CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 113


__ADS_3

Rendra buru-buru membuka pintu kamarnya, pasti saat ini Adiba sudah menyadari kalau tengah di kunci di dalam kamar.


“Siap-siap kena amuk” gumam Rendra sambil perlahan membuka pintu kamarnya. Saat pintu terbuka dia mendapati Adiba duduk di pinggir ranjang dan langsung menatapnya tajam saat pintu sudah terbuka.


“kamu sengaja ngunciin aku dikamar mas?” tanya Adiba yang langsung mengintrogasi suaminya, dia berdiri dari duduknya saat ini dan melihat kearah Rendra.


Rendra menutup pintu kamarnya lebih dulu sebelum bicara pada Adiba,


“Hehehehe, jangan marah ya. Aku, aku memang sengaja” jawab Rendra jujur sambil menunjukkan deretan giginya.


“Apa? kenapa mas? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Selingkuhanmu datang makanya kamu kunciin aku disini. kalau iya, bilang aja nggak usah kunciin aku, aku nggak lara...”


Belum sempat Adiba berbicara lebih banyak lagi Rendra langsung menarik Adiba dalam rengkuhannya dan memberikan ciuman dibibir sang istri membungkam mulut istrinya denga  bibirnya dan sesekali ia berikan ******* di ciumannya itu.


“Apa sih lepas nggak mas, nggak mempan ciuman kamu. kamu pikir aku diem aja gitu” tukas Adiba berusaha memberontak saat Rendra akan menyiumnya dan memebrikan ******* yang lebih dalam.


“makanya diem, kalau kamu masih nggak diem dan ngomong aneh-aneh lagi aku bakal cium kamu terus sampai kamu nggak bisa ngomong. Dengerin aku dulu bisa” tukas Rendra sambil menatap manik mata istrinya yang menatapnya juga dengan perempuan itu yang masih berada dalam rengkuhan Rendra.


“Apa yang mau kamu jelasin, nggak ada yang perlu kamu jelasin mas. Terserah kamu kalau mau berhubungan lagi sama mantan kamu” tukas Adiba melepaskan rengkuhan Rendra secara paksa. “Kamu kalau mau ketemu dirumah ini nggak perlu kunciin aku kok, aku juga nggak masalah soal itu bukan urusanku kamu mau selingkuh atau apa dirumah ini. toh ini juga bukan rumahku” Adiba benar-benar tampak kecewa dengan sikap Rendra, dia semakin yakin Rendra memang balikan dengan mantannya.


“Inilah, kalau jarang percaya sama suami. Ayo ikut aku,” ucap Rendra dan menggandeng tangan Adiba mengajaknya ke bawah.


“males, aku mau tidur aja. Lagi pula kamu yang ngunciin aku di dalam kamar kan. ngapain juga aku keluar’ tolak Adiba dan melepaskan tangan suaminya itu.


Rendra menghela nafsanya pelan, sambil menatap Adiba dengan nanar. Tanpa pikir panjang dia langsung mengangkat sang istri saat istrinya itu akan pergi.


“Apa-apa sih mas, turunin aku nggak. Aku bilang turunin mas” rengek Adiba, dia berusaha memebrontak minta diturunkan.


“Bisa diem nggak, anak kita nanti kenapa-kenapa kalau kamu keras begini. nggak mikirin anak kita yang ada diperut kamu” tegas Adiba menatp serius Adiba.


Adiba langsung terdiam, dia agak ngeri dengan tatapan Rendra yang menatapnya tajam bahkan terlihat kesal serta menahan marahnya.


“Nah begini kan enak, kita kebawa sebentar. Kamu pengen lihatkan dibawah ada apa? percaya sama suami jangan suka nggak percaya,” ucap Rendra.


Adiba hanya diam saja, dan mematuhi apa yang dikatan sang suami. Rendra menggendong istrinya sambil berjalan keluar dari kamar. Dia harus menunjukkan semuanya pada Adiba agr sang istri percaya, kalau tidak ia tunjukkan maka bisa di pastikan istrinya itu tak akan percaya padanya.

__ADS_1


.........................................................


“Jeremy jelasin sama kaka ipar kamu” perintah Rendra pada Jeremy saat dia sudah mendudukkan Adiba di sofa.


“Apa kak? Jelasin apa?” tanya Jeremy tak mengerti.


Adiba sendiri yang sudah di dudukkan di sofa oleh Rendra tampak melihat sekitar yang berantakan dengan beberapa foto yang berserakan di lantai dan minuman yang dibuatkan Bi Nawang tinggal setengah.


“Ini sebenarnya ada apa sih, dan beberapa foto itu foto siapa? Kenapa ada disini” batin Adiab sambil terus mengamati foto-foto itu.


“Buruan” tukas Rendra memaksa Jeremy untuk bilang pada Adiba.


“Kenapa nggak kamu aja mas ngomong, kenapa harus Jeremy. Kamu minta perlindungan dari adik kamu” kata Adiba dengan Nada ingin penjelasan langsung dari suaminya.


“Nanti kamu kalau aku yang ngomong nggak percaya, percuma aku jelasin panjang lebar ke kamu kalau nggak percaya” sungut Rendra menata istrinya.


“Masalah ini, yaampun. Aku lagi turun tangan” ucap Jeremy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia langsung berdiri dari duduknya dan berpindah posisi ke sebelah kakak iparnya saat ini. “mm, begini kakak ipar. Kau marah dengan kakakku kan  biar aku jelaskan soal ini” ucap Jeremy dengan hati-hati takut Adiba malah marah dengannya karena berpihak pada kakaknya saat ini.


“kamu mau bilang apa padaku Jer, jangan basa-basi dan jangan terlalu berpihak pada kakakmu. Aku tahu dia kakakmu tapi kalau kau berbohog apdaku demi kakakmu aku bakal kecewa sama kamu”


“Ya sudah bilang”


“Kakak bisa nggak sih duduk juga, berdiri saja kayak bodyguar begitu” cibir Jeremy melihat kakaknya yang menyilangkan tangan di dada sambil berdiri melihat kearah mereka berdua.


“Hemm,”


“Kamu dengerin apa yang Jeremy bilang, kalau kamu masih marah sama aku nantinya mau dosa kamu” tukas Rendra dengan ketus. Dia berbicara begitu bukan karena marah hanya kesal saja pada snag istri yang tak mempercayai dirinya.


“Ya,” jawab Adiba.


“Kakak ipar lihat foto-foto yang berserakan di lantai itu” ucap Jeremy sambil menunjuk kearah foto-foto yang berserakan di lantai. “Perempuan itu Gwen, mantan kakak, mereka pacaran hanya beberapa bulan setelah itu putus Itu saja karena terpaksa” Jeremy menunjuk foto seorang perempuan berambut pendek sedikit pirang.


Adiba melihat kearah fot perempuan itu,


“Itu mantan Rendra?” batinnya saat melihat foto tersebut.

__ADS_1


“Kakak ipar sering diteror olehnya kan, dia bilang ingin kembali dan bertemu kakak. Dia bilang begitu karena diancam oleh orang tuanya dan seperti dugaan kakak ipar perempuan itu ingin minta tanggung jawab kakakku soal anaknya.” Ucap Jeremy sambil mengamati wajah Adiba yang berubah serius dan matanya sedikit berkedut mendnegar kenayatan itu.


“Tapi kakak ipar tidak usah berpikiran aneh-aneh, itu bukan anak kakakku. Itu anak Gwen dengan kekasihnya. Karena itu anak disembunyikan dari siapapun dan tidak ada yang tahu bahkan kakakku dulu juga tidak tahu kalau Gwen sudah memiliki anak. Jadi orang tua Gwen memanaatkan hal ini untuk membuat reputasi keluargaku hancur dengan bilang anak itu anak kakakku. Dia ingin menjadi bagian dari Dewangga Group karena perusahaan mereka dalam ambang kehancuran” jelas Jeremy cukup panjang agar kakak iparnya percaya dengan ucapannya.


“Kenapa diam saja beri respon” tutut Rendra pada istrinya.


“Ya aku harus Respon apa, aneh” pungkas Adiab sambil melihat kearah Rendra yang menatapnya.


“Ya apa kek,” jawab Rendra.


“kalian berdua malah ribut sendiri, kakak ipar percaya atau tidak soal apa yang aku katakan. Aku berani sumpah kak, aku tidak bohong soal ini. tolong percaya dengan kakakku, kalau kau marah terus dengannya, dia bisa-bisa menjadi orang bodoh dan tak bisa melakukan apapun” ucap Jeremy mewakili Rendra untuk memohon pada Adiba.


Adiba diam sambil melihat foto-foto di lantai, disitu dia melihat eprempuan yang bernama Gwen tampak tersenyum dengan seorang pria dan juga mereka tampak bahagia dengan seorang anak kecil.


“Lihat nanti saja” jawab Adiba enteng dan langsung berdiri dari duduknya.


Mendengar itu membuat mata Rendra terbelalak dengan jawaban enteng sang sitri yang terdengar ambigu.


“Maksudnya lihat nanti gimana sayang, kamu kalau jawab yang bener. Kamu percaya atau nggak” seru Rendra sambil berdiri melihat istrinya yang melenggang pergi.


“Ya lihat nanti, aku laper. Tolong pesanin Pizza mas” ucap Adiba tanpa menoleh ekarah suaminya yang tak habis pikir dengan jawabnya tadi.


“Jeremy kejar kakak iaprmu, jelasin sama dia sampai bilang percaya buruan” pinta Rendra pada adiknya.


“Ogah, tugasku selesai. Aku mau istiraht. Buruan pesan Pizza kak, aku juga mau hehehe” cengir Jeremy dan dengan santai berbaring disofa.


“Dasar adik laknut kamu,” kesal Rendra.


“Karma mampus, sudah buruan jangan ngeluh. Nanti kakak ipar semakin marah baru mampus situ” ucap Jeremy memperingatkan kakaknya.


“Cerewet,” Rendra semakin kesal, dengan suasana hati yang amsih kesal dia menurut apa yang diminta adik dan istrinya memesan Pizza meskipunterasa enggan tapi mau bagaimana lagi.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2