
Setelah enam belas jam perjalanan Jakarta Paris, sepasang suami istri itu sudah tiba di apartement yang di sewa Rendra untuk beberapa hari. Ini perjalanan bisnis pertama Adiba menemani sang suami, biasanya Rendra pergi sendiri untuk bisnis.
Mereka sampai sore hari waktu Paris, Adiba langsung mencari tas miliknya untuk mengambil ponsel yang ia taruh di dalam tas. Ia ingin menghubungi Rafka, menanyakan kabar anaknya yang kemungkinan sedih karena tidak jadi ikut.
“Sayang, tolong bantu aku sebentar sih.” Ucap Rendra yang masuk kedalam kamar sambil membawa koper.
Adiba yang sudah membuka tas kecilnya langsung menoleh pada suaminya,
“bantu apa mas?” tanya perempuan itu.
“Tolong carikan berkas-berkas yang di tandatangani besok dong. Biar besok nggak bingung nyarinya. Kamu mau ngapain?” pungkas Rendra meminta bantuan istrinya.
“Aku mau nelpon anak-anak, nanti aja ya. Nanti aku bantuin” Adiba kembali mencari ponselnya di dalam tas.
“Nelponnya nanti aja, sekarang disana masih jam malem sayang. Anak-anak pasti sudah tidur. Kamu bantuin aku aja dulu,” ucap Rendra meminta istirnya untuk membantunya.
Adiba memikirkan ucapan Rendra, benar juga di jakarta saat ini masih jam sepuluh malam. Anak-anaknya pasti sudah tidur semua, ia tak ingin mengganggu anak-anaknya yang kemungkinan sudah tertidur lelap.
“Ya sudah mana kopernya ams, aku bantuin siapin” Adiba menaruh ponselnya begitu saja di kasur dan berjalan mendekati suaminya yang sudah membuka koper mencari berkas-berkas kerjaannya.
“Sayang habis ini kita ke jalan-jalan atu mau istirahat dulu di kamar” tanya Rendra smabil membongkar kopernya.
“Istirahat saja dulu mas, perjalanan kita jauh banget, aku juga agak jetleg. Aku mau tidur sebentar terus nelpon anak-anak, aku kepikiran mereka terus apalagi Rafka” tutur Adiba yang begitu mencemaskan anak-anaknya yang ia tinggal dirumah.
“Ya sudah kalau gitu,”
“Besok habis Rapat kita ke toko mainan sama beli oleh-oleh atau apa buat anak-anak ya. Aku ngerasa bersalah sama Rafka dia kenapa jadi nggak mau ikut ya” Rendra merasa sedih saat mengingat saat mereka akan berangkat Rafka yang menolak ikut ke Paris.
“Rafka begitu kayaknya karena ucapan kamu deh mas, dia kayaknya kepikiran sama ucapan kamu”
__ADS_1
“Ucapanku yang mana? aku nggak ngomong apa-apa sama Rafka” ucap Rendra merasa tak bicara aneh-aneh pada anaknya.
“Yang soal kamu bakal kasih hukuman ke dia kalau nilainya turun, dan kamu nyuruh dia belajar terus biar nilainya nggak turun. Ayolah mas, dia masih kecil nggak perlu kamu begituin” ucap Adiba meberanikan dirinya menasehati sang suami.
“Aku begitu juga demi Rafka sayang, kan aku nggak ngancem dia. aku bilang sama dia juga baik-baik. Papaku dulu juga gitu kalau nyuruh aku”
“Ya walaupun begitu mas, Rafka itu anaknya sering kepikiran. Jadi aku mohon jangan begitu neken anak yang masih kecil mas, dia masih tujuh tahun. Tujuh tahun itu bukan dihabiskan untuk belajar aja tapi untuk main, dia punya hak mas”
“Kenapa kamu jadi ngajak debat sih sayang, masalah rafka biar aku yang urus.”
“Aku bukannya ngajak debat mas, tapi aku cuman ingetin kamu. dia masih kecil, bukan orang dewasa yang harus di tuntut bisa apa saja”
“Udahlah sayang mending kamu istirahat saja, kamu pasti capek. Aku cari sendiri saja berkasnya” ucap Rendra yang tidak mau di nasehati karena baginya apa yang dia lakukan untuk Rafka itu sudah benar.
“mas, bukannya kamu bilang kenapa Rafka nolak dan sedikit berubah. Menurutku yang karena sikap mu ini. dia sudah kekurangan kasih sayang karena ada adik-adiknya terus di tambah les-les dia yang semakin membuatnya jauh sama kita. Aku rasa ini deh mas penyebabnya Rafka sedikit berubah” Adiba bukannya pergi dia malah kembali membahas masalah Rafka, karena dia jadi teringat sikap anaknya itu yang berubah semenjak dirinya sibuk mengurus anak-anaknya yang lain.
“Sudahlah sayang, kita bahas nanti saja. Aku sibuk sekarang, besok aku harus ketemu rekan bisnis ku. Masalah rafka kita bahas lain kalia saja, mungkin dia cuman ngambek kita belikan mainan saat pulang ke Indonesia nanti pasti ngambeknya hilang. Sudah sana kamu tidur saja” Rendra begitu keras kepala, dia tetap kukuh dengan sikapnya saat ini.
...................................................
Jeremy datang kerumah kakaknya, dia yang mendengar kalau sang kakak sedang keluar negeri dan memeintanya untuk kerumah menjaga keponakan-keponakannya membuat ia dan istrinya datang berkunjung meskipun ada mama dan papanya juga dirumah ini.
“Hai ponakan-ponakan tampan om, eh Reva cantik deng maaf ya sayang” seru Jeremy yang berjalan masuk beriringan dengan sang istri. Dia melambaikan tangan pada keponakan-keponakannya yang ada di karpet ruang tengah bersama dengan mamanya serta suster-suster dari ketiga bayi itu.
“kamu kesini?” tanya Citra pada putra sulungnya.
“Iya kakak yang suruh, dia suruh aku buat jadi temen Rafka. Rafka kemana ma?” jawab Jeremy yang langsung duduk di lantai sebelah Raihan. Ebgitu juga dengan Risa yang ikut duduk.
“Duh Reva makin gembul aja sih nak,” gemas Risa sambil menggendong Reva yang memang begitu gembulnya dengan rambut d kuncir membuat bayi lima enam bulan itu begitu menggemaskan.
__ADS_1
“Rafka masih les piano di rumah temannya kakak kamu” jawab Citra.
“kenapa rafka yang kesana ma?” tanya Risa pada mertuanya.
“Dirumah nggak ada piano, ya jadi dia kesan”
“Kakak ini gimana sih, nyuruh anaknya les tapi nggak di beliin piano. Orang berduit tapi nggak ada niatan beliin anak” protes Jeremy.
“Kakak kamu belum sempat buat beliin Rafka piano, dia masih sibuk”
“Gunanya apa ponsel sama duit, tinggal suruh orang aja bisa kan. kerja melulu, anak nggak di pikirin” dumel Jeremy yang kesal sendiri dengan pikiran sempit sang kakak.
“”Hussh, nggak boleh begitu. Kak Rendra itu kakak kamu” ucap Risa menasehati sang suami.
“Ya habisnya, tuh orang nggak ada pemikiran sama sekali”
“Sudah Jeremy, didepan anak kecil jangan banyak ngomel seperti itu” tegur Citra.
“Oh, raiden mau sama Om ya, sini-sini” ucap Jeremy dan langsung mengangkat Raiden yang akan merangkak kearahnya.
“Kakak berapa hari di Paris ma?”
“Kayaknya cuman dua hari apa tiga hari disana, sama perjalanan jadinya lima hari gitu tapi nggak tahu deng mama nggak terlalu jelas”
“oh”
Jeremy langsung sibuk dengan Raiden, dia terus menggoda bayi itu dan sesekali menoel pipinya yang gembul.
°°°
__ADS_1
T.B.C