CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 59


__ADS_3

Rendra meregangkan otot-otot tangannya yang lelah setelah bergulat didepan laptop miliknya dan dia beralih melihat kearah meja kerja istrinya.


Adiba terlihat tengah tidur di meja saat ini, melihat itu membuat Rendra langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri perempuannya.


Dia melangkah perlahan mendekati Adiba yang belum menyadari dirinya yang sudah berjalan mendekat.


Rendra duduk pelan di meja kerja sang istri sambil melihat istrinya itu yang tidur, perlahan tangannya membenarkan rambut istrinya yang menutupi sebagian wajah cantik itu.


Karena pergerakan Rendra tersebut langsung menyentak Adiba, dia sedikit terkejut karena usapan Rendra barusan dan dia langsung terduduk menatap was-was.


Hal itu membuat Rendra terpaku, dia tidak mengira kalau Adiba akan se terkejut itu karena apa yang dia lakukan.


“Aku kira siapa?” ucap Adiba sambil menghembuskan nafas lega saat melihat Rendra Lah yang memegang kepalanya barusan.


“kenapa terkejut begitu sayang, kamu takut denganku” ucap Rendra menatap penasaran.


“Nggak, cuman waspada saja. Aku pikir orang lain yang melakukannya”


“Nggak ada oranglah disini hanya aku,” pungkas Rendra mengamati wajah istrinya yang berkeringat.


“Aku tanya sama kamu, kamu punya trauma? Kamu trauma dengan apa yang aku lakukan dulu makanya kamu begini?” lanjut Rendra setelah diam dan hanya mengamati saja.


Adiba langsung melihat wajah suaminya yang menatapnya dengan penuh pertanyaan, di bilang trauma memang benar dia beberapa tahu ini selalu terkejut saat ada orang yang menyentuhnya tanpa dia sadar.


Tubuhnya merespon begini karena masih sedikit trauma soal apa yang Rendra lakukan dulu saat di Vila milik keluarganya. Hal itu membuatnya sedikit was-was hingga saat ini. haruskah ia bilang pada Rendra soal hal itu, bagaimana kalau pria itu merasa menyesal dan begitu bersalah.


“kenapa diam, jawab sayang. Jangan bilang kamu begini karena apa yang aku lakukan dulu?” tegas Rendra meminta penjelasan.


“Iya karena dulu, tapi aku sudah sembuh kok. Ini tadi hanya reflek saja” ucap Adiba.


Tangan Rendra perlahan memegang wajah Adiba mengusap wajah itu lembut,


“Aku minta maaf soal dulu, aku dulu begitu brengsek tak dewasa sama sekali dan membuatmu terluka begini” ucapnya benar-benar merasa bersalah.


“Nggak pa-pa, itu masa lalu” balas Adiba dan dia langsung berdiri didepan Rendra saat ini.


“sekarang gantian Adiba yang memegang wajah Rendra dia menatap wajah itu, wajah yang sama yang pernah menyakiti dia dulu tapi dengan sikap yang jauh lebih baik saat ini.


“nggak usah ingat masa lalu, bukannya kau sendiri yang bilang begitu. Lalu kenapa kamu sendiri yang sering membahasnya, aku saja tidak masalah dengan apa yang kamu lakukan dulu padaku” ucap Adiba sambil memegangi wajah sang suami.


Rendra langsung melingkarkan tangannya di pinggang Adiba dan menariknya mendekat, dia yang masih duduk di meja mendongak melihat wajah istrinya.


“Aku tidak salah mencintaimu dari dulu, kamu orang yang cantik, dan baik hati. Aku beruntung benihku lahir dari wanita sepertimu”ucap Rendra sambil tersenyum melihat wajah Adiba.


“Aku nggak cantik, siapa yang kamu bilang cantik?” wajah Adiba berubah menjadi serius.


“Ya kamu lah, siapa lagi yang aku bilang cantik selain kamu istri sekaligus ibu dari anakku” ucap Rendra menatap aneh Adiba yang malah tampak dingin.


“yakin? Bukannya dulu kamu sering mengatai ku kutu buku, cupu, nggak menarik, badan nggak berbentuk” Adiba menatap wajah Rendra yang tampak terkejut mendengar ucapannya.

__ADS_1


“Ka..kamu masih ingat soal ucapan ku dulu. a..aku minta maaf sayang, kamu sih dulu cuek banget denganku makanya aku begitu. Tahu sendiri aku pria yang tidak bisa di begitu kan oleh perempuan. Dan kamu perempuan satu-satunya yang beran begitu denganku” Rendra terlihat kikuk dia merasa menyesal dulu berkata seperti itu pada Adiba.


“Ingat sekarang”


“hehehe iya, jangan marah ya. Itu kan dulu, tapi aku sudah cinta sama cuman gengsi mau bilang”


“gengsi di besarin,”


“Iih ngaca juga dong sayang, kamu juga gengsikan. Kamu suka sama aku juga kan waktu itu, tapi sok jual mahal” gurau Rendra.


Adiba langsung diam, dia malas mengakuinya, malu kala dan harus mengakui itu.


“Kenapa memalingkan wajah begitu? Gengsi?” canda Rendra.


“Udah ah nggak usah dibahas, ayo makan siang dulu” ucap Adiba mengalihkan pembicaraan.


Rendra langsung mencium pipi kanan Adiba dengan gemas, bukan hanya sebelah kana saja yang dia cium tapi sebelah kiri juga.


“Istri aku ternyata gengsian ya,” ucapnya sambil menciumi Adiba berkali-kali.


“Ren, Rendra, jangan begini dong ini di kantor” ucap Adiba yang tampak memerah wajahnya karena malu.


“memang kenapa kalau di kantor, kemarin saja kita lebih panas dari ini” ucap Rendra sambil menatap Adiba.


“Kamu mau seperti kemarin tidak, kalau mau ayo lakukan lagi” ucap Rendra memberi kan kode pada Adiba.


Adiba meneguk Saliva nya mendengar perkataan Rendra barusan,


“Augh sakit sayang, kamu ini kenapa sih” ucap rendra sambil memegangi pantatnya yang sakit.


“I..itu, ada orang” Adiba terbata dan tampak was-was melihat kearah pintu.


“Masuk” ketus Rendra sambil melihat kearah pintu ruangannya saat ini, dia perlahan mulai berdiri dan Adiba langsung duduk di kursinya kembali agar orang yang masuk tidak curiga.


“Mana orangnya, katamu ada orang” ucap Rendra saat melihat pintu tak ada orang yang masuk sama sekali.


Adiba juga melihatnya dari tempat duduknya saat ini, dia merasa heran juga padahal tadi jelas-jelas ada yang mengetuk pintu tapi kenapa tidak ada yang masuk kedalam.


“kamu bohong ya?”


“Nggak tadi beneran ada yang ngetuk pintunya” ucap Adiba merasa yakin dengan pendengarannya tadi.


“tapi mana tidak ada yang masuk. Ah sudahlah tidak usah meributkan itu, ayo makan siang sudah hampir jam dua belum makan siang kita” ucap Rendra dan langsung memegang tangan Adiba.


“nggak usah pegangan tangannya” Adiba melepaskan tangan Rendra yang sudah menggandengnya.


“kenapa?”


“Nanti yang lain melihat kita”

__ADS_1


“Ya kenapa kalau mereka lihat kita gandengan tangan, mereka sudah tahu kita suami istri. Wajar Kan suami istri begini. udah ayok nggak usah banyak alasan deh sayang” ucap Rendra dan langsung menarik Adiba untuk berdiri mengajaknya keluar untuk makan siang mereka yang bisa dikatakan terlambat sekarang.


Maklum pekerjaan mereka cukup banyak membuat keduanya tidak bisa berleha-leha hanya sebentar saja.


.................................................


Tama duduk di pinggir kolam renang yang ada di sebuah hotel tempat dia menginap saat ini, dia tidak sendiri tetapi ditemani oleh seorang pria yang duduk kursi sebelahnya.


“Bagaimana kabarmu, kau baik-baik saja kan disini?” ucap Tama tersenyum kecil menatap pria tersebut.


“Iya berkat dirimu, aku baik disini. semua orang suruhan mu juga membantuku dengan sangat baik”


“Kau kenapa malah memilih kesini, bukannya kemarin ulang tahun Tere” ucap pria itu dengan menahan sedih di matanya.


“Aku lebih memilihmu ketimbang adikku, dia sudah ada yang menemani. Sedangkan dirimu disini sendirian kan?”


“ckkck, tak masuk akal. Memang aku kekasihmu,,” ucap pria tersebut tersenyum getir dan memalingkan wajahnya tak menatap Tama yang mendongak keatas dengan mata berkaca-kaca.


“Aku minta maaf padamu,” lirih pria tersebut suaranya tampak bergetar bicara pada Tama.


‘Minta maaf? Soal apa?”


“Soal Tere, kalau bukan karena aku, dia tidak mungkin meninggalkan kita begini”


“Sudahlah, tidak usah dibahas. Ini bukan salahmu, tapi salah Papaku. Kalau dia merestui kalian tidak mungkin Tere pergi begini” tukas Tama mengepalkan tangannya mengingat wajah sang ayah yang tak merasa bersalah sama sekali.


“Ya tapi ini salahku juga, andai aku tahu diri dan tidak mendekati adikmu mungkin dia masih hidup sampai saat ini. dan dia juga kenapa bodoh sekali hanya demi pria sepertiku, pria yang tak punya apa-apa” pria itu menduduk sedih dan air matanya tidak bisa ia bendung lagi sekarang mengingat sosok kekasihnya yang sudah tidak ada di dunia ini.


“Sudahlah pram, ini bukan salahmu. Kau tidak usah pikirkan itu lagi, dan jangan pikirkan soal Tere lagi. Lebih baik pikirkan kesehatanmu dulu, baru setelah itu kau pulang dan temui Tere. Dia pasti ingin kau datang berkunjung”


Pram adalah kekasih Tere, mereka mengenal sudah cukup lama dan takdir memang kejam bagi Tere dimana Pram adalah anak buah Papanya dan pria itu tak memiliki siapa-siapa bisa di bilang dia anak angkat orang tua Tama dan juga Tere dan dijadikan sebagai bawahan. Sayangnya Pram dan Tere saling mencintai satu sama lain, namun sayang hubungan keduanya di tentang keras oleh orang tua Tere.


Pram sendiri saat ini berada di luar negeri, dia sedang berobat mengani mentalnya yang sempat terguncang karena Tere melompat didepannya juga. hal itu membuat dia sedikit tidak waras, dan Tama saat ini tengah mengobat kan dia.


“ini salahku kan Tam, aku minta maaf padamu. Aku minta maaf,” Pram menunduk menangis terisak terlihat bahunya yang naik turun dan suara tangisnya yang pilu.


“Sudahlah Pram ini bukan salahmu,” ucap Tama memegang bahu Pram mencoba menenangkan pria itu.


“Suster, tolong bawa dia ke kamar saja” Tama melambaikan tangan pada seorang perempuan yang sedari tadi tidak jauh dari mereka.


Perempuan itu berjalan mendekati Tama dan membantu Pram untuk berdiri dari duduknya saat ini.


“Pram, kau istirahatlah dan minum obatmu” pinta Tama pada Pram.


“ya,” jawab pria itu singkat.


Tama melihat sedih kearah Pram yang dibawa pergi oleh suster tersebut, dia menyandarkan bahunya di sandaran kursi.


Pram sudah dia anggap saudara sendiri , karena sedari kecil mereka selalu bersama dan melakukan apapun bersama. Jadi meskipun Pram salah satu alasan Tere mengakhiri hidupnya dia tidak bisa membenci Pram, pria itu juga terpukul begini atas kepergian Tere.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2