Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Sadar dari koma.


__ADS_3

Usai berdoa Bruce berdiri dia melirik ternyata ada Lestari dan Rico juga sementara berdoa disampingnya. Bruce tersenyum seraya mengulurkan tangannya membantu Lestari berdiri. Wanitanya itu telah selesai berdoa juga.


''Sejak kapan di sini?'' tanya Bruce dia melihat ke arah Rico yang masih bersujud dengan berlinang air mata.


''Lumayan lama,'' Lestari tersenyum.


''Maaf atas sikapku tadi, meninggalkan kalian begitu saja. Jujur aku takut, aku takut kehilangan Tifani untuk selamanya. Pernah kehilangan dia sebagai kekasih dan kali ini aku tidak ingin kehilangan dia sebagai anak.'' Bruce memeluk Lestari, dia menyesal dengan sikap yang tidak sabaran, '' Kamu pasti kecewa dengan sikap ku tadi, 'kan?'' bisiknya di telinga Lestari


Lestari mengusap lembut punggung Bruce, '' I know. Santai aja. Aku pun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi kamu saat ini. Kamu pasti masih ingat waktu ayah operasi aku pun nggak tega melihat ayah koma.'' Bibir Lestari tersenyum. Dia yang tadinya berpikir Bruce masih ada rasa cinta untuk Tifani sebagai kekasih kini percaya Bruce hanya mencintai dia seorang. Ya, cinta Bruce hanya untuk Lestari Filipo.


♥️♥️♥️


Hari pun telah berganti sudah tiga puluh delapan jam Tifani koma, Rico sama sekali tidak meninggalkan Tifani dia terus menemani kekasihnya itu di ruang ICU.


Akhirnya penantian itu datang saat Rico sedang memejamkan mata dengan bersender di kursi, tiba-tiba tangannya yang menggenggam Tifani merasakan gerakan lembut. Rico membuka mata teryata Tifani sudah bisa menggerakan tangannya. Gegas Rico langsung menekan tombol yang berada dikepala bed pasien.


Dokter datang bersama dua orang perawat.


"Dok, tolong tangan kekasih saya tadi bergerak." Rico berdiri memberi ruang untuk dokter melakukan pemeriksaan.


"Baik. Saya akan lakukan pengecekan dulu. Bapak yang tenang ya." Dokter itu mulai menekan tetoskop di dada Tifani lalu mengecek bola mata Tifani dengan senter kecil. Dokter James tersenyum seraya meletakkan lagi tetoskop dilehernya. Pria berkaca mata itu menghela napas lega setidaknya dia tidak dibunuh mafia tempramental itu.


''Nona Tifani sudah sadar. Hanya untuk membuka mata dan bisa berbicara bapak dan keluarga harus sabar Nona Tifani butuh waktu untuk .'' ujarnya.


Rico tersenyum, dia menyalami dokter James sebagai bentuk ucapan terima kasih. Setelah melakukan pemeriksaan dokter James segera keluar dari ruang ICU bersama perawat.

__ADS_1


Sementara Rico mengecup kening kekasihnya itu, ''Akhirnya kamu sadar juga, maafin aku yang pernah menyakitimu. Aku janji akan menjadi kekasih dan suami yang baik untuk kamu. Kita akan membuat banyak anak, menjadi orang tua yang paling bahagia." Rico meremas jemari kurus Tifani sesekali ia mengecup nya dengan mesra.


Tifani belum bisa menjawab tapi tangannya merespon balik meremas genggaman Rico. Pria itu melepaskan tangan Tifani, dia harus menghubungi Bruce dan Lestari mengabari jika Tifani sudah sadar.


Satu jam....


Dua jam...


Tiga jam....


"Co, dimana ayah? Apa ayang sudah balik Spanyol?" Bukannya Dia mencari Rico tetapi Tifani yang sudah bisa membuka mata langsung mencari Bruce.


"Fani baru saja sadar. Kamu dan Tuan Bruce bisa ke sini sekarang?" Akhirnya Rico mengakhiri panggilan sambungan selulernya.


Ia memasukan lagi ponselnya ke dalam kantong celananya kemudian Rico langsung berjalan ke arah Tifani, " Sayang kamu sudah bangun? Tuan Bruce tadi ajak Lestari dan Putri jalan-jalan karena Putri mulai rewel mungkin bosan sudah dua hari hanya berada di rumah sakit." Dia mengecup kening, bibir, hidung, terakhir punggung tangan Tifani dengan mesra, " Jangan sakit lagi apalagi koma sampai hampir dua hari jujur aku tidak bisa, aku takut hal buruk terjadi aku belum siap dan tidak akan mau." Rico mengambil tangan Tifani, ia menempelkan di pipinya, seraya terus mengecup punggung tangan Tifani.


"Aku sudah menghubungi mereka. Tadi kata Lestari lima menit lagi nyampe sini." Rico mengecup punggung tangan Tifani lagi.


CUP...


"Hallo Tante,"


Rico mendengus kesal baru saja dia menunduk ingin mencium bibir Tifani tiba-tiba Putri masuk tanpa mengetuk pintu. Semangat Bruce dan Lestari tersenyum melihat wajah kesal Rico.


"Hallo sayang... dari mana aja?" Tifani merentangkan tangannya menyambut Putri, begitupun Putri berlari ke arah Tifani sembari membuka ke dua tangan kecilnya.

__ADS_1


Rico memberi ruang, membicarakan calon ibu tiri dan anaknya itu saling berpelukan.


"Thanks. Karena, Tante sudah mau bangun." Putri menempelkan kepalanya di perut Tifani seraya kedua tangannya melingkar di pinggang Tifani. Dokter itu mengusap punggung Putri.


"Iya Tante sudah bangun. sudah sehat nanti kita boleh jalan-jalan," Putri langsung mengangkat kepalanya dari perut Tifani dia mendongak menatap Tifani.


"Sungguh?" Matanya berbinar-binar dia tidak sabar lagi Tante Tifani cepat sembuh karena Putri ingin mengajak Tifani ke suatu tempat dimana tempat itu sudah dibisikkan paman Bruce kepada dirinya. Rahasia Hanay dia dan Bruce yang mengetahuinya.


"Ya, Tante bersungguh-sungguh." Tifani meyakinkan. Dua tangan Tifani menangkup wajah Putri, anak dari Lestari itu menatap Tifani bibirnya tersenyum manis kepada dokter itu.


"Yes!" seru Putri.


Kemudian Lestari yang merasa waktu Putri melepas rindu dengan Tifani sudah cukup, dia datang menghampiri Tifani dengan bucket mawar putih ditangan lalu meletakkan di atas nakas.


"Fan, cepat pulih ya." ucap Lestari. Dia duduk dikursi dekat bed pasien.


"Makasih, kak." ucap Tifani.


"Sama-sama." Lestari tersenyum manis kepada Tifani. Tangannya mengusap bahu Tifani.


Begitupun Bruce dia datang, mengusap tangan Tifani, " Terima kasih sudah berjuang demi Ayah." ucapnya lirih.


"Pasti Ayah cemas waktu Fani koma," ledek Tifani.


"Dasar." Bruce tersenyum seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


"Hore..." Seru Putri sembari menepuk tangannya. Tidak lupa dia melompat girang melihat kebersamaan kedua keluarganya.


__ADS_2