
Rendra sedang duduk bersama dengan Tama, mereka berempat pergi lbih dulu dari acara Jeremy. Mereka berempat saat ini tengah berada di penginapan duduk di teras depan berdua mengobrol sambil menikmati secangkir kopi.
Para wanita mereka entah pergi kemana tadi ijinnya ke pantai tapi entah pantai mana mereka sekarang.
“Habis dari sini kalian mau kemana?” tanya Rendra menatap Tama yang duduk di depannya.
“Rencananya kita mau ke Singapura, tapi nggak tahu juga kapan. Entah nanti malem atau besok” jawab Tama sambil sedikit mengankat bahunya.
“Hubunganmu dengan Kania bagaimana? Kapan meresmikan hubungan kalian?” tanya Rendra penasaran.
“Kenapa kau tanya begitu? Masih takut aku akan mengambil Adiba darimu?” canda Tama dan sekilas tersenyum jahil.
“Nggak, kenapa takut. Adiba tidak akan mau denganmu” celetuk Rendra sambil tertawa meremehkan, Tama yang mendnegar itu tersenyum mereka berdua saling melempar senyum candaan.
“Lalu kenapa tanya begitu?”
“Aku tanya agar kalian tidak terlalu berbuat maksiat tanpa status”
“Asal kamu, memang diriku situ. Aku sama sekali belum menyentuh Kania. Kalau ciuman sudah tapi kalau begituan tentu belum, aku tidak ingin merusak anak orang asal kau tahu”
“Nyindir ceritanya,?”
“Bukannya nyindir, kau sendiri yang mulai” tukas Tama.
“Baguslah kalau pemikiranmu begitu, orang tua memang harus berpikiran seperti itu”
“Maksudmu aku tua begitu?”
“Fakta kan? kau lebih tua dariku” ucap Rendra tanpa merasa bersalah.
Tama hanya diam dan menyeruput kopinya dengan kesal, sambil menatap Rendra yang tersenyum puas meledeknya.
“Ngomong-ngoon dimana para perempuan kita, kenapa belum kesini juga” ucap Tama smabil melihat ke arah pantai yang tidak jauh dari penginapan mereka.
“Entah kemana mereka, mungkin jalan-jalan. sudah biarkan saja,”
Sedangkan yang dua perempuan yang mereka cari saat ini duduk santai di pinggir pantai sambil memakan kepiting saos. Adiba begitu menikmati itu bahkan dia memesan aneka makanan laut.
Kania sendiri memesan yang dia ingin makan saja, dna tidak sebanyak yang Adiba pesan saat ini.
“Cara makanmu begitu ya?” tanya Kania melihat Adiba yang begitu lahap sampai makan dengan kedua tangannya.
“Kenapa jijik ya, maaf kalau gitu” ucap Adiba yang merasa tak enak pada Kania.
“Nggak kok, aku cuman heran saja. Kok kamu makan lahap banget”
“Kamu lupa, aku bukan satu orang di sini ada tiga nyawa lain” balas Adiba smabil melihat kearah perutnya. Kania melihat kearah Adiba.
__ADS_1
“hehhe iya maaf aku lupa, tapi kayaknya asik banget makan begini doang”
“Gimana nggak asik makan ini, mumpung nggak ada mas Rendra jadi aku makan bisa puas banget”
“Kenapa memang kalau ada pak Rendra?”
“Mas Rendra kan alergi seafood jadi aku, kalau makan jadi nggak terlalu puas kasihan dia yang cuman liat doang” jelas Adiba pada Kania.
“Oh,” jawab Kania sembari mengangguk.
“Kamu ingin cerita-cerita soal bang Tama nggak? Atau ingin tahu soal bang Tama. Aku bisa ceritakan semuanya”
“Nggak ada sih, apa yang aku ingin tahu sudah dia ceritakan semua padaku”
“Syukurlah kalau begitu, bang tama sudah ngajak nikah belum. Kalau belum mau aku suruh dia buat buru-buru nikahin kamu?”
“Allhamdulilahnya sudah, dia hari ini kalau nggak besok ngajak aku ke Singapura buat nemuin Dadayku yang masih ada di Singapura. Dia ingin melamarku”
“Serius? Waah aku ikut senang kalau begitu”
“Ya terimakasih”
Oh ada satu sebenarnya yang ingin aku tanyakan soal bang Tama padamu Adiba?” lanjut Kania tetapi dia terlihat tidak enak untuk menanyakan hal itu.
“Apa tanyakan saja, kalau aku tahu pasti aku jawab”
Adiba yang tadinya asik makan, langsung diam dan melihat kearah Kania.
“Hubungan mereka nggak baik ya, aku kira dulu cuman salah paham aja. Ternyata benar mereka hubungannya tidak baik?”
“Maksudnya cuman salah paham? Kamu tahu sesuatu?” ucap Adiba saat meanngkap kalimat aneh itu.
“Dulu saat aku di Amerika, aku pernah melihat kak Tama di tampar oleh papanya mereka saling adu argumen satu sama lain” jelas Kania menceritakan kejadian yang pernah dia lihat itu.
“Hubungan bang Tama dan papanya memang nggak baik dari Tere masih hidup, dan semakin buruk semenjak Tere sudah tidak” Adiba menceritakan itu dan sesekali dia teringat Tere. Rasanya sedih sekali mengingat sahabatnya itu sudah pergi meninggalkannya.
“Kau tahu sesuatu? Kenapa hubungan mereka seperti itu. soalnya dia waktu itu mengajakku kerumahnya dan hanya menemui Mamanya saja tanpa menemui papanya”
“Kalau soal itu aku kurang tahu, aku hanya tahu bang Tama semakin membenci Papanya karena Tere tiada dan bang Tama mengaggap kepergian Tere karena ulah papanya. Soal ini lebih baik kamu tanyakan saja pada bang Tama biar lebih jelas”
“Aku nggak enak mau tanya begitu sama dia, aku takut mencampuri urusan keluarganya”
“Ya nggak pa-pa kalau kamu mau tanya, kan kam sebenar lagi jadi istrinya. Tanya saja kalau kamu memang penasaran?”
“Iya nanti deh aku coba tanya-tanay sama dia” jawab kania setelah mendapat saran dari Adiba.
“Habis, aku selesai makan kita kembali ke penginapan ya takutnya mereka berdua rempog nyariin kita” ucap Adiba.
__ADS_1
“Iya, kita puas-puasin makan aja dulu” Kania mengiyakannya dan dia langsung mengambil kaki kepiting dan menghisapnya.
Mereka berdua asik makan, setelah banyak mengobrol, menghabiskan makanan mereka dan baru kembali ke penginapan.
......................................................
Malam hari Rendra dan Adiba duduk berdua di sofa yang berada di teras belakang penginapan, sofa panjang yang menghadpa kearah pantai dengan suasan yang cukup romantis di teras penginapan mereka yang dihiasi banyak lampu kecil disitu
Rendra melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, meskipun sedikit tertindih oleh tubuh istrinya ia tak masalah.
“Malam ini ada agenda apa?” tanya Rendra smabil menatap manik mata Adiba yang duduk tepat disebelahnya.
“Agenda apa memangnya?” tanya Adiba balik, dia menatap bingung sang suami.
“Ya apa gitu, agenda nengokin anak kita gimana?”
“Rafka kan sama Mama sama Papa di acara Jeremy, apa kita mau kesana tadi aku ajak nggak mau bilangnya capek” jawab Adiba tak mengerti.
“Bukan Rafka sayang, anak kita yang lain. Yang disini,?” pungkas Rendra sambil memegang pereut Adiba memberi kode dengan kedipan mata.
Adiba langsung mebulatkan matanya saat tahu apa yang dimaksud Rendra, dia ingin sih tapi tadi perutnya keram jadi dia takut kalau mereka melakukannya bayi yang dia kandung bisa kenapa-kenapa.
“Mas maaf sebelumnya, aku bukannya nolak. Tapi tadi perutku kram, sekarang aja kayak gimana gitu mereka gerak-gerak terus” lirih Adiba merasa bersalah.
“Perut kamu keram? Kenapa nggak bilang. Sekarang gimana? Apa perlu kita ke dokter?” Rendra langsung melayangkan pertanyaan bertubi-tubi, dia terlihat cemas dan mengusap lembut perut Adiba.
“Nggak perlu mas, mungkin karena mereka aktif aja. Udah ah, nggak usah lebay. Daipada ke dokter kamu usap-usap kayak gini aja sembuh kok” ucap Adiba sambil memegang tangan Rendra yang ada di perutnya meminta pria itu mengusap perutnya.
“Serius? Awas kalau kamu bohong. Aku takut kalian kenapa-kenapa”
“Iya aku serius mas, nggak pa-pa. Mereka kalau aktif begitu tandanya sehat”
“”masuk aja yok, kamu berbaring sambik aku usap. Daripada disini dingin” ajak Rendra
“Iih aku pengen disini, nyaman tempatnya”
“Nyam didalam, ayo amsuk. Aku jamin nyaman di dalam, kita nyalain Ac, kita pakai sleimut aku peluk kamu sambil ngusap perut kamu. aku jamin nyaman nanti”
“Iya itu mau kamu, modus kamu mas” ucap Adiba sambil menampol pelan wajah suaminya.
“hehhee, ya nggak pa-pa kan modus sedikit. Sama istri sendiri” pungkas Rendra sambil tersenyum.
“Dasar,.”
“Sudah yuk masuk” Rendra mengajak Adiba berdiri dari duduknya. Mau tak mau Adiba mengikuti saja, dia berdiri perlahan dengan dibantu Rendra.
°°°
__ADS_1
T.B.C