Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Aku ingin segera menikah


__ADS_3

Lestari mengerjap ketika alarm jam berbunyi. Tangannya meraba-raba, diatas nakas mencari asal suara, namun ada yang aneh! Tiba-tiba tangannya menyentuh benda asing, sedikit berbulu, lembut bukan ponsel.


"Apa ini?" Lestari menyingkirkan benda itu tapi benda itu seakan menahan tanganya. Ia berusaha bangun. Seketika kelopak matanya terbuka lebar, "Kenapa? Ka___," Belum juga Lestari selesai bicara pria itu sudah menunjukkan ponsel itu kepada Lestari.


"Cari ini? Aku ke sini untuk matiin suara alarmnya." Bruce tertawa.


"Lalu, kenapa hanya diam ketika aku meraba-raba tanganmu," Lestari menunduk malu


"Aku suka di elus seperti itu rasanya aku ingin tidur." Bruce melipat kedua tangan didada, ia menatap Lestari.


"Dasar, mesum." Lestari bergegas turun dari ranjang, dia tidak ingin Bruce melihat wajah kepiting rebusnya.


Namun, dengan cepat Bruce menarik tubuh langsing kecil itu masuk ke dalam dadanya. Lestari berusaha melepas diri, dia memukul dada Bruce.Tapi, usahanya gagal. Kini Kepalanya sudah berada di bahu Bruce begitu nyaman.


"Mau kemana?" tanya Bruce.


"Aku mau ke toilet," jawab Lestari.


"Bukan ingin menghindari aku?"Bruce menaikkan satu alisnya.


"Nggak, aku ingin mandi," jawab Lestari.


"Kamu mau jenguk ayahmu?" tanya Bruce lagi.Perlahan ia menempelkan hidung di tengkung Lestari menghirup aroma wangi stroberi.


"Hmmm..." Lestari mengangguk.


Lestari mulai merasa nyaman, tadinya dia berusaha melepas diri kini diam tanpa kata.


"Kapan beri aku kepastian? Aku ingin kita segera menikah," bisik Bruce ditelinga Lestari. Tangannya mengelus rambut Lestari.

__ADS_1


"Kamu mau menikahi aku karena kesalahan tadi malam atau karena benar-benar mencintai aku?" Jawab Lestari. Wanita itu masih nyaman di dalam dada Bruce, dia pun perlahan menghirup aroma tubuh Bruce.


"Aku mencintai mu Tari.Kau sudah mengikat hatiku sejak awal kita bertemu. Mengenai tadi malam, itu bukan kesalahan tapi itu karena keadaan yang mendesak. mau kah kau menerima cinta dari seorang pria tua ini?" Bruce menarik tubuh Lestari, dia menatap wajah cantik itu.Bola mata berwarna coklat itu penuh gelora cinta. Lestari pun tidak sanggup menatap manik mata coklat itu.


"Bagaimana? Hari ini aku melamarmu tanpa membawa apapun tapi aku janji besok aku akan melamar mu dengan bunga dan cincin seperti pasangan pada umumnya." Bruce menarik pelan tengkuk Lestari, semakin mendekat dan mendekat. Lestari pasrah dia memejamkan matanya menunggu apa yang akan Bruce lakukan pada dirinya.


Cup


Bruce mencium sekilas bibir merah merekah itu, Ia mulai candu dengan bibir indah milik Lestari sejak dari kejadian semalam.


"Kasih aku waktu untuk memikirkan semuanya ini," jawab Lestari menunduk malu.


"Jangan berlama-lama, menjawab pertanyaanku karena aku tidak ingin__." Bruce menghentikan perkataannya, dia mengusap rambut panjang Lestari, "Aku yakin punya aku masih subur walau umur ku sudah seperti ini." Bruce menyentuh kedua bahu Lestari. Lalu ia tersenyum.


Lestari masih diam, dia bingung harus menjawab apa. Di sisi lain dia mulai merasa nyaman dengan Bruce tapi dia tidak mungkin menikah dengan Bruce dalam waktu dekat ini. Lestari takut jika nanti kedua orang tuanya tanya, dia harus menjawab apa? Bukan kah selama ini Rose dan Filipo tau, Rico lah yang berselingkuh? Namun, kenapa dia yang lebih dulu menikah. Sementara Rico, sekarang sudah menjaga jarak dengan Tifani, Rico lebih banyak menghabiskan waktu bersama Putri anak mereka.


"Beri aku waktu, karena menikah bukan permainan. Jika, bosan kita bisa melemparnya ke tempat sampah lalu membeli mainan baru lagi. Pernikahan suatu ikatan dimana ada campur tangan Tuhan, jika sudah mengikrarkan janji kita dilarang untuk bermain hati atau bercerai. Cukup, mengalami perjalanan menyakitkan itu hanya bersama Rico, bukan dengan kamu atau siapa pun jodohku nantinya," tegas Lestari.


"Jika jodoh aku, kamu. Maka bersabarlah menunggu waktu itu datang. Ini ujian kesabaran, bagi seorang pria untuk mendapatkan cinta dari seorang singel parents seperti diriku. Sudah jelas? Aku mau ke toilet dulu." Lestari tersenyum seraya menyingkirkan tangan Bruce dari bahunya.


Bruce bergeming, jawaban Lestari membuat dia tak ada gairah hidup lagi. Dia ingin cepat menikah karena ada alasan.Dia tidak ingin di anggap tidak bertanggung jawab Apalagi___Argh... Bruce menyugar rambutnya.


Matanya terus mengikuti kemana wanita itu pergi, wanita itu mendorong pintu kamar mandi. Bruce hanya bisa menggaruk kepalanya lalu kembali duduk di sofa.


Bruce menyenderkan tubuhnya di senderan sofa, seraya kaki kirinya di naikkan diatas kaki kanannya. Dia mengingat lagi kejadian tadi malam, dimana Ia dengan buas menikmati inci demi inci tubuh Lestari.


"Huftt..," Bruce menurunkan kakinya lagi. Dia berdiri dan berjalan ke arah lemari pendingin. Bruce mengambil air di botol untuk menyegarkan tenggorokan nya memikirkan Lestari membuat seluruh tenggorokannya kering.


🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


"Bruce....tolong dong!" panggil Lestari menyebulkan kepalanya keluar dari kamar mandi.


"Hmmm..." Jawab Bruce. Ia menatap Lestari dengan satu alis terangkat keatas.


"Tadi aku lihat ada paperbag di atas nakas." ucap Lestari.


"Iya.Itu punyaku.Kenapa?" tanya Bruce.


"Isinya pakaian mu?" tanya Lestari.


"Ya pakaianku, Ada apa?" tanya Bruce.


"Aku boleh pinjam, nggak? Nanti aku teleponsopir ku , minta antarkan pakaian aku, baru ku kembalikan pakaianmu. Boleh? Dres ku jatuh dan basah." ucap Lestari. Ia memamerkan deretan gigi putihnya.


"Boleh. Tunggu aku ambilkan," jawab Bruce.


Bruce segera membawakan dres berwarna pink tanpa lengan sedikit terbelah tengah. Dia membawa kan untuk Lestari yang sedang menunggu didepan kamar mandi.


"Ini." Bruce memberikan dress itu.


"Dress? Dari mana kamu dapatkan dres ini?" tanya Lestari kemudian dia menerima dres dari tangan Bruce.


"Tadi aku minta asisten ku membelikan untuk kamu.Karena, aku tau kamu pasti membutuhkan pakaian ganti." Bruce kembali ke sofa menunggu Lestari ke keluar dari kamar.


"Terima kasih." ucap Lestari. Lalu, ia pun menutup pintu kamar mandi.


"Sama-sama." balas Bruce.


Lestari segera mengenak dress itu. Dia memutar badannya didepan kaca kamar mandi.

__ADS_1


"Hmmm..bagus, cocok dan pas di tubuh ku. Asisten nya hebat," Lestari memuji Asisten Bruce yang mencarikan dres untuk dirinya.


__ADS_2