CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 138


__ADS_3

Adiba dibawa kerumah sakit oleh Rendra, pria itu berjalan tergesa-gesa sambil menggendong sang istri. Dibelakangnya diikuti oleh Jeremy dan juga Risa yang menggandeng tangan Rafka.


“Kak, kakak ipar di taruh brangkar dulu” usul Jeremy pada kakaknya. sedangkan Adiba berusaha menahan sakit di perutnya yang semakin menjadi. Apakah mungkin ia akan melahirkan sekarang tapi dokter bilang masih dua minggu lagi ia akan melahirkan..


“sabar ya sayang,” pungkas Rendra, dua orang perawat datang menghampiri mereka dengan membawa brankar rumah sakit. Segera saja Rendra menaruh Adiba disitu.


“mas,” lirih Adiba tertahan sambil memegang tangan sang suami.


“Aku disini sayang” balasnya menggenggam tangan Adiba balik.


“Tante, Tante mama mau melahirkan ya?” tanya Rafka pada Risa yang berjalan menggandeng tangannya mengikuti brankar yang membawa mamanya itu.


“Kayaknya iya sayang,. Doakan mama ya, biar mamanya Rafka sama adek bayi nanti baik-baik saja” tutur Risa pada bocah itu.


“iya tante, Rafka pasti doain mama” jawab bocah itu smabil mengangguk.


“Sayang, kamu sama Rafka ke kantin rumah sakit aja dulu. kalian makan siang disitu, sambil hubungi mama sama papa. Aku disini nemani kak Rendra sama kakak ipar” Jeremy yang tadi membantu Rendra dan juga dua suster mendorong brangkar langsung menghentikan langkahnya saat Adiba dan Rendra msuk kedalam ruangan.


“Aku mau lihat mama om,” ucap bocah itu saat mendengar ucapan omnya pada sang tante.


“Gimana sayang? Rafka nggak mau” Risa melihat kearah Jeremy yang melihat pada Rafka.


“Rafka, ikut sama tante aja ya ke kantin. Kamu makan dulu, nanti baru lihat mama. Mau ya sama tante Risa, Om disini nemenin papa” Jeremy yang sudah melipat kakinya untuk menyamakan tinggi dengan sang keponakan berusaha membujuk bocah itu.


“Mau ya Rafka ikut tante, Rafka kan anak pinter.” Sahut Risa juga ikut membujuk keponakan suaminya itu.


“Iya Rafka mau” akhirnya bocah itu mau untuk ikut ke kantin. Bukannya apa-apa Jeremy menyuruh Rafka ikut istrinya ke kantin. Dia takut saja kalau Rafka merasa di cueki oleh kedua orang tuanya yang jelas pasti sibuk dan panik sendiri sehingga tak memperhatikan Rafka.


“Ya sudah sayang, aku kekantin dulu ya. Sekalian mau nelpon mama sama papa, kamu mau titip sesuatu atau kak Rendra ingin sesuatu” pungkas Risa yang akan pergi ke kantin rumah sakit.


“Aku titip camilan saja, sama belikan roti atau apa buat kak Rendra” pungkas Jeremy yang langsung berdiri.


“Udah itu aja, nggak ada yang lain”


“Nggak sayang, Rafka sama tenta Risa ya” ucap Jeremy.


Rafka hanya mengangguk lemah sebenarnya dia tak ingin, tapi mau bagaimana lagi Omnya menyuruh dirinya untuk ikut sang tante.


Risa akhirnya pergi bersama Rafka, dia mengajak bocah itu ke kantin bersamanya sesuai perintah sang suami.


Sedangkan Jeremy sendiri duduk di bangku tunggu yang ada disitu smabil melihat kearah ruangan dokter tempat kakaknya dan kakak iparnya masuk tadi. Ini sudah fiks kalau kakak iparnya itu akan melahirkan karena ia lihat juga perutnya sudah cukup besar.


Didalam ruang sang dokter, Adiba yang berada di ranjang rumah sakit terus-terusan meremas tangan suaminya untuk mengurangi rasa sakit.

__ADS_1


“Dok, istri saya kenapa? Tiba-tiba perutnya sakit seperti ini. apa dia sudah mau melahirkan?” tanya Rendra pada dokter yang mendekat padanya.


“Saya lihat sih begitu pak Rendra, dia sudah mulai keskaitan begini. tapi untuk memastikannya saya periksa dulu” ucap dokter itu yang langsung memeriksa Adiba.


“Dok, perut saya sakit dok.” Rintih Adiba.


“Iya bu, sebentar ya saya periksa”


“Arkhh, sakit mas” adu Adiba pada suaminya.


“Iya sabar sayang” Rendra berusaha untuk menenangkan istrinya yang terlihat menahan skait dan sesekali menggerakkan tubuhnya karena menahan sakit.


“Benar pak, ibu Adiba akan melahirkan sekarang, sekarang sudah pembukaan dua pak”


“Apa sudah pembukaan dua,” kaget Rendra, jelas dia kaget bagaimana bisa sudah pembukaan dua sedangkan perkiraan lahir dua minggi lagi.


“Bagaimana bisa dok, bukannya dokter bilang baru dua minggu lagi istri saya akan melahirkan”


“Waktu perkiraan bisa saja salah pak, dan istri anda sekarang memang akan melahirkan”


“Mas,” panggil Adiab memeninta suaminya untuk mendekat.


“Iya sayang,.” Rendra langsung berjalan mendekat.


“Aku mau lahiran normal mas” ucapnya dengan sesekali menggigit bibirnya.


“Iya.” Lirih Adiba lagi.


“Bagaimana dok?” tanya Rendra yang bingung.


“Kita tunggu saja sampai pembukaan selanjutnya pak, kalau kondisi ibu dan anaknya tidak memungkinkan kita ambil jalur operasi saja bagaimana bu?” ucap sang dokter.


Rendra tak menjawabnya, dia melihat kearah sang istri yang menahan sakit, melihatnya saja tak tega bagaimana dia harus menunggu sampai pembukaan terakhir. Apalagi ini pengalaman pertamanya menunggu Adiba melahirkan.


Adiba terus merintih kesakitan, perutnya terus-terusan mengalami kontraksi,


“Mas aku mau duduk” ucap Adiba. Dia yang tadinya tiduran langsung ingin duduk rasanya enak duduk daripada berbaring.


Rendra langsung membantu sang istri untuk duduk


“Sayang Cecar aja ya, biar cepat. Aku takut lihat kamu nahan sakit begini” Rendra memutuskan sang istri untuk cecar saja, karena dia tak tega melihat istrinya kesakitan.


“Nggak mau mas” tolak Adiba.

__ADS_1


“Sayang dipikir-pikir lagi dong. Tiga anak loh, aku takut kamu kenapa-kenapa. Udah Cecar ya”paksa Rendra.


“Kamu mau aku marah lagi sama kamu” Adiba malah mengancam sang suami.


Rendra langsung diam mendengar ancaman itu,


Dia sesekali meringis sakit saat Adiba mencengkram kuat lengannya, saat perempuan itu menahan sakit.


“Kak, kakak ipar melahirkan sekarang kan” setelah hampi setengah jam Jeremy menunggu di luar dan tak ada kepastian dari kakaknya membuat ia masuk kedalam ruangan kakak iparnya.


Rendra dan Adiba tentu saja langsung melihat kearah pintu, dimana Jeremy berdiri.


“Iya, Adiba mau melahirkan sekarang. Kamu pulang saja, ajak rafka pulang juga ya” pungkas Rendra mewakili sang istri untuk ,menjawab.


“Aku tunggu disini saja, Risa sudah membwa Rafka kenatin. Kalian tidak usah khawatir”


“Ya sudah sana kamu keluar, kalau kamu mau makan. Makan saja ke kantin nanti aku yang bayar” ucap Rendra.


“hemm” Jeremy langsung berlalu pergi, meninggalkan dua orang itu.


............................................


Adiba akhirnya melahirkan anaknya secara cecar, karena rayuan Rendra dan juga karena posisi anak-anaknya yang tak memungkinkan untuk melahirkan secara normal membuatnya mau tak mau harus di operasi.


Saat ini sudah malah hari dan Adiba baru saja melahirkan, dua orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan telah lahir. Menambah anggota di keluarga kecil Rendra dan juga Adiba.


Rendra yang melihat anak-anaknya dimandikan dan melihat perjuangan istrinya tadi membaut dia menangis haru. Ini pertama kalinya ia menemani sang istri, ternyata perjuangan Adiba tak muda. Dalam batin Rendra merasa bersalah mengingat dulu ia tak ada disamping Adiba, pasti istrinya dulu sangat-sagat menderita.


“kenapa nangis mas,” ucap Adiba yang berbaring di ranjang rumah sakit saat melihat suaminya yang duduk di sebelahnya saat ini.


“Nggak pa-pa, terharu aja. Maksih ya sayang,” ucapnya sambil mencium kening sang Istri


“Anak-anaknya cantik sama tampan-tampan loh bu Adiba. Sudah mandi lagi, tambah cakep deh anak-anaknya” ucap sang dokter sambil berjalan ditemani snag suter yang emmandikan anak-anak Adiba dan juga Rendra tadi, mereka mendorong box bayi mendekat kaerah dua orang itu.


“ayahnya cakep dok, jadi anaknya juga cakep-cakep” jawab Adiba smabil tersenyum.


“Ibunya juga cantik kok jadi anak-anaknya juga” sahut Rendra yang memuji sang istri.


“Iya juga ya, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. kalau butuh sesutau, bisa panggil saya. O iya dimana keluarganya yang lain, kok belum datang” ucap sang dokter sebelum pergi.


“Orang tua saya masih ada di jalan, dan Adik saya baru saja pulang mengantarkan anak pertama saya dok” jawab Jeremy.


“Oh gitu, ya sudah saya permisi dulu ya” pamit sang dokter dan langsung berjalan pergi di ikuti oleh suster yang ada di situ.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2