
“Loh, kamu dikamar? Aku kira kamu di kamar Rafka tadi” kaget Rendra saat melihat istrinya yang ada di dalam kamar.
“Rafka diajak Mama sama Papa ke rumah bunda ku” balas Adiba yang menyandarkan tubuhnya di kasur.
“mereka keluar dari jam berapa?”
“Dari tadi sih,”
“Ini sudah sore loh, mereka kok belum pulang ya. Lama banget keluarnya” heran Rendra yang melepas kaosnya, dia merasa gerah saat ini.
“Mana aku tahu, biarkan saja mereka lama. Kamu juga keluarnya lama kan, kemana aja dari siang sampai sekarang kenapa baru pulang” tanya Adiba menatap curiga Rendra, entah mengapa dia curiga saja dengan Rendra yang dari pagi malahan sampai sore begini baru pulang.
“Aku habis ketemu Davin sama Fajri, kenapa sih curiga sama aku kalau aku ketemu yang lain” goda Rendra dan langsung naik keatas tempat tidur dan mencondongkan tubuhnya kearah Adiba.
“Nggak,” Adiba langsung memalingkan wajahnya saat ini.
“cemburu kalau aku ketemu cewek”
“Nggak terserah kamu mau ketemu cewek atau nggak” sangkal Adiba dan masih memalingkan wajahnya.
Rendra perlahan memegang dagu istrinya, dan menghadapkan kearahnya. Dia langsung mencium pipi kanan-kiri istrinya itu.
“Kelihatan kalau kamu cemburu, wajah kamu nggak bisa bohong sama aku. tadi aku ajak nggak mau sekarang cemburu nih kalau suaminya jalan sama cewek lain” ucap Rendra sambil menggoda Adiba.
“Iih, apaan sih nggak ya” Adiba langsung melepaskan tangan Rendra dan dia langsung berdiri dari duduknya.
“Sana kamu mandi dulu,” lanjutnya sambil menatap sang suami.
“mandi bareng yuk” ajak Rendra.
“Aku udah mandi, kamu mandi sendiri aja, aku mau kebawah dulu. mau bantu bibi siapin makanan” tolak Adiba.
“Ya sudah kalau nggak mau” Rendra ikut berdiri dan dia menghadang istrinya dan langsung mendaratkan ciuman di bibir.
“Iih kamu,” seru Adiba dan Rendra hanya tersenyum jahil dan langsung pergi ke kamar mandi.
“Oh iya aku lupa kalau mau minta tolong untuk mengajariku berenang. Ah sudahlah nanti saja aku bicara dengannya” ucap Adiba sambil memperhatikan kamar mandi yang sudah tertutup kembali., dia langsung berjalan pergi keluar kamar untuk ke dapur membantu asisten rumah tangga menyiapkan makanan. Selagi dia libur, lebih baik dia membantu di dapur.
.......................................
“Selamat malam semu...loh kok cuman kalian berdua. Mama sama Papa kemana?” ucap Jeremy yang baru saja bergabung di meja makan dan sedikit terkejut karena hanya ada kakaknya dan juga kakak iparnya.
“Mama sama Papa masih diluar ketemu temannya. udah nggak usah banyak tanya, buruan duduk terus makan” perintah Rendra pada sang adik.
“Hemm,” Jeremy langsung menarik kursi di depan kakaknya, dia sesekali memperhatikan kakak dan kakak iparnya tersebut.
“Rafka juga ikut sama Mama Papa?” tanyanya lagi.
“Iya,” jawab Adiba.
“Pantes sepi, biasanya tuh nak Om Emy, Om Emy” ucap Jeremy sambil menirukan cara bicara Rafka padanya.
“Sayang tolong ambilin daging kambing itu sih,” ucap Rendra sambil menyerahkan piringnya pada Adiba.
“Mana,” Adiba langsung mengambil piring rendra untuk mengambilkan daging kambing yang diminta pria itu.
“Kakak ipar tolong ambilkan aku cumi juga sih, kan deketan tuh” ucap Jeremy meminta tolong juga pada Adiba.
“Punya tangankan, ambil sendiri” tukas Rendra menatap adiknya tidak suka.
__ADS_1
“Sini aku ambilin,” ucap Adiba setelah menaruh piring Rendra dan mengambil piring Jeremy.
“Wekk, kakak ipar aja nggak masalah” ledek Jeremy sambil menjulurkan lidahnya pada kakaknya.
“Kamu kenapa sih ngambilin dia sayang, dia sudah dewasa biar ambil sendiri” omel Rendra pada istrinya.
“Ya nggak pa-pa, kan sekalian. Kamu ini kenapa sih sensi sama adik sendiri,” ucap Adiba tidak masalah.
“Oh iya kak,”
“Apa lagi,” sungut Rendra pada adiknya.
“Biasa aja kali, aku mau ngomong”
“Ngomong apa?”
“Itu tadi aku di telpon sama karyawan mu, kapan kamu berangkat ke kantor dia mau resign” ucap Jeremy.
“kenapa karyawan mu meneleponku, bukannya menelpon Adiba yang sekertaris ku” pungkas Jeremy.
“Karyawan Mu itu temanku dulu saat sekolah, wajarlah dia meneleponku untuk tanya”
“Sekolah dimana?”
“Teman sekolah Di LA dulu, sih Kania. Dia kan kerja di kantormu”
“Kania? Memang ada sayang karyawan ku yang namanya Kania” ucap Rendra sambil mengingat perempuan yang bernama Kania, dia melihat kearah istrinya siapa tahu Adiba tahu mana orangnya.
“Tahu, itu yang perempuan masih muda anak divisi keuangan” ucap Adiba.
“yang gosipin kamu waktu itu”
“Syukurlah orang seperti itu keluar dari perusahaan ku”
“Hussh, jangan begitu. Dia anaknya baik nurut pinter lagi. Cekatan juga”
“Kalau dia baik nggak mungkin bicaraain kamu,” ucap rendra yang masih tidak terima.
“Kan bukan dia yang ngomongin aku waktu itu. itu kan si Sasa sama Tika. Udahlah nggak usah dipikirin, wajar kok mereka bilang begitu soal aku” ucap Adiba bijak.
Rendra hanya diam dan makan saja, kalau dia masih melanjutkan pasti pada akhirnya debat juga.
Jeremy yang dari tadi mendengar hanya diam, kalau dia ikut campur kakaknya itu pasti mengomel terus-terusan tahu sendirilah kakaknya cowok tapi kalau mengomeli dirinya lebih dari perempuan.
“Oh iya Jeremy, Kania bilang tidak kenapa dia mau resign?” tanya Adiba pada adik iparnya tersebut.
“Nggak tahu aku kenapa dia mau keluar”
“Nggak tahu apa nggak tahu, dia pacarmu kan?” sahut Rendra menatap adiknya.
“Sok tahu lo, siapa juga yang mau pacaran sama badan bocil begitu. Bukan seleraku, dia cuman temanku ya” ucap Jeremy sedikit ngegas menatap kakaknya kesal.
“Biasa aja kali,” ketus Rendra dan kembali melanjutkan makannya.
“Kenapa ya dia keluar, anaknya enak padahal. Dia juga baik sama kakak, meskipun dia pegawai baru tapi dia enak anaknya” ucap Adiba seakan tidak rela kalau kania resign.
Kania baginya adalah karyawan yang pintar dan lincah anaknya penuh semangat juga, dan banyak membantunya dulu saat dia masih menjadi Direktur keuangan.
“Kenapa diem, makan,” ucap rendra yang melihat istrinya menghela nafas ringan.
__ADS_1
“Iya,” jawab Adiba dan langsung menyendok kan makan ke mulutnya.
...........................................
Pagi-pagi sekali Adiba sudah bangun begitu juga Rendra yang baru saja membuka matanya saat merasakan selimutnya bergerak karena sang istri yang tengah menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.
“Good morning sayang,” lirihnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Adiba yang tadi tidka tahu kalau Rendra terbangun langsung menoleh kebelakang dan melihat suaminya yang masih muka bantal.
“Morning too, buruan bangun terus mandi habis ini aku. aku mau ke kamar Rafka dulu” ucap Adiba meminta Rendra untuk segera beranjak dari kasur.
“hemm, morning kiss dulu dong sayang” ucap Rendra sambil menunjuk bibirnya sendiri.
“Nanti aja ah, aku bangunin Rafka dulu nanti dia telat ke sekolah”
“Gitu kamu, nolak suami dosa loh”
Adiba langsung diam dan berjalan mengitari tempat tidur menghampiri suaminya yang tersenyum girang.
Adiba tanpa disuruh lagi langsung mengecup bibir Rendra yang sudah berdiri menantikan ciuman paginya sebagai penyapa awal aktivitas pagi hari mereka.
“Gitu dong, makin bucin aku sama kamu. kamu nurut begini,” ucap Rendra sambil mengecup kening istrinya.
“ya kamu nya sering cari-cari kesempatan” tukas Adiba.
“Cari kesempatan gimana,” senyum rendra.
“Udah ah, kalau mau gombal nanti aja. Rafka nanti telat kalau aku nggak bangunin dia” ucap Adiba dan akan pergi.
“Ya sudah sana, aku mandi dulu ya. Oh iya jangan lupa baju ku sayang,”
“Iya, nanti aku siapin habis bangunin Rafka” pungkas Adiba sebelum keluar dari kamarnya.
“Oh iya nanti kamu nggak usah pakai rok ya, pakai celana aja dari rumah. Nanti di kantor ganti”
“kenapa,?”
“nanti aku mau naik motor”
“Naik motor? Kenapa harus naik motor. Nggak usah aneh-aneh deh suamiku”
“Cie manggil suamiku nih, aku suamimu ya” ucap rendra malah menggoda Adiba.
“Iih, aku serius. Ngapain pakai motor?”
“Ya nggak pa-pa aku pengen romantis aja. Biar kayak anak muda, kamu belum pernah aku bonceng pakai motor kan. Kamu nggak iri sama cewek-cewek yang aku bonceng saat kuliah dulu”
“Nggak usah ngingetin soal masa lalu kenapa” ketus Adiba dia tidak suka mengingat itu, dibilang iri sih iri.
“Cemburu nih ceritanya, udah deh turuti aku aja. Nanti kita naik motor, biar kamu nggak iri soal dulu” teguh Rendra.
“Terserah kamulah” Adiba langsung berjalan keluar.
“nanti kita romantis-romantisan di atas motor” seru Rendra sambil tersenyum menggoda Adiba.
°°°
T.B.C
__ADS_1