
Adiba berjalan di samping Rendra saat ini, dia tampak gugup masuk kedalam restauran tempat mereka bertemu dengan ayahnya. Ia takut bertemu dengan ayahnya, apakah ayahnya itu masih ingin mencaci maki dirinya saat ini.
“Rendra tunggu sebentar,” Adiba menahan tangan Rendra sebelum mereka benar-benar masuk kedalam.
Langkah Rendra langsung berhenti dan melihat kearah istrinya yang tampak tegang sekarang.
“Kenapa?” ucapnya melihat kegelisahan istrinya tersebut.
“Kau serius ayahku yang menyuruhku untuk kesini, untuk apa dia menyuruhku kesini. ?” pungkas Adiba mengungkapkan kegelisahannya.
“Iya aku serius, ayahmu sendiri yang menyuruhku mengajakmu kesini ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padamu ada kakakmu juga di dalam. Ayok” tukas Rendra dan mengeratkan pegangannya pada Adiba mengajak perempuan itu masuk kedalam .
“Tapi aku takut kalau dia masih mencaci makiku. Aku tidak ingin dia malah malu disini, bagaimana kalau teman-temannya melihat. Harga diri ayahku pasti akan rusak karena aku” Adiba begitu mengkhawatirkan ayahnya nanti, justru dia bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri. dia takut kalau ayahnya malah tambah malu jika orang-orang tahu dirinya.
“Nggak, ayahmu nggak bakal seperti itu dan dia nggak akan malu denganmu. Kenapa dia harus alu karena dirimu, kau anaknya yang berharga dan sukses. Sudah ayok, yakin denganmu” Rendra kembali mengajak Adiba untuk melangkah masuk kedalam sekarang.
Adiba menurut saja dengan ajakan Rendra, dia mengikuti dengan ragu di belakang sang suami yang begitu meyakinkan dirinya saat ini.
...............................................
Di rumah orang tua angkat Adiba alias rumah Bibinya, Julia saat ini sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Dia tampak senang saat berbicara dengan orang tersebut.
Alfin putra sulungnya datang melangkah mendekati dirinya sekarang,
“Bunda” panggil pemuda itu.
“Iya mas” Julia langsung berbalik melihat anaknya sambil menjauhkan ponselnya saat ini.
“Bunda sedang bicara dengan siapa? Dengan ayah?” tanya Alfin.
“Iya, ini bunda mau ngasih tahu ayah kamu kalau beberapa hari lagi dia harus pulang karena mbak Oki kan mau nikah. Terus alhamdulilah nya pakde kamu nggak marah lagi sama mbak mu fin” ucap Julia begitu senang mengatakannya pada sang anak.
“Jadi bener bun, pakde Rama sudah mau nerima mbak Diba?”
“Iya mas, bentar dulu ya. Bunda mau bicara sama ayah kamu” tukas Julia meminta putranya untuk menunggu sebentar karena dia harus bicara pada suaminya yang ada di Surabaya.
Beberapa menit kemudian, Julia sudah mengakhiri panggilannya dan dia melihat sang Alfin yang sudah duduk di kursi depannya saat ini.
“Bunda senang banget deh bang kalau pakde kamu sudah bisa nerima mbak mu, akhirnya mbak mu di terima sama ayahnya” tutur Julia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Iya bun, aku juga ikut seneng. Selama ini aku kasihan sama mbak Diba, sudah di perkosa, dibuang ayahnya, sahabatnya pergi untuk selamanya. Eh sekarang alhamdulilah, mbak Diba mulai bahagia, Rafka sudah ada ayah, dia ada suami dan sekarang pakde sama mbak Oki sudah mau hubungi dia lagi.” Alfin mengingat kepedihan yang selama ini Diba jalani dan sekarang akhirnya perlahan kakak sepupunya itu mendapatkan ke bahagiannya.
“Alhamdulilah ya mas, pakde mu sudah sadar, kalau itu semua buan sepenuhnya kesalahan mbak mu”
“Iya bun, untung pakde mau menerima mbak Adiba sebagai anaknya lagi”
“Ini semua berkat pak Frans, kalau bukan pak Frans mungkin keluarga kita tidak seperti ini dan mbak mu pasti belum diterima pakde mu”
Alfin hanya mengangguk, mengiyakan semua ucapan bundanya. Karena memang benar semua ini berkat jasa pak Frans yang menolong keluarganya.
.......................................
“Diba,” seru Oki saat melihat Adiba yang sudah berada didekat meja mereka saat ini. perempuan itu langsung berdiri saat melihat sang adik yang sudah lama tidak ia temui.
Di meja besar itu tidak hanya ada Oki tetapi, ada ayahnya istri ayahnya, dan calon suami dari Oki.
Rama yang mendengar panggilan Oki pada Adiba langsung melihat kearah putri bungsu nya yang baru saja datang bersama dengan menantunya saat ini.
“Yaalah Diba, mbak kangen sama kamu. “Ucap Oki yang langsung memeluk sang adik.
Adiba seketika terpaku menerima pelukan kakaknya itu, ini pertama kalinya setelah beberapa tahun mereka tidak bertemu.
“Nggak Diba, harusnya mbak ya meminta maaf karena nggak nyari kamu selama ini. mbak malah nurut gitu aja sama ayah” Oki terlihat meneteskan air matanya sambil memeluk sang adik mengusap bahu adik satu-satunya itu.
“Oki Diba, duduk dulu nak” ucap bunda tiri mereka menyuruh keduanya untuk duduk
“Iya ki, ajak adik kamu duduk dulu” sahut pemuda yang seumuran dengan Oki.
“Ayo Diba duduk, ii suai kamu?” ucap Oki sambil melihat Rendra yang berdiri diam di sebelah Adiba.
“Iya mbak, ini suamiku” lirih Diba sambil melihat kearah Rendra yang tersenyum tipis kearah Oki seakan memperkenalkan dirinya.
“Oh, ayo mas duduk dulu. maaf ya dari tadi nggak nyuruh duduk” pungkas Oki dan menyuruh Rendra serta Adiba duduk di kursi yang masih kosong.
Rendra duduk tepat di sebelah ayah Adiba yang sedari tadi diam duduk di kursi utama. Disebelahnya yang lain duduk Adiba . sedangkan didepan mereka ada istri ayah Adiba dan juga oKi serta calon suaminya.
“Ayah sedari tadi kenapa diem aja, bukannya yah yang ngajak kita ketemu disini” tukas Oki membuka suaranya pada sang ayah yang sejak kedatangan Adiba ayahnya itu berubah menjadi diam tak berbicara.
“ Kita makan dulu saja sekarang, baru nanti setelah makan kita bicara. Ayo makan, makanya keburu dingin” pungkas Rama, dia bukanya bicara dnegan Rendra atau Adiba, ia malah menyuruh mereka semua untuk makan terlebih dahulu baru berbicara.
__ADS_1
“Iya benar kata ayah, kita makan dulu” sahut calon suami Oki sambil memegang tangan Oki yang akan berbicara pada sang ayah.
Dia seakan memberi isyarat ada calon istrinya untuk tidak bicara sekarang dan menurut saja pada ayahnya.
Oki terpaksa menurut saja apa yang yang dikatakan calon suaminya, sebenarnya dia ingin bicara agar ayahnya tidak se kaku itu dengan Adiba. Bukannya ayahnya sendiri yang ingin meminta maaf tapi kenapa pria itu malah diam saja sebagai kepala keluarga.
Rendra melihat sekilas kearah ayah mertuanya yang tampak canggung saat berada didekatnya saat ini, ia tahu ayah mertuanya itu sungkan dengannya ataupun dengan Adiba.
“Biasa saja yah, aku dan istriku tidak marah denganmu.” Ucap Rendra sambil menyendok kan nasi kedalam mulutnya mengabaikan tatapan mereka semua yang melihat kearahnya saat ini.
Mereka yang tadinya bersiap untuk makan, langsung melihat Rendra yang berbicara seperti itu.
Tapi hanya sesaat mereka melihatnya, semuanya langsung kembali makan seperti tadi.
Beda dengan Adiba yang masih melihat kearah suaminya, dia merasa senang melihat Rendra yang berjuang dan terus ada dengannya bahkan dia sekarang mencoba mengkondisikan situasi. Ia tahu Rendra bukanlah orang penyabar, ia tahu semua itu sejak mereka kuliah.
“kenapa melihatku begitu?” tanya Rendra sambil tersenyum.
“Nggak,” lirih Diba sambil menggeleng.
“Udah makan, semua makanan ini kesukaanmu kan. sepertinya ayahmu memesankan semua ini untuk mu” ucap Rendra sambil melihat kearah Rama yang langsung melihatnya saat ini.
Adiba juga melakukan hal yang sama, dia cukup terkejut bagaiman Rendra bisa tahu kalau makanan yang tersaji di meja saat ini adalah menu-menu favoritnya.
“kau tahu makanan ke suakaanku?”
“Iya, apa yang tidak aku tahu tentangmu” pungkas Rendra
Mendengar ucapan itu dari mulut Rendra membuat Diba begitu terharu, berarti ucapan pria itu saat di kantor dimana dia bilang kalau sudah mencintai dia dari dulu itu benar adanya. Karena tidak mungkin kalau Rendra tahu semua tentangnya kalau pria itu tidak mencintainya dan tidak mencari tahu soal dirinya.
Karena sama halnya dnegan dirinya yang juga tahu banyak soal Rendra, dari apa yang pria itu suka dan apa yang tidak ia sukai.
“Sudah makan yang banyak, dan percayakan dengan ucapan ku tadi soal ayahmu yang sudah memaafkan dirimu” lirih Rendra.
Rama yang sedari tadi mencuri dengar dia merasa cukup senang dala hatinya, ia senang karena putrinya mendapatkan pria yang mencintainya meskipun dulu pria itu sempat berbuat brengsek
°°°
T.B.C
__ADS_1