CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 38


__ADS_3

“Kalian nanti hati-hati, kamu Rendra jangan main kasar sama istri yang lembut gitu. Biar cepat jadi cucu kedua mama” ucap Citra sambil menatap anaknya yang duduk didepannya saat ini.


“uhhuk, Uhuhhk” mendengar hal itu membuat Adiba yang sedang minum tersedak air dan membuat Rendra segera menepuk pundaknya pelan.


“pelan-pelan dong sayang” ucapnya ada sang istri dan seketika mendapat tatapan tajam dari Adiba yang mencoba untuk menahan batuknya.


“Mama nih kalau ngomong jangan asal begitu di meja makan. Lihat Adiba ke sedak begitu karena Mama” ucap Frans menegur sang istri.


“Apa salah Mama, mama kan cuman ngomong begitu” ucap Citra tidak merasa bersalah sama sekali.


“Iya Om nggak salah Opa,” sahut Rafka yang duduk disebelah Citra menatap bingung orang-orang dewasa yang berada di meja makan. Perasaannya ucapan omanya itu tidak salah.


Frans langsung terdiam dia tidak mungkin membahas masalah orang dewasa didepan rafka,


“Sayang, kamu makan saja jangan ikut bicara saat orang dewasa bicara” ucap Adiba pada anaknya.


Rafka langsung cemberut mendengar ucapan sang Mama, dia diam saja tidak berani bicara lagi.


“jangan keras begitu sama anak” ucap Rendra.


Adiba diam saja tidak menanggapi perkataan Rendra tersebut, dia mengusap mulutnya dengan tisu.


“Adiba, kalau kamu sudah selesai tidak apa, pergi lebih dulu dari sini” ucap Frans mengijinkan menantunya pergi dulu, karena dia mengerti pasti Adiba tidak nyaman saat ini.


“Iya terimakasih pak” ucap Adiba dnegan formal.


“Jangan panggil saya pak, saya ini sekarang bukan atasan kamu atau atasan ayah kamu. saya mertua kamu sekarang” ucap Frans pada Adiba.


“Ma.maaf pa” Adiba merasa tidak enak sendiri memanggil mertuanya pak. Karena dia belum terbiasa.


“Tidak apa, kali ini kamu saya maaf kan. tapi ingat panggil saya Papa dan panggil istri saya Mama” ucap Frans memperingatkan Adiba.


“Iya pa, kalau begitu saya permisi dulu” ucap Adiba dan langsung pergi setelah di angguki oleh sang mertua.

__ADS_1


“Aku juga pa, oh iya. Aku sekalian pamit. Hari ini aku mau ke Jogja sama Adiba” ucap Rendra pada papanya.


“Ngapain kamu ke Jogja?” tanya Frans dan juga Citra bersamaan.


“Aku ma...” belum juga Rendra selesai bicara anaknya sudah bicara lebih dulu.


“Papa sama Mama kan mau buat adik untuk aku Oma, jadi mereka pergi. Nanti katanya pulang bawa adik cewek buat aku” ucap Rafka begitu polosnya.


“Itu pa, sudah di jawab sama Rafka, kalau begitu aku pergi dulu. Rafka, doain papa ya, nanti biar bisa bawa adik buat Rafka”


“Oke pa” ucap Rafka dan memberi tanda oke dengan jari kecilnya.


“anak pinter” pungkas Rendra.


“Pa, Ma aku titip Rafka ya. Aku nggak lama kok di Jogja” ucap Rendra.


“Iya, pasti mama jaga anak kamu. anak kamu pinter begini mama suka” ucap Citra sambil memegang kepala cucunya gemas.


“Aku pergi” ucap Rendra dan langsung berjalan pergi dari ruang makan menyusul Adiba yang sudah pergi lebih dulu.


............................................


“Sayang, untuk kali ini nggak usah banyak pertanyaan bisa. Kamu tidur saja di pundak ku sini, hampir satu jaman kita ke Jogja. Jadi kamu tidur aja” ucap Rendra menyuruh Adiba untuk tidur di pundaknya saat ini.


“Jangan panggil aku sayang bisa” ucap Adiba tidak senang


“Ya terus mau aku panggil apa, honey begitu. Kamu istri aku jadi bebas dong aku panggil kamu apa” ucap Rendra.


“percuma ngomong sama kamu” ketus Adiba dan langsung membuang mukanya tak melihat kearah Rendra saat ini.


“Sudah tahu percuma, malah masih melarang ku. Nggak mempan” ucap rendra tersenyum menang. Adiba tidak menanggapinya sama sekali dia masih tetap diam dan memikirkan kenapa Rendra mengajak dirinya ke Jogja buru-buru begini. apa pria itu serius tengah mengajaknya bulan madu. Siapkah dia nantinya dia melayani pria yang masih dia benci


“Udah sini, nggak usah gengi deh. Tidur sini di pundak ku” ucap Rendra dan memegang kepala Adiba dan meletakkannya perlahan di pundaknya saat ini.

__ADS_1


“Kamu nih apa-apaan sih” Adiba langsung duduk tegap menatap Rendra.


“Ya udah kalau nggak mau, aku mau pindah tempat aja ke bule itu. kayaknya dia lebih butuh pundak ku dari pada kamu” ucap rendra sambil menunjuk kearah perempuan yang memakai rok mini di bangku seberang mereka tengah duduk sendiri dan tampak mengantuk.


Adiba memperhatikannya dan dia tiba-tiba saja menarik tangan Rendra yang sudah berdiri untuk duduk kembali.


“Disini saja, aku juga ngantuk butuh bantal” ucap Adiba sedikit gengsi.


Rendra tersenyum dan dia duduk kembali sambil menepuk pundaknya sendiri memberi isyarat pada Adiba untuk tidur di pundaknya saat ini.


Dengan terpaksa Adiba meletakkan kepalanya di pundak Rendra dan dia perlahan mulai memejamkan matanya menuruti perkataan pria itu untuk tidur.


..............................................


Tama duduk di kursi balkon kamarnya, dia melihat foto Adiba dan juga Tere adiknya mereka tersenyum menatap ke arah kamera sedangkan yang memotret itu dirinya. Dia begitu terpesona dengan senyum Adiba. Dan dia salut dnegan perempuan itu yang selalu tersenyum meskipun dalam keadaan yang tidak baik.


Foto ini ia ambil setelah Adiba melahirkan dan menemui ayah kandungnya. Tapi kenyataan pahit diterima Adiba saat ini dimana ayahnya mengusir dirinya dan menuduhnya sebagai seorang pembunuh ibunya sendiri. benar itu pertama kali Adiba mengetahui Ibunya telah tiada.


Begitu hancur dan syoknya perempuan itu di kala saat ini, untung ada Tere adiknya yang sekarang sudah pergi untuk selamanya.


“abang sebenarnya sedih Diba dengar kamu nikah dengan ayah dari Rafka, tapi abang juga senang akhirnya anak kamu punya ayah. Meskipun abang tidak bisa jadi pendamping kamu tapi abang janji buat lindungi kamu sama Rafka terus Dib, semoga kamu bahagia dnegan suami kamu. dan semoga abang juga bisa terus lihat kamu Dib” ucap Tama sambil mengusap foto yang dia pegang.


“tere, abang janji juga sama kamu. abang bakal jaga sahabat kamu itu, kamu tenang di sana, abang sayang sama kamu” ucap Tama begitu pilu menatap wajah adiknya yang begitu gembira saat bersama dengan Adiba.


Saat Tama sedang menatap foto tersebut ponsel miliknya yang berada di atas meja bergetar membuatnya mengangkat panggilan tersebut.


“Iya, bagaimana?” ucapnya saat mengangkat panggilan itu.


“Bagus, jaga pantau dia terus hingga mereka bertemu dan cegah agar mereka tidak pergi sebelum bertemu dengan dua orang itu. oke, terimakasih” ucap Tama dan langsung mematikan panggilan misterius tersebut.


Dan dia menatap foto yang dia pegang lagi mengusap wajah Adiba dan juga Tere bergantian, melihat foto dua orang itu membuatnya sedikit lebih damai sekarang.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2