CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 139


__ADS_3

Setelah tiga hari di rumah sakit, akhirnya Adiba di dan anak-anaknya di bolehkan pulang kerumah. Kamar pun juga sudah di persiapkan oleh Rendra sebelumnya, yang ada di lantai bawah dekat dengan kamar tamu mereka.


“Ini anak-anak kalian belum punya nama, kapan kamu namin anak-anak kum Ren?” tanya Citra sambil duduk dan menggendong cucu perempuan satu-satunya itu.


Rendra yang sedang membantu Adiba menaruh bantal sebagai sandaran perempuan itu langsung meihat kearah mamanya yang tengah duduk sambil menggendong anaknya.


“Rencananya hari ini ma, mau aku kasih nama mereka.” Jawab Rendra dan langsung duduk di tepi tempat tidur.


“Kamu mau makan sayang, aku ambilkan?” tanya Rendra pada sang istri.


“Nanti aja mas”


“Papa kemana ma?” tanya Adiba menanyakan ayah mertuanya yang tidak kelihatan sedari ia pulang tadi. Yang menjemputnya dari rumah sakit tadi hanya mama mertuanya dan juga Jeremy beserta istrinya. Sednagkan keluarganya tak ada yang datang, bunda Rininya datang hanya waktu ia habis melahirkan tiga hari lalu di rumah sakit. Saat ini bundanya belum juga datang, katanya masih ada urusan di Surabaya.


Sebenarnya ia sedikit sedih karena keluarganya sendiri tak ada yang datang menemaninya, ayahnya saja dari waktu itu belum juga datang melihat dirinya. Tapi walaupun begitu ia masih bersyukur ada mertua yang perduli dengannya meskipun terkadang mama mertuanya sering membuat kesal.


“Papa masih ada urusan di kantor, nanti dia langsung kesini. Adiba tadi mama belikan kamu jamu, mama kasih ke Bi narsih nanti kamu minum jamunya” pungkas Citra pada menantunya itu.


“Jamu? Sejak kapan mama kepikiran soal minum jamu” heran Rendra, dia tak menyangka mamanya yang modern kepikiran soal jamu tradisisonal.


“Jangan pikir mama nggak tahu soal begitua, nenek kamu dulu waktu mama melahirkan kamu sama Rafka dia selalu buatin mama jamu iar apa gitu katanya. Sayangnya mama nggak bisa bikin, makanya mama belikan” tutur Citra.


“uekk, eukk”


“eh, kok nangis sih cucu Oma,” bayi yang di gendong Citra tiba-tiba saja menangis membuatnya langsung berdiri.


:makasih ya ma, nanti aku minum jamunya” ucap Adiba.


“Iya sama-sama”


“mama ajak keluar ya, dia sumpek mungkin di kamar terus” ucap Citra berniat mengajak cucu perempuannya itu keluar kamar.


“Iya ma bawa aja” sahut Rendra.


“mereka berdua anteng banget ya sayang, padahal anak kita yang cewek dari tadi nagis tapi mereka berdua tidur pules” ucap Rendra sambil melihat kearah boks bayi dimana kedua anaknya yang lain tidur.


“Iya mas, mereka mungkin kenyang. Terus kalau anak kita yang cewek nangis karena mungkin nggak ada temennya dia cewe sendiri”


“Mungkin, kalau begitu buat lagi yok cewek satu lagi biar anak kita yang perempuan ada temennya”


Adiba langsung menabok pelan wajah suaminya.


“Astaga mas, inget aku baru lahiran kamu sudah mulai. Kamu pikir enak apa, sakit tahu” gerutu Adiba.


“Hahaha bercanda sayang,.” Ucap Rendra sambil tertawa.


“Oh iya mau dinamai siapa ketiga anak kita?” tanya Rendra pada istrinya itu.

__ADS_1


“Terserah kamu aja mas, aku ngikut. Tapi kalau bisa sih nama-nama rekomendasi dari mama papa sama bunda juga di masukin mas. Nanti takutnya kita nggak menghargai mereka”


“Kalau papa di skip aja gimana? Kan papa sudah kasih nama Rafka dulu kan, Rafka yang kasih nama papa kan?”


“memang bener Rafka yang aksih nama Papa, tapi kalau di skip janganlah mas.” Adiba tak sependapat dengan Rendra.


“ya sudah, nama dari papa juga masuk.”


“Sayang gimana kalau anak yang pertama lahir ini namanya Raihan usul dari bunda kan, terus yang ini namanya Raiden usul dari mama sama yang cewek kita kasih nama Reva sesuai yang papa kasih. Bagaimana?” tanya Rendra meminta pendapat istrinya.


“Iya mas bagus, aku setuju. Terus nama tengahnya mas, masa cuman awalan saja, nanti kalau mereka iri sama abangnya gimana. Rafka punya empat suku kata dinamanya.”


“apa ya sayang aku bingung, kalau Rafka kan, Rafka kusuma Shagufta Dewangga. Terus adik-adiknya ini apa ya sayang” ucap Rendra yang kebingungan soal nama ketiga anaknya.


“Terserah mas Rendra aja yang penting namanya punya arti yang bermakna gitu mas”


“Emm, aku tahu sayang. Yang ini Raihan Hardian Dewangga, kalau Raiden Arshad Dewangga. Sama Reva Vidya Dewangga. Gimana sayang,?”


“bagus mas, aku suka. Yaudah nanti kita tinggal bilang sama mereka kalau itu nama anak kit.”


“Oke, oh iya mau minum jamunya nggak. Aku ambilin,”


“Ya udah tolong ambilkan mas”


“bentar ya, aku ambilkan dulu” Rendra langsung berjalan mendekati istrinya dulu mengecupnya lebih dulu sebelum dia berjalan pergi keluar kamar.


Sore hari Kania dan juga Tama datang kerumah Rendra, mereka yang akan pergi bulan madu menyempatkan diri lebih dulu untuk mampir kerumah Adiba setelah mendengar perempuan itu yang sudah melahirkan.


“Yaampun mereka gemes-gemes banget” seru Kania saat melihat ketiga bayi itu yang digendong oleh nenek mereka dan satunya di gendong oleh istri Jeremy.


“gemeslah, orang tuanya siapa dulu” pede Rendra seakan menyombongkan diri.


“Hush nggak boleh sombong gitu Rendra” tegur bunda Adiba.


“hehhee bercanda bun” kekeh Rendra yang malu sendiri karena di tegur.


“Tama mau gendong salah satu dari mereka?” tanya bunda Adiba pada Tama yang sesekali tersenyum melihat mereka.


“Bang gendong aja bang, pilih yang mana. jangan bilang masih takut gendong bayi” ucap Adiba pada Tama.


Tama langsung melihat kearah Adiba,


“Nggak, abang udah berani kok” jawabnya smabil berjalan mendekat kearah Adiba tetapi sebelum itu ia berbisik pada Rendra. Rendra mengangguk seperti mengiyakan.


Tama mendekat kembali pada Adiba yang duduk sambil bersandar di tempat tidur,


“Abang ikut senang, kamu punya anak lagi. Sekarang kamu makin bahagia, banyak yang sayang sama kamu, kamu nggak sendiri lagi Dib. Abang sekarang bisa tenang, bisa nepatin jani abang ke Tere ke kamu. keluarga kamu harmonis sekarang, adik abang sudah bahagia sekarang” mata tama berkaca-kaca sambil mengusap kepala Adiba.

__ADS_1


Tama ingat dulu, saat Adiba melahirkan Rafka, perempuan itu tampak sedih bahkan menangis karena penuh luka masa lalu. Saat itu saja dia juga tak datang, hanya melakukan panggilan video dan Adiba menangis bilang kalau dia kesepian. Setelah ia melihat Adiba saat ini rasanya ia ikut senang, dirinya sudah bisa tenang untuk tidak selalu bersama Adiba lagi. Adik angkatnya itu saat ini sudah bahagia bersama suami dan anak-anaknya, janjinya pada Tere juga sudah ia tepati.


“Iih bang Tama lebay deh, nagapain berkaca-kaca begitu. Nggak malu tuh ada Kania, biasanya kan sok jual mahal didepan Kania” pungkas Adiba sambil tersenyum menggoda Tama.


“Abang cuman terharu aja, lihat adik abang bahagia sekarang. Bun, aku boleh gendong?” ucap tama langsung melenggang pergi seakan tak terjadi apa-apa.


“Kak tama sekarang no gengsi-gensi tahu Diba’ kekeh Kania sambil tersenyum melihat Tama yang seakan tak menghiaraukan.


“Udah bro kalau masih cemas soal Adiba, nggak usah cemas ada aku. aku suaminya, tugasmu sekarang sudah selesai buat jaga dia. sekarang kamu fokus saja dengan istrimu, dan jangan lupa nanti bulan madu buat anak yang lebih banyak dari kita” canda Rendra dan membuat semua tersenyum mendengarnya.


“Enak bener pak bos ngomongnya” shaut kania.


“Ya enaklah mulut tinggal ngomong” sahut Rendra dan langsung berjalan kearah Adiba.


“Doain aja,” jawab Tama sembari fokus menggendong Raiden yang baru saja di berikan mama Rendra padanya.


.....................................


“Mama Papa, aku tidur sama kalian ya” Rafka yang sudah mengenakan baju tidur masuk kedalam kamar yang ditempati mamanya saat ini. kamar adik-adiknya berada,


“Jangan dulu ya sayang, mama kan harus ngurus adik bayi. Kalau abang rafka disini nanti malah ke ganggu loh besok berengkat sekolah kesiangan” ucap Adiba berusaha membuat anaknya mengerti.


“abang tidur sama Om Jeremy sama tante Risa saja ya, mau kan?” timpal Rendra sambil menaruh Raihan di box bayi dan dia berjalan menghampiri utra sulungnya.


“Nggak mau, aku maunya tidur sama mama sama papa. Sudah lama aku nggak bareng sama mama sama papa” protes bocah itu.


Benar dia sudah beberapa hari ini tidak bersama dengan orang tuanya, kadang dia di tidur dirumah Opa Alifnya dan kadang dia Tidur di rumah Opa Frans dan kadang dia bersama Jeremy. Kedua orang tuanya terlalu sibuk beberapa hari ini, sampai tak sempat mengurus dirinya.


“kan kemarin waktu dirumah sakit kita tidur bareng sayang, kan kamu tidur sama papa di sofa” ucap Rendra dan berdiri dengan menyamakan tingginya dengan sang anak.


“Pokoknya aku nggak mau, aku mau tidur disini juga.” rengek bocah itu.


“Sayang, bukannya nggak boleh tapi mamatakut kamu nggak bisa tidur nanti kalau adeknya nangis. Kan bang Rafka harus sekolah kalau ngantuk gimana?” Adiba berusaha membuat sang anak mengerti.


“kenapa semenjak ada adek-adek mama sama papa nggak perduli sama aku”


“Bukannya nggak perduli sayang, papa sama mama perduli kok sama abang” ucap Rendra.


Rafka hanya bisa diam saja, dan dia langsung berjalan pergi saat sang mama akan mengusap kepalanya.


“Rafka, Rafka, sayang tunggu” seru Adiba maupun Rendra.


“mas, Rafka marah mas” bingung Adiba, dia jadi merasa cemas dan takut kalau anaknya akan kecewa dan menganggap dia maupun Rendra pilih kasih padahal bukan begitu.


“udah kamu tenang aja, Rafka nggak marah kok. Kalau gitu kamu disini saja ya, aku yang nyusul Rafka. Nanti mama aku suruh nemenin kamu tidur disini. kalau perlu Risa juga aku suruh buat temenin kamu biar nggak kerepotin kalau si kembar bangun. Biar aku tidur sama Rafka dia atas” putus Rendra dan menyuruh Adiba untuk tenang saja. dia yang akan mengurus anak sulung mereka.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2