CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 91


__ADS_3

Rendra berjalan kearah kamar kedua orang tuanya, dia perlahan mengetuk pintu kamar itu.


“Ya sebentar, terdengar sahutan dari dalam kamar tersebut, pintu kamar saat ini langsung terbuka memperlihatkan mamanya yang sudah mengenakan baju tidur.


“Ada apa Ren?” tanya Citra pada sang anak yang melihat kearahnya saat ini.


“Papa ada ma?” tanya Rendra terdengar serius.


“Ada, papa kamu masih di kamar mandi. kenapa?” jawab Citra dan bertanya balik pada putra sulungnya.


“Aku mau bicara dengan papa sama Mama di ruang tengah” ucap Rendra yang ucapannya terdengar semakin serius membuat Citra bingung dengan sikap anaknya yang terlihat lebih dingin dari biasanya.


“ya sudah kamu tunggu saja dulu di ruang tengah, Mama mau panggil Papa kamu” pinta Citra.


“Ya sudah kalau begitu aku keruang tengah dulu ma” pamit Rendra dan langsung berjalan meninggalkan Mamanya yang diam sambil melihat padanya.


“anak itu kenapa sih, serius banget” batin Citra dan menutup pintu kamarnya kembali.


“Ada apa ma?” tanya Frans yang baru saja keluar dari kamar mandi berbarengan dengan citra menutup pintu barusan.


“Itu Rendra katanya mau bicara sama kita, entah apa yang mau dia bicarakan” pungkas Citra memberitahukan pada suaminya soal maksud Rendra.


“ya sudah ayo temui, mungkin penting sampai jam malam begini dia mau bicara” ajak Frans untuk segera menemui Rendra. Karena kemungkinan yang akan di bicarakan Rendra saat ini sangat penting.


..................................................


Frans dan juga Citra sudah duduk di ruang tengah bersama dengan Rendra yang duduk didepan mereka sambil menggenggam tangannya terlihat berbeda dari biasanya. Aura dingin seakan menyelimuti pria itu.


“Ada apa Ren, malam-malam begini mau bicara dengan papa sama mama?” tanya Frans yang membuka suaranya.


“Maaf kalau aku mengganggu kalian berdua malam-malam begini” ucap rendra yang mulai menatap kearah kedua orang tuanya.


“Iya tidak apa, memang kenapa?”


Rendra menghela nafasnya lebih dulu sebelum berbicara, dia melihat kearah mamanya saat ini yang seakan penasaran dengan tatapan Rendra padanya.


“Kenapa kamu natap Mama begitu?” tanya Citra yang tak mengerti dengan tatap dingin Rendra padanya.


“mama nggak ada sesuatu yang mau diucapkan gitu?” tukas Rendra.


Frans yang melihat anaknya bersikap dingin pada Citra, langsung melihat kearah sang istri yang ada disebelahnya. Sebenarnya ada apa diantara anak dan istrinya ini.


“Nggak memang kenapa?”


“mama tahu nggak, kalau aku sayang banget sama Mama. Aku lebih sayang Mama daripada Papa. Tapi kenapa balasan mama begini padaku?” tutur Rendra yang berusaha mengendalikan dirinya.


“kamu ngomong apa sih Ren, mama nggak tahu maksud kamu” ucap Citra yang tak mengerti dengan maksud anaknya barusan.


“Mama nggak usah pura-pura nggak tahu” tegas Rendra yang tak percaya dengan ucapan Mamanya.


“Tunggu ini kenapa sih, ada masalah selagi Papa tidak di rumah tadi” ucap Frans yang menengahi.


“Entah, mama benar-benar nggak tahu apa maksud Rendra pa. Kamu jangan sembarang ngomong deh Ren”


“Mama bilang apa sama tante Dela, sampai dia ngomong kasar ke istri aku mah. Dan kenapa Mama malah lebih bela tante Dela ketimbang istri aku tadi hah” kesal rendra yang emosinya mulai tidak tertahankan.


“Soal tadi, ya salah istri kamu. kenapa dia nggak sopa sama teman mama. Adiba bisa-bisanya dia kasar sama tante Dela.”


“mama yakin istri aku yang kasar bukan teman Mama itu” cibir Rendra tersenyum sinis.

__ADS_1


Frans semakin bingung dengan pembicaraan kedua orang didepannya ini.


Flashback ON.


Rendra dan juga Adiba pulang lebih awal dari kantor, mereka berdua baru saja menjemput Rafka karena di rumah tidak ada sopir yang menjemput dan Jeremy tidak bisa untuk menjemput Rafka. Mau tidak mau Rendra pulang lebih awal dengan Adiba yang ikut dengannya ke kantor.


Saat mereka pulang kondisi rumah masih ramai dengan teman-teman sosialita Mamanya yang sedang berbicara riuh di rumahnya.


Rendra yang malas dengan perkumpulan mamanya segera mengajak sang istri pergi tapi Mamanya sudah memanggil dengan alasan ingin memperkenalkan Adiba pada teman-temannya.


Adiba mau tidak mau langsung menemui Mama mertuanya yang tengah bersama teman-temannya. Rendra sendiri hanya sekedar menyapa lalu pergi dari situ sedangkan Adiba ditahan untuk tetap di tempat.


Mereka menyambut hangat Adiba tapi tidak dengan perempuan paruh baya yang masih memakai pakaian bak anak muda karena mantan model. Dia menatap tak suka pada Adiba saat ini.


“Adiba tolong bantu Mama ambil minuman dari dapur, tadi Mbok Sri sudah membuatkannya” perintah Citra pada Adiba.


“Iya ma,” Adiba tidka berjalan sendiri tetapi dia bersama dengan Citra yang juga akan mengambil ke dapur.


“Sebentar Cit, biar aku saja. Kamu duduk saja disini, aku juga mau sekalian ke belakang” ucap perempuan yang menatap tidak suka pada Adiba tadi.


“Eh kamu kan Tamu del, udah nggak usah” tolak Citra.


“Nggak pa-pa, kan sekalian” jawab perempuan yang bernama Dela itu.


“Ya sudah kalau itu mau mu.”


“Adiba kamu sama tante Dela aja ya, sama tolong tunjukkan dimana kamar mandinya” pinta Citra pada sang menantu.


“Iya ma,” jawab Adiba.


“Aku mau ikut Mama” ucap Rafka yang tadi duduk diantara Omanya dan teman-teman Omanya.


“Nggak mau aku mau sama Mama” jawab Rafka dan langsung menyusul mamanya yang sudah menunggu dirinya.


Tiga orang itu langsung berjalan kearah dapur, tak ada pembicaraan diantara Adiba ataupun Dela.


Dela sendiri menatap Adiba dan juga Rafka dengan tatapan sinis, seakan dia tak suka dengan dua orang didepannya.


“Mbok ini sudah kan?” tanya Adiba pada Mbok Sri yang sedang menyusun makanan di nampan yang satunya.


“Iya sudah non” jawab Mbok Sri.


“Maaf bisa bicara denganmu sebentar Adiba?” tanya Dela membuat pergerakan Adiba yang akan mengangkat nampan minuman terhenti.


“Iya tante, ada apa ya?”tanya Adiba menatap perempuan yang seumuran dengan mama mertuanya tapi wajahnya masih sama awet muda dengan Mama mertuanya. Apa karena mereka mantan model jadi penampilannya masih terjaga.


“Ini anakmu dengan Rendra?”


Adiba langsung menatap aneh dan tak suka dnegan perempuan tersebut.


“I..iya tan, memangnya ada apa dengan anak saya”


“Oh jadi karena anak haram ini Rendra tidak mau menikah dengan keponakanku dulu. tapi kenapa saya tidak yakin ini anaknya Rendra ya” sinis dan menyakitkan untuk didengar.


Mata Adiba langsung melebar mendengar ucapan itu, rasanya sakit hatinya saat ini mendengar ucapan pedas itu.


“Ya maksud saya kamu yakin ini anak Rendra, kalau anak Rendra kapan kalian melakukannya.”


“Tante jangan asal bicara, maksud tante bilang begitu pada saya apa ya. Tante nuduh saya begitu?” tegas Adiba dengan suaranya yang sedikit meninggi.

__ADS_1


“Mama kenapa marah?” tanya rafka yang tadinya fokus ke makanan yang mbok Sri tata beralih melihat Mamanya.


“nenek apain Mama aku, pergi sana” ucap Rafka yang mendorong Dela agar pergi dari hadapan mamanya.


“Ini apa-apaan sih anak kecil main dorong-dorong nggak ada sopan santunnya. Semakin yakin aku kalau ini bukan anak dari keluarga Dewangga” sinis Dela.


“Jaga mulut tante, tante nggak berhak ngomong begitu sama anakku” emosi Adiba sudah tidak terbendung.


Rafka yang geram, langsung menarik tangan Dela dan menggigit tangan perempuan itu.


“Arggh sakit,” rintih nya kesakitan sambil mendorong Rafka membuat bocah itu terjatuh ke lantai.


“Yaampun Rafka,” mbok Sri segera menghampiri rafka.


Adiba tentu saja tidak terima, dia langsung mendorong Dela dengan cukup kuat,


“Tante jangan seenaknya sendiri dirumah orang tan, saya sudah sabar ya menghadapi tante barusan. Tapi apa tante malah bersikap begitu dnegan anak saya” kesal Adiba dan balik mendorong Dela hingga jatuh kelantai.


Adiba langsung mendekati Dela yang merintih kesakitan memegangi pantatnya,


“Kau perempuan kurang ajar, tidak tahu sopan santun dengan tamu.” Sungut Dela tidak terima.


Adiba mendekati Dela yang masih terduduk di lantai.


“Maaf tan yang tidak sopan disini tante bukan saya, menurut saya tante sudah keterlaluan pada saya dan anak saya”


“Adiba, ini ada apa. ya ampun Dela, kenapa kamu di lantai” ucap Citra yang terkejut melihat temannya terduduk di lantai sednagkan menantunya berdiri tepat didepan Dela.


“menantu kamu cit, dia dorong aku tahu nggak. Padahal aku cuman tanya baik-baik tapi dia malah marah dan dorong aku” ucap dela memutar balikan fakta yang sebenarnya.


“Nggak Om, nenek jahat itu yang mulai duluan. Dia dorong aku” bela Rafka.


“Rafka kamu diem sayang, jangan ikut campur urusan orang dewasa”


“ma yang dibilang Rafka itu bener, tante Dela yang salah. Dia sudah mengatai Rafka dan diriku ma. Dia juga yang dorong Rafka hingga jatuh”


“Nggak cit, menantu kamu saja yang kurang ajar. Dia cemburu karena aku cerita soal Jane keponakan aku yang pernah mau aku jodohkan dnegan rendra. Dia marah tidak terima”


“Benar Adiba?” tanya Citra.


“Nggak ma, itu bohong.”


“Sudahlah Diba, mama kecewa sama kamu. kamu benar-benar nggak ada sopan santun sama sekali. Bisa-bisanya Rendra suka sama kamu, nggak ada sopan santunnya sama sekali sama orang tua. Nyesel juga aku nerima kamu sebagai menantu, andai aku Cuma meminta Rafka saja bukan dirimu juga, aku tidak akan malu seperti ini didepan teman-temanku. Ayo del, kita ke depan”


Mendengar ucapan mertuanya itu membuat Adiba terdiam, hatinya sakit mendengar itu. rasanya ingin melawan tapi itu mertuanya tak mungkin dia bersikap kasar seperti dengan teman Mama mertuanya itu.


“Ayo sayang kita keatas” lirih Adiba mengajak rafka untuk pergi dari situ.


“Non, Non Adiba tidak apa-apa?” tanya Mbok Sri yang terlihat kasihan dnegan Adiba.


“Nggak bi,” lirih Adiba matanya sudah berkaca-kaca menahan air matanya yang siap keluar. Tapi dia harus menahan itu agar anaknya tidak melihatnya. Dia tidka ingin Rafka malah semakin kesal dan marah pada neneknya.


“Nenek jahat ya ma, kenapa nenek bilang begitu sama Mama. Aku benci sama nenek” ucap Rafka yang mendengar semuanya.


“Nggak boleh begitu, nenek nggak bermaksud begitu tadi sayang. Ayo kita keatas” ajak Adiba dan mengajak anaknya pergi dari situ.


FLASHBACK OF


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2