
Rendra mengambil bantal dan juga selimut dari dalam ruang ganti, dia membopongnya menuju sofa yang ada didalam kamarnya saat ini.
Adiba yang baru saja menidurkan Rafka masuk kedalam kamarnya saat ini, dia melihat Rendra yang menata bad cover di sofa dan juga bantal disitu membuat perempuan itu mengernyitkan dahinya menatap sang suami aneh.
Adiba menutup pintunya perlahan, dan Rendra yang mendengar itu melihat sekilas Adiba tanpa bicara apapun dia langsung naik ke sofa mengabaikan istrinya begitu saja.
“Kau mau tidur disitu, badanmu tidak sakit semua nanti?” tanya Adiba sambil berjalan mendekat.
“Nggak, kau tidak usah perduli kan kau tidur saja, besok kita banyak pekerjaan” ucap Rendra terkesan dingin dan segera membaringkan dirinya di sofa membelakangi Adiba.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Rendra sekarang membuat hati Adiba terasa sakit, dia tidak menyangka pria itu kan berubah dingin begini padanya karena masalah di kantor tadi.
Apa Salahnya kalau memilih Tama daripada Rendra, Tama yang selalu ada untuknya selama ini. yang selalu memberinya semangat untuk berjuang, dan yang selalu menolongnya dulu.
Mata Adiba berkaca-kaca melihat Rendra yang membelakangi dirinya, kenapa dia jadi sedih begini dengan sikap Rendra padanya. Adiba langsung berjalan ke tempat tidur, dia melangkah cepat dan langsung membaringkan dirinya di situ.
Rendra yang mendengar Adiba sudah naik ketempat tidur melihat sekilas perempuan tersebut yang sudah berselimut membelakanginya.
“Seharusnya kau tidak memilihnya tapi memilihku,” batin Rendra sambil melihat kearah Adiba.
....................................................
Matahari sudah bersinar cukup terang, Adiba baru saja bangun dari tidurnya, dia meregangkan tangannya kesamping dan terasa kosong disebelahnya saat ini membuat dia membuka matanya.
Memang kosong tidak ada Rendra, dan ingatannya kembali pada tadi malam dimana Rendra memilih tidur di sofa. Adiba langsung melihat ke sofa dimana Rendra tidur, pria itu masih berada ditempatnya saat ini. tidur lelap di atas sofa.
“apa dia nyaman disitu, aku pikir semalam dia pindah kesini” lirih Adiba tampak kecewa melihat Rendra yang masih tidur di sofa.
Perlahan kaki indah itu melangkah turun dari tempat tidur, dia harus mandi dan berangkat bekerja. Tapi sebelum itu dia harus membangunkan Rendra dia takut kalau pria itu menuduhnya tidak membangunkannya.
“Rendra Ren, bangun” ucap Adiba saat dia sudah didepan Rendra yang tidur, dia menarik pelan selimut Rendra.
“Hemm,” Rendra masih memejamkan matanya dan malah menggeliat.
“Bangun sudah pagi, kau bilang banyak pekerjaan kan” Adiba berusaha membangunkan Rendra yang belum membuka matanya.
Tiba-tiba saja Rendra menarik tangan Adiba, sehingga membuat perempuan tersebut terjatuh diatasnya.
Rendra membuka mataya melihat wajah Adiba yang cukup dekat dengannya saat ini. dia hanya diam menatap manik mata indah istrinya di pagi hari.
__ADS_1
Adiba juga diam, dia menatap suaminya yang diam saja menatapnya kini. Rasanya jantungnya berdebar karena ditatap seperti itu oleh suaminya.
“Aku minta maaf, bisa minggir. Aku mau bangun” ucap Rendra memalingkan wajahnya dari Adiba. Dia tidak boleh menunjukkan cintanya pada istrinya. Dia ingin membuat Adiba mencintainya dulu baru dia akan bersikap biasa, dia juga ingin perempuan itu minta maaf padanya karena sudah memilih Tama ketimbang dirinya.
“Ma..maaf,.” Adiba buru-buru berdiri dari posisinya,
Rendra langsung mendudukkan dirinya saat Adiba sudah bangkit dari tubuhnya saat ini,
“Kau dulu yang mandi atau a..” ucapan Rendra terhenti karena pintu kamarnya terbuka tiba-tiba menampakkan bocah kecil dengan baju tidurnya.
“Pagi Mama Papa,” seru Rafka yang masuk kedalam kamar kedua orang tuanya.
Adiba langsung berbalik melihat sang anak yang tersenyum ceria menyapanya dan Rendra saat ini.
“Pagi sayang.” Jawab Rendra dan Adiba bersamaan.
Rafka menghampiri kdua orang tanya, dia langsung menghambur ke pelukan Papanya.
“anak ganteng papa baru bangun ya, ukh bau kecut” ucap Rendra memeluk sang anak.
“Hehehe iya, Papa sama Mama juga baru bangunkan” jawab bocah itu sambil menunjukkan deretan giginya.
“Sini Rafka sama mama, papamu mau mandi. ayo mama mandikan kamu, terus berangkat sekolah” ucap Adiba meminta anaknya beralih padanya saat ini.
“Iya nanti Papa anterin, Papa mau mandi sekarang. Kamu mau mandi sama Papa?” ucap Rendra.
“Mau, aku belum pernah dimandiin sama Papa. Ma, aku mau dimandiin Papa aja ya,” ucap Bocah itu menunggu jawaban sang Mama.
“Iya,” jawab Adiba sambil mengangguk.
“Ayo anak Papa,” Rendra langsung berdiri dan menggandeng tangan anaknya mengajak bocah itu ke kamar mandi.
Rendra berjalan melewati Adiba begitu saja, meskipun dia tampak berhenti dan melihat sekilas wajah istrinya yang menatapnya. Tapi dia tidak bicara sama sekali, dia langsung pergi menggandeng tangan sang anek untuk ke kamar mandi.
Adiba menatap keduanya, rasanya dia sedih melihat tatapan mata Rendra yang dingin terhadapnya saat ini. kenapa ia jadi risau dengan sikap Rendra padanya. Ternyata tidak enak di cueki dan diperlakukan dingin seperti ini.
“Apa mungkin begini yang dirasakan Rendra dulu” batin Adiba melihat kepergian anak dan suaminya yang masuk kedalam kamar mandi.
....................................................
__ADS_1
“Rendra, Adiba ayo sini. Kita sapan bersama” ucap Citra yang sudah duduk di meja makan bersama dnegan suaminya dan juga Jeremy.
“Iya ma,” jawab Adiba yang berjalan disebelah Rendra.
“Rafka dimana? Tadi katanya mau ke kamar kalian?” tanya Citra menanyakan cucu satu-satunya itu.
“Rafka masih di atas ma, sama Bi Narmi.” Jawab Adiba.
“Oh,”
“Hari ini Rafka belum bisa sekolah dulu ya, suruhan Papa ternyata telat ngurus kepindahan Rafka. Jadi baru besok dia bisa berangkat sekolah” ucap Frans melihat kearah anak dan menantunya yang bergabung di meja makan.
“Papa kenapa nggak bilang dari semalam atau tadi pagi sih” tukas Rendra yang terlihat kesal menatap papanya.
“Kenapa kau marah begitu sama papa, jangan mulai pagi-pagi Rendra” tukas Frans yang tidak senang dengan ucapan anaknya.
“Aku bukannya mulai pa, aku kesal aja sama Papa. Rafka sudah siap-siap senang banget mau ke sekolah barunya tapi Papa malah bilang hari ini jangan sekolah dulu”
“Ya papa mana tahu, kalau belum diurus kepindahan Rafka, kau pikir Papa banyak waktu apa. kau yang ayahnya saja tidak ada inisiatif sama sekali pada anakmu. Pantaskah kamu nyalahin Papa begitu, kamu sebagai seorang ayah apa sudah berkaca pada dirimu” ucap Frans menatap Rendra yang diam tetapi mengepalkan tangannya.
“Kalian kenapa sih pagi-pagi sudah ribut begini. kalian berdua nggak malu ada Adiba disini tapi kalian masih bertengkar terus. Mana suami dan mertua yang baik?” ucap Citra menatap anak dan suaminya jengah.
“Udahlah ma, biarkan tikus sama kucing itu bertengkar. Anggap saja mereka tidak ada disini” cibir Jeremy yang merasa muak dengan pertikaian ayah dan kakaknya.
“Kakak ipar, tolong dimaklumi ya, beginilah jika dua orang egois bertemu” lanjut Jeremy melihat Adiba yang tersenyum kikuk.
Adiba sendiri hanya bisa diam, dia juga bingung harus apa ditengah-tengah orang yang berdebat. Dia canggung harus melakukan apa sekarang, ia melihat Rendra yang mengepalkan tangannya tanpa suara, membuat dirinya berinisiatif untuk mengambilkan air putih di gelas Rendra.
“Minumlah,” ucap Adiba setelah dia menuangkan air putih di gelas suaminya.
Rendra melihat sekilas Adiba, tapi dia tidak melakukan apa yang Adiba perintahkan padanya. Dia malah mengambil nasi dan menaruhnya di piring.
Adiba lagi-lagi kecewa dengan apa yang Rendra lakukan saat ini, pria itu sama sekali tidak mendengarkan dirinya.
“Ayo Diba makan, Papa minta maaf. Karena membuat mu tidak nyaman disini” ucap Frans meminta Adiba untuk makan.
Adiba yang sedari tadi melihat Rendra langsung melihat kearah mertuanya tersebut,
“I...iya pa tidak apa-apa” ucap Adiba melihat sekilas mertuanya tapi dia masih melihat kearah Rendra yang malah meminta mamanya mengambilkan lauk ketimbang meminta tolong padanya saat ini.
__ADS_1
°°°
T.B.C