CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 146


__ADS_3

Rendra menggendong anak perempuannya mengajak sang putri ke kolam renang menemui Adiba yang kebetulan ada di situ melihat tugas-tugas sekolah yang dikerjakan Rafka. Ia memang selalu memeriksa pekerjaan rumah sang anak.


“Kamu ngapain sayang?” tanya Rendra yang sudah berada di dekat sang istri.


“Eh ada Reva sayang,” Adiba terlihat senang melihat putrinya yang di gendong sang suami.


“Ini mas, aku lihat tugas sekolah rafka sudah dikerjaain atau belum” jawab Adiba sambil membalik lembar per lembar buku tersebut.


“Oh,”


“Cium papa sayang,” ucap Rendra pada sang anak yang dia gendong. Dia mencium gemas pipi gembul putrinya itu. rendra langsung mengambil duduk di sebelah Adiba.


“Aku mau bicara sama kamu sebentar sayang” ucap rendra lagi pada sang istri.


“Bicara apa mas?” Adiba langsung mengalihkan pandangannya pada suaminya.


“Aku ada kerjaan di Paris, kamu ikut ya” ucap rendra.


“Mas Rendra mau ke Paris? Ngapain?”


“Kan aku bilang ada kerjaan. Papa nawarin bisnis baru disana, aku harus kesana buat tanda tangan kontrak. Kamu ikut ya” jelas Rendra.


“Jauh banget mas di Paris, kalau aku ikut anak-anak gimana” bingung Adiba soal hal ini.


“Anak-anak kita titipin ke mama sama Papa gimana? Kalau kita ajak nggak mungkin sayang empat orang kita ajak keluar negeri repot nantinya” tukas Rendra.


“Tapi mas kalau kita titipkan ke mama kamu, nanti malah kewalahan gimana?”


“Nggaklah, kan ada sus Harni sama sus Novi. Ya, kita titip ke mama kamu ikut aku ke Paris” Rendra berusaha membujuk sang istri agar mau.


“Entahlah mas, aku bingung. Rafka kayaknya nggak bisa di tinggal deh, dia ngerasa kita nggak perhatian sama dia lagi. Tadi dia marah sama aku,.” resah Adiba memikirkan putra sulungnya tersebut.


“Rafka marah kenapa lagi, kamu ngapain lagi sampai dia marah”


“Tadi dia pulang sekolah, mau nunjukin nilainya sama aku. nah saat dia mau nunjukin ke aku Raiden nangis di kamar, aku langsung ke Raiden” tutur Adiba menceritakan masalahnya dengan sang anak tadi.


“Yaampun sayang, kok kamu langsung pergi aja sih. Lah kan ada sus Novi, aturan kamu lihat nilai Rafka dulu” pungkas Rendra memijat pelipisnya.


“aku minta maaf mas, tadi tuh sus Novi lagi ke kamar mandi. Jadi aku langsung ke kamar,”


“Terus sekarang Rafka, masih marah atau nggak?”


“Tadi sih aku tanyain jawab mas, tapi nggak tahu dia marah atau nggak” pungkas Adiba.


“Aku jadi ngerasa bersalah deh mas sama Rafka. Semenjak dia jadi abang, dia jarang dapat perhatian dari kamu atau aku” lirih Adiba yang merasa bersalah terhadap sang anak.


“Kapan-kapan kita bagi waktu sama dia, kalau nggak besok ajak dia ke Paris aja” putus Rendra. Dia harus membuat anaknya agar tidak merasa tersisihkan meskipun ada adik-adiknya. Dia akan jadi orang tua yang tidak membeda-bedakan anak-anaknya satu sama lain.

__ADS_1


“beneran mas kita ajak Rafka, dia pasti senang nanti.” Ucap Adiba yang terlihat senang kalau putra sulungnya mereka ajak.


“Iya kita ajak dia” jawab Rendra.


................................................


Adiba masuk kedalam kamar Rafka dia membuka pintu kamar itu dan melihat Rafka yang duduk di tempat tidur sambil menonton film kartun.


“Sayang, mama boleh masuk?” tanya Adiba pada putranya yang hanya melihat sekilas. Bocah itu tak menjawab ataupun memberi responnya, dia asik menonton mengabaikan sang mama.


“Mama ada kabar bagus loh buat abang?” ucap Adiba sambil melihat anaknya yang dia di tempat tidur. Perempuan itu mendekati putranya,


“Bang Rafka mau denger nggak mama mau ngomong apa?” lagi Adiba berusaha mengobrol dengan anaknya itu.


“Apa?” jawab Rafka yang mulai penasaran dengan apa yang akan mamanya katakan.


“papa mau ngajak kita ke Paris sayang. Abang seneng nggak, kita bakal liburan bertiga”


Rafka menatap mamanya tak percaya,


“Mama serius?” tanya bocah itu.


“Iya mama serius”


“mama nggak bohong, bukannya ngajak adek bayi ya”


“Mama nggak bohong kan, mama serius kan.” tanya bocah itu lagi.


“Iya mama serius”


“beneran?”


“Iya sayang”


“Asik aku mau ma, aku mau. kita beneran mau ke Paris kan?”


“Iya sayang kita mau ke Paris, abang seneng kan?”


“Seneng ma, abang seneng” girang rafka dan langsung memeluk mamanya. Bocah itu tampak gembira dengan apa yang dia dengar,.


“Tapi adek bayi nggak diajak?”


“Nggak sayang, mereka mama sama papa tinggal. Kita hanya bertiga kamu mau kan?”


“Iya aku mau” pungkas Rafka.


“Oke, besok kita liburan ya. Bang rafka nggak marah sama mama kan?” ucap Adiba sambil melihat anaknya.

__ADS_1


“nggak” jawab bocah itu sambil menggeleng.


“Abang pokoknya jangan pernah berpikir papa sama mama nggak sayang sama abang lagi. Papa sama mama sayang sama abang” ucap Adiba pada sang anak.


Bocah itu hanya mengangguk saja, sambil memeluk mamanya begitu juga Adiba yang balas memeluk sang anak dengan amat sangat erat.


.......................................


Rendra sudah rapi dengan baju tidurnya, dia sudah siap untuk tidur dan beristirahat tapi saat dia keluar dari kamar mandi tak nampak sang istri ada di dalam kamar.


“Sayang,” panggil Rendra mencari keberadaan istrinya/ tak ada sahutan dimanapun membuat Rendra langsung ingin keluar dari kamar untuk mencari istrinya. Tapi sebuah notofikasi di salah satu ponsel yang ada di nakas meja mengalihkan niat Rendra untuk keluar dari kamar.


Dia lebih tertarik pada notifikasi tersebut, karena itu ponsel milik istrinya. Segera saja Rendra melangkah untuk mengambil ponsel itu.


“Assalamulaikum mba Diba, aku Dimas mbak. Maaf mbak malam-malam ganggu, aku boleh minta tolong nggak mbak” begitulah pesan dari Dimas untuk Adiba.


“Dimas, Dimas siapa?” gumam Rendra saat membaca pesan itu.


“Dimas siapa?” Rendra langsung menjawabnya.


“Mbak Diba lupa sama saya mbak, saya Dimas adik iparnya mbak Oki”


“Ada apa?” jawaban singkat yang dikteikan oleh Rendra.


“Mas, kok megang ponselku. Kenapa?” ucap Adiba yang baru saja masuk dan melihat Rendra sedang memegang ponsel miliknya.


Rendra yang tadinya akan membalas pesan dari Dimas langsung menaruh kembali ponsel istirnya dan melihat kearah sang istri yang sudah berjalan mendekatinya.


“Kamu kasih nomor kamu ke Dimas?” tukas Rendra langsung bertanya.


“Iya mas, kamu nggak pa-pa kan?”


“Aslinya aku keberatan. Nih, dia mau minta tolong sama kamu” ucap Rendra dan langsung memberikan ponselnya pada Adiba.


“Dia minta tolong apa mas?” tanya Adiba sambil menerima ponsel tersebut.


“mana aku tahu” jawab Rendra cuek, dan dia langsung menyibak selimut dan berbaring membelakangi sang istri.


Adiba hanya bisa menghela nafas melihat Rendra yang menjawabnya dengan tidak enak di dengar. Adiba memutuskan tak membalas pesan Dimas. Kalau dia lebih memilih membalas pesan itu Rendra pasti sampai pagi akan mendiami dirinya atau bahkan menyindirnya.


Adiba langsung menaruh ponselnya di nakas meja, dan dia langsung berdiri untuk cucu muka baru setelah itu ia akan tidur.


Rendra menoleh sekilas melihat sang istri yang menaruh ponsel dan pergi, diam-diam ia tersenyum karena Adiba tak menanggapi pesan dari Dimas.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2