CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 26


__ADS_3

Adiba memberesi barang-barangnya, karena saat ini jam kerjanya sudah selesai dan waktunya dia kembali ke rumah tepat pukul lima sore. Dia melihat sekilas kearah Rendra yang akan berdiri dari duduknya.


“Kamu pulang,?” tanya Rendra sambil berjalan mendekat pada Adiba.


“Iyalah,”


“Tidak perlu mengantarku aku bisa pulang sendiri” ucap Adiba lagi saat Rendra semakin mendekat ke arahnya.


“memberi kode padaku, tapi sayang hari ini aku tidak bisa mengantarmu.” Ucap rendra sambil tersenyum melihat Adiba yang menyesali ucapannya.


“bodoh, bodoh” rutuk Adiba pada dirinya sendiri. Dia berkata begitu karena biasanya Rendra selalu ingin mengantarnya dan dia menolaknya dengan keras.


“Tidak usah malu, dengan calon suamimu sendiri. Da, hati-hati sayang. Aku pulang dulu” ucap Rendra menggoda Adiba yang menatapnya kesal.


“Jangan terlalu kepedean, kau bukan calon suamiku dan bukan siapa-siapa mu mengerti” ucap Adiba meninggikan suaranya pada Rendra yang membuka pintu ruangannya.


“Terserah dirimu sayang, tapi kenyataannya kamu milikku” ucap rendra tersenyum puas pada Adiba. Dia langsung pergi dari situ meninggalkan Adiba sendiri.


“Dasar pria itu makin menyebalkan, dulu terlalu sombong sekarang terlalu percaya diri” ucap Adiba melihat pintu yang sudah tertutup.


“Dia pulang ini kesempatanku mencari foto Rafka, satu minggu aku tidak menemukannya karena tidak sempat mencari foto itu disini, pria itu selalu pulang lebih lambat dariku” ucap Adiba sekilas memastikan kalau tidak akan ada yang masuk ke dalam dan dia segera menuju meja kerja Rendra.


Adiba membuka laci di meja kerja Rendra, dia mencari didalam situ dengan hati-hati takut kalau ada barang yang bergeser. Setelah lama mencari di tempat itu dia tidak menemukan apapun disitu.


“Dimana foto itu, kenapa tidak ada di ruangan ini” bingung Adiba, dia yakin kalau Rendra yang mengambilnya tapi kenapa tidak ada foto tersebut di tempat ini.


...........................


Rendra terdiam di dalam mobil saat dia melihat sebuah rumah yang sangat familiar untuknya. Bagaimana tidak Familiar, seminggu lalu dia ke rumah ini.


“Ini rumah Diba? Dia tinggal disini? Bukannya ini rumah neneknya Rafka” ucap Rendra yang bingung dengan hal itu.


Rendra entah sedang memikirkan apa, dia segera mengambil ponselnya dan dia akan menghubungi Jeremy memastikan apakah benar ini rumah Adiba.


“Halo Jeremy,” ucap Rendra saat panggilan sudah tersambung.


“Iya halo kak kenapa?” tanya Jeremy diseberang sana.


“Kau tidak salahkan soal alamat rumah Adiba yang kau berikan padaku”


“Tidak kak, itu memang alamat rumah Adiba. Dia tinggal dengan bibinya tetapi sudah ia anggap sebagi orang tua sendiri begitu juga dengan Bibi yang menganggap adiba anak mereka. Kau jelas tahu Adiba diusir dari rumahnya kan dulu.” jelas Jeremy pada kakak.


“Sudah aku tutup” rendra langsung menutup telponnya begitu saja, matanya langsung berkaca-kaca.


“Berarti bocah itu anakku,” ucap Rendra dnegan bibir bergetar saat menyadari hal itu. dia juga mengingat apa yang diucapkan Rafka seminggu lalu bocah itu merengek ingin bertemu ayahnya. Dan Rendra juga menyadari satu lagi kalau wajahnya dan Rafka mirip benar Rafka mirip dirinya saat kecil.


“Dia anakku,” ucap Rendra terlihat tak menyangka, dia terharu mengetahui kenyataan ini. dia yakin Rafka itu anaknya,


Rendra langsung turun dari mobilnya dan berjalan ke pagar rumah tersebut, dia membuka gerbang itu begitu saja dan masuk kedalam. Akhirnya dia menemukan anaknya, akhirnya di benar-benar tahu dimana anaknya dan dia masih hidup. Dan menjadi anak yang tampan dan pintar.


“Rafka,.Papa datang nak. Papa datang” gumam Rendra berkaca-kaca, dia benar-benar senang mengetahui kenyataan bahwa anaknya masih hidup dan ternyata bocah yang selalu bertemu dengannya itu anaknya dan Adiba.


Rendra mengetuk pintu rumah tersebut, dia tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya yang sudah dia tunggu-tunggu.


Pintu langsung terbuka perempuan paruh baya mengenakan hijab menatap Rendra penuh tanya.


“Iya cari siapa ya” tanya Julia pada Rendra.


“Sa..saya,.saya ingin berte..” ucapan Rendra yang bingung itu langsung terpotong saat bocah kecil muncul dan memanggilnya Om.


“Om, Om Endra,.” Panggil Rafka girang sambil berlari menghambur ke pelukan Rendra yang sudah berjongkok siapa untuk memeluk Rafka.


Julia langsung terdiam ternyata cucunya mengenal orang di depannya,

__ADS_1


Rendra tidak bisa menahan rasa harunya, ia memeluk erat rafka. Lima tahun lebih dia menantikan ini menantikan pertemuan dengan anaknya dan saat inilah hal itu terjadi.


“Om, Endra, Om dra lepasin sakit” ucap Rafka meminta dilepaskan karena Rendra memeluknya sangat erat.


Seketika Rendra langsung melepaskan pelukan itu, dia tadi sempat meneteskan air mata haru perlahan mengusap air matanya itu sambil tersenyum melihat bocah kecil di depannya.


“Maafin Om ya, Om kangen sama kamu” ucap rendra menatap pilu bocah tersebut.


“Om nangis, kenapa Om nangis” ucap Rafka pada Rendra.


“Nggak Om nangis kok” Rendra menggeleng sambil menatap bahagia putranya.


“Ayo nak masuk dulu, ternyata kamu kenal sama cucu saya. Ayo duduk dulu di sofa nak” ucap Julia mempersilahkan Rendra untuk masuk kedalam.


“Iya bu,” Rendra langsung berdiri


“Ayo Om, Ayo masuk. Kemarin kan Om nggak jadi masuk ke rumah Rafka, sekarang Om masuk ya.” Ucap rafka menarik tangan Rendra mengajaknya masuk.


Rendra berjalan masuk kedalam rumah itu, dia melihat sekeliling ruang tamu ada foto keluarga yang terpajang dinding. Dan ada Adiba dalam foto itu, dia tersenyum sambil menggendong Rafka yang masih kecil kemungkinan umur tiga tahun atau dua tahun.


Melihat itu membuat Rendra sedih, dia tidak ada di saat-saat itu.


...............................


Adiba sudah pulang ke rumah, dia tadi di jemput oleh Tama dan saat ini mereka berdua keluar dari mobil bersama-sama. Hari ini Adiba akan berbohong pada anaknya, sebenarnya ini tidak ingin dia lakukan makanya seja saat itu hingga kini dia belum mempertemukan Tama dengan Rafka karena dia ingin berpikir dulu apakah caranya ini benar atau tidak. Dan sudah ia putuskan, entah ini benar atau tidak dia tetap akan melakukannya karena Rafka terus merengek padanya bahkan setiap kali bocah itu ingin tidur selalu menanyakan ayahnya dimana.


“Ayo bang masuk” ucap Adiba mengajak Tama masuk kedalam rumahnya.


“Ada tamu sepertinya di rumah” ucap Tama yang berjalan mendekat pada Adiba, Tama melihat sebuah mobil yang terparkir diseberang rumah dan menduga itu tamu di rumah Adiba.


“nggak tahu, mungkin mobil tetangga bang. Bang terimakasih ya mau membantu aku soal ini” ucap Diba sambil berjalan.


“kenapa sudah berterimakasih, aku belum melakukan apa-apa” jawab Tama.


“Assalamualaikum bun, Rafka, Mama pulang nak. Lihat mama mengajak siapa” seru Adiba saat melangkah masuk kedalam tidak ada orang diruang tamunya.


“Eh kamu sudah pulang” ucap Julia yang mengusap tangannya dengan tisu karena basah habis mencuci piring.


“Iya bun” jawab Adiba.


“bunda kenalin, ini bang Tama yang sering aku ceritain dulu dia kakak Tere bun” ucap Adiba memperkenalkan Tama yang berdiri di sebelahnya.


“Oh kamu yang sering bantu Adiba sama ngirimin buah buat Adiba dulu. ya ampun makasih ya nak” ucap Julia dia tampak senang bertemu dengan pria baik yang selalu perduli dnegan Adiba.


“Sama-sama tan” jawab Tama sungkan.


“Rafka mana bun? Aku ma bicara sama dia” ucap Adiba menanyakan anaknya.


“Rafka di belakang sama Alfin sama itu kenalan alfin juga”


“kamu mau ngomong sama Rafka sebentar bunda panggilin” ucap Julia.


“Rafka, bunda kamu pulang nak sini. Bunda kamu mau ngomong sama kamu” seru Julia memanggil Rafka.


“Iya Om,” jawab Rafka dan berlari ke depan menemui Omanya.


“Mama,” ucapnya senang saat melihat sang mama yang sudah pulang. Bukannya menghampiri Omanya dia langsung memeluk Mamanya.


Adiba langsung menggendong Rafka, dia menatap wajah anaknya dengan gembira. Rasa lelahnya seketika hilang saat sudah bertemu dengan anaknya.


“mama cium nak” ucap Adiba pada rafka.


Rafka langsung mencium mamanya, dan dia sekilas melihat pria yang disebelah mamanya penasaran.

__ADS_1


“Om ini siapa ma?” tanya Rafka.


Adiba yang tadinya menciumi anaknya langsung melihat kearah Tama dan sesekali melihat anaknya yang dia gendong.


“Bunda ke belakang dulu ya, bunda buatin minum sama cemilan dulu buat teman kamu” ucap Julia langsung pamit pergi. Karena dia tahu apa yang akan di katakan Adiba, anaknya itu akan berbohong pada cucunya soal ini. dan dia baru tahu kalau pria yang datang dnegan adiba yang akan berpura-pura menjadi ayah dari Rafka.


“Om ini,..” Adiba tampak bimbang untuk mengatakannya. Dia melihat kearah tama yang mengangguk.


“Rafka kemarin kan pengen ketemu Papa, Rafka masih pengen ketemu papa?” ucap Adiba menatap anaknya.


“mau ma, Mau. Rafka mau ketemu Papa”


“Om ini, Papa kamu. dia papa kamu Rafka” ucap Adiba sesekali menutup matanya, dia merasa sangat bersalah karena berbohong seperti ini.


“Kebohongan macam apa itu” suara Bariton tiba-tiba saja muncul dari arah ruang tengah rumahnya dan membuat Adiba terpaku di tempatnya melihat pria itu.


“Sungguh tidak lucu,” senyum miring Rendra perlihatkan saat menatap Adiba.


“Om,” ucap Rafka yang tadinya senang dan akan memeluk Tama langsung teralihkan oleh Rendra yang datang.


“Kau, Kau kenapa ada disini?” seketika tubuh Adiba terasa kaku dan tangannya bergetar takut melihat pria yang ada di depannya.


Tama melihat Adiba sekilas, perempuan itu tampak takut, dan dia langsung mengambil Rafka dari gendongan Adiba.


“Rafka sayang, Rafka masuk dulu ya sama Oma di dalam.” Ucap Tama pada Rafka, dia menurunkan bocah itu dan memintanya masuk kedalam.


Entah mengapa Rafka yang seperti bingung dengan orang dewasa di depannya langsung menurut begitu saja dan masuk kedalam.


Tama langsung menggenggam tangan Adiba yang masih gemetaran,


“Tidak usah takut hadapi saja, mungkin memang semua ini harus terbongkar” bisik Tama di telinga Adiba.


“lepaskan tanganmu dari perempuanku” tukas Rendra lantang.


“kenapa kau bisa ada disini?” tanya Adiba kembali.


“untuk menemui anakku, untuk apa lagi aku kesini”


“Dia bukan anakmu” tegas Adiba.


“terserah kau bilang apa, kenyataanya kau milikku dan dia anakku.” Pungkas Rendra, dia berjalan mendekati Tama dan juga Adiba. Dia melepaskan paksa tangan tama yang menggenggam tangan Adiba.


“Dia anakku, bukan anak orang lain dan dirimu milikku bukan milik orang lain.” Ucap Rendra tepat didepan Adiba yang tercengang dengan ucapan itu.


“Dan kau aku peringatkan dirimu jangan pernah macam-macam denganku,” ancam Rendra pada Tama.


“memang aku takut padamu” sinis Tama menatap Rendra.


Rendra balas menatap sinis, dia tersenyum miring meremehkan pria didepannya.


“Terserah kau saja kalau masih berani,” ucap Rendra pada Tama.


Rendra beralih menatap Adiba yang melihatnya benci,


“Aku pulang dulu, diriku sudah puas bermain dengan anakku. Aku tidak memaksa dirimu untuk mengatakan yang sebenarnya pada anakku. Kamu takut padaku kan sekarang, kau takut aku akan mengambilnya. Tidak akan aku lakukan, istirahatlah, aku pulang” ucap Rendra dengan lembut, dia mengusap penuh kasih sayang rambut Adiba dan dia langsung pergi dengan sedikit mendorong Tama.


Dia memang marah dengan Adiba karena telah berbohong padanya tapi, dia biarkan kali ini. perempuan itu tampak syok melihatnya ada di rumah ini. ini dia lakukan karena wujud cintanya pada Adiba dia tidak ingin perempuan itu ketakutan sekarang.


Rendra benar-benar pergi dari rumah itu, dia tak menoleh sama sekali. Besok dia akan datang lagi untuk bertemu dengan Rafka, dia ingin selalu menghabiskan waktu bersama anaknya tersebut.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2