
“ Kamu sudah mencuri first kiss ku . “ Ana pun berhenti mengunyah mendengar ucapan Direktur nya , detik berikut nya ana kembali menyantap makanan lezat di hadapan nya dengan lahap .
“ Bapak gak usah kejauhan mikirnya , saya hanya makan bekas sendok pak Al doang kok di bilang ciuman . “ balas ana dengan mulut di penuhi makanan .
Ternyata sakit hati itu tidak hanya menguras air matanya , tapi juga menguras energinya . Sehingga , ana sangat - sangat rakus memakan sisa makanan bosnya . Entah ana sedang melampiaskan kesedihan nya dengan makanan , atau ana memang benar-benar kelaperan .
Alvin tersenyum melihat ana seperti orang tidak makan selama seminggu , padahal dulu saat ana masih bekerja di kripala , ana itu terlihat anggun dan berkelas . Tapi ana yang sekarang di hadapan nya sungguh berbeda , tidak ada anggun - anggun nya sama sekali apalagi mulutnya terus di penuhi makanan . “ Kamu pasti bukan ana yang ku kenal . “ goda Alvin dengan membantu ana membersihkan nasi yang ada di bawah mulutnya .
Sebelum Alvin mengambil sisa nasi tersebut , Alvin malah mengambil kesempatan memegang sebentar bibir ranum yang terus menjadi pusat perhatian nya . Alih - alih marah , ana malah menangis , saat Alvin melakukan seperti itu padanya . Alvin pikir akan melawan atau marah - marah seperti biasanya apalagi Alvin sempat memegang bibir nya . “ Hua Hu hu “ lagi - lagi ana tak menolak atau marah , saat Alvin secara spontan merengkuh ana kedalam pelukan nya .
__ADS_1
Meski ana tak mengatakan apapun , apa yang membuat nya bersedih sampai menangis seperti ini . Alvin cukup senang , karena ana bisa meluapkan kesedihan nya padanya . “ aku janji ini adalah air mata terakhir yang kamu keluar kan untuk laki-laki seperti Juna , karena selanjutnya kamu akan jadi prioritas hidup ku meskipun rintangan begitu besar nanti . “ batin Alvin dengan membiarkan ana membasahi pakaian nya .
Setelah cukup lama ana menangis , Alvin pun mulai berkelakar untuk meredam kan tangis ana agar menyudahi tangisannya . “ habis ini cuciin baju limited ku yah . “ kelakar Alvin cukup berhasil menghentikan tangis ana .
Ana sadar kemudian menghapus air matanya .
Sampai di mejanya , ana menyembunyikan wajahnya di tumpukan kedua tangan nya sampai membenturkan kepalanya di meja karena merutuki kebodohan nya . “ Kenapa gue tadi malah nangis di depan pak Al sih , mau di taro dimana nanti muka gue kalo ketemu pak Al . “ ujarnya dengan mengangkat kepala nya dan beralih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya .
Setelah cukup merutuki kebodohan nya , ana kembali beranjak untuk memanggil salah satu OB untuk membereskan bekas makanan yang belum ana beres kan di ruangan Direktur nya . Belum sampai pantry , ternyata ana berpapasan dengan salah satu OB yang akan menuju ruangan Direktur nya . “ Mas mau kemana ? “ tanya ana pada OB tersebut .
__ADS_1
“ Selamat sore Bu ana “ sapa OB tersebut dengan menundukkan kepala nya . “ Tadi pak Direktur menelpon pantry dan menyuruh salah satu OB untuk membersihkan ruangan nya . “ balas OB nya .
“ Oh pak Al sudah menghubungi pihak pantry , ya sudah mas Silakan . “ ana pun mengurungkan niatnya menuju pantry dan langsung kembali ke mejanya , karena Alvin sendiri sudah menghubungi bagian pantry . ana lupa kalo atasan nya punya telepon dering ajaib .
Tidak terasa jam kerja ana telah selesai . Bukan nya bersiap - siap untuk pulang , ana malah diam . Ana bingung akan pulang kemana , jika pulang ke rumah pasti akan bertemu dengan suami nya , sedangkan ana sendiri belum cukup kuat bertemu dengan suami pengkhianat nya . Tapi jika ana pulang ke rumah Bunda , pasti bundanya akan menginterogasi nya . “ Apa gue pulang ke tempat vini aja yah . “ gumamnya .
Ana seperti nya tidak menyadari jika saat ini Alvin sudah keluar dari ruangan dan terus memperhatikan nya . Mendengar gumaman ana , Alvin mempunyai ide agar ana menginap di apartemen nya saja dari pada bingung pulang kemana . “ Bugg “ Alvin sengaja meletakkan tas kerja nya di meja ana dengan kencang agar ana tersadar dari lamunan nya . “ ikut ! kamu harus tanggung jawab karena telah merusak baju kesayangan ku . “ ana melebar kan matanya , saat tiba-tiba orang yang ingin dia hindari malah berada di hadapan nya .
Bersambung
__ADS_1