Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Canggung.


__ADS_3

Bruce meneruskan langkahnya menuju ruangannya. Dia masuk dan mulai memasangkan file camera yang diambil dari apartemen Tifani, dilaptopnya. Security itu masih berdiri didepan ruangan Bruce.


Setelah melihat dan mendengar semua rekaman itu. Bruce mengetuk jari di mejanya, " Brengsek!" Lalu, Mafia itu berjalan keluar. Dia menemui security yang sedang berjaga di depan ruangan nya.


"Pak, tolong panggil wanita berambut panjang yang tadi duduk di koridor ICU. Kata'kan, pada dia, kalau dokter Johan ingin bertemu dengan dia. Ingat jangan bilang aku!" tegas Bruce.


"Baik Tuan." Security itu segera berjalan ke arah koridor ICU. Benar di sana Lestari sedang menelepon. Security itu menunggu hampir sepuluh menit lamanya.


Setelah, Lestari selesai menelpon. Barulah security itu menghampiri Lestari, "Permisi." ucap Security itu.


"Iya. Ada apa, Pak?" tanya Lestari.


"Maaf, Apa benar, ini dengan ibu Lestari?" tanya Security itu dengan sopan.


"Iya, benar. Saya yang bernama Lestari," jawab Lestari, seraya mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya, "Ada apa ya, Pak?" tanya Lestari, bingung.


"Ibu, dipanggil oleh ahli bedah jantung untuk segera ke ruangan beliau," ucap Security itu sopan.


"Baik. Dimana lantai berapa, ruanganya?" tanya Lestari, sembari berdiri dari kursi. Dia melangka ke arah Rose yang sedang berdiri di balik kaca pembatas ICU.

__ADS_1


"Bunda, Tari masih ke ruangan dokter ahli bedah. Bunda, tunggu disini saja, jangan ke mana-mana. Tari hanya sebentar saja." Lestari mengusap-usap punggung Rose.


Rose, menatap Lestari, "Iya, sayang. Tanyakan secara detail masalah sakit Ayah mu, Nak" Rose tersenyum sembari mengangguk.


"Baik, bunda." Lestari meletak'kan tas nya di atas bahu.Dia pun mengikuti security dari belakang.


Melewati ruangan Tifani dulu. Lestari hanya mengangkat sudut bibir atasnya. Namun, Lestari mengernyit ketika melihat nama dokter yang ditempel di ruangan itu bukan nama Tifani lagi. Dia mempercepat langkahnya untuk berjejer dengan Security itu, "Pak, Maaf. Jika boleh, saya ingin bertanya?" ucap Lestari.


"Silakan, Bu." Security itu menghentikan langkahnya.


"Dokter Tifani, pindah ruangan?" Lestari menoleh, jarinya menunjuk ruang Tifani.


"Ohh..Dokter Tifani. Dia sudah lama risain dari sini. Ada info yang saya dengar, dokter Tifani sudah ada klinik sendiri," jelas security itu.


"Sama-sama, Bu." jawab Security itu.


Akhirnya, Lestari dan security itu tiba diruang Bruce.


Tok...tok...tok

__ADS_1


Security mengetuk pintu ruangan Bruce.


"Masuk!" suruh Bruce.


Security melangkah mundur. Lalu, mempersilakan Lestari untuk masuk, "Silakan, Bu." ucap Security, seraya memutar handle pintu.


"Terima kasih." Lestari melangkah. Namun, baru saja sampai didepan pintu. Dia menghentikan langkahnya.


"Bruce!" batin Lestari.


Bruce mengangkat kepalanya.Dia menatap Lestari seraya tersenyum, "Masuk," ucap Bruce, seraya berdiri dari kursinya. Ia datang menemui Lestari yang masih bergeming didepan sofa. Wanita itu tidak percaya ahli beda jantung itu Bruce. Lalu, kenapa tadi Bunda Rose mengatakan Ahli beda bernama Johan? Apakah Bruce memiliki banyak nama?


"Oh...Terima kasih." Lestari memaksa diri untuk tersenyum. Lalu, dengan ragu mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Dia meremas tasnya untuk mengurangi rasa canggung.


"Hmmm... Apakabar Lestari?" tanya Bruce. Pria itu terus tersenyum. Lalu, ikut duduk di sofa berhadapan dengan Lestari.


Lestari menatap Bruce," Ba---ik." Lestari begitu gugup.


"Santai saja, bukannya kita pernah bertemu? Seminggu lebih kita tidak bertemu. Ada banyak sekali kejadian yang terjadi dan sayangnya aku sama sekali tidak tau." Bruce menaikkan kaki kirinya diatas kaki kanannya. Tangannya diletakkan diatas lengan sofa kiri dan kanan, matanya fokus menatap wajah Lestari. wajah yang sudah mengganggu pikirannya selama ini.

__ADS_1


Lestari masih diam. Wanita itu masih enggan menjawab.


"Maaf jika selama ini aku terus menghubungi kamu. Itu, karena aku sangat kwatir dengan dirimu," lanjut Bruce lagi.


__ADS_2