
Rico merengkuh pinggang Tifani dia melayangkan satu kecupan di kening kekasihnya itu.
"Kita akan menyusul, sayangku." ucap Rico disambut tepuk tangan para hadirin.
"Tentu, sayang." balas Tifani.
Bruce menatap Lestari dia mengedipkan matanya, " Mereka akan menyusul kita sayang," bisik Bruce seraya melayangkan satu kecupan dikening Lestari.
"Ya , kau harus merestui mereka." Lestari menatap Bruce penuh damba.
Bruce mengangguk, "Tentu.Aku pasti merestukan hubungan mereka. Ayolah saatnya kita ke kamar untuk beristirahat karena malam nanti acaranya sangat melelahkan," ajak Bruce.
"Baiklah." Lestari tersenyum dia dibantu Bruce berjalan masuk menuju kamar hotel.
"Apa kau lelah?" tanya Bruce saat keduanya sudah berada di kamar hotel.
"Hmmm...betisku serasa mau putus." keluh Lestari.
"Baiklah kau tunggu sebentar aku akan menghubungi orang untuk membantu melepas gaunmu.'' Bruce melonggarkan tuxedo dlehernya dia juga melepas jas miliknya dan meletakkan diatas sofa.
''Terima kasih,'' Lestari tersenyum seraya mendudukkan pantatnya diatas ranjang.
Bruce mengambil ponselnya dia menghubungi Sisilia, salah satu orang kepercayaannya selain Felix. Benar saja, tidak menunggu lama Sisilia datang. Bruce tetap menunggu di dalam kamar. Mafia itu duduk di sofa sembari mengamati Sisilia melepas gaun milik Lestari.
''Terima kasih. Jaga di depan pintu kamarku karena aku tidak ingin ada yang mengganggu waktu istirahatku.'' ujar Bruce saat Silisia hendak keluar dari kamar hotel Bruce.
''Baik, tuan.'' Sisilia pun gegas keluar dari kamar Lestari dan Bruce. Untuk berjaga di depan pintu kamar Bruce dan Lestari.
♥️♥️♥️♥️♥️
Lestari sudah selesai membersihkan wajahnya dari makeup ia berjalan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe saja. Bruce sedang berbaring di atas ranjang hanya menggunakan boxer saja melihat istrinya sudah mandi ia langsung tersenyum nakal.
''Sudah mandi?'' tanya Bruce melebarkan kedua tangannya meminta Lestari tidur diatas lengannya.
''Sudah, aku capek banget padahal ini baru acara janji pernikahan belum resepsinya.'' Keluh Lestari saat ia merebahkan kepalanya diatas lengan sang suami.
__ADS_1
''Bersabarlah sayang. Besok aku janji kamu seharian tidur di kamar saja.'' Bruce membawa Lestari ke dalam pelukannya tidak lupa dia mendaratkan kecupan dikening, bibir, hidung dan kedua pipi Lestari.
Lestari yang kegelian akhirnya menutup wajahnya didada bidang Bruce.
''Sayang...hentikan! Aku udah nggak tahan lagi,'' teriak Lestari berusaha menutupi wajahnya terus agar tidak di kecup Bruce.
Bagaimana tidak geli Bruce mencium seluruh wajah Lestari.
''Sungguh?'' Bruce membulatkan matanya. mafia itu tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, ' Dia yang memintanya?' batin Bruce. Ia sangat senang padahal tadi mereka tidak ingin melakukan karena mempersiapkan tenaga untuk acara resepsi malam nanti.
Lestari menahan lengannya, ''Mau kemana?'' tanya Lestari.
''Main dokter-dokteran. Tuntasin cairan infusnya kan belum keluar.'' sahut Bruce memasang wajah mesumnya.
"Aku nggak mau diinfus. Aku lagi nggak sakit sayang," Lestari memasang wajah bingungnya.
"Infus yang ini sayang," Bruce berkedip.
''Dasar mafia otaknya isinya alat dokter semua," ujar Lestari. Dia merasa aneh kenapa harus menggunakan kata infus? Dan anehnya dia juga ikutan menyebut infus.
''Lalu? Tadi yang kamu katakan tidak bisa tahan?'' Bruce bingung Lestari yang mengatakan tidak tahan lalu sekarang Lestari juga yang menuduh dirinya mesum?
''Tapi aku mau jatahku hari ini. Kita sudah sah menikah, yuk sekali aja biar tidurnya pulas.'' Bruce mendekatkan bibirnya di telinga Lestari, " Kalau tidak dituntaskan bisa pening kepala." lanjut Bruce lagi. Dia meniupkan naapsnya ditelinga Lestari.
Wanita itu dibuat terlena perutnya seraya ada banyak kupu-kupu yang berterbangan. Lestari pun akhirnya tidak bisa menolak namun wajahnya sudah merah mirip tomat masak.
''Sekali saja. Aku lelah butuh istrihat.'' Lestari membalas ci*uman Bruce.
''Siap tuan putri,'' goda Bruce.
Bruce dan Lestari saling mulai bermain dokter-dokteran. Hingga keduanya melakukan berulang kali.
Felix datang menemui Sisilia yang berjaga didepan pintu kamar Bruce, " Apakah Tuan sudah bersiap-siap?" tanah Felix.
"Sepertinya tuan ketiduran. Karean, tuna belum meminta aku panggilkan MUA ke kamar untuk merias Nyonya." jawab Sisilia.
__ADS_1
Felix memijit keningnya dia sudah tau Bruce pasti tidak bisa menahan diri.
"Baiklah. Aku pikir aku harus menelepon tuan sekarang karena acara resepsi pukul tujuh malam." Felix mengeluarkan ponsel dari kantong celananya untuk menghubungi Bruce.
♥️♥️♥️♥️♥️
Sementara di kamar orang tuanya sedang senam jantung, Putri anak Lestari dan Rico sedang asyik bercerita dengan Tifani dan Rico di kamar. Tepat bersebelahan dengan kamar Bruce dan Lestari.
"Papi nanti Putri akan punya adik?" tanya Putri.
Dia berbaring di tengah-tengah kedua orang dewasa itu. Tifani dari sisi kiri ranjang dan Rico sisi kanan ranjang. Kedua pasangan itu mengapit Putri ditengah.
"Adik?" Dahi Rico mengenyit.
"Ya.Adik dari papa Bruce dan Mami. Kata Papa Bruce kalau Papa udah menikahi Mami berarti Putri akan dikasih adik sama papa Bruce." jelas Putri polos.
Tifani terkekeh, dia heran mengapa Bruce mengatakan begitu kepada Putri.
"Ya nanti onty tanya dulu sama papa dan Mami ya." Tifani mencubit lengan Rico.
"Terima kasih. onty." Putri mendaratkan satu kecupan di pipi Tifani.
"Sama-sama sayang. Sekarang waktunya tidur. Karena, malam nanti kita akan berdangsa di acara pernikahan papa dan Mami." Tifani membalas kecupan Putri.
"Baiklah." sahut Putri. Dia pun akhirnya memejamkan matanya menuju dunia mimpinya yang indah. Melihat sang Putri sudah pulas. Rico berkedip kepada Tifani yang masih memainkan ponselnya.
"Ayo lah sayang," pinta Rico.
"Nggak aku nggak mau nanti ketahuan Putri lagi." sahut Tifani. Dokter cantik itu cepat-cepat meletakkan ponselnya diatas nakas lalu ia menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Ya Tifani masih trauma ketahuan Putri pas keduanya sudah di atas cakrawala dan Putri tiba-tiba masuk ke kamar dia kaget melihat kedua orang dewasa itu tengah bermain dokter-dokteran. Karena itu, Tifani selalu berhati-hati tidak mau ketahuan Putri lagi.
"Kita melakukan didalam selimut aja sayang," rayu Rico lagi.
"Nggak aku takut ketahuan Putri lagi. Dan dia pasti akan menanyakan mengapa Papi dan Onty berdangsa di dalam selimut?" jawaban Tifani membuat Rico tertawa.
"Hahaha...bukan berdangsa tapi bergoyang." Rico terkekeh.
__ADS_1
"Sayang?" Tifani memasang wajah kesal.
"Ya...ya...ya..udah tidur aja nanti malam kita main dokternya di dalam kamar mandi saja. Biar aman." timpal Rico yang merasa kepalanya mulai pusing akibat gagal mengeluarkan cairan infusnya. Namun, ia juga tidak bisa memaksa mengingat Putri sudah semakin besar. Dia pun akhirnya mengalah dan memejamkan matanya menuju dunia mimpi.