CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 125


__ADS_3

“Sebentar sayang” ucap Rendra dan mengalihkan pandangannya kearah ponsel, Adiba ang masih berada di pangkuan pria itu langsung berdiri dari duduknya dan dia menjauh dari suaminya yang tengah berbicara.


Moodnya sudah hilang untuk menggoda suaminya yang tampak sibuk dengan pekerjaannya, hal itu membuat Adiba berniat untuk tidur saja malas untuk menunggu Rendra.


“Ya cari yang lain, yang kerjanya bagus seperti Doni. Saya nggak mau tahu, dalam waktu dekat sudah ada sekertaris yang menggantikan Doni kamu tahu sendiri pekerjaan saya begitu banyak akhir-akhir ini” tegas Rendra berbicara serius pada orang diseberang sana.


“Alasan Doni resign karena apa? kenapa mendadak begini tanpa memberitahu saya langsung” pungkas Rendra yang sesekali melihat laptopnya.


“Dari yang dia jelaskan pada saya, dia ingin melanjutkan sekolahnya di luar negeri pak” jawab suara seorang pria yang ada diseberang sana.


“Ya sudah saya tidak mau tahu, carikan saya seketaris baru yang kompeten dan teliti dalam bekerja” perintah Rendra.


“Iya pak”


“Ya sudah, saya matikan” tukas Rendra dan langsung mematikan panggilannya dan langsung menaruh kembali ponselnya di meja kerja. Dia juga langsung tersadar soal istrinya tadi yang hendak menggodanya tapi kemana Adiba. Pandangan Rendra langsung melihat kearah tempat tidur, disana sang istri sudah berbaring.


“Sayang, ayo dilanjut. Kamu tadi sudah menggoda ku loh, masa nggak jadi” Rendra berjalan menghampiri Adiba yang memjamkanmatanya di tempat tidur.


Adiba diam saja tak menyahuti ucapan Rendra, Rendra perlahan menaikkan kakinya ketempat tidur didekat sang istri meniup pelan leher Adiba.


“Hemm, apa sih mas” Adiba mengusap lehernya yang ahbis di tiup rendra barusan,


“Ayo, di lanjut. Katanya anak-anak kita pengen ditengok sama papanya, bangun dong masa kamu tidur” ucap Rendra sambil memegang lengan istrinya meminta perempuan itu untuk bangun.


“Aku ngantuk, udah nggak minat lagi. Kamu sih pakai ngangkat panggilan tadi” jawab Adiba sambil sesekali memejamkan matany. Dia padahal baru saja berbaring tetapi matanya terasa begitu berat seakan susah untuk di buka.


“Isssh, gimana sih. Kamu ngasih harapan alsu berarti”


“Aku beneran ngantuk mas, besok aja ya. Udah ah aku mau tidur” Adiba langsung melepaskan tangan Rendra yang berusaha menariknya agar bangun. Dan dia malah tidur lagi mengabaikan Rendra.


“Kamu marahkan sama aku, tapi dalihnya ngantuk” tuduh Rendra pada istrinya yang mulai memejamkan mata.


“Astaga, nggak mas. Aku beneran ngantuk, kalau kamu mau lakuin sendiri aja terserah kamu deh aku mau kamu apain tapi aku mau tidur” ucap Adiba pada Rendra yang mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


“Ya kali aku lakuin sendiri, masa aku perkosa kamu gitu. Atau aku main sendiri di kamar mandi ya nggak asik” kesal Rendra


Adiba diam saja, dia sudah berada di alam mimpi sangking ngantuknya. Rendra yang tidak mendapat respon terperangah menatap tak percaya kalau sitrinya sudah terlelap.


“Astaga sayang,” rengek pria itu bak anak kecil.


“Gagal lagi,” pria tersebut langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah lemari untuk berganti pakain tidur.


Rendra hanya melepas bajunya dan mengambil baju lengan pendek dari dalam lemari dan memakainya. Setelah berganti baju dia langsung memutari tempat tidur, untuk bergabung tidur bersama istrinya. Dia naik ke atas temat tidur yang kosong disebelah Adiba, menyibak selimut dan mendekatkan dirinya ke sang istri memeluk istrinya yang tidur miring menghadapnya saat ini. sebelum memejamkan mata dia mengcuk lebih dulu kening istrinya itu.


..........................................


Beberapa hari menjelang pernikahan Jeremy, Jeremy sudah menitipkan beberapa undangan pernikahan pada kakaknya agar diberikan oleh rekan kantor snag kakak dan juga kelurga dari kakak iparnya.


“Sayang,” panggil Rendra yang baru saja sampai di meja makan sambil memegang jas dan juga terlihat beberapa undangan di tangannya saat ini.


“Iya mas” jawab Adiba yang sedang mengambilkan nasi untuk Rafka.


“Ini aku titip tolong kasihkan ke bunda, sama tolong kasihkan ke Tama sama Kania” ucap Rendra yang memberikan beberapa undangan pada Adiba.


“Tama sama Kania suruh kesini saja, nanti kamu titip mereka biar mereka yang kasihkan ke bunda” pinta Rendra,


“Nggak enaklah mas, masa undangan tempat bunda dititipin bang Tama.”


‘ya udah terserah kamu aja,” ucap Rendra dan menarik kursi yang ada di dekat Adiba.


“Itu yang ditangan mu, undangan punya siapa lagi mas?” tanya Adiba yang penasaran dengan beberapa undangan yang masih berada di tangan suaminya.


“Ini punya ayah kamu, sama keluarga kamu yang di Bogor” jawab Rendra.


“Mereka kamu undang mas, terus kamu mau ke Bogor?”


“Papa yang suruh, mereka kan keluarga kamu besan papa masa nggak di undang.”

__ADS_1


“Kamu yang ngater undangannya langsung? Kamu ke Bogor?” tanya Adiba mengulang pertanyaan tentang suaminya yang kemngkinan akan pergi ke Bogor.


“Sayang tolong ambilkan aku sayurnya dulu” bukannya menajwab Rendra malah menyuruh istrinya mengambilkan sayur di piringnya. Pria itu seakan menghindari pertanyaan Adiba.


Adiba mengambilkannya dan menatap heran pada Rendra yang seakan menghindari dirinya.


“Nih, kamu nggak jawab pertanyaan aku mas?” tukas Adiba setelah menaruh piring Rendra di depan pria itu.


“Iya aku ke Bogor sayang”


“Kamu nggak ngajak aku kesana?”


“Ma, minta ayam gorengnya dong” pungkas Rafka pada mamanya yang lebih dekat dengan apa yang ia mau.


“Iya sebentar sayang” Adiba langsung mengambilkan ayam goreng itu lebih dulu.


“Aku bukannya nggak mau ngajak kamu, kamu hamil besar begini nanti kecapean. Kita bentar lagi juga mau ke Bali jadi ke Bogor kamu nggak usah ikut aja. Aku sendiri bisa kok,”


“Nggaklah, aku segar begini. aku nggak capek kok, kalau ke Bogor aku ikt ya? Kapan kamu mau ke Bogor, aku pengen ketemu mbak Oki mas” elak Adiba yang merasa dirinya sehat dan badannya juga segar tidak kelelahan.


“Nggak usah ikut sayang, nanti waktu Jeremy nikah juga ketemu kan di Bali. Sudah kamu dirumah saja, nggak usah ikut ke Bogor. Aku langsung pulang nanti” Rendra melarang keras istrinya itu untuk ikut dengannya ke Bogor.


“Ya sudah aku dirumah saja” jawab Adiba lirih dan wajahnya nampak tidak secerah tadi, dia langsung duduk disebelah anaknya yang tengah tenang makan sarapan miliknya.


“Jangan jadi cemberut begitu dong, mana senyum manis istriku” ucap Rendra menggoda Adiba yang diam.


“hemm” Adiba menunjukkan senyum yang ia paksakan pada snag suami membuat Rendra terkekeh melihatnya.


“Rafka, Rafka, lihat mama kamu” adu Rendra pada putranya.


“mama kenapa?” tanya bocah itu dan langsung melihat sang mama.


“Nggak, kamu di bohongi papa kamu” elak Adiba dan langsung mengambil lauk pauk didepannya. Rendra semakin terkekeh melihat sang istri yangs esekali melihat kearahnya kesal.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2