
Rendra sudah turun ke meja makan, dia mengambil duduk disebelah Jeremy yang sudah berada di meja makan tersebut bersama dengan Mamanya sedangkan Adiba belum bergabung dimeja makan membuat Citra merasa aneh begitu juga dengan Jeremy yang melihat kearah Mamanya mereka saling memberikan tatapan julid satu sama lain menatap kearah Rendra bersamaan.
“Kakak ipar dimana kak?” tanya Jeremy membuka suara lebih dulu.
“Masih di atas belum siap-siapa”
“Belum siap-siapa atau memang kelelahan” sahut Citra menatap penasaran Rendra.
“kelelahan kenapa? Perasaan nggak kelelahan dia” jawab Rendra yang tak maksud ucapan Mamanya.
‘Ya kelelahan melayani mu lah kak, kayaknya mama sama papa bakal punya cucu lagi nih” tukas Jeremy yang menyahut begitu saja..
“Bocah diem aja deh lu, gagal gara lo juga” sungut Rendra menatap kesal Jeremy.
“Kok gara-gara-gara aku, aku ngapain” heran Jeremy sewot menatap kakaknya.
“Jeremy kamu ngapain, kamu ganggu kakakmu semalam” tanya Citra.
“Nggak ma, ya kali jadi pebinor kakak sendiri. jangan asal deh kak” kesal Jeremy.
“Ya makanya kalau nggak mau dituduh, aturan semalam kau urus Rafka temani nonton. Gara-gara kau tidak menemani dia nonton dia masuk ke kamar”
“Iih, memang gue baby sitter yang jagain anak lo dua puluh empat jam. Ogah,.”tukas Jeremy dan langsung mengambil nasi di piringnya mengabaikan sang kakak yang tampak menggerutu tidak jelas.
“Kamu kalau nggak bulan madu lagi sana pergi kemana berdua sama Adiba,, biar Rafka Mama yang urus” ucap Citra memberi usulan terhadap sang anak.
“Nggaklah ma, aku kasihan sama Rafka ditinggal terus. Dia jarang ketemu sama kita berdua setiap harinya, masa mau ditinggal lagi” ucap Rendra menolak saran sang Mama.
“Ya kalau nggak gitu kamu ya baka keganggu terus, dia pengen lengket terus sama kamu kan. terus kamu kalau nggak berduaan aja sam Adiba kapan bisa buat adik untuk Rafka lagi. Sudah mau enam tahun loh dia butuh adik Rend” ucap Citra.
“Udah ah, gampang nanti. Kalau nih anak bisa kerja sama bakal nggak ribet” ucap Rendra sambil menendang pelan kursi Jeremy.
“Apaan sih, nggak jelas tahu nggak” kesal Jeremy menatap kakaknya yang bodo amat.
“Asli nyebelin lo” ketus Jeremy lagi.
...............................................
“Aku nanti ijin pulang cepat ya” ucap Adiba melihat sekilas kearah Rendra yang mengemudikan mobil saat ini.
Mereka berdua sudah dalam perjalanan ke kantor sekarang, sehabis mengantar Rafka berangkat sekolah mereka langsung pergi bekerja dan di perjalanan Adiba sedikit takut untuk meminta ijin pada suaminya tapi mau bagiamana lagi dia harus ijin karena mereka berdua sudah komit untuk menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai.
__ADS_1
“Kenapa ijin pulang cepat? Kamu mau kemana?” tanya Rendra penasaran.
“Aku mau ketemu Tere, besok ulang tahunnya” lirih Adiba mengingat sahabatnya itu membuatnya sedih kembali saat ini.
“Iya tapi aku antar ya, kalau kamu tidak mau berarti tidak usah temui dia” ucap Rendra memberikan pilihan.
“Ya udah terserah kamu, kalau mau mengantarku” ucap Adiba mengiyakan ucapan Rendra.
“Ya udah nanti, pulang kerja aku antar kamu. ada Tama di sana?”
“Nggak ada, kak Tama nggak bisa dateng, dia di luar negeri”
“Baguslah kalau dia tidak di sana, kalau dia di sana mood ku rusak” ucap Rendra begitu jujurnya.
“jangan begitu, dia sudah seperti kakakku, berarti dia kakakmu juga”
Rendra sebenarnya tidak sependapat dengan ucapan Adiba barusan, tapi lebih baik dia diam daripada dia harus adu argumen dengan istrinya.
Mereka berdua kemudian saling diam, mobil kembali terasa hening dan hanya alunan musik saja yang diputar Rendra untuk menemani mereka berdua.
...............................
“Gila sih ini, asli aku nggak terima deh enak banget sih bu Adiba. Dia yang sekertaris gue yang nyiapin begini coba, kerjaan gue duoble gaji nggak dobel. Dia kayak bos aja ya, jam segini belum berangkat mentang-mentang bos juga belum berangkat” gerutu perempuan bernama Tika yang menyusun berkas-berkas di mejanya dengan kasar. Teman-temannya yang ikut membantu juga merasakan hal yang sama mereka tidak terima dengan hal ini.
“Udahlah kalian berdua nggak usah ngomel, jalani aja bisa kan” pungkas Kania yang kebetulan lewat didekat mereka
“Bisa diem nggak sih lo Kania, bocah juga ikut campur” ucap Tika yang tidak suka dengan Kania.
“Ya memang gue bocah tapi gue lebih dewasa dari kalian cara berpikirnya, “ ucap Kania tidak takut.
“Kania, Kania udah lah. Nggak usah di tanggepi dua orang itu” ucap seorang perempuan yang datang bersama seorang laki-laki disebelahnya. Perempuan itu bernama Pia teman satu universitas Adiba dulu.
“benar kata Pia, perempuan cabe dua itu nggak susah di tanggepi” ucap Amar yang menatap sinis Tika dan Fei.
“Ini kenapa ya kumpul-kumpul disini, kalau kerja atau ngerumpi di warung” suara tegas membuat mereka semua langsung melihat kearah sumber suara tersebut.
“pa..pak Rendra” ucap semuanya yang ada disitu.
Mereka semua juga terkejut melihat Adiba yang datang bersama Rendra saat ini,
“Nih dua orang cabe ngrumpiin bu Adiba pak” ceplos Kania menatap sinis kearah Tika dan juga Fei membuat kedua perempuan itu melebarkan matanya menatap Kania yang bicara begitu di depan bos mereka.
__ADS_1
“Maaf kalau boleh tahu kalian ngomongin saya apa ya? Kalau soal saya terlambat berangkat saya minta maaf” ucap Adiba melihat kearah dua orang yang sepertinya tidak suka padanya. Dia berbicara begitu karena sering mendengar keduanya membicarakan tentang dia yang bekerja tidak benar.
“Ngg..nggak kok bu” sahut Fei yang tampak gugup.
“Heleh, bilang nggak tadi ngomong apa kalian. Kalian jelekin bu Adiba kan. bilang ngga terima pekerjaan bu Adiba kalian kerjakan, munafik” cibir Kania dan juga Pia.
“Ada hak apa kalian membicarakan sekertaris saya” ucap Rendra yang langsung membuka suaranya.
“Mereka iri pak, karena bu Adiba lebih muda dari mereka tapi jabatannya atasan mereka. Dari dulu mereka iri” pungkas Pia.
“jangan asal deh Pia, kapan kita ngomong begitu” ucap Tika yang tidak terima.
“Nggak ada bukti sih” sahut Pia enteng dan dia langsung memalingkan wajah malas menatap Tika dan Fei.
“Bukan soal itu sih pak, mereka iri karena bu Adiba dekat sama bapak makanya mereka begini” ucap Kania.
“Benar kata Pia dan kata Kania soal kalian yang tidak suak dengan istri saya?” ucap Rendra langsung menatap Tika dan juga Fei.
“Maaf pak, ta..tadi bapak bilang apa? bu Adiba istri anda?” tanya Amar yang merasa ada yang salah dengan ucapan Rendra barusan.
“Istri saya kenapa?” ucap Rendra menegaskan kata istri.
Adiba yang berada disitu menatap Rendra yang memberitahu mereka kalau dia istrinya.
“Perlu kalian ketahui, Adiba ini istri saya mengerti, wajar kan dia dekat dengan saya. Dia istri saya mengerti. Dan kalian berdua kalau tidak suka dengan istri saya silahkan resign dari pekerjaan kalian dan tinggalkan kantor ini mengerti.” Tegas Rendra menatap Fei dan juga tika.
“Perhatian semuanya,” seru Rendra pada semuanya yang sibuk bekerja dan mengabaikan mereka yang berdebat.
“Klian semua dengarkan baik-baik, perempuan disebelah saya ini yang sekarang menjadi sekertaris saya saat ini adalah istri saya mengerti. Jika kalian semua mengganggunya atau tidak suka dengannya maka kalian berurusan dengan saya. Camkan baik-baik” tukas Rendra begitu lugasnya.
“Ayo sayang,” rendra langsung menarik Adiba untuk pergi dari situ, para pegawai yang berada satu lantai dnegan mereka sangat terkejut mendengar ucapan dari bosnya barusan bahkan dari mereka ada yang saling bertanya apakah mereka salah dengar kalau bosnya mengumumkan mantan direktur mereka sebagai istri. Lalau kapan mereka berdua menikahnya kenapa mereka semua tidak ada yang tahu soal ini.
“Eh, eh tadi serius pak Rendra bilang bu Adiba istrinya, kapan nikahnya” ucap salah satu pegawai perempuan yang menepuk bahu pegawai pria yang ada disitu.
“Mana ku tahu, sudah ayo kerja lagi”
“Aduh patah hati dong kita, kalau beneran.”
“berarti anak yang waktu itu datang kesini sama pak Jeremy, itu beneran anaknya pak Rendra. Oh my god”
Itulah kira-kira ucap-ucapan terkejut mereka semua yang berada disitu, mereka seakan tak yakin dengan apa yang mereka dengar barusan.
__ADS_1
°°°
T.B.C