
Hari telah berganti hari begitu cepat berlalu, sekarang sudah satu minggu Tifani di rawat di rumah sakit, Jerman.
''Selamat pagi pak Rico,'' sapa dokter James. Ia melangkah masuk ke ruang rawat Tifani hari ini visit terakhir dokter James.
''Pagi juga. Dok.'' balas Rico. Sementara Tifani hanya tersenyum.
Rico memang tidak pernah meninggalkan Tifani sendiri dirumah sakit selama masa perawatan. Biarpun di suruh Bruce untuk istirahat di Mansion sebentar tapi Rico selalu menolak dengan alasan dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Tifani, kecuali mandi atau pergi ke toliet.
Rico berdiri dari kursi dia memberi ruang untuk dokter melakukan pemeriksaan. Setelah selesai periksa dokter tersenyum tangannya menyentuh punggung Rico lembut.
''Pak Rico, saya ada kabar gembira.'' Dokter James tersenyum.
''Kabar baik apa, Dok?'' tanya Rico penasaran.
''Hari ini Nona Tifani sudah diizinkan pulang ke rumah. Karena, kondisi Nona Tifani sudah pulih. Hanya tetap rutin minum obat dan jaga pola makan.'' Dokter James menatap Tifani lalu beralih menatap Rico. Sementara Rico langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kursi, kedua tangannya langsung memeluk Tifani yang masih berbaring di bed pasien.
''Kita pulang Spanyol sayang.'' Air matanya jatuh membasahi perut Tifani karena kepalanya menempel diperut Tifani.
Tifani hanya bisa tersenyum, karena dokter James hanya menunduk melihat tingkah Rico.
''Permisi,'' ucap dokter James tersenyum-senyum.
Rico yang menyadari masih ada dokter James mendongakkan kepala menatap dokter James.
''Maaf. Terima kasih, Dok.'' ucap Rico tersipu.
Dokter James menepuk pelan punggung Rico, Ia mendekatkan bibirnya di telinga Rico, ''Tidak apa-apa saya mengerti. Kekasihnya dijaga.'' bisik Dokter James.
''Baik dokter saya tidak ingin hal buruk ini terulang lagi. Saya pasti akan menjaganya dengan sebaik mungkin.'' balas Rico.
''Baik. Semoga benar ucapan pak Rico. Permisi,'' Ia pun tersenyum pada Tifani seraya melambaikan tangannya. Tifani membalas lambaian tangan Dokter James.
Dokter berkaca mata itu keluar sembari tersenyum-senyum melihat reaksi spontan Rico yang langsung memeluk Tifani hingga melupakan kehadiran dirinya.
''Seperti itu rasanya jatuh cinta. Ahh...aku juga jadi pengen cepat-cepat memiliki kekasih,'' gumam dokter James. yang dijuluki dokter jomblo sejati oleh sesama rekan dokter di rumah sakit itu.
__ADS_1
Rico yang melihat dokter James sudah menjauh dari ruangan Tifani, ia cepat-cepat menutup pintu lagi lalu duduk dan menundukkan kepala mendekatkan bibirnya dengan bibir Tifani. Rico yang sudah menahannya sejak lama melupakan sekarang mereka berada di mana. Dia lalu menye*sap bibir Tifani dengan lembut Tifani pun membalas, Rico memberi gig*itan lembut di bibir Tifani meminta Tifani membuka mulut. Tifani memberi celah hingga lidah keduanya saling bertauta didalam sana.
Tok...tok..tok...
''Permisi.'' Terdengar ketukan pintu dari luar.
''Ahh...si**alan.'' Rico berdecak. Ia lalu melepaskan bibirnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Tifani hanya tersenyum melihat tingkah Rico yang kesal.
Duda tampan itu lalu berjalan ke pintu ia membukakan pintu. Ternyata ada perawat yang datang untuk melepaskan infus yang masih terpasang ditubuh Tifani.
''Maaf, menggangu.'' ujar perawat itu tersenyum.
Rico tidak menjawab dia hanya menggaruk kepalanya mengikuti perawat dari belakang. Karena, sebenarnya yang dibawah sana sudah meronta sayangnya tidak bisa disalurkan sekarang.
🤍🤍🤍🤍
Di mansion.
Bruce, Lestari dan Putri sudah bersiap-siap berangkat ke rumah sakit karena Rico sudah menghubungi Lestari mengabarkan kalau Tifani sudah diizinkan dokter untuk pulang.
''Ya...ya...ya...kamu udah nggak sabar ingin bertemu tante Tifani?'' Lestari menghampiri Putri yang sudah menunggu didepan pintu mobil. Lestari menyentuh pipi Putri dengan gemas.
''Ya dong Mami. Tante Tifani kan baik.'' jawabnya polos.
Bruce hanya menggelengkan kepalanya, dia membuka pintu mobil untuk Lestari dan dirinya ketiganya masuk ke dalam mobil. Karena selama di Jerman ada sopir yang mengantarkan mereka ke mana pun mereka pergi tentu semua itu atas saran Lestari. Karena, jika atas kemauan Bruce pasti dia akan menyetir sendiri.
Setelah semua memasangkan sabuk pengaman dengan baik. Sopir mulai melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Tifani dirawat.
Akhirnya tiga puluh menit dalam perjalanan mobil berrhenti didepan lobby rumah sakit.
Lestari, Bruce dan Putri segera keluar dari mobil. ketiganya bergandengan tangan dengan Putri berada ditengah bak keluarga kecil yang bahagia. Putri sesekali melompat dengan tangan kiri dipegang Lestari dan tangan kanan dipegang Bruce. Sesampainya didepan pintu rawat Tifani. Putri yang mengetuk pintu.
Tok...tok...tok...
Rico langsung membuka pintu, Putri langsung menyolonong masuk tanpa menghiraukan sayang ayah yang sudah merentangkan tangan ingin memeluk dirinya. Namun, balita lima tahun itu memilih berlari ke Tifani yang sudah duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Tante..." seru Putri ia langsung melingkarkan kedua tangan kecilnya dipinggang Tifani lalu menempelkan kepala didada Tifani, " Sayang." Tifani mengecup ujung kepala Putri penuh cinta seray mengelus rambut Putri, dia lalu menitikkan air matanya. "Ternyata begini rasanya dicintai orang-orang yang tulus mencintai kita." batinnya.
"Tante sudah sehat, sekarang kita pulang ya. Janji, nggak boleh sakit lagi." Dia menelengkan kepala menatap Tifani seraya mencebikan bibir kecilnya. Tifani tersenyum sembari mencubit gemas pipi gembul balita berambut pirang itu.
"Iya, Tante janji. Putri juga harus janji selalu jadi anak yang pintar biar Tante nggak sakit lagi. Gimana? Deal?" Tifani menelengkan kepalanya seraya menaikkan satu alis matanya. Meminta persetujuan Putri.
Putri masih menimang tawaran Tifani, dengan jari telunjuk kecilnya dipukul-pukul didagunya, " Hmmm..okey. Deal!" Dia mengangakt jari kelingkingnya kepada Tifani untuk melakukan perjanjian sebagai anak kecil.
"Deal!" seru keduanya bersama. Kemudian jari kelingking Tifani dilingkarkan di jari kelingking Putri.
Sementara ketiga orang besar itu hanya menjadi saksi dengan bibir terus mengulas senyum bahagia. Tanpa Lestari sadari air matanya tumpah membasahi pipinya.
Argh...begini rasanya keluarga bahagia.
"Kenapa jodoh yang tepat itu selalu datang terlambat? Seandainya Tuhan waktu itu mengizinkan Bruce hadir lebih dulu dikehidupanku begitu juga Rico hadir di kehidupan Tifani. Mungkin keakraban ini tanpa ada luka yang menggores hati masing-masing terlebih dahulu. Tapi, takdir siapa yang tahu?" batin Lestari.
Tangannya menyeka air matanya. Menyadari sang kekasih menangis Bruce merangkul Lestari membawa wanitanya ke dalam dadanya.
"Why?" tanya Bruce menatap dalam Lestari.
"I'm so happy." sahutnya.
"Really?"
"Sure." Lestari memeluk Bruce.
"Ehem...aku ngontrak?" Rico berdehem.
Bruce dan Lestari saling menatap sembari tersenyum. Lalu melihat ke arah Rico, " Itu ada yang menanti di kursi roda." ujar Keduanya serentak.
"Masih dikuasai princess kecil kita." Rico mengedikkan bahunya.
Benar karena Putri sedaritadi belum melepas pelukan Tifani.
"Papi boleh ikut gabung ke sini." panggil Putri.
__ADS_1