CEO KU AYAH DARI ANAKKU

CEO KU AYAH DARI ANAKKU
Ep 111


__ADS_3

Rendra baru saja pulang bekerja, dia tampak lelah karena pekerjaannya begitu banyak di kantor ditambah lagi dia harus memikirkan soal Gwn yang terus meneroronya saat ini. rasanya badannya semakin capek karena hal tersebut.


“Bi, Bi Nawang” panggil Rendra smabil melepas jasnya dan berbaring di sofa saat ini.


“iya den” jawab Nawang yang berlari tergopoh-goph menghampiri sang majikan.


“Tolong panggilkan istri saya diatas” perintah Rendra saat perempuan paruh baya itu sudah ada di depannya. Nawang asisten rumah tangga baru dirumah Rendra dan Adiba itu langsung meneguk salivanya.


“Non, Non Adiba tidak dirumah den” jawab Nawang mencoba merilekskan dirinya.


Rendra yang tadinya berbaring sambil memejamkan matnay dengan tangan di atas kepala langsung duduk saat mendengar itu.


“Istri saya tidak dirumah, dia pergi kemana?” Rendra terkejut mengetahui istrinya tak ada dirumah saat ini.


“Sa..saya tidak tahu den, non Diba nggak bilang mau pergi kemana. Siang tadi dia hanya bilang mau keluar sebentar, tapi sampai sekarang belum pulang-pulang” jelas Nawang.


“dari tadi siang, terus anak Rafka dimana sekarang?” pungkas Rendra beralih menanyakan sang anak.


“Den Rafka juga elum pulang sekolah den”


“Apa? bagaimana bisa Rafka belum pulang sekolah. Pak Rahmat nggak jemput dia?” ucap Rendra.


“Pak Rahmat tadi sih pergi den, bilangnya jemput Rafka tapi belum pulang juga” jawab Nawan.


“Ini bagaimana, ya sudah sana” tukas Rendra dan langsung mengambil jasnya untuk mengambil ponsel miliknya yang ada di situ.


Belum sempat Rendra menelpon seseorang terdengar tawa Rafka dan langkah kaki yang mendekat saat ini membuatnya segera melihat kearah langkah tersebut.


“Sayang, darimana saja kalian” tukas Rendra dengan suara tegasnya saat melihat anak dan istrinya yang pulang bersama.


Rendra segera mendekati Adiba saat ini,


“Kamu darimana aa sih, dari siang samai sore begini baru pulang” tanya Rendra.


“Kita tadi dari mall pa, jalan-jalan sama Daddy sama itu calonnya daddy juga” jawab Rafka yang mewakili mamanya.


“Rafka keatas dulu ya sayang, ganti baju terus mandi ini sudah sore. Papa mau bicara sama mama” perintah Rendra.


“Iya Papa” ucap Rafka menuuti apa yang diperintahkan sang Papa, dia langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Kamu pergi sama Tama, dan nggak bilang sama aku?” tukas Rendra dengan lugas.


“Ya maaf, sudah ya aku mau mandi. badanku lengket semua rasanya” pungkas Adiba dan akan berlalu dari hadapan Rendra tapi Rendra sudah keburu menahannya.


“Sebentar, aku belum selesai ngomong. Kamu marah sama aku soal Gwen, aku minta maaf. Aku ggak ada hubungan apa-apa dengannya dan soal..” ucapan Rendra menggantung begitu saja karena Adiba melepaskan tangannya dan emmotong perkataannya saat ini


“Nggak usah dijelasin lah mas, itu urusan kamu sama dia. kalau memang kalian mau nikah ya sudah” ucap Adiba begitu dingin menusuk.


“Siapa juga yang mau nikah sama dia, istri aku Cuma kamu nggak ada yang lain” pungkas Rendra.


“Kamu bisa nggak sih nggak usah mikir aneh-aneh begitu, pikiran kamu itu buruk terus. Pikirin anak kita, bukan hal nggak jelas begini kamu pikirin” tegas Rendra sedikit meninggikan suaranya karena dia kesal sekarang.


“Siapa juga yang pikirannya buruk, aku bodo amat kok. Pikiran aku cuman anak-anak aku sekarang. Sudahlah mas, kamu pasti capekkan, nggak usah dibahas ini. aku siapin air hangat dulu buat kamu mandi” tukas Adiba yang begitu enggan untuk membahas masalah ini.


Rendra hanya bisa terdiam saja ditempatnya, dia pusing hars bagaimana lagi membuat Adiba yakin kalau dia tak pernah melakukan appun pada Gwen. Ia hanya menjalin asih saja dengan perempuan tersebut, soal masalah orang tua Gwen menemui orang tuanya saja dia tidak tahu apa yang dibahas.


....................................................


Mobil yang dikendarai Tama saat ini sudah berhenti didepan sebuah tenda makanan yang berada di pinggir jalan. Kania yang berada di sebelahnya menatap kearah Tama dengan aneh.


“Kenapa berhenti disini, rumahku bukan disini” tanya Kania menatap pria pemaksa disebelahnya.


“Aku masih kenyang, ayo pulang saja” tukas Kania terasa enggan untuk mengikuti perintah Tama.


“Kau tidak mau makan disini, apa kita cari tempat lain”


“Aku bukannya tidak mau makan disini kak Tama, tapi aku kenyang denger nggak sih” ucap Kania.


“Bohong, mana mungkin kau kenyang. Sedari tadi hanya cemberut saja tak ada reaksi, saat kita makan yang lain makan dan kau apa jutek melulu” ucap Tama sambil menyunggingkan senyum menatap Kania.


“Siapa yang jutek”


“Siapa lagi kalau bukan dirimu, kau cemburu pada Adiba. Dia seperti adikku, kenapa kau harus cemburu padanya” ucap Tama smabil tersenyum saat melihat ekspresi Kania yang menolak dikatakan cemburu.


“Siapa juga yang cemburu, kau bukan siapa-siapaku. Jadi untuk apa aku cemburui” pungkas Kania menyangkal apa yang dikatakan Tama.


“Yakin bukan siapa-siapa, aku sudah berusaha menghilangkan egoku dan sekarang dirimu yang begini. tapi tidak apa aku suka perempuan yang jual mahal. Ayo turun, kalau tidak turun, aku akan bodo amat denganmu yang lapar nanti” ucap Tama dan turun dari mobilnya lebih dulu.


“Pria itu benar-benar nggak peka, di bujuk yang romantis kek. Ini huh nyebelin banget” dumel Kania dan ikut turun. Karena memang benar dia lapar sekarang bagaimana tidak lapar dia tadi kesal karena ulah Tama yang terus perhataian pada Adiba ditambah lagi anak dari Adiba memanggil Tama daddy, padahal bukan anaknya tapi cara memanggilnya daddy sungguh menyebalkan melihat itu.

__ADS_1


.....................................................


“Astaga Pa, nggak berani sumpah aku. aku tidak pernah menyentuh perempuan gila itu pa” tukas Rendra pada Papanya yang ada diseberang sana. Dia saat ini tengah melakukan panggilan suara dengan papanya.


“Kau serius dengan ucapanmu? Awas jika kau berbohong soal itu. meskipun kau anak Papa tapi Papa tidak akan pernah berpihak padamu mengerti” tegas Frans diseberang sana.


“Iya aku berani sumpah, Papa tolonglah aku Pa. Papa orang berpengaruh tolong selidiki hal ini. ancam juga orang tua Gwen yang berani mengancam Papa. Demi apapun aku tidak pernah menyentuhnya, dan soal anak itu ya jelas bukan anakku. Anaknya saja umur delapan tahun. Darimana aku menghamilinya, tidak masuk akal sekali”


“Papa pegang omongan kamu, tapi lihat kalau ini memang benar dan jika terbukti itu anak kamu”


“Astaga harus berapa kali aku bilang, itu bukan anak aku pa. Agaimana bisa aku punya anak umur delapan tahun sedangkan anak kandung aku saja umurnya baru enam tahun, Papa lupa membuangkan ke Amerika dulu beberapa tahun lalu, Papa membuangku kesana Lima tahun lebih dan aku baru kenal Gwen emapt tahun lalu terus kapan aku bikin anak sama dia. aneh banget sih” kesal Rendra karena Papanya tak begitu mempercayainya saat ini.


“Oke papa percaya omongan kamu, Papa bantu kamu mengerti. Makanya jangan pernah menyakiti hati perempuan dan lihat apa yang kau terima saat ini masalah besar yang mungkin akan menghancurkan keluargamu”


“Iya, aku tahu pa aku salah, aku juga menyesal dengan diriku dimasa lalu. Jadi tolonglah anakmu ini. hanya Papa yang bisa menolongku dan kelargaku Pa, tolong segera carikan bukti soal itu secepat mungkin. Kalau tidak Adiba benar-benar akan terus membuatku berpuasa atau bahkan membuatku berpisah dengannya” ucap Rendra penuh penyesalah mengingat dirinya dimasa lalu.


“Sebentar, kau tadi bilang anak Gwen umur delapa tahun. Kau dulu saat mengencani perempuan itu berarti tahu dia sudah punya anak?”


“aku tidak tahu pa, aku tahu anak itu saja tidak”


“Terus darimana kau tahu kalau anak itu sekarang umurnya delapan tahun” heran Frans.


“Dari Jeremy, dia aku suruh mencari tahu semuanya tapi tidak menemukan apa-apa dan hanya menemukan fakta itu”


“Kau memang boh, gen siapa yang kau tiru.” Ucap Frans tak habis pikir.


“Kenapa Pa..” belum sempat Rendra berbicara panggilannya sudah dimatikan lebih dulu oleh Frans.


“Dasar, ini orang. Bagaimana bisa aku lahir darinya, anak sendiri belum selesai bicara sudah di matakan” gerutu Rendra kesal sambil melihat poselnya yang sudah terputus panggilannya.


Rendra kembali memasukkan ponselnya ke saku celaa dan dia langsung berjalan masuk kedalam kamar tetapi saat baru saja menginjakkan kakinya di kamarnya saat ini. dia melihat Adiba yang baru saja menyiapkan makanan yang dia minta tadi. Istrinya meskipun tengah marah dengannya tapi masih mau menuruti apa yang dia perintahkan, Adiba memang perempuan idaman tak melupakan kewajibannya sebagi istri membuatny merasa bersalah saja karena sudah membuat perempuan itu kecewa sekarang.


“Itu mas makanannya, buruan dimakan. Aku mau ke kamar rafka dulu” ucap Adiba dengan suara dinginnya. Dia lalu akan melangkah pergi tetapi Rendra segera menghentikan langkahnya dengan memeluk Adiba dari belakang.


“Aku cinta sama kamu, nggak ada yang lain” ucap Rendra sambil memeluk istrinya dari belakang.


“hemm” jawab Adiba dan akan melepaskan tangan Rendra yang memeluknya saat ini tetapi Rendra menahannya dan malah semakin erat memeluk sang istri.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2