
Di rumah sakit Filipo sudah selesai operasi.Hanya saja belum sadar mungkin efek dari bius.Tapi memang melakukan operasi jantung biasanya mengalami koma satu atau dua hari. Lestari yang memang awam tidak mengetahui dunia medis begitu gelisah. Bruce masih setia menemani Lestari diruang kerjanya. Dia dan Lestari duduk bersama di sofa panjang itu.
"Sudah jangan gelisah.Tadi, aku sudah telpon dokter katanya semua baik-baik saja.Mungkin dari efek bius," ucap Bruce.
"Hmm...Terima kasih. Maaf selalu merepotkan kamu," jawab Lestari menatap Bruce.
"Sudah kewajiban aku." Bruce berkedip.
Lestari tersenyum.Dia sangat malu dengan gombalan receh Bruce namun cukup menghibur.
"Oya nanti sekitar pukul tujuh malam aku masih ada acara diluar," ucap Lestari. Entah kenapa Lestari tiba-tiba minta izin di Bruce.
Bruce mengernyit, "Acara? Acara apa?" Bruce menatap tidak suka.
"Tadi kata pengacaraku perlu merayakan putusan perceraian aku.Lagian selama sidang kedua sampai putusan cerai ini, aku belum bertemu lagi dengan pengacaraku.Sekalian aku mau ucapkan terima kasih." sambung Lestari.
"Apa itu kewajiban?" Api cemburu itu kembali muncul dihatinya.
"Aku juga tidak tau.Tapi, tadi dia mengajak aku untuk merayakan perpisahan," sahut Lestari.
"Lalu, kamu jawab 'iya'?" sambung Bruce.
Lestari mengangguk.Bruce menghela napas.Jarinya mengetuk pelan dilengan sofa.
"Jangan lupa kirimkan alamat kamu bertemu." Bruce berdiri, dia hendak pergi meninggalkan Lestari diruang kerjanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Lestari berdiri mengikuti langkah Bruce.
"Kamu belum jawab ungkapan aku kemarin.Tapi, kamu ada waktu bertemu pengacara kamu itu," cetus Bruce.
"Aku udah bilang, ini baru hari pertama kami bercerai setidaknya tunggu satu atau dua minggu dulu baru aku kasih jawaban.Tadi aku juga sudah bilang aku nyaman bersamamu, tapi beri aku waktu untuk memulihkan hatiku dulu," sahut Lestari.
Bruce menghela napas lagi," Apa dia sudah menikah? Siapa nama pengacaramu itu?" Selidik Bruce.
"Julio. Setahu aku dia tidak menikah.Dia seorang Casanova," jawab Lestari.
"Lalu? Kamu mau diajak makan berdua?" Bruce menaikkan sudut bibir atasnya.
"Aku hanya menghargai undangan dia.Tidak lebih dari itu," jawab Lestari.
"Okey..terserah kamu." sergah Bruce.
"Tunggu. Biar aku aja yang antar kamu pulang," jawab Bruce.
"Tapi mobilku?" tanya Lestari.
"Ada sopirkan? Suruh sopirmu pulang sendiri." perintah Bruce.
Lestari tersenyum, "Baiklah,"
Setelah berdebat panjang diruang kerja Bruce. Akhirnya, Lestari pun mau diantar pulang oleh Bruce. Dalam perjalan pulang Bruce sama sekali tidak mengajak Lestari bicara dia tidak ingin bahas masalah dinner atau apalah itu Bruce menghindar dari pertanyaan itu karena kwatir dia cemburu. Memang Bruce sedikit egois jika mengenai wanita miliknya.Dia tidak suka wanitanya berduaan dengan pria lain.
__ADS_1
Setelah Satu jam dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Lestari. Bruce menekan tombol pintu mobil. Sebelum keluar Lestari melirik Bruce.
"Nggak mampir dulu?" tawar Lestari.
"Nanti aja kapan-kapan. Aku masih ada kerjaan di luar." Bruce tersenyum.
"Baiklah. Thanks uda antarain aku. Kamu hati-hati dijalan," sahut Lestari.
Bruce berkedip dia menampilkan senyum termanisnya. Tangannya melambai pada Lestari.
Setelah Lestari masuk Bruce memutar mobilnya kembali ke markas.Kali ini dia tidak langsung kembali ke Mansion.
Mafia itu memacu mobilnya begitu cepat.Tidak lama mobil berwarna putih itu berhenti tepat di depan markas. Felix sudah menunggu didepan pintu markas.
"Tuan," sapa Felix.
"Sudah lacak?" tanya Bruce.
"Beres!" Felix tersenyum.
"Ya udah laksanakan sesuai perintah," timpal Bruce.
"Siip,"
♥️♥️♥️
__ADS_1
Duh mau namatain susah banget 🤧.mana kisahnya masih bekasn bab.Apa aku skip aja ya biar cepat tamat? soalnya jujur view-nya ngenes banget 🤣🤣🤣.aku mau fokus novel dua ku itu aja🤣