CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 62


__ADS_3

Adiba sedang duduk bersama ibu mertuanya di sofa ruang tengah, dia tampak gugup sendiri ketika mertuanya itu mengajaknya berbicara berdua saja. Entah mengapa ibu mertuanya hanya mengajaknya mengobrol berdua tanpa Rendra dan juga tanpa ayah mertuanya.


Dua orang itu sendiri sedang bermain bersama Rafka di halaman samping, sebenarnya hari ini dia dan Rendra bekerja tapi karena Rafka ingin di temani bermain membuatnya mengurungkan niat untuk kerja. Hal ini dan Rendra lakukan karena sebagai hadiah untuk Rafka yang kemarin baru merayakan ulang tahunnya..


“Ada apa ya ma? Kenapa Mama mengajakku bicara berdua saja?” tanya Adiba dengan ragu, karena mertuanya itu hanya diam padahal dia yang mengajak untuk berbicara berdua saja.


“Mama sebenarnya mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi mama takut kamu tersinggung dnegan ucapan mama nanti” jawab Citra menatap menantunya yang tampak bingung menantikan apa yang akan dia katakan.


“Memang, masalah apa ma kalau aku boleh tahu”


“Soal pekerjaanmu,?”


“kenapa ya memang dengan pekerjaanku?”


“Mama sarankan kamu lebih baik tidak usah bekerja saja, kau di rumah saja mengurus Rafka. Kasihan anakmu sering sendirian di rumah” ucap Citra yang secara tak langsung meminta menantunya untuk berhenti bekerja.


Deg,.


Adiba yang mendengar itu menatap tak percaya, mertuanya meminta dirinya untuk berhenti bekerja.


“Tapi ma, itu pekerjaanku. Aku harus bekerja,”


“Iya mama tahu itu pekerjaanmu, tapi untuk apa lagi kau bekerja. Anakku kan sudah bekerja untukmu dan untuk Rafka. Jadi untuk apalagi kamu bekerja” tukas Citra sambil menyilang kan kakinya dan mengambil cangkir teh didepannya.


Adiba yang mendengar itu langsung terdiam, ucapan mertuanya seakan menusuk hatinya.


“Udahlah Diba, lebih baik kamu di rumah saja, untuk apalagi kamu bekerja” ucap Citra lagi,


Adiba bingung harus menjawab apa, dia suka dengan pekerjaannya dan ini sudah ia kerjakan dari beberapa tahun lalu. Jadi jika di suruh untuk berhenti bekerja sungguhlah pilihan sulit baginya.


“ aku pikirkan dulu soal itu ma,”


“Apalagi yang harus kau pikirkan, lebih baik kau jadi ibu rumah tangga saja dan fokus buat adik untuk Rafka agar dia tidak kesepian”


“Ya sudahlah, jika kau mau memikirkannya. Kau boleh pergi kalau ingin pergi sekarang” ucap Citra yang langsung memalingkan wajahnya dari Adiba.


Melihat itu rasanya membuat Adiba semakin bimbang, haruskah dia menuruti permintaan ibu mertuanya.


Adiba perlahan berdiri dari duduknya, dia langsung pamit pergi pada sang mertua, dia akan ke kamarnya saat ini. Dia mau menelpon bundanya meminta solusi soal masalahnya ini.


................................


“Aku kira kamu dimana?” ucap Rendra yang masuk kedalam kamar dan melihat Adiba yang duduk di pinggir tempat tidur.


Adiba yang tadi hanya diam melamun langsung melihat kedatangan suaminya tersebut.


“Kamu kenapa?” tanya Rendra sambil mendekati Adiba, dan duduk disebelahnya.


“Menurutmu, aku lebih baik masih bekerja atau berhenti bekerja” Adiba membuka suaranya menatap sang suami.

__ADS_1


“Kenapa tanya itu, bukannya kamu tidak ingin membahas soal pekerjaan. Kalau aku suruh kamu berhenti juga kamu menolaknya kan, itu keinginanmu jadi tidak masalah kalau kamu menyukainya. Kenapa kamu bahas?”


Adiba hanya menunduk diam, dia tampak berpikir haruskah dia bilang kalau Mama Rendra menyuruhnya berhenti bekerja. Dan bundanya tadi juga menyarankan untuk dia berhenti bekerja saja agar Rafka tidak merasa kehilangan kasih sayang.


“Kenapa malah diam, bilang..kamu ada masalah?”


“Mama Citra memintaku untuk berhenti bekerja dan lebih fokus mengurus Rafka menurutmu bagaimana?”


“Mamaku menyuruhmu berhenti bekerja, lalu jawabanmu apa?”


“Aku ingin tetap bekerja” lirih Adiba.


“Ya sudah bekerja saja kalau itu pilihanmu, aku tidak masalah”


“Tapi bunda Julia juga menyarankan aku untuk tidak bekerja, dan fokus mengurus Rafka saja” ucap Adiba jujur.


“Keinginanku sih juga begitu, kamu di rumah saja tidak usah bekerja. Tapi kalau kamu tidak ingin berhenti ya tidak apa-apa”


“Kamu serius kalau tidak apa-apa kalau bekerja,”


“Iya aku serius”


“Terimakasih,” Adiba langsung memeluk Rendra dengan sangat erat. Karena pria itu mengerti dirinya, dia memang masih ingin bekerja soal Rafka dia akan membagi waktunya agar tidak terlalu membuat anaknya kesepian.


“Sama-sama” Rendra membalas pelukan erat istrinya tersebut, dia mengusap hangat bahu sang istri.


Rendra yang memeluk Adiba tiba-tiba saja menjatuhkan istrinya di ranjang dan dia langsung berada diatasnya.


“Buat Adik untuk Rafka, selagi dia masih sama Papa ayo lakukan lagi seperti waktu itu d kantor. Kemarin malam kita gagalkan?” ucap Rendra sambil memegangi kedua tangan Adiba.


“Dasar mesum,”


“Siapa yang mesum, kalau kamu nggak mulai dulu aku nggak begini. salah siapa memelukku dan memancing milikku”


“Si..siap yang memancing mu”


“Ini mu yang memancing ku, kenapa terlalu menempel sekali di dadaku” ucap Rendra sambil melihat kearah gunung kembar Adiba.


“Ya kamu aja terla...” ucapan Adiba terpotong oleh Rendra yang langsung meraup bibir ranum istrinya.


Rendra menciumi wajah Adiba dan turun ke leher menghisap leher itu dan membuatnya tampak merah dan memiliki tanda khas disitu.


“Lanjut atau nggak,” seringai Rendra sesudah memulai semuanya dan berhasil membuat suara yang tak seharusnya keluar dari mulut sang istri.


“Kamu bertanya begitu setelah membuatku bergelora,” balas Adiba sambil tersenyum.


Rendra balas tersenyum dan dia langsung melepaskan baju istrinya, tak lupa dia juga melepas bajunya sendiri dan langsung menggendong Adiba.


“Ma..mau kemana?” tanya Adiba saat Rendra tiba-tiba menggendongnya.

__ADS_1


“Jangan disini, di kamar mandi saja. Nanti kalau disini gawat anak kita yang pintar itu bisa-bisa membuat kita malu” ucap Rendra berbisik di telinga Adiba dan meniupnya singkat sehingga membuat tubuh Adiba langsung meremang.


Adiba mengalungkan erat tangannya di leher sang suami, Rendra sendiri mencium kembali Adiba sambil membawanya ke kamar mandi saat ini. mereka begitu bergelora masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam agar tidak ada yang bisa masuk, pagi yang panas dan bergelora hawa nafsu keduanya terlampiaskan di kamar mandi.


.............................................


Kania dan Sasa rekan kekantor Adiba saat ini sedang duduk berdua di sebuah restauran yang tidak jauh dari kantor mereka. Saat ini jam istirahat makan siang membuat keduanya pergi berdua keluar mencari makan mengenyangkan perut mereka yang kosong.


“Adiba sama pak Rendra nggak masuk lagi ya hari ini?” tanya Sasa pada Kania yang merupakan staff kesekertariatan.


“Nggak, mereka ijin lagi” jawab Kania.


“Sa, kamu teman kuliah Adiba dulu kan? kamu tahu soal dia, aku dengar dulu dia sempat hamil dan punya anak. Memang pak Rendra ayah dari anaknya?” tambah kania menatap Sasa penasaran.


“Soal itu sih aku nggak tahu anak yang di kandung Adiba anak pak Rendra atau bukan yang jelas dulu aku benci banget sama tuh orang.”


“kenapa kamu benci sama dia?”


“Ya benci aja, kesal aja sama dia. hamil begitu dapat beasiswa padahal nggak jelas anak yang dikandung dia waktu itu ada ayahnya atau tidak. Eh dia dapat beasiswa tanpa berjuang sama sekali. Sedangkan aku sudah banyak berjuang untuk mendapatkan beasiswa. Sudahlah nggak usah di bahas, males aku ingat-ingat masa lalu. Jangan bilang kamu ngomong begini denganku karena mau ngadu sama Adiba”


“Ya enggaklah, ngapain ngadu sama dia”


“Ya kamu sama Nurma kan temannya, selalu membela Adiba saat ada yang menjelekkannya” sinis Sasa.


“Ya karena aku bela dia kan nggak seharusnya lah kalian hujat orang tanpa tahu masa lalunya”


“Udahlah males bahas dia lagi, nggak mood”


“Oh satu lagi sih, aku mau tanya sama kamu. kan dulu Adiba saat kuliah hamil pernah ada pria atau siapa gita yang jemput dia dan ngaku suaminya atau apa makanya dia bisa tetap kuliah”


“kayaknya pernah ada sih, aku lupa. Tapi satu yang perlu di garis bawahi, Dewangga nerima Adiba bukan karena dia ada suami atau apa. tapi karena perempuan itu memang sudah dianggap spesial sama pak Frans. Makanya dulu banyak anak-anak yang nggak suka sama Adiba bilang Adiba simpanan Om-Om” jelas Sasa.


“Gila, kalian bilang begitu. Tega benar sih,”


“Ya habisnya dia hamil tapi nggak ada suami”


“Tapi setelah ada pria yang datang ke kampus bilang dia suaminya Adiba, kita semua jadi nggak terlalu bully atau perduli lagi soal dia yang hamil “ lanjut Sasa


“Oh gitu, kamu tahu nggak siapa pria yang mengaku suami Adiba itu, pak Rendra kah?”


“Bukan, dia mukanya indonesia tanpa ada campuran. Tapi ganteng tinggi, hidung mancung putih juga. kalau pak Rendra kan ada sedikit campuran bule gitu kalau orang yang ngaku suaminya Adiba itu bukan kayak bule” ucap Sasa mencoba mengingat pria yang pernah mengaku sebagi suami Adiba dan yang pernah menjemput perempuan itu.


Kania hanya mengangguk-angguk saja dan dia bisa menebak siapa orang itu.


“Ternyata, kamu sudah kembali dari dulu,” gumamnya sambil tersenyum tipis.


“kenapa denganmu?” heran Sasa saat melihat Kania yang tersenyum.


“nggak pa-pa,” balas Kania sambil mengaduk jus alpukat nya dengan sedotan.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2