Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Bidadari kah?


__ADS_3

Setelah yakin sudah rapi dan cantik. Lestari keluar dari kamar mandi.


Ceklek...


Pintu kamar mandi dibuka.


Bruce menoleh, mulutnya sedikit terbuka Bruce tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat. Malaikat tapi ia tidak memiliki sayap, bidadari?


Oh Bruce, kau harus sadar dia Lestari mana ada malaikat datang Menampakkan diri untuk kau yang memiliki banyak dosa?


"Lestari,' kan ini?" Bruce tersenyum seraya menatap kagum Lestari.


"Ya aku, Lestari. Pertanyaan mu sungguh aneh. Sejak kapan ada Lestari lain? Mungkin banyak Lestari diluar sana tapi hari ini Lestari hanya aku seorang yang terjebak di dalam kamar hotel ini bersama kamu," celetuk Lestari. Ia tertawa seraya terus melewati Bruce yang masih bergeming di tepi ranjang.

__ADS_1


Bruce baru saja mau merebahkan diri karena mulai merasa mengantuk tapi karena pintu kamar mandi berbunyi Bruce menoleh ternyata dia tidak rugi menunda pejamkan matanya tadi.


"Kamu cantik sekali. Sumpah, aku nggak gombal atau merayu.Ini benar-benar perfect," Bruce mengangkat jari jempol nya keatas lalu berkedip kepada Lestari.


"Duh... ada-ada aja kamu Bruce." Lestari merapikan tasnya. Dia salah tingkah, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, untuk menghindar Bruce, Lestari mendekati nakas tangannya meraih gagang telepon dia ingin menelpon bagian customer servis meminta sarapan segera di antar ke kamar mereka. Namun, baru saja Lestari meraih gagang telepon Bruce menyentuh tangan Lestari lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah menelepon.Tunggu sebentar lagi, atau kamu buru-buru? Jika buru-buru, ya sudah aku batalin. kita sarapan di restoran aja, bagaimana, mau?" Bruce memberi pilihan.


"Sebaiknya kita sarapan diluar saja. Aku harus segera ke rumah sakit. Aku ingin lihat kondisi ayah, kata bunda, Ayah sudah sadar penuh." Lestari meletak'kan gagang telepon dengan rapi lagi. Dia pun meraih tasnya lalu meletakkan dibahu kirinya.


"Paperbag nya, nggak dibawa?" tanya Lestari, seraya jarinya menunjuk kearah pepar bag diatas nakas itu.


"Biarin aja. Nanti anak buah ku yang ambil aja. Lagian kamar ini khusus untuk aku, jika aku capek atau ngantuk saat pantau rumah sakit, kamar ini tempat aku singgah untuk beristirahat," jelas Bruce.

__ADS_1


"Baiklah. Bukan membawa wanita datang lalu melepaskan hasrat?" ucapan itu lolos begitu saja, entah sadar atau tidak tapi Lestari merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya, Ia pun menganggukkan kepala.


"Aku, bukan pria seperti yang kamu tuduhkan itu. Benar, aku bermain wanita tapi aku cukup bermain dengan mereka di tempat mereka layak dipermainkan. Bagi ku, tempat aku berisitirahat bukan tempat ku untuk melepas hasrat. Kamu wanita pertama yang menyentuh ranjang di kamar ku ini." Bruce menekan tombol lift khusus.


"Masuk." Bruce menahan pintu lift.


Lestari diam. Dia menyesal telah berbicara tanpa ia kontrol dirinya.Ia pun masuk kalau disusul Bruce.


Dalam hati dia pikir pria ini bukan pria bodoh atau pria tua yang mengejar cintanya. Bruce selain memiliki perusahaan bernama Black Scorpion dan rumah sakit mungkin masih memiliki banyak perusahaan lain lagi. Bisa Lestari nilai dari pegawai hotel menghormati Bruce melebihi dari seorang pemilik hotel. Pria ini seperti orang berkuasa?


"Kenapa diam?" Bruce menatap Lestari dia mengernyit kenapa Lestari tiba-tiba mengelamun.


"Ha? Oh iya, aku merindukan Putri," jawab Lestari asal.

__ADS_1


"Jika merindukan Putri kenapa nggak kamu pulang dulu, urusan menjenguk Ayah mu bisa nanti siang atau sore baru datang jenguk lagi ke rumah sakit,kan?" usul Bruce.


"Nggak. Aku ingin cepat bertemu Ayah. Kita jangan menunda waktu untuk bertemu dengan orang tua kita. Jangan berpikir perkataan orang tua mengatakan 'nanti aja ngga apa-apa jika kamu ada waktu baru jenguk kami', jangan kita berpikir itu benar adanya.Tapi, kita sebagai anak harus menelaah ucapan orang tua kita, itu berarti mereka ingin kita segera menemui mereka. Orang tua tidak butuh buah tangan, tapi cukup datang peluk mereka tanya kabar lalu cerita dan tertawa bersama itu sudah sangat cukup bahkan sangat berharga untuk mereka. Jadi, jangan ingin menjenguk kedua orang tua kita, tunggu waktu yang pas atau tunggu ada uang dulu. Sebaiknya jangan berpikir seperti itu, mereka tidak butuh semua itu, mereka hanya butuh kehadiran kita di depan mereka," sahut Lestari, matanya berkaca-kaca dia mengerjap berharap butiran kristal itu tidak jatuh didepan Bruce, dia tidak ingin dilihat sebagai wanita lemah atau cengeng. Bruce cukup tau Lestari wanita kuat dan hebat, bisa berdiri di atas kakinya sendiri.


__ADS_2