CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 67


__ADS_3

“yey, Mama sama Papa pulang” seru Rafka yang berlari menghampiri Papa dan mamanya yang baru saja masuk kedalam rumah.


Bocah enam tahun itu langsung memeluk Mamanya yang sudah merentangkan tangan menyambut dirinya yang berlari girang.


“anak Mama, Mama kangen sama kamu” ucap Adiba yang sudah menggendong Rafka.


“Aku juga,” jawab Rafka dan mencium pipi sang Mama.


Terdengar derap langkah mendekati mereka bertiga saat ini, membuat perhatian ketiganya beralih.


“Oh kalian, Mama kira siapa kok Rafka lari-lari” ucap Citra terlihat lega saat melihat Adiba dan juga Rendra yang baru saja pulang kerja.


Adiba dan juga Rendra hanya tersenyum tipis saja, dan Rendra melihat kearah anaknya yang tengah di gendong sang istri.


“Sini digendong Papa, masa Papa nggak dikasih ciuman selamat datang. Cuman Mama aja ini ceritanya” ucap Rendra.


“hehhe papa juga dong” jawab bocah itu dan langsung mengulurkan tangannya pada sang Papa. Rendra langsung menggendong Rafka sekarang dia dan bocah itu langsung mendaratkan ciuman juga padanya.


“Gitu dong, kan adil sayang” ucap Rendra senang.


“Kalau gitu kamu ke kamar dulu aja sayang, aku nanti” pinta Rendra pada istrinya.


“Ya udah, aku ke kamar dulu ya. Sini jas kamu biar aku bawakan keatas” ucap Adiba pada Rendra.


Rendra langsung menyerahkan jasnya pada Adiba saat ini,


“Kamu mau aku siapin air hangat buat mandi nggak?” tanya Adiba sebelum pergi.


“boleh,” jawab Rendra,


“Ya sudah aku ke atas dulu, sayang kamu sama Papa dulu ya” ucap Adiba sebelum pergi.


“Oke Mama” jawab Rafka.


“Ma aku keatas dulu ya,” pamit Adiba pada mertuanya yang masih disitu sedari tadi melihat mereka.


“Iya,” jawab Citra singkat.


Citra melihat kepergian Adiba terus-terusan hingga menantunya tidak terlihat karena sudah masuk keruang tengah.


“mama mau ngomong sama kamu Ren, ayo ikut mama” ucap Citra mengajak anaknya berbicara.


“mau ngomong apa ma disini saja”


“Nggak bisa, Rafka kamu mainan kayak tadi dulu ya. Oma mau bicara sebentar sama Papa kamu” pungkas Citra pada cucunya yang tengah di gendong anaknya saat ini.


“Oma mau ngomong apa sama Papa?” tanya bocah itu penasaran.


“pembahasan orang dewasa sayang, kamu mainan sebentar ya” ucap Citra yang mendekat dan menurunkan Rafka dari gendongan Rendra.


“Ya udah deh” bocah itu langsung cemberut dan berjalan lesu kembali ketempat nya tadi.

__ADS_1


“Mau ngomong apa sih ma?” tanya Rendra yang penasaran karena Mamanya itu tampak serius.


“Ini soal istri kamu, dia manggil kamu kenapa begitu. Kamu ini suaminya nggak ada kata basa-basi buat manggil suaminya apa, suruh dia manggil kamu mas atau apa biar kelihatan sopan sama suami” ceramah Citra pada sang anak.


“Kita seumuran ma, masa dia aku suruh manggil aku mas sih”


“Ya apa salahnya kalau kalian seumuran, kamu tetap suaminya. Istri itu harus hormat sama suami. Jangan mentang-mentang dia juga wanita karir, dia kan orang jawa manggil mas kan bisa. Kamu kasih tahu istri kamu, daripada Mama yang kasih tahu malah mama dikira mertua yang ikut campur nanti” tukas Citra mengomeli Rendra.


“Iya nanti aku coba kasih tahu Adiba” lirih Rendra tidak bisa melwan ucapan sang Mama, dia memang kalau dengan Mamanya tidak bisa banyak omong. Hal ini membuatnya menghela nafas mau kah Adiba ia suruh begitu. Dia langsung pergi melangkah berat menuju ke dalam


......................................................


Adiba duduk di pinggir tempat tidur sambil membaca majalah, dia juga tampak sibuk melihat ponselnya sesekali. Dia haru memeriksa jadwal kerja Rendra adakah laporan meeting dari perusahaan lain atau tidak.


“Sayang, baju ku sudah kamu siapin” ucap rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya serta tubuhnya bagian atasnya yang terekspos.


“Udah kok,” Adiba langsung bangkit dari duduknya dan menaruh majalahnya begitu saja di kasur.


Dia beralih mengambil kaos berlengan pendek berwana biru army dan dia menyerahkannya pada Rendra.


Rendra mengambilnya dan langsung memakai itu, Adiba kembali mengambil celana pendek yang ada di kasur dan menyerahkannya lagi pada Rendra. Rendra Pun sama dia langsung memakainya sekarang.


“Sayang aku mau bicara sama kamu” ucap rendra yang selesai berganti baju saat ini dan menyerahkan handuk basah pada Adiba agar di gantung di tempatnya.


“Mau ngomong apa, ngomong aja” ucap Adiba sambil berjalan untuk menggantung handuk basahnya.


“Kamu sekarang kalau manggil aku jangan kamu ya, panggil aku mas” ucap Rendra meminta istrinya memanggilnya itu.


“kan kita seumuran, masa aku manggil aku mas” ucap Adiba yang terlihat protes.


“Ya aku kan suami kamu, wajar dong kamu manggil aku begitu” tukas Rendra.


“Ya tap..”


“Nggak ada tapi-tapi an sayang, mulai sekarang kamu manggil aku mas.” Tegas Rendra yang langsung memotong ucapan Adiba dnegan wajah serius. Dia berbicara sedikit tegas dengan Adiba karena di tahu wanita itu takut padanya kalau dia sudah marah.


“Iya,” lirih Adiba menerima saja dia takut Rendra marah.


“Bagus, aku senang kalau kamu nurut” ucap Rendra berjalan menghampiri Adiba dan mengecup keningnya.


“Aku ke bawah dulu” ucap Adiba.


“Iya,” jawab Rendra singkat.


....................................


Di Amerika Tama tampak gelisah sendiri, dia duduk merenung di kamarnya yang tidak jauh dari kamar Pram. Dia sesekali melihat ponselnya ia ingin menghubungi Adiba untuk bercerita dan menuangkan segala bebannya tapi dia juga memikirkan soal rumah tangga Adiba kalau dia menelpon perempuan itu pasti suaminya akan cemburu apalagi saat ini di sana sudah malam hari.


“Kenapa kepalaku berat sekali, harus aku bagi dengan siapa beban ku ini” gumam tama, dia saat ini gelisah memikirkan kondisi Pram besok saat mereka berdua kembali ke Indonesia. Dia takut saat Pram kembali makan depresi pria itu akan kambuh lagi dan membuat pram benar-benar gila. Dia tidak ingin orang yang sudah dia anggap saudara kembali menderita lagi.


Saat Tama tengah kalut dengan pikirannya, ponsel yang sedari tadi dia genggam berbunyi membuat dirinya melihat siapa yang menelponnya saat ini.

__ADS_1


“Nomor Indonesia, siapa ini” gumamnya saat melihat nomor itu tidak yakin. Dengan ragu dia mengangkat panggilan tersebut.


“Halo dengan siapa ini?” tanya Tama saat sudah mengangkatnya.


Tapi tidak terdengar suara di seberang sana membuat Tama memastikannya lagi apakah masih tersambung atau tidak.


“Halo, dengan siapa di sana?” ucapnya lagi mengulang pertanyaannya sebelumnya.


“Suara abang masih sama seperti dulu, kamu dimana? Aku rindu”


Tama tampak mengernyitkan dahinya mendengar suara itu, dia tidak tahu dengan siapa dia berbicara saat ini.


“Maaf dengan siapa ini, aku tidak kenal dengan anda” ucap tama karena dia benar-benar tidak tahu dia tengah berbicara dnegan siapa.


“Masa lupa dengan bocah kecilmu yang benar saja” ucap suara diseberang sana yang terlihat kesal.


“Siapa?”


“Tidak usah bahas diriku, sekarang bang Tama dimana? Masih di Luar Negeri kapan pulang?” ucap suara perempuan itu.


“Ya, kau siapa? Aku tidak kenal denganmu jadi aku matikan saja mengerti jangan coba-coba hubungi ku lagi” kesal Tama dan langsung mematikan panggilannya begitu saja.


“Siapa dia, siapa bocah kecil itu” kesalnya tak habis pikir dengan orang tersebut dan ponsel Tama kembali berdering membuat pria itu langsung melihatnya. Nomor yang sama yang menghubunginya kembali. Tapi dia tidak ada niatan untuk mengangkat nya, ia justru mereject nya begitu saja.


“Siapa orang ini, aku sungguh tidak mengenali suaranya” gumamnya.


“Aku harus mencari tahu siapa dia,” gumam Tama dan langsung mencari nomor temannya yang seorang intel kepolisan untuk menyelidiki soal nomor itu.


“Halo Van, aku minta tolong cari tahu soal nomor ini. di terus menghubungiku dan menggangguku saat ini”


“.......................”


“Tidak perlu kau tangkap cukup cari tahu siapa dia dan kirimkan padaku hasil pencarian mu”


“...........................”


“Tidak, aku sendiri yang akan mencari orangnya kalau kau sudah temukan identitas perempuan itu.”


“.................................”


“Iya dia perempuan,”


“..................................”


“Oke aku tunggu kabarmu” ucap Tama dan langsung berakhir panggilan itu, dia berharap temannya yang bernama Evan bisa menemukan orang yang terus mengganggunya. Tapi ingatannya sat ini terngiang akan sebutan bocah kecil tadi, sepertinya dia pernah menyebutkan kalimat itu tapi dimana dan dengan siapa dia memanggil dengan sebutan tersebut bingung Tama.


°°°


T.B.C


P.S: Maaf ya reader semua kalau banyak kesalahan dalam pengetikan. Misalkan kalau ada kata yang salah tolong komen ya biar author benar kan, agar kalian nyaman dalam membacanya.

__ADS_1


__ADS_2