
Di apartemen.
Sakit ditubuh semakin menyiksa dirinya, ia tidak bisa menahan lagi. Tifani memaksa dirinya bangun ia menyenderkan tubuhnya diheadboard ranjang, tangannya menyentuh dada bagian kiri. Sungguh, sangat sakit hingga ia meneteskan air mata.
"Ternyata Rico nggak datang. Dia benar-benar masih marah. Aku harus kuat, aku harus ke dokter sekarang percuma menunggu Rico aku bisa mati kesepian disini." Ia menyibak selimut dari tubuhnya lalu perlahan mengayunkan kakinya turun dari ranjang. Tifani membersihkan tubuhnya sebentar di kamar mandi lalu kembali ke kamar. Dia mengenakan celan jins, dipadu blouse dan mantel berwarna hitam. Ia menatap wajahnya dimeja rias pucat, kelopak matanya pun menghitam. Ahh...sudah berapa hari dia berada di kamar ini seorang diri? Sudah berapa hari dia tersiksa dengan sakit ini? Bukankah baru semalam? Namun, kenapa wajahnya sudah seperti Mumy?
Tifani tersenyum, tangannya mulai memoles make up natural menutupi pucat diwajahnya tidak lupa ia menggoreskan lipstik berwarna merah dibibirnya.
"Ahh..jauh lebih baik seperti ini," gumam Tifani.
Dia mengecap-ecap bibirnya memastikan make-up dan lipstiknya sudah pas. Setidaknya jika dia jatuh di lift atau jatuh di lobby penampilan dokter Tifani tidak memalukan.
Sore ini dia tidak ingin menangis walau dadanya begitu sesak. Tangannya begitu lincah menscroll layar ponsel miliknya.
"Hallo dokter, apakabar?" sapa Tifani. Jujur dia ingin menangis namun dia menahannya.
[ Tifani? Hei, kamu apakabar?]
Tifani memejamkan matanya, dia bersyukur ternyata temannya itu masih menyimpan nomor ponselnya. Karena, sejak Tifani dipecat dari rumah sakit milik Bruce, Tifani pun menghilang, dia tidak pernah lagi menghubungi teman-teman dokter di rumh sakit dulu ia bekerja.
"Kamu masih ingat aku?" Dia tersenyum getir. Matanya pun semakin berembun..ahh..air bening asin itu jatuh perlahan membasahi pipinya. Dasar, manja!
[Masih dong, emang kamu pikir aku uda amnesia? Atau kamu pikir aku jahat sehingga dengan mudahnya mendelete nomor ponselmu?]
Dokter Clara, terus berbicara.
"Oh sudahlah Dokter. Aku tidak memiliki tenaga untuk berdebat denganmu. Ternyata hobi berdebatmu masih saja melekat di dirimu." Tifani menggelengkan kepalanya.
[ Ada perlu apa? Katakan, Aku tau dokter Tifani. Dia tidak biasa menghubungi temannya jika tidak ada urusan yang penting]
Dokter Clara tertawa. Ya dia, Tifani. Dokter yang jarang menelpon sahabat dan teman nya jika tidak ada urusan penting mengenai pekerjaan. lalu mengapa, hari ini dia menelpon Dokter Clara?
"Aku dengar klinikmu, sudah memiliki alat kesehatan lengkap bahkan ada laboratorium lengkap?"
Dia meremas ujung mantelnya, jujur dia tidak ingin semua mengetahui sakit yang masih belum jelas ini.
[Betul. Sudah lengkap, mengapa?]
"Aku ingin cek up ke kamu, bisa, 'kan?"
[Bisa banget. Sekarang aja, kebetulan aku lagi diklinik]
Dokter Clara sangat senang. Dia akhirnya bisa bertemu lagi dengan Tifani.
"Baiklah. Aku segera ke sana, sekitar setengah jam aku tiba diklinik mu."
[Baiklah. See you!]
Panggilan pun berakhir. Tifani mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya. Ia bergegas keluar dari kamar. Tangannya menarik handel pintu depan.
Ting...
__ADS_1
Lift berhenti didepannya, ia pun bergegas masuk. Ya, dia dikejar waktu, Tifani tidak ingin menunda lagi dia harus tahu, jika itu benar dia akan mendatangi yayasan. Mungkin?
Lift berhenti di Lobby. Tifani segera keluar dari lift. Dewi Fortuna sedang berpihak di Tifani, ada taxi didepan lobby. Tifani melambai meminta sopir taxi tidak melajukan mobilnya.
"Pak, tolong antarkan saya di klinik Xxx," ucap Tifani. Dia segera masuk ke dalam taxi lalu duduk dibelakang sopir. Tangannya memasang sabuk pengaman dengan benar.
"Baik. Kita berangkat." Sopir itu mulai menginjak pedal gas mobil dia melajukan Taxi itu menuju klinik Clara.
Setelah hampir satu jam, Taxi berhenti didepan klinik dokter Clara. Tifani pun segera turun dari mobil, tentunya setelah melakukan pembayaran.
Di depan Klinik, dokter Clara sudah menunggu sembari tersenyum, dia melambaikan tangan kepada dokter Tifani yang berjalan memasuki halaman klinik. Tifani sangat senang ketika melihat dokter Clara menyambutnya dengan bahagia.
"Apakabar Dokter Tifani." Dokter Clara langsung merangkul tubuh Tifani. Ia memeluknya begitu erat melepas kangen yang sudah lama tidak bertemu.
"Kamu bisa lihat kondisiku saat ini, aku sedang sakit." Tifani membalas pelukan Dokter Clara.
"Oh maafkan aku, sungguh aku tidak tahu. Tadi disambungan telepon kamu seperti baik-baik saja." Mereka saling menautkan pipi kiri-kanan.
"Ahh...Tidak masalah." Tifani menatap sahabatnya itu, "Kamu semakin cantik," pujinya.
"Begitupun kamu semakin cantik," balas Clara.
"Kamu sedang berbohong," Tifani memalingkan wajahnya dia tidak ingin menangis didepan sahabatnya.
"Sungguh kamu sangat cantik," Clara tidak ingin dituduh berbohong.
'Seandainya kamu mengetahui kehidupanku mungkin kamu tidak akan mengatakan aku cantik,' batinnya.
"Duduk, hari ini klinik sepi jadi kita bisa bercerita sepuasnya." Clara membuka lagi pintu ruangan dia menyebulkan kepalanya keluar mencari keberadaan suster.
"Suster tolong bawakan minuman untuk sahabatku,"
"Baik, Dokter."
"Makasih, cepatan ya." sambung dokter Clara.
Benar tidak menunggu lama suster datang membawa minuman. Suster itu meletakkan minuman itu diatas meja.
"Silakan," ucap suster.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan kamu. Aku pasien tapi dilayani seperti seorang tamu," celetuk Tifani.
"Kamu tamuku, bukan pasienku," sahut Clara.
Tifani mengangguk dia tersenyum, lalu ia pun meraih cangkir lalu menyesap minumannya kemudian meletakkan lagi diatas meja lagi.
"Maaf aku tidak bisa menjamu kamu dengan wine. Mungkin besok kita akan minum ditempat biasa kita nongkrong?" Clara mengedipkan matanya.
Dia tahu Tifani teman yang royal, Tifani juga dokter yang hobi minum alkohol. Kebiasaan hidup bersama Bruce membuat Tifani menganggap Wine sebagai pengganti air mineral.
"Terima kasih. Semalam aku memutuskan berhenti minum wine, karena wine aku hampir kehilangan nyawaku," jawab Tifani.Lalu tangannya meraih cangkir dan meneguk air mineral hingga tandas.
__ADS_1
Usai melepas kangen, Dokter Clara bertanya sepintas kesehatan Tifani.
"Aku merasakan sakit dibagian buuah daddaku, aku pikir aku_" Tifani menunduk tangannya meremas ujung mantelnya hinggu jemarinya memutih.
Refleks Dokter Clara, menjatuhkan pena diatas meja.
"Sungguh? " Dia menatap Tifani.
"Karena itu aku kesini," lirihnya.
"Dokter Tifani, Aku masih berharap semoga prediksi aku dan kamu kali ini salah." Dia menatap Tifani. Harus kah dia jujur jika hasil laboratorium dan USG nya keluar?
Siapa yang tidak mengenal Clara? Dokter penyakit dalam terkenal di rumah sakit human hospital? Hasil diagnosanya tidak pernah salah. Tapi, bolehkah kali ini saja dia ingin semua hasil diagnosanya salah? Katakan saja dokter Clara melakukan malapraktik?
" Jangan seperti itu, aku tahu kamu dokter hebat karena itu aku putuskan check-up di klinikmu." Tifani sudah iklas menerima semua diagnosa dokter. Toh, berjuang pun sama saja, Rico tidak menginginkan dia lagi,. Bruce, apalagi Pria berhati malaikat itu kini tidak lagi menganggap Tifani ada.
"Baiklah." Dokter mulai mengambil darah Tifani. Selesai mengambil darah, Dokter Clara segera membawa ke ruang laboratorium miliknya. Lalu, dia kembali lagi keruang pemeriksaan dimana Tifani menunggu dengan gelisah.
"Dokter Tifani, silakan berbaring aku aku melakukan USG," ujarnya.
"Baiklah. Semoga hasilnya masih kecil ya," gurau Tifani.
"Kamu." Dokter Clara menatap sedih Tifani.
Dokter hebat yang dulu diakui di rumah sakit human Hospital kini begitu menyedihkan.
Alat mulai dijalankan dibagian dada Tifani, USG 4D. Tifani menitikkan air mata ketika melihat dilayar monitor. Lalu, Ia tersenyum sembari menghela napas. Berharap ada keajaiban dalam hidupnya.
Selesia melakukan USG, Tifani bangun dari bed pasien, dia kembali duduk di kursi menunggu dokter Clara membawa hasil USG.
"Maaf, 'kan aku jika harapanku tidak sesuai hasil USG." dokter Clara menyerahkan hasil USG itu didepan Tifani.
Tifani mulai mengamati gambar abu-abu yang berada dilembaran USG. Tanpa ia sadari butiran kristal itu membasahi pipi tirusnya.
"Ibu..." gumamnya, jemari kurusnya mengusap pelan lembaran hitam itu.
"Dokter, are you okey!" Clara menyodorkan tisu.
"hmmm...sudah takdirku. Terima kasih." Dia menerima tisu dari Clara lalu menyeka air matanya. Tifani menghela napas, dia sungguh menyedihkan disaat dia membutuhkan sandaran hati, tidak ada satu pun yang peduli dengannya, termasuk itu Rico sekalipun.
Tifani tersenyum, dia menatap Clara, "Berapa biayanya?" Dia berulang kali menyadarkan dirinya.
Clara menggelengkan kepala, "Haruskah, aku menerima pembayaran dari sahabatku sendiri? Tidak, klinikku lagi promo gratis." Clara berdiri dia memeluk sahabatnya itu, memberi kekuatan kepada Tifani.
Tifani menyentuh jemari Clara yang berada bahunya, Dia meremas lembut.
"Thanks. Ternyata seperti ini rasanya memiliki seorang sahabat. Selalu ada dikala kita jatuh." Tifani sesunggukan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei...Jangan menangis kamu bisa melakukan pengobatan.kemo terapi, misalnya." tawar Clara.
"Nggak. Aku sudah iklas."
__ADS_1