
Mentari pagi telah menyapa kota Spanyol. Kicauan burung bersahutan menyambut indahnya hari ini. Lestari sedang menggenggam tangan Filipo di ICU. Hari ini Filipo akan melakukan pemasangan baterai dijantungnya.
"Ayah... Percayakan semua kepada Dokter. Tuhan memberi sakit berarti Tuhan juga menyediakan penawarnya," Lestari menatap lekat wajah Filipo.
Filipo mengangguk tanpa ia sadari butiran bening itu jatuh membasahi pipinya. Hatinya seperti ditusuk sembilu ketika matanya dan mata Lestari bertemu. Menyesal. Filipo menyesal kenapa dulu dia menjodohkan Lestari dan Rico?
"Maafkan Ayah, Tari. Ayah tidak menyangka Pemuda yang dulu Ayah kenal begitu baik bisa juga berubah. Dia tega melukai Putri Ayah, padahal tidak kurang-kurangnya Ayah memberi materi, bahkan jaminan hidup dia dan keluarganya selalu ayah penuhi. Perusahaan juga kemarin ayah percayakan kepada Rico untuk ditangani sementara selama ayah sakit." Gerahangnya mulai bergerak, untung saja dia sakit kalau tidak dia pasti sudah menghajar Rico dan wanita yang meneror dirinya. Filipo ingin memberi tahu mereka dimana tempatnya orang-orang sampah seperti mereka.
Lestari tidak kaget soal perusahaan yang dipercayakan kepada Rico. Karena tadi malam sebelum Filipo pingsan Rico, sudah memberitahu Tari lewat sambungan telepon.
"Nggak apa-apa, Ayah. Mungkin jodoh Tari dan Rico hanya sementara. Tuhan mengirim Rico untuk menguji batas kesabaran Lestari. Apakah Lestari sanggup melewati semua masalah ini atau Lestari menyerah. Tari tidak marah, hanya kecewa itu juga dulu. Sekarang Tari bersyukur karena Tuhan begitu baik mengutus seorang yang baik untuk Tari. Dia yang memberitahu Tari mengenai perselingkuhan Rico dan wanita itu." Lestari tersenyum.
"Tari juga sudah siap menjadi orang tua tunggal untuk Putri. jadi, Tari mohon ayah fokus untuk kesehatan Ayah. Mengenai perceraian biar Tari menyelesaikan masalah ini sendiri karena Tari dibantu seorang pengacara yang hebat," Lestari mengusap-usap punggung tangan Filipo.
"Maafin Ayah. Semua ini karena paksaan dari Ayah. Dulu dia pemuda yang baik, sopan dan sangat mencintai kamu. Makanya Ayah tidak meragukan dia, sayangnya dia brengsek tidak mewarisi sifat ayahnya yang setia kepada satu istri saja," celetuk Filipo menahan amarah.
"Sudah tidak perlu menyesali lagi ayah. Besok, Tari sudah sah bercerai. Tadi malam juga Rico tidur dirumah katanya sudah kangen dengan Putri." Lestari menatap ayahnya. Dia tau Filipo menyesal telah menjodohkan dia dan Rico. Tapi, Tari benar-benar tidak menyalahkan Filipo atau marah karena bagi Tari jodoh, maut dan rejeki semuanya sudah diatur oleh Tuhan sesuai takaran masing-masing. Benar kata Lestari Rico hanya masalalu dan ia yakin Tuhan sudah menyediakan seorang pria untuk masa depan dia dan Putri.
"Baiklah. Harapan Ayah kamu cepat cerai, lupakan dia. Semoga Ayah cepat sembuh biar bisa mengurus semuanya." Filipo tersenyum sinis.
Filipo dan Lestari berbicara tanpa menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di batas kaca. Dia kagum sekaligus iri melihat kedekatan ayah dan Putrinya itu. Sempat merasa tidak percaya diri. Karena, dia takut mengecewakan wanita itu lagi. Semua tau seluk beluk dia, jarang ada wanita yang mau menerima orang yang hidup di dunia hitam. Dia kembali berjalan ke ruangannya dengan menunduk.
Siapa lagi kalau bukan Bruce. Mafia yang sejak semalam tidak bisa tidur. Tadi pukul enam pagi Bruce memutuskan datang ke rumah sakit. Dia datang bertemu dengan ahli bedah jantung. Bruce meminta untuk segera lakukan operasi jantung Filipo.
******
Sementara di apartemen, Tifani sudah bersiap-siap. Pagi ini dia akan ke kantor Rico sebelum ke klinik.
"Lihat saja hari ini kamu harus minta maaf di aku. Kau Bruce, aku yakin suatu saat kau akan datang dan memohon dikakiku," Tifani seakan lupa siapa dia bagi Bruce. Lalu, Dia meletajan tali tas di bahu kirinya, lalu ia berjalan keluar dari apartemen menuju lift.
Ting...
__ADS_1
Lift terbuka.
Tifani bergegas masuk ke lift. lalu dia menekan tombol menuju lobby. Benar tidak menunggu lima menit lift berhenti dilobby. Tifani bergegas keluar berjalan ke basement untuk mengambil mobilnya disana.
"Suster sudah ada pasien?" tanya Tifani melalui sambungan telepon.
[Sudah ada dok, ada tiga orang pasien yang mengantri dari sejak pukul 5:30 pagi," ]
"Ya sudah sepuluh menit lagi aku tiba." Tifani mendengus kesal. Disaat dia lagi tidak ingin kerja kenapa pasien datang? Biasanya kliniknya sepi paling ada pasien itu pun hanya satu atau dua orang.
'Sialan,' batin Tifani.
Dokter itu mengurungkan niatnya pergi ke kantor Rico.Karena dia merasa tidak enak ditunggui pasien seperti itu.
Benar saja hanya sepuluh menit mobil mewah berwarna merah itu berhenti di depan klinik. Tifani turun dari mobil.
Tak...tak...tak...
"Pagi dokter," sapa pasien dan perawat yang berada di ruang daftar.
"Pagi. Maaf sudah menunggu lama?" Tifani menjawab dengan begitu sopan.
"Belum mungkin setengah jam lalu," jawab salah satu pasein.
"Baik. Nomor urut pertama silakan masuk kita mulai pemeriksaan sekarang. Karena, siang nanti klinik tutup sampai besok baru buka lagi," Setelah menjelaskan Tifani melanjutkan langkahnya ke ruangan pemeriksaan.
"Suster... rekam medisnya tolong antar ke ruanganku," titah Tifani lalu ia mendorong pintu ruangan.
"Baik, dok." lalu perawat itu membawa rekam medis mengikuti langkah Tifani.
"Ini dok." perawat itu meletakkan rekam medis diatas meja Tifani lalu ia meninggalkan ruangan Tifani.
__ADS_1
"Nomor satu silakan masuk," ucap perawat.
Tifani meletak'kan tas di loker kecil yang disediakan di ruang kerjanya. kemudian ia duduk dikursinya. Tangannya meraih pena yang disediakan didalam kotak terletak dipojok kiri meja kerja.
Ting...
Bel pemeriksaan untuk nomor pertama segera masuk.
"Pagi dok,"
"Pagi buk," Tifani begitu profesional jika sudah bekerja.
"Silakan duduk," ucapnya dengan tersenyum.
"Terima ksih dok," jawab ibu pasien itu.
"Siapa yang sakit?" tanya Tifani ramah.
"Ini dok, anak saya ini batuk pileknya sudah tiga bulan tidak tau sembuh-sembuh saya sudah ke dokter mana saja tapi tidak cocok. Saya ke sini atas rekomendasi teman saya katanya dia langganan dokter Tifani. Dia menyarankan saya untuk berobat di klinik dokter." Ibu pasien cerita panjang lebar.
Tifani dengan sabar mendengar semua keluhan dan cerita ibu pasien, bibir tipis berwarna pink itu terus tersenyum semakin menambah keanggunan seorang dokter Tifani.
"Baik. Adeknya silakan berbaring dulu di bed pasien, biar saya melakukan pemeriksaan dulu," saran dokter Tifani.
Sesuai titah dokter Tifani. Ibu dari pasien itu segera membawa anaknya ke bed pasien untuk berbaring. anak berusia enam tahun itu awalnya takut tapi Tifani dengan sabar mengajak anak lelaki itu bicara dan menunjukkan gambar-gambar hewan di dinding ruangan itu.
Tifani dengan sabar menekan tetoskop didada si anak. Setelah memeriksa hampir 10 menit Tifani menghela napas. Dia tersenyum kepada ibu pasien. Tifani kembali duduk di kursinya lalu meletakkan tetoskop diatas meja kerja.
"Silakan duduk bu," ucap Tifani.
Dengan sabar Tifani menjelaskan," anak ibu tidak apa-apa tapi untuk memastikan sebaiknya harus di foto Rontgen. Karena dari pemeriksaan saya adek ini seperti mengalami infeksi paru-paru. Maaf, ini gejala TBC." Tifani menatap dalam si ibu.
__ADS_1