CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 154


__ADS_3

Jeremy hari ini mengantarkan Rafka ke sekolah, dia sesekali melihat kearah keponakannya itu yang sedari tadi duduk diam. Bocah itu tak seperti biasanya yang selalu aktif dan ceria bahkan banyak pertanyaan yang selalu di keluarkan bocah tersebut.


“Hey boy, kenapa? Diam aja. Om bukan patung loh, ngobrol dong” ucap Jeremy yang seakan mengerti dengan suasana hati Rafka.


“Hehehe maaf Om emy,” balas Rafka sambil tersenyum kecil.


“NO problem, besok ponakan ganteng Om ulang tahun mau minta apa?” tanya Jeremy.


“Terserah Om Emy aja mau kasih apa ke rafka”


“Kok gitu, ayo bilang mau apa nanti om belikan. Atau mau ulang tahunnya kita rayain kayak waktu itu kita undang temen-temen kamu” pungkas Jeremy.


“Nggak usah aja om, aku nggak mau dirayain. Papa sama mama nggak dirumah, jadi aku nggak mau dirayain”


“Kan ada Om Opa, Oma adik-adik sama yang lannya. Kita rayain juga nggak pa-pa, salah sendiri papa kamu sibuk..kita happy aja tanpa mereka” Jeremy berusaha untuk membuju sang keponakan agar terlihat ceria seperti biasanya.


“Nggak ah, mending bawa makanan banyak ke sekolah Rafka aja nanti dirayain sama temen-temen di sekolah” usul bocah itu yang memiliki pemikiran sendiri.


“Serius cuman begitu, kamu nggak masalah nggak di rayain”


Rafka menggeleng singkat, tanda dia yakin dengan keinginannya. Untuk apa juga dirayakan, toh orang tuanya tidak dirumah.

__ADS_1


“Ya sudah nanti Om bilang sama Opa kalau begitu, padahal papa kamu nyuruh Om buatin pesta buat kamu” ucap Jeremy sesekali melihat Rafka.


Rafka tidak menanngapinya, dia lebih fokus melihat ponsel milik Jeremy yang dia pinjam untuk bermain game. Ya dia meminjam ponsel Omnya agar bisa bermain game, karena Ipadnya di pegang oleh susternya dan tidak akan diberikan sebelum weekend tiba. Itu semua atas perintah dari papanya.


..............................


“Sayang tadi pagi aku habis meeting sama klien aku nelpon Jeremy dia sudah aku suruh buatin pesta untuk Rafka” Rendra berjalan mendekati istrinya yang sedang menyisir rambut di depan kaca meja rias.


“Syukurlah mas kalau kamu sudah bilang, aku ngerasa bersalah banget sama dia. dia besok ulang tahun tapi kita malah nggak sama dia” Adiba tampak sedih menatap kearah suaminya.


“Udah nggak usah sedih, besok kan kita mau pulang. Gimana lagi hari ini nggak dapat tiket kita” Rendra berusaha membuat Adiba tidak sedih dia memegang bahu istrinya.


“Kita baru pulang besok, sampainya besoknya. Ulang tahun rafka sudah lewat mas,”


“Semoga saja ya mas,” jawab Adiba ragu, karena dia paham anaknya itu seperti apa. beberapa hari ini semenjak sifat Rafka berubah, dan saat dia ada di Paris baru ia sadar yang Rafka butuhkan bukan semua itu melainkan kasih sayang. Benar kasih sayang, semenjak putra sulungnya tersebut punya adik dia kurang kasih sayang dan terus-terusan di minta mengerti sebagai putra sulung. Padahal selama ini anaknya itu sudah kekurangan kasih sayang karena masalahnya dulu dan Rendra.


“Kamu diem aja, ngelamuni apa.?” tanya Rendra yang melihat Adiba menunduk smabil diam memegangi sisir rambut.


“Mas, nanti kalau kita sudah di Indonesia. Aku mohon sama kamu jangan tekan rafka suruh les, suruh ini itu. kamu sadar nggak sih, dia butuh kasih sayang kita semenjak ada adiknya dia kurang banget kasih sayang dari kita. Apa-apa disuruh mengalah, apa-apa disuruh melakukan tugasnya sebagai anak sulung. Tanpa kita sadari kita sudah menekan dia mas, dan tidak memperhatikan mentalnya” Adiba mendongan dan langsung berucap seperti itu pada suaminya. Dia tidak bisa tinggal diam saja sih saat ini saat dia menyadari perubahan Rafka.


“Siapa yang neken sayang, kita nggak neken dia. aku hanya mengajari dia bagaimana menjadi anak sulung dan seorang kakak di masa depan”

__ADS_1


“Iya aku tahu mas, tapi caranya salah. Kita bimbing dia buat masa depannya pelan-pelan seiring bertambahnya umur dia, jadi dia nggak merasa terbebani dari kecil”


“Aku ngelihat dia nggak terbebani sama sekali, dia enjoy aja apalagi saat dapat mainan dia seneng kan”


“Iya itu luarnya mas, tapi didalamnya kita nggak tahu mas. Alasan dia sedikit berubah sekarang aku rasa karena itu mas, kamu boleh nyuruh dia les atau apa tapi kamu juga jangan batasi dia soal bermain atau apa mas. Dia anak kecil yang butuh hiburan, orang dewasa saja kalau banyak yang di lakukan dia juga butuh hiburan kan” Adiba berdiri menatap sang suami mencoba membuat suaminya sepaham dengan cara pikirnya soal Rafka.


“Rafka itu sangat butuh kasih sayang mas, dia selama lima tahun kurang kasih sayang dari seorang ayah dan ayahnya itu kamu mas. Setelah ketemu kamu Dia deket banget kan sama kamu bahkan aku yang selama ini sama dia, dia nggak sedekat itu sama aku apa-apa kamu yang dia cari. Dan setelah dia punya adik ini dan kamu jarang main dengannya dia menjauh dari kamu kan. Itu karena dia merasa kamu nggak sayang sama dia apalagi kamu kasih dia banyak les dan menyuruh dia banyak belajar sehingga pertemuan kalian makin jarang, kamu pasti ngerasa dia berubahkan, ya mungkin karena itu mas. Dia mikir kamu nggak sayang sama dia” jelas Adiba menatap penuh harap suaminya agr mengerti.


Rendra diam tampak memikirkan ucapan sang istri, benarkah yang diucapkan istrinya itu soal perasaan Rafka. Apa mungkin anaknya itu merasa dirinya tidak sayang dengannya. Tapi kan apa yang dia lakukan sekarang ini demi kebaikan Rafka juga kedepannya.


“Mas, kamu denger aku nggak?” tanya Adiba karena Rendra tak merespon sama sekali.


‘Oke, kalau begitu kurangi les dia. aku juga nggak akan ngelarang dia buat main sama temen-temennya”


“baguslah mas kalau kamu ada niatan begitu, maaf banget ya mas bukan nyamain cara didik kamu sama papa. Dan bukan berarti papa salah didik kamu, tapi hanya perumpamaan saja. kamu dulu selalu di tuntut papa untuk jadi apa yang papa mau kan, kamu disiruh ini itu di leskan juga dituntut jadi kakak yang bertanggung jawab buat Jeremy dituntut untuk meneruskan bisnis papa tapi apa akhirnya kamu berontakkan. Kamu lakuin apa yang kamu mau sampai hal buruk yang tidak diinginkan terjadi. Nah kemungkinan semua itu juga akan menimpa Rafka mas, kalau kamu terus neken dia buat melakukan apa yang kamu mau, biarlah dia berproses selayaknya anak lain.” Ucap Adiba menasehati suaminya.


Pikiran Rendra tampak melayang ke masa lalu, dimana apa yang dilakukan papanya dulu sama seperti yang ia lakukan saat ini pada Rafka. Benar juga perkataan istrinya, dia seharusnya tak melakukan hal tersebut yang malah akan membuat anaknya berontak nantinya. Ia tak ingin anaknya menjadi manusia buruk seperti dirinya dulu.


“benar katamu sayang, seharunya aku tidak melakukan hal itu pada Rafka. Aku merasa bersalah sekarang padanya, dia masih anak-anak tidak seharusnya aku menuntutnya banyak hal. Aku kenapa tidak sadar soal itu, aku malah melakukan hal yang sama yang papa lakukan padaku, astaga aku hampir membuat anakku sendiri menjadi orang yang buruk sepertiku dulu” Rendra tampak frustasi, ia mengusap wajahnya kasar menyesali apa yang dia perintahkan pada anaknya sendiri.


“Sudah mas, tidak usah disesali yang lalu biar berlalu. Yang penting sekarang kita berusaha menjadi lebih baik lagi sebagi orang tua untuk anak-anak kita. Dan besok saat kita pulang ke indonesia kita harus minta maaf sama Rafka mas” balas Adiba sambil mengusap pundak suaminya

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2