidak tahu apa alasan ayah mereka melakukan hal itu. apakah Frans masih belum menerima Adiba sepenuhnya sehingga tidak menelponnya langsung batin Oki melihat adiknya yang hanya diam setelah mendengar ucapannya.


“Ya udah mbak nggak pa-pa nggak usah dibahas, kalau begitu aku sekalian pamit ya mbak. Aku sama mas Rendra mau pulang dulu” pungkas Adiba dan langsung berpamitan.


Oki dan juga Julia yang mendengar hal tersebut tampak terkejut dengan ucapan Adiba barusan. Kenapa perempuan itu buru-buru untuk pulang.


“Loh kok sudah mau pulang, Kamu bru datang tadi loh, itu aja kamu telat Dib” Oki tampak terkejut dengan ucapan adiknya yang pamit untuk pulang.


“Iya sayang, kamu kan baru dateng bunda masih kangen sama kamu. semenjak kamu nikah kita jarang ketemu” timpal Julia sambil memegang tangan anaknya.


“Maaf ya mbak bun, soalnya mas Rendra ada pekerjaan juga disini jadi kita bertiga harus pulang duluan” Adiba berbohong soal itu, dia merasa moodnya sudah tidak bagus di tempat ini. ia merasa bukan keluarga lagi di rumah ayahnya entah mengapa dia merasa begitu yang jelas rasa asing begitu terasa saat ini.


“Yah kok gitu sih, kamu adik mbak satu-satunya masa nggak bisa nemenin bak sih Dib, mbak kira kamu bakalan menginap” Oki terlihat kecewa karena Adiba tidak bisa menemani dirinya saat ini.

__ADS_1


“Adik mbak Oki kan sekarang bukan aku aja mbak, ada anak ayah dari bunda lain”


“Maaf ya mbak, kalau gitu aku permisi ke depan” lanjut Adiba lagi, sebelum pergi dia memeluk kakaknya dan juga bundanya yang menatapnya sedih. Dia tahu pasti bundanya tahu apa yang dia rasakan saat ini,


Julia melihat Adiba yang pergi hanya bisa pasrah dan mencoba membuat Oki mengerti akan hal itu.


...............................................


Rendra berjalan menghampiri istrinya yang duduk di tepi temat tidur, dia membawakan segelas air putih untuk istrinya itu. bukan itu saja yang dia bawa tetapi coklat yang tengah dia pegang.


“Ini sayang minum dulu, nggak usah ngelamun terus” pungkas Rendra sambil memberikan segelas air itu.


“Rafka, ini nak coklatnya satu kali ini aja ya makan coklat jangan banyak-banyak” tambahnya sambil memanggil sang anak yang duduk di sofa menonton televisi yang menayangkan siaran kartun.


“Mana Papa, bawa sini” ucap Rafka dari tempatnya duduk.


“Sayang nggak boleh gitu, nggak boleh nyuruh orang tua” ucap Adiba menasehati anaknya.


“Tapi aku lagi nonton ma,” rengek Rafka.


“Udahlah sayang nggak pa...”


“mas jangan dimanjain, biar dia yang ambil sendiri. kita harus ngajari dia buat jadi kakak yang baik nantinya” sela Adiba menatap suaminya.


“Rafka, kan Rafka mau jadi kakak kan. Kalau jadi kakak jangan begitu dong sayang ambil sendiri ya. Kalau kakak nggak boleh begitu” ucap Adiba meminta sang anak untuk mengambil coklatnya sendiri.


“hemm” bocah itu tampak cemberut turun dari sofa dan berjalan mendekati papa dan Mamanya yang ada di kasur.


“Maafin Rafa Papa” ucap Rafka yang mengambil coklat dari tangan sang papa


“Iya Papa maafin, jangan cemberut begitu dong. Mama kan ngajari kamu biar jadi kakak yang baik, senyum dong” pungkas Rendra sambil memegang wajah anaknya .


Bocah enam tahun itu menuruti apa yang dikatakan Papanya, dia tersenyum meskipun terlihat memaksakan.


“Gitu dong anak Papa sama mama yang paling ganteng ini” Rendra langsung mencium sang anak dengan gemas, dan Adiba hanya tersenyum melihat itu moodnya yang tadi buruk kini perlahan mulai kembali baik melihat anak dan suaminya yang selalu menghibur


“Ya sudah sayang sana kamu nonton lagi di sofa” ucap Adiba meminta anaknya untuk kembali ke sofa.


“Sana sayang” pungkas Rendra.


“Oke Ma Pa” Rafka langsung menuruti saja apa yang diperintahkan kedua orang tuanya, dia memang bocah yang cukup mengerti situasi.


“Udah diminum sayang, masa kamu nggak menghargai aku” ucap rendra sambil menunjukkan wajah yang dibuat cemberut.


“Huh mulai drama kamu” ledek Adiba terkekeh melihat suaminya yang malah memeluknya manja.


“kan aku tukang drama, kamu sih dulu sering ngatain aku tukang drama” ucap Rendra sambil memeluk manja istrinya menaruh kepalanya didepan perut sang istri menciumi perut itu.


“Mas, Mas malu ah ada Rafka” Adiba sedikit mendorong Rendra agar tidak menciumi perutnya terus.


“hehehe iya ya, aku lupa. Habisnya kalau sama kamu aku merasa dunia hanya milik kita berdua” pungkas Rendra sambil nyengir menunjukkan giginya bak anak kecil.

__ADS_1


“Kamu sih mesum makanya begitu”


“Siapa yang mesum, mesum sama istri sendiri kan nggak salah” ucap Rendra tak mau kalah.


“Ya deh terserah kamu, kamu mau menang sendiri”


“Oh iya sayang aku lupa tadi Davin mau ngajak ketemu, di kebetulan ada pekerjaan di bogor. Katanya juga dia menginap di hotel ini”


“Davin? Teman kamu yang nggak jelas itu” ucap Adiba yang ekspresinya langsung berubah sinis.


“Iya nanti ke restauran bawah yok temui dia” ucap Rendra mengajak istrinya untuk bertemu dengan Davin.


“Nggak ah, kamu aja”


“Lah kok nggak, ayo dong sayang. Kamu kan istri aku, dia juga teman kamu dulu”


“Bukan teman aku ya, aku males mas ketemu dia. teman kamu nggak jelas semua, nanti kalau aku diledekin kayak mana”


“Nggak kan ada aku, mana berani dia ngeledek kamu, mau ya ketemu nanti di bawah”


“Ya udah deh mas terserah kamu aja,” ucap Adiba, dia lalu sedikit mundur kebelakang ia ingin rebahan sebentar rasanya badannya terasa berat saat ini.


“Kamu mau tidur sayang” ucap Rendra saat melihat pergerakan Adiba.


“Iya mas, aku ngantuk”


“Ya udah kamu tidur aja dulu, nanti kalau Davin sudah menghubungiku aku bangunkan”


“Bentar sayang, kamu nggak mau ganti baju dulu masa baju itu mau kamu pakai buat tidur” ucap rendra menghentikan istrinya yang sudah akan berbaring.


“Aku males ganti baju mas, nanti aja gantinya”


Rendra hanya diam saja melihat itu, dan dia beralih melihat kearah anaknya yang masih tenang menonton tv sambil memakan coklat di tangannya.


Adiba yang akan berbaring tiba-tiba saja tidak jadi dan dia duduk sambil melihat kearah anaknya juga. Rendra yang berbalik melihat Adiba yang tiba-tiba duduk menatap aneh istrinya itu.


“Kenapa sayang? Kamu mau sesuatu?”


“Nggak mas, itu Rafka mau tidur siang juga nggak”


“rafka, kamu mau tidur siang sama Mama nggak, Mama mau tidur” panggil Adiba pada sang anak yang langsung menoleh melihatnya.


“Nggak ma, nanti aku belum ngantuk”


“Ya sudah Mama tidur ya, kamu sama Papa aja” ucap Adiba dan kembali membaringkan dirinya.


Rendra sendiri tampak lesu, niatnya juga ikut berbaring sambil memeluk istrinya tapi terpaksa harus berjaga karena rafka tidak mau berbaring di kasur.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2