CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 121


__ADS_3

Rendra yang baru saja keluar dari rumahnya dikejutkan dengan kedatangan dua tamu yang telah di tunggu sang istri.


“Kalian,.” Ucapnya saat melihat dua orang yang sudah berdiri didepan rumahnya.


Kania dan Tama langsung berjalan semakin mendekati Rendra yang tampak terpaku melihat keduanya yang sudah berada dirumahnya.


“hai sayang,.” Panggil Tama pada Rafka yang berdiri disebelah sang Papa.


“Daddy,.” Seru Rafka dan langsung berhambur kearah Tama.


Pria itu berjongkok menyamai tinggi rafka yang saat ini mememluk dirinya, Rendra sendiri yang melihat itu hanya bisa diam.


“Tumben Daddy kesini,” heran bocah itu setelah memeluk pria yang ia panggil Daddy.


“Iya, Daddy ada perlu sama mama kamu.” jawab Tama.


“Salim dulu sayang sama tante cantik” ucap Tama pada Rafka.


Rafka langsung berjalan kedepan Kania saat ini dan dia langsung mengambil tangan perempuan itu dan menciumnya.


“tante cantik pacarnya daddy kan?” tanya bocah itu smabil mendongak menatap Kania.


Kania yang canggung hanya mengangguk pelan saja,


“Kalian masuk saja dulu kedalam, maaf aku tidak bisa menemani kalian bicara. Aku ada meeting soalnya” tukas Rendra pada Tama.


“Iya tidak apa-apa” jawab Tama


“Rafka, ayo sayang kita berangkat” panggil Rendra pada anaknya.


“Siap papa, Dada Daddy, dada tante Cantik” ucap Boah itu dan langsung berlari kecil menyusul papanya yang berjalan lebih dulu.


Tama dan Kania hanya tersenyum saja, dan mereka langsung berjalan masuk kedalam rumah milik Rendra.


.........................................................


“Ini kita mau kemana? Ngemal atau mau makan?” tanya Tama yang tengah mengemudikan mobil. Bertanya pada kedua perempuan yang saling diam di dalam mobilnya.


“Aku ikut aja mau kemana bang” jawab Adiba yang duduk di kursi belakang.


“Kamu Kania, kita mau kemana. Mau ngemal?” tanya Tama pada Kania yang duduk disebelahnya.

__ADS_1


“Boleh kak, nanti cari Cafe di mall. Kita sekalian makan juga” jawab Kania,


“Ya sudah kita ngemal, sekaligus ke cafe” pungkas Tama pada akhinya. Mereka sedari berangkat tadi memang belum banyak bicara, karena mereka tak lama-lama dirumah Adiba. Menunggu Adiba selesai berganti baju dan mereka langsung pergi tanpa biara panjang lebar. Jadi momen berbicara antara Adiba dan Kania belum ada.


“tadi Rendra kayaknya buru-buru berangkat ke kantor, dia ada urusan penting di kantornya?” tanya Tama sambil melihat Adiba dari balik kaca yang berada di atas bagian tengah.


“Dia ada rapat penting katanya bang makanya berangkat buru-buru” balas Adiba smabil melihat kearah Tama.


“Oh, pantes. Tadi langsung pergi dia. abang kira dia pergi begitu karena marah sama abang” tukas Tama.


“marah kenapa? Bang Tama kan nggak ada salah” heran Adiba sambil menatap aneh pada Tama dan dia sesekali melihat Kania yang mendengarkan mereka berbicara.


“Ya, siapa tahu abang ada salah sama kamu atau suamimu”


“Nggak adalah bang, bang Tama nggak ada salah apa-apa sama kita berdua” ucap Adiba yang merasa tak enak sendiri dengan suasana saat ini. mungkin Tama membahas ini karena dia yang menghindar dari pria itu, batin Adiba.


“Hemm,”


Adiba jadi merasa canggung dan tidak enak pada Kania yang sedari tadi hanya diam saja. Rasanya ia untuk sekedar menyapa Kania jadi sungkan. Ia bingung harus apa, disaat perempuan yang kemungkinan menjadi calon istri dari pria yang sudah ia anggap kakak tidak senang dengan kedekatan dirinya dan Tama.


“Apa aku basa-basi tanya saja ya, daripada saling diem begini. nanti bang Tama mikirnya aneh-aneh lagi soal akau sama Kania” batin Adiba berbicara sendiri


“Ka..” belum sempat Adiba berbicara dengan Kania, ucapannya sudah terhenti saat tama kembali berbicara padanya saat ini.


Mendengar itu Kania langsung melihat kearah Tama penasaran, dan sedikit curiga. Apa kira-kira yang akan di katakan Tama pada Adiba.


“Apa bang?” tanya Adiba


“Abang mau menikah” tukas Tama seketika.


“menikah? Allhamdulilah kalau bang tama mau menikah. Menikah dengan Kania kan bang. waah selama ya Kania bang tama akhinya melamar kamu” Adiba terlihat begitu gembiri mendengar kabar itu. rasanya dia ikut senang dengan apa yang di katakan Tama barusan.


“Iya terimakasaih” jawab Kania tersenyum canggung sambil melihat kearah Adiba. Tama sendiri hanay tersenyum rencananya untuk membuat mereka berdua berbiara meskipun singkat telah terwujud juga. obrolan panjang di bicarakan nanti saja saat di cafe.


“Perasaan banag belum ngomong panjang deh, kamu sudah nebak begitu”


“Bang tama nggak perlu ngomong panjang lebar bang. aku sudah tahu apsti abang ya menikah sama Kania. Mau sama siapa lagi coba, mana ada cewek yang mau sama bang Tama yang sok cocol, cuek sama gengsian begitu. Bener nggak Kania?” ucap Adiba meledek Tama dan meminta pendapat Kania.


“Bener banget Adiba, cewek mana coba selain aku yang mau sama bang Tama. Bang Tama kayak gitu, gengsian. Aku pergi baru sadar dia kalau cinta matinay ya Cuma aku” ledek kania yang setuju dengan ucapan Adiba.


“Banyak cewek yang deket denganku, kalian nggak tahu aja.”

__ADS_1


“masa, aku selama ini nggak tahu tuh bang” ucap Adiba sambil memberikan tatapan tak percaya.


“Aku juga nggak tahu, mana cewek lain selain aku sama Adiba yang dekat sama kamu kak. Perasaan nggak ada, sok-sok deket cewek lain lagi” sungut Kania.


“Udah-udah, nggak usah dibahas. Aku lagi nyetir nih, kalian mau kenapa-kenapa. Aku kalah, udah kita ngobrol disana nanti” tukas Tama yang merasa terperangkap di dua wanita. Tapi ini memang rencananya agar mereka berdua slaing sahut-sahutan saat berbicara. Tanpa kedua perempuan itu sadari Tama tersenyum kecil smabil melihat keduanya bergantian.


.................................................


Rendra berjalan di koridor perusahaannya, baru saja dia keluar dari ruang rapat. Rapat pentingnya sudah selesai dan dia begitu senang saat ini. karena cliennya ingin melakukan kerjasama dengan perusahaannya membangun sebuah bisnis bersama.


Beberapa langkah dia berjalan, ponsel yang ia kantungis edari tadi bergetar membuat langkahnya menuju keruangannya saat ini terhenti. Dia langsung mengambil ponsel di saku celananya tersebut dan kembali berjalan sambil mengangkat panggilan itu.


“Ya Jeremy, ada apa?” tanya Rendra saat mengangkat panggilan yang ternyata dari adiknya.


“Dimana kak?” tanya Jeremy diseberang sana.


“Dimana lagi kalau bukan di kantor” tukas Rendra sambil terus berjalan.


“Ada apa? hal penting atau bukan. Kalau bukan matikan saja aku sibuk” ucap Rendra lagi, dia sedang tak ingin menanggapi snag adik. Kalau dia terus menanggapi ucapan Jeremy kedepannya bisa-bisa moodnya yang cerah ini jadi buruk.


“Hal penting, mau dengar nggak” ucap Jeremy sedikit meninggikan suaranya.


“Apa? cepat katakan. Jangan merusak moodku”


“Gwen Gwen, ingin bertemu denganmu mau atau tidak?”


“Kau bilang siapa?”


“Gwen, mantan pacarmu. dia ingin bertemu denganmu. Kau mau bertemu dengannya tidak”


“Nggak, buat apa gue ketemu dia.”


“Terserah kak, dia sudah di Indonesia sekarang. Dia ingin bertemu dneganmu, sudah ya, aku matikan. Oh iya kemungkinan nanti mereka kerumahmu” ucap Jeremy pada kakaknya.


“Ya, Jeremy. Janagn gila kau. Aku tidak ingin bertemu dnegannya. kakak iparmu bisa marah” pungkas Rendra tampak mencak-mencak karena ucapan Jeremy.


“Ya aku tidak tahu, sudah aku matikan. Pekerjaanku juga banyak, bye” ucap Jeremy langsung mematikan panggilannya.


“Halo, Jeremy, Jeremy” ucap Rendra saat panggilan sudah di matikan. Dan dia tambah kesal dengan hal itu.


°°°

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2