
Adiba berjalan kearah dapur, ia pagi-pagi sudah bangun untuk membantu asisten rumah tangga di rumah mertuanya. Dia memang sengaja bangun lebih awal untuk mengambil hati Mama mertuanya yang memang sepertinya beberapa hari ini tidak suka dengannya entah mengapa Mama mertuanya begitu padanya.
Tapi saat dia sudah berada di dapur, dapur begitu sepi tidak ada orang disitu membuat dia keheranan dengan kondisi dapur yang sepi seperti itu.
“Ini kenapa sepi, Mbok Sri sama bibi-bibi yang lain kemana?” gumam Adiba keheranan sambil berjalan pelan melangkah ke dapur.
“Sedang apa kamu disitu Adiba?” tanya Citra yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.
Adiba yang terkejut langsung menoleh kebelakang dan mendapati mertuanya yang berada disitu melihat kearahnya.
“A..aku mau bantu-bantu bibi ma” jawab Adiba sedikit terbata.
“Tumben,” lirih Citra menatap sang menantu.
“Mereka sedang tidak ada di rumah, kau lebih baik kembali ke kamar saja sana” ucap Citra malah meminta Adiba untuk kembali ke kamar.
Sedangkan Citra sendiri yang mengenakan baju tidur berjalan menuju kulkas untuk mengambil air putih yang diperintahkan suaminya.
“Mereka memang pergi kemana ma, tumben pagi-pagi begini dapur tidak ada orang” tanya Adiba penasaran.
“Mereka Mama suruh ke pasar dan yang lainnya mama suruh ke supermarket membeli sayuran dan barang-barang yang lain. Oh iya hari ini teman-teman mau datang ke rumah, nanti kau turun temui mereka juga” ucap Citra sambil mengambil sebotol air dingin.
Adiba hanya mengangguk mengiyakan setiap ucapan dari mertuanya itu, sebenarnya dia penasaran kenapa teman-teman mertuanya akan datang ke rumah dan sepertinya akan ada pesta di rumah ini.
Alasan Adiba sedikit diam kali ini karena dia merasa Mama mertuanya tengah tidak senang dengannya, dalam hatinya saat ini ada rasa inisiatif untuk bertanya tapi ia ragu bagaimana jika mertuanya tersinggung dengan ucapannya.
“Maaf sebentar,” ucap Adiba yang akhirnya memutuskan untuk berbicara pada mertuanya.
“Ada apa?” Citra yang tadinya berjalan melewati Adiba begitu saja langsung melihat kearah menantunya saat ini.
“Maaf ma, aku mau tanya aku ada salah sama Mama. Kalau misalnya aku salah, aku minta maaf ma” lirih Adiba merasa tak enak berbicara begitu.
Citra diam sesaat mendengar ucapan sang menantu, yang menatapnya.
“Nggak, tapi kalau kamu mikir ada salah ya mungkin bisa jadi. Sudah Mama mau ke kamar lagi” ucap Citra dan langsung pergi meninggalkan Adiba yang terdiam di tempatnya.
Mendengar jawaban mertuanya itu berarti secara tidak langsung dia ada salah dong, tapi apa salahnya pada mertuanya. Apa karena Rafka terjatuh kemarin tapi kalau soal itu sepertinya tidak,.
“Kakak ipar,” Jeremy tiba-tiba saja muncul dari belakang Adiba dan menepuk bahu kakak iparnya itu.
Adiba yang terkejut sedikit terjingkat dan seperti akan memukul ke belakang.
“kau Jeremy, kakak kira siapa” ucap Adiba sambil memegangi dadanya.
“hehhe maaf, habisnya ngelamun sendiri disini ngapain, dapur lagi kosong nggak ada orang”tukas Jeremy sedikit tersenyum.
“Kakak sebenarnya mau bantuin para asisten rumah tangga buat masak, tapi malah nggak ada orang disini” jawab Adiba jujur.
“ngapain? Buat ambil hati Mama ya. Percuma kak, nggak usahlah begitu, Mama nggak bakal ngaruh. Soal sikap Mama nggak usah dipikirin bikin pusing, kakak lebih baik naik ke kamar atau nggak bangunin kak Rendra atau Rafka”
“Maksudnya bagaimana?” Adiba tampak tak mengerti dengan ucapan Adik iparnya tersebut.
“Nggak ada kak, udah yuk keatas aja. Nanti suami mu yang cerewet itu nyariin kamu” ucap Jeremy sambil memegang bahu kakak iparnya dan sedikit mendorong dan dia berjalan dibelakangnya.
Adiba hanya bisa pasrah saat Jeremy yang berjalan sambil mendorong bahunya untuk berjalan. Niatnya gagal untuk mencari muka dnegan mertua agar hubungannya tidak begini, apa yang harus dia lakukan sekarang apa memang lebih baik dia dan Rendra pindah saja dari rumah ini.
__ADS_1
............................................
Tok
Tok
“masuk” seru Tama dari dalam ruangannya,
Pintu ruangan itu langsung terbuka dan Kania berdiri di depan pintu itu sambil berjalan masuk kedalam.
Tama yang melihat hal itu langsung menghentikan pekerjaannya saat ini dan memilih untuk melihat kearah Kania yang sudah berdiri didepannya.
“Ada apa?” tanya Tama karena saat ini sepertinya tidak ada pekerjaan yang dia suruh kepada setiap divisi.
“Maaf sebelumnya pak, saya mau membahas soal masalah pribadi” ucap Kania.
Tama mengernyitkan dahinya dengan apa yang di ucapkan Kania barusan.
“Ini pak, terima kasih sebelumnya sudah membantu saya” ucap Kania sambil menyodorkan amplop kecil berwarna coklat dan begitu tebal.
“Apa ini?”
“Itu uang bapak yang bapak bayarkan untuk kos saya. Saya tidak mau memiliki hutang budi makanya saya pulangkan uangnya” ucap Kania melihat kearah Tama yangs edikit terkejut dengan apa yang dia lakukan saat ini.
“kau masih bocah ternyata, kenapa harus kau pulangkan. Saya ikhlas, ambil lagi” perintah Tama.
“Tidak pak, bapak bukan siapa-siapa saya jadi saya tidak enak harus menerima bantuan dari anda. Maaf kalau tidak ada lagi yang dibicarakan saya permisi dulu” pamit Kania dan dia langsung berbalik akan keluar dari ruangan Tama.
Tama buru-buru berdiri dari duduknya, dia langsung berjalan cepat mengejar Kania yang sudah akan membuka pintu ruangannya. Ia langsung menahan tangan perempuan itu.
“Tunggu sebentar saya ingin bicara” lirih Tama dan sedikit menarik Kania agar amsuk lagi dan dia perlahan menutup pintu ruangannya itu kembali.
“Bicara apa?” heran Kania menatap Tama.
“Kenapa kau bicara formal sekali denganku selama seminggu ini?” ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Tama, membuat pria itu sedikit merutuki kebodohannya.
Kania sedikit melebarkan matanya mendengar ucapan Tama barusan.
“Bukannya anda yang menyuruh saya, kenapa malah tanya?”
“Lupakan aku salah bicara, kau dapat uang itu darimana?” ucap Tama mengalihkan pembicaraan.
“Bukan urusan kak Tama aku dapat darimana” jawab Kania dan kembali memanggil Tama kak.
“terserah dirimu juga sih dapat darimana, tapi ambil kembali uangmu.”
“kenapa, itu uang untuk membayar kos yang kak Tama bayarkan”
“Kau membayar ku jangan dengan uang, maka aku akan anggap lunas”
“lalu aku membayar mu dengan apa?” heran Kania menatap Tama yang dia sejenak.
.............................................
“kamu darimana aja sih sayang, aku bangun kok nggak ada” ucap Rendra yang baru saja selesai mandi dan melihat istrinya yang baru saja masuk kedalam kamar.
__ADS_1
“Kamu nyariin aku ya mas, maaf ya tadi aku ke kamar rafka mau bangunin dia” jawab Adiba sambil bergegas berjalan kearah ruang pakaian untuk mengambil baju yang akan dikenakan Rendra untuk berangkat bekerja.
“Lah terus Rafka nya sekarang kemana sayang” ucap Rendra sambil melihat istrinya yang berada di ruang pakaian.
“Itu lagi sama Papa Frans di bawah” jawab Adiba dan berjalan keluar membawa setelan jas yang akan dikenakan Rendra.
“Oh,”
“Sayang nanti mama katanya ada acara di rumah sama teman-temannya mantan model, kamu nggak usah ikut gabung aja ya” ucap rendra.
“kenapa?”
“Ya jangan, teman-teman model mama tuh kepo semua. Terus mereka aneh-aneh menurutku, apalagi tante Dela dia orang nggak jelas banget sombong juga. lebih baik kamu nggak usah ketemu mereka” ucap rendra menasehati sang istri untuk tidak menemui teman-teman mamanya.
“Kamu malu mas punya istri kayak aku” lirih Adiba menatap rendra yang melebarkan matanya terkejut mendengar ucapan istrinya barusan.
“Astaga ya nggaklah sayang, ngapain aku mau. kamu ini ngomong apa?”
“Ya terus kenapa kamu ngelarang aku buat ketemu teman-teman mama”
“ya karena aku ingin melindungi kamu dari mereka. Nanti kamu denger kata-kata dari mereka kamu ke singgung kamu banyak pikiran. Aku nggak suka kalau kamu banyak pikiran, kamu lagi hamil” ucap rendra sambil mendekati sang istri dan memeluknya. Tidak berhenti dengan memeluk Rendra juga mencium perut Adiba dan dia beralih memegang wajah sang istri lalu mengecupnya singkat.
Menatap manik mata indah istrinya itu,
“kamu jangan mikir aneh-aneh soal aku tadi. Aku cuman pengen ngelindungi kamu.” pungkas Rendra meyakinkan sang istri.
“hemm,”
“Ini bajunya, buruan di pakai” ucap Adiba sambil menyerahkan jas dan kemeja pada rendra.
“Sayang nanti aku boleh minta tolong nggak?” tanya Rendra pada Adiba yang sudah mulai berjalan pergi.
Adiba segera menghentikan langkahnya dan melihat kearah Rendra saat ini.
“Minta tolong apa mas?”
“nanti sore buatin aku sup krim ayam ya, yang pernah kamu buat dulu saat kuliah kedokteran dulu” pinta Rendra yang tiba-tiba ingin makan sejenis sup yang pernah di buat Adiba dulu saat mereka kuliah.
“Kok kamu tahu aku pernah buat itu?” heran Adiba mendengar permintaan suaminya itu, perasaan dia tidak pernah membuatkan Rendra sup. Boro-boro membuatkan dia makanan berbicara dengan Rendra saja jarang.
“Dulu kan kamu pernah buatin siapa itu lupa, Leli temanya Tere anak jurusan apa itu ya” ucap Rendra sambil mengingat nama teman kuliah mereka dulu.
“Oh iya dulu aku pernah buatin sup bat dia, kok kamu tahu. dia mantan kamu ya?” ucap Adiba langsung sedikit ngegas saat mengingat itu.
‘Bukan, ngarang kamu. di bukan mantan aku. dia sepupunya Fajri. Dulu Fajri kerumahnya Leli terus ada sup krim ayam banyak banget nah dia bawa pulang kerumahnya terus aku makan sama Davin di rumah Fajri. Fajri bilang katanya itu buatan kamu” jelas Rendra.
“Oh, ya udah nanti aku buatin buat kamu. tapi aku agak lupa resepnya apa. kalau misalkan agak nggak enak nggak pa-pa ya nanti”
“Nggak pa-pa apapun buatan kamu aku makan, yang penting kamu buatin buat aku, aku pengen banget makan itu”
“ya udah nanti aku buatin” ucap Adiba.
“makasih sayang,” ucap rendra dan berjalan mendekati Adiba memberikan pelukan untuk istrinya lagi..
°°°
__ADS_1
T.B.C