
Rendra pulang lebih awal dari biasanya, ia memang sengaja pulang lebih awal untuk bicara pada istrinya soal masalah mereka di kantor tadi. Adiba telah salah paham, jadi ia pikir masalah ini harus segera diselesaikan. Ia rasa masalahnya ini cukup besar apalagi Adiba tadi malah mengucapkan kata yang semestinya tak akan terucap untuk selamanya.
“Sayang, sayang” Rendra menaiki tangga sambil berteriak-teriak memanggil istrinya tapi Adiba tak menjawab sama sekali malah mboh Jum yang mendatangi dirinya saat ini.
“ada apa den, Adiba sedang tidak ada dirumah sekarang” ucap Mbok Jum yang mengikuti langkah Rendra yang akan ke kamar.
“Apa? dia tidak dirumah terus dia kemana?” Rendra langsung berbalik melihat asisten rumah tangganya itu.
“Tadi Tuan Frans kesini, terus dia langsung ngajak non Diba sama anak-anak keluar entah kemana” ucap mbok Jum memberitahu Rendra soal papanya yang datang kerumah.
“Papa kesini?” rendra mengusap wajahnya kasar. Pasti papanya akan menuduh dirinya aneh-aneh kalau Adiba bercerita.
“Kenapa kau mencari istrimu?” suara bas membuat kedua orang itu yang ada di lantai dua langsung melihat kebawah. Frans dan Adiba baru saja pulang kerumah saat ini.
Rendra langsung berbinar, pikirannya yang tidak-tidak ternyata tak terjadi. Tadi dia sempat berpikir papanya akan membawa Adiba dan anak-anaknya pergi dari rumah.
“Sayang kamu pulang” ucap Rendra langsung berlari menuruni tangga menyambut istri dan anak-anaknya.
“Rafka,” ucap rendra langsung memeluk anaknya yang berada di sebelah Frans.
“papa pikir kamu sama mama ninggalin papa sayang” lanjut Rendra memeluk erat anak sulungnya.
“Sus herni, Sus Novi tolong taruh Raiden sama Reva di kamar dulu ya” perintah Adiba pada kedua susternya itu sedangkan dia masih menggendong Raihan.
Rendra langsung berdiri melihat istrinya yang terlihat tak menatapnya,
“Sayang,.” Lirih Rendra sambil melihat kearah Adiba
“Pa, aku ke kamar naruh Raihan dulu ya. Rafka kamu ke kamar kamu juga sayang ganti baju” pungkas Adiba pada mertua dan anaknya.
“Iya mama, Papa Opa aku ke kamar dulu ya” ucap bocah itu dan langsung berjalan pergi saat di angguki oleh keduanya.
“Sayang tunggu dulu, kamu mau kemana? Aku mau bicara sama kamu” Rendra menahan tangan Adiba agar tidak pergi.
__ADS_1
“mas Rendra nggak denger, aku mau kemana” ucap Adiba terdengar dingin. Dan dia perlahan melepaskan tangan sang suami dan langsung berjalan pergi.
Frans yang ada di situ hanya melihatnya saja, setelah snag istri pergi Rendra langsung beralih melihat papanya yang malah tampak santai saja.
“Papa habis bawa Adiba kemana?” tanya Rendra pada sang papa.
“jalan-jalan lah kemana lagi, kamu pikir papa bakal bawa istri sama anak-anak kamu pergi” jawab Frans enteng.
“Papa tahu masalahku dan Adiba?” tanya Rendra menatap curiga sang papa.
“Sini duduk dulu,” ucap Frans mengajak anaknya duduk di sofa lebih dulu.
Rendra langsung mengikutinya bak anak kecil yang patuh pada orang tuanya.
“Pa, bilang tadi papa bawa Adiba dan anak-anak kemana? Dan papa tahu masalahku dan Adiba kan?” Rendra begitu penasaran dengan papanya tersebut.
“kan papa sudah bilang, papa bawa mereka jalan-jalan” jawab Frans.
“Pa, asli aku nggak selingkuh. Aku cuman nolongin Gwen, dia butuh bantuan karena suaminya di tahan polisi karena imigrasi dan papanya nggak mau bantu. Aku juga bantu Gwen soal kerjaan suaminya. Asli aku sama dia nggak selingkuh” Rendra berusaha menejalskan itu semua pada papanya.
“Kalau kamu nggak selingkuh sama dia, lalu kenapa kalian pelukan pagi-pagi didepan rumah?”
“Ya itu, Gwen dateng kerumah nangis suaminya di jemput paksa sama pihak imigrasi dan dia minta bantuan papanya nggak di bantu sama sekali. Terus dia minta bantuan padaku, dan aku memang bodoh sih belum sempat bilang sama Adiba soal masalah itu. dan aku juga nggak tahu kalau dia lihat Gwen meluk aku waktu itu”
“ya itu bodohnya kamu, pelupa. Belum tua aja sudah tukang lupa, istri kamu itu sensitif dan dia sudah sering kamu bohong masalah kecil jadi dia trauma nggak percaya sama kamu. seharusnya kamu bilang sekecil apapun itu masalah kamu dan yang kemungkinan yang tidak dia suka”
“Ya itu bodohnya aku, aku pusing sekarang pa. Dia tadi ke kantor marah-marah, aku rasa dia tadi ketemu Gwen saat di kantor makanya dia masuk keruangku marah-marah. Dan Gwen tadi ke kantor nganter laporan suaminya untuk aku periksa buat kerja sama kita nanti.”
“kenapa harus Gwen yang ke kantor?”
“Suaminya masih di tahan dan kata temenku yang kerja di Imigrasi masih diurus persayratan untuk bebasnya”
“Pa, bantu aku bicara sama Aidba. Dia kalau sama papa nurutkan, ayolah pa demi anakmu ini, aku nggak mau jadi duda pa” rengek Rendra bak anak kecil.
__ADS_1
“Apa yang dibicarakan istri kamu sudah tahu” jawab Frans enteng.
“Sudah tahu gimana?”
“Papa tadi ajak dia ketemu Gwen, Adiba cerita tadi papa langsung ngajak dia buat ketemu Gwen. Dan Gwen sudah jelaskan semuanya, jadi istri kamu tahu kalau dia cuman salah paham” jelas Frans.
“Serius? Adiba sudah tahu kalau dia cuman salah paham”
“Apa papa selama ini pernah tidak serius sama kamu”
“Ah papa, I love u papa” pungkas Rendra dan langsung ebrhambur memeluk snag papa. Papanya memang terdebest selama ini, meskipun dulu dia membencinya ternyata sang papa sayang padanya.
“Apaan sih kamu, lepas kayak anak kecil aja” ucap frans melepaskan paksa pelukan Rendra padanya.
“papaku memang hebat, the best deh”
“dulu kemana aja, perasaan papa sudah menjadi papa terbaik buat kamu. minggir sana, bukannya dulu kamu benci sama papa” sinis Frans mencibir sang anak.
“Aish, itu kan dulu pa. Makasih ya pa,” balas Rendra mengedipkan matanya pada sang papa.
Frans hanya bisa tersenyum tipis sambil membuang muka dari anaknya,
“kamu berumah tangga sama Adiba baru mau dua tahun, masalah kalian berat terus. Kalau bisa diselesaikan baik-baik jangan sampai ada kata cerai, baru juga dua tahun”
“Seharunya papa nggak ceramahin aku aja, yang bilang cerai duluan Adiba bukan aku. aku mana mau cerai sama dia”
“Papa tadi juga sudah ceramahi dia, kalau ada masalah jangan di pendem semua bilang diungkapi satu sama lain. Kalian berdua sudah dewasa anak sudah empat tapi nyelesain masih kayak bocah” tukas Frans.
“hemm,” Rendra hanya bisa berdehem saja menyadari kesalahannya, semoga saja Adiba yang sudah di ceramahi papanya juga memiliki pikiran yang sama dengannya tidak mengulangi kesalahan yang sama nantinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1