
Lestari meremas ujung dresnya. Kenapa, selama ini Filipo tidak pernah menceritakan semua itu? Atau mungkin dia yang lupa?
"Investor?" tanya Lestari.
"Ya, Perusahaan ku bernama Black Scorpion," jawab Bruce tersenyum.
Mata Lestari membulat.
'Jadi perusahaan Scorpio itu milik Bruce? Lalu, kenapa dia tidak pernah muncul?' batin Lestari.
"Maaf aku tidak tau mungkin karena kelamaan cuti selama hamil dan melahirkan. Sehingga lupa investor dari mana saja yang sudah kerja sama dengan perusahaan Ayahku," ujar Lestari.
"Santai saja," sahut Bruce.
"Tadi kamu bilang video. Aku ingin tau Video apa?" sambung Lestari penasaran.
"Bentar." Bruce beranjak dari sofa. Dia mengambil laptop diatas meja kerjanya. Lalu, kembali ke sofa.
"Hmmm...jangan kaget. Oya...Tadi aku sempat dengar perbincangan kamu dan ibumu. Kenapa, Ayahmu bisa jatuh?" tanya Bruce, seraya tangannya terus menari diatas keyboard laptop, matanya pun fokus menatap laptopnya.
"Kamu, menguping?" Lestari menggeleng. Ternyata Bruce selain misterius, dia juga hobi menguping.
__ADS_1
Dengan pandangan dan jari yang masih Fokus di laptop, Bruce tertawa," Iya sempat menguping tapi hanya sedikit yang aku dengar." jawabnya begitu santai.
Tampak File itu mulai berputar. Potongan gambar mulai terlihat. Terlihat Tifani berjalan keluar dari kamar seraya memijit ponselnya, wajahnya begitu sinis dengan sedikit melirik ke arah kamar.
"Sini, mendekatlah ke sini," ajak Bruce. Tangannya menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Karena, Bruce sudah memanggil dirinya. Selain itu Lestari pun penasaran dengan video yang mau ditunjuk oleh Bruce. Dia pun bergeser agar lebih mendekat dengan Bruce. Wanita itu duduk bersebelahan tepat di samping kiri Bruce. Lestari mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangan tertumpu di kedua pahanya. Lalu Ia menopang wajahnya, mata Lestari fokus dilayar laptop.
"Bukannya, ini Tifani?" Rasanya dia ingin muntah menyebut nama pelakor itu. Bruce tersenyum lalu mengangkat satu alis matanya.
"Hmm...Lihat dulu, aku kira ini bersangkutan dengan jatuhnya Ayahmu. Maaf sedikit kurang lebih itu yang saya simpulkan dari pembicaraan kamu dan Ibu mu." jelas Bruce. Namun, saat menjelaskan semuanya tiba-tiba ponselnya berdering.
Ting...
"Terus, apa hubungannya dengan rekaman dari apartemen Tifani?" Lestari masih fokus di layar laptop.
"Aku sudah lama memasang camera itu di apartemen sana. Itu apartemen milikku jadi aku pasti tau paswordnya. Saat rapat tadi, aku dengar kalau Ayahmu sakit dan aku mencoba meminta Felix, dia anak buahku. Untuk mengecek kebenaran ayahmu sakit. Ternyata Ayahmu sakit karena jatuh. Aku jadi ingat camera yang aku pasang di apartemen. Aku pun sudah menonton lebih dulu. Aku harap apa yang kamu lihat di sini tidak memancing tempramental mu untuk kumat." Bruce tersenyum dia membayangkan lagi bagaimana Lestari menghajar Tifani direstoran waktu itu.
"Aku masih waras.Lagian jika dia ada hubungannya dengan jatuhnya Ayahku itu sudah lain cerita lagi." Lestari memijit keyboard laptop dia menambah volume suara dari rekaman itu.
Matanya mulai memerah dia menatap Bruce dengan bibir yang sudah bergetar. Rasanya dia ingin__.
''Dia?'' Air mata Lestari sudah membasahi pipinya. Dia menoleh dan menatap Bruce, dengan tangan menunjuk ke arah laptop.
__ADS_1
Bruce tersenyum, dia mencoba memeluk Lestari. Tapi, dengan cepat Lestari menepis tangannya. Bruce memandangi tangannya yang barusan ditepis oleh Lestari.
''Aku, sudah bilang jangan emosi. Aku akan bantu kamu cari solusinya. Sekarng aku juga sudah dapat video lagi yang barusan dikirim oleh Felix.'' Bruce tetap tidak menyerah. Tangan nya berusaha menarik tubuh Lestari ke dadanya.
Dia mengelusnya begitu lembut. Namun, tidak bisa di elakkan kalau Bruce juga tengah emosi. Terlihat Gerahangnya terus bergerak otot tangannya pun mulai bermunculan.
''Aku dan Rico berusaha menyembunyikan semua ini dari Ayahku. Tapi, kenapa dia yang bukan siapa-siapa begitu tega melakukan hal ini kepada Ayahku?'' Lestari masih menangis.
''Iya, aku minta maaf atas nama dia. Aku gagal, harusnya dulu aku lebih berperan sebagai orangtua saja tidak menuruti perasaanklu yang pada akhirnya aku pun kecewa.'' Bruce benar. Dia harusnya dulu berperan sebagai orang tua ganda Tifani. Mungkin, waktu itu Bruce hanya menganggap Tifani ana, pasti Tifani tidak kurang ajar seperti ini?
Lestari menggeleng, "Bukan salahmu.Tapi, dia saja yang tidak tau berterima kasih." Lestari melepas tubuhnya dari pelukan Bruce.
Dia mendengar lagi semua obrolan Tifani. Sepertinya orang yang diajak bicara melalui telepon itu Filipo.
♥️♥️♥️
Maaf ternyata aku langgar lagi janjiku. Itu bukan sengaja tapi jaringan 3 benar-benar hiknag dari hari Minggu hingg tadi pagi jam 4.
Maafkan aku ya🙏.
__ADS_1