
Alvin langsung membawa ana keluar dari ruangan dokter Rudi , Sementara ana terlihat belum mencerna penjelasan dari dokter Rudi , apalagi ana belum mengeluarkan suara nya untuk bertanya tentang kondisi ayah nya , karena Alvin selalu saja mendahului apa yang ingin dia tanya kan tentang kesehatan ayah nya . Alvin pun kini sudah membawa ana keluar dari ruangan dokter Rudi , entah sejak kapan Alvin menggandeng tangan ana keluar dari ruangan dokter rudi , karena sekarang ana sudah berada di depan ruang kandungan .
“ Kenapa bapak membawaku keluar dulu ? aku kan belum selesai berbicara dengan dokter mengenai ayah . “ sungut ana dengan menyilangkan kedua tangan nya di atas dadanya .
“ Dokter nya kan sudah menjelaskan tentang kondisi ayah kamu , terus mau ngapain lagi kamu tanya - tanya kondisi ayah kamu . Lebih baik kita masuk dulu , aku sudah buat janji dengan dokter obgyn untuk memeriksa kandungan kamu , calon anak kita . “ ana menatap Alvin dengan tatapan nanar , sungguh ana tidak mengerti dengan jalan pikiran atasan nya , bukan nya ana sudah menjelaskan jika untuk sekarang tidak dulu membahas masalah kandungan nya . Harus nya Alvin mengerti dong maksud dari ucapan nya , kenapa atasannya seolah buta dan tuli dengan kondisi ayahnya seperti itu karena ulahnya .
“ Kenapa bapak malah membawaku kesini , apa pak Alvin tidak mengerti maksud ucapan ku beberapa menit lalu . Lagian kenapa bapak sangat yakin anak yang ku kandung ini darah daging bapak , sementara aku juga memiliki suami . “ tutur ana .
Alvin tersenyum menyeringai mendengar ucapan dari calon ibu dari anaknya . “ kamu meremehkan insting calon Deddy dari anak mu . “ balas Alvin . “ aku hanya ingin lihat perkembangan calon anakku , jika kamu tak bersedia pun tak masalah bagiku , tinggal kamu tutup saja mata kamu selama pemeriksaan , karena aku pun punya hak atas anak yang ada di dalam rahim kamu . “ kekeh Alvin dengan menarik tangan ana , untuk masuk ke ruang sang dokter .
__ADS_1
Karena sifat pemaksa bosnya tengah kumat , mau tidak mau ana pun mengikuti keinginan nya untuk memeriksa kandungan nya dengan wajah di tekuk .
Cek lek
“ Selamat malam tuan Alvin mahesa . “ sapa sang dokter dengan ramah , saat melihat Alvin masuk ke ruangan nya dengan menggandeng ana .
“ Tunggu ! siapa nanti yang akan memeriksa nya ? “ Alvin mencekal tangan ana , saat ana akan melangkahkan kakinya ke ranjang yang di tunjuk sang dokter .
Ana memutar bola matanya dengan malas , saat Alvin malah mencegah nya , padahal sebelum nya Alvin terlihat sangat bersemangat . “ jadi tidak di periksa nya ? kalo tidak jadi aku mau ke ruangan ayah saja . “ sungut ana .
__ADS_1
“ Saya pak , yang akan memeriksa istri bapak . Karena saya adalah salah satu dokter obgyn yang tersisa di rumah sakit ini , selebihnya mereka sudah kembali ke rumah masing-masing . “ terang sang dokter , dengan sedikit kesal .
Alih - alih membantu ana ke ranjang , Alvin malah menggandeng ana keluar lagi dari ruangan sang dokter . Meski ana belum menjadi istri nya , tetap saja Alvin tidak rela bagian tubuh ana di perlihatkan laki-laki lain selain dirinya . Semenjak ana menyerah kan mahkota nya pada Alvin , Alvin pun mematenkan stempel kepemilikannya , jika ana adalah milik nya dan tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki nya selain dirinya , termasuk laki-laki yang masih sah menjadi suami nya . “ Kita kembali ke ruangan ayah mu . Sampai kan pada atasanmu , aku akan membuat perhitungan dengan nya . “ ucap Alvin sebelum meninggalkan ruangan sang dokter .
Ana geleng-geleng kepala , saat Alvin kembali membawanya keluar dari ruang sang dokter , ana sudah biasa melihat sikap Alvin yang gak jelas seperti ini . ’ syukur deh kalo tidak jadi di periksa , berarti gue bisa tetap menjalankan rencana gue untuk memanipulasi kehamilan ku ini pada pak Alvin . Gue tidak ingin ayah semakin syok saja , saat tahu anak yang ku kandung adalah anak pak Alvin bukan dari mas Juna . ’ batin ana .
Sedangkan sang dokter mengerang kesal , saat Alvin malah mengurungkan niatnya dan pergi begitu saja tanpa terlebih dulu memeriksa kan kandungan sang istri . “ coba kalo bukan pasien istimewa , udah gue timpuk pake sendal . Gila saja , gue sampe mundurin waktu kencan gue , gara-gara orang seperti ini . “ gumam sang dokter
Bersambung
__ADS_1