Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Maaf!


__ADS_3

Bruce masih belum sadar dengan perbuatannya diruang kerja barusan.Dia melangkah keluar tanpa beban. Sedangkan, Lestari masih bergeming didepan pintu sembari menatapi punggung Bruce. Menyadari Lestari tidak berada disampingnya, dia menoleh, "Ayo cepatan." Bruce mengangguk pada Lestari lalu menunjuk jam ditangannya.


Lestari segera mengikuti Bruce. Lift terbuka keduanya masuk bersama. Kebetulan lift itu khusus atasan jadi hanya Bruce dan Lestari.


Lestari masih malu dia terus menunduk. Menyadari dirinya salah, Bruce tersenyum lalu menatap Lestari.


"Maaf atas kelancanganku tadi," ucap Bruce.


Lestari tidak bisa menjawab, wanita itu hanya mengangguk.


"Jika aku sudah mendapatkan maafmu. Izinkan aku mengantar kamu menggunakan mobilku?" tawar Bruce.


Namun, belum dijawab Lestari, Ponsel wanita itu berdering. Dia segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Lestari melihat ada panggilan dari Julio. Pengacaranya.


Bruce melirik kearah Lestari," siapa?" tanyanya.


"Pengacaraku." jawab Lestari seraya menggeser layar ponselnya lalu ditempelkan ditelinga kirinya.


"Hallo pak selamat siang, " sapa Lestari, matanya melirik ke arah Bruce. Pria itu pun tersenyum.


[Sidang kedua sudah selesai. Karena hari ini pihak pelapor tidak hadir diruang sidang hanya pihak terlapor. Maka sidang ketiga dilanjutkan dua hari lagi tepatnya itu sudah putusan.]


"Baik, pak. Semoga cepat selesai ya urusan ini, jujur masalah ini sangat menguras tenaga dan pikiran saya." Lestari merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya,lalu menyelipkan dibelakang telinga.


Bruce mengernyit, mulutnya sudah gatal ingin bertanya masalah apa yang membuat Lestari frustasi namun dia menahan diri karena Lestari masih menelepon.


[Tenang saja, dua hari lagi kamu sudah sah bercerai.]


"Saya pun berharap begitu pak. Terima kasih pak atas informasi nya," jawab Lestari lagi.


(Sama-sama. Selamat siang Lestari.)


Setelah mengakhiri panggilan. Lestari menghela napas seraya menyenderkan kepalanya di dinding lift. Dia menatap langit-langit lift, dengan ponsel masih ditangannya. Saat ini ia membutuhkan teman curhat namun kepada siapa? Rose tidak mungkin. Bundanya sedang stres dengan keadaan Filipo yang masih berbaring lemah di ICU. Pria ini? Lestari ragu kwatir dia mengambil kesempatan seperti tadi lagi.


Bruce menatap Lestari. Dia ingin sekali memeluk wanita itu namun dia tidak ingin Lestari menjauh dari dia lagi.


'Sabar kelihatan dia masih stres.' batin Bruce.

__ADS_1


Ting...


Saat sedang memikirkan Lestari, Lift pun terbuka menyadarkan Lestari dan Bruce dari lamunan keduanya masing-masing. Bruce menepuk bahu Lestari yang sedang menahan air matanya.


"Ayo sudah sampai lobby,"


"Ahh..iya." Lestari keluar lebih dulu, Bruce mengikuti dari belakang.


Bruce melangkah lebih cepat agar bisa berjejer dengan Lestari., "Lewat sini ikuti aku, mobilku disitu." Bruce menunjuk mobil warna putih yang parkir didepan lobby.


Lestari melangkah menuju mobil Bruce. Sedangkan, Pria itu menghentikan langkahnya untuk menerima kunci dari security.


"Terima kasih," ucapnya pada security.


"Sama-sama. Tuan," jawab Security itu.


Lestari menunggu Bruce di samping mobil. Bruce pun datang dan segera membukakan pintu mobil untuk Lestari. Wanita itu pun masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Bruce. Dia segera menyalakan mesin mobil.


"Kamu, janji jangan tersulut emosi. Ingat kamu atasan dikantor itu.Jaga sikapmu," ucap Bruce seraya kakinya menginjak pedal gas mobil.


Lestari tidak menjawab dia terus menopang dagunya, Ia terus menatap keluar jendela mobil.


Bruce menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia membalikkan tubuhnya menatap Lestari.


"Sebenarnya ada masalah apa sih? Kenapa, kamu begitu tertutup dengan aku?" Bruce menarik lembut tubuh Lestari berharap Lestari menatap dirinya.


Namun, Lestari mengibas tangan Bruce ,"Tolong jangan tanya apapun dulu.Saat ini aku hanya ingin sendiri seperti ini," ucap Lestari. Dia memutar tubuhnya memunggungi Bruce.


Bruce mengetuk stir mobilnya, "Tolong berbagi dengan aku. Tadi pengacara bicara apa saja dengan kamu? Kelihatannya kamu sangat stres. Maaf, jika memaksa kamu untuk jujur padaku.Tapi, aku berhak untuk tau karena semua masalah ini timbul, berawal dari aku," sesal Bruce. Dia menunduk diatas stir mobilnya.


"Tidak. Justru aku berterima kasih kepada kamu.Jika kamu tidak memberitahu padaku. Mungkin sampai saat ini aku masih terus dibohongi oleh Rico. Sialnya, pasti aku akan terus percaya dengan dia," rutuk Lestari sembari menyeka air matanya.


Dia menangis karena dia marah kenapa Rico tega membawa wanita itu ke kantor miliknya, itu pikiran Lestari sesuai apa yang dia lihat divideo yang dikirim oleh Felix. Lestari juga kecewa kenapa Rico tega membiarkan Tifani meneror Ayahnya?


''Tapi jika kamu sudah tenang aku ingin kamu mau jujur semuanya untukku, bahkan tentang hubungan kamu dengan pengacara itu.'' Bruce mengangkat kepalanya dari stir mobil dia tersenyum menatap Lestari penuh arti.


''Aku tidak berjanji, tapi jika aku yakin kamu orang yang layak dipercaya, aku pasti akan jujur padamu. Jika pertanyaanmu sudah selesai bisa,'kan kita melanjutkan perjalanan ini? Atau kamu keberatan mengantarkan aku? Jika iya, biarkan aku turun disini, aku akan menggunakan taksi saja. Karena, Aku tidak ingin kehilangan jejak mereka.'' Lestari masih enggan menatap Bruce.

__ADS_1


''Baiklah.'' Bruce menginjak pedal gas mobil melanjutkan perjalan menuju kantor Lestari. Pria itu memacu mobil begitu cepat hingga tidak menunggu waktu lama mobil itu sudah memasuki perusahaan Lestari.


Bruce menghentikan mobil tepat didepan lobby perusahaan. Melihat Lestari turun dari mobil. Security yang berjaga didepan pintu masuk, segera menghampiri Lestari dengan cemas.


"Siang ibu," sapa security itu.


"Siang juga." Lestari tersenyum.


Bruce menekan tombol remote kunci mobil. Lalu, berjalan mengikuti Lestari. Keduanya melangkah memasuki lobby. Para karyawan serta resepsionis saling menatap.


Lestari segera menekan tombol Lift ia mempersilakan Bruce masuk lebih dulu.


"Silakan," ucapnya.


"Barengan aja," sahut Bruce seraya meraih tangan Lestari.


Wajah Lestari merona dia sangat malu dengan karyawan yang melihat dia dan Bruce.


"Kenapa mesti gandengan?" cebik Lestari.


"Udah nurut aja. Aku tau setibanya di ruangan dia, kamu pasti butuh senderan yang kuat," Bruce terus menatap lurus memperhatikan angka lift.Tangan msih terus menggenggam tangan Lestari.


"Modus." gumam Lestari.


Mendengar gumaman Lestari. Bruce tersenyum.


"Aku tidak pernah modus. Aku serius mengikuti kata hatiku.Terserah dengan penilaian mu terhadap aku.Tapi, aku bukan pria munafik yang suka modusin wanita." timpal Bruce.


Ting...


Lift terbuka.


Bruce dan Lestari segera keluar dari lift.Wanita itu melepas genggaman Bruce. Dia melangkah begitu cepat hingga Bruce harus berlari mengejar dia. Lestari langsung mendorong pintu Rico tanpa permisi lebih dulu.


Betapa kagetnya Lestari. Ketika, melihat Rico sedang mencium Tifani.


Emosinya sudah memuncak sampai di ubun-ubun, Lestari menampar Rico dan Tifani bergantian. Dia sudah melupak pesan Bruce dmobil tadi.

__ADS_1


Plak... plakk...


"Aku ingatkan kalian berdua, selagi palu hakim belum diketuk kau masih milik ku." tegas Lestari. Tangannya menarik kasar Tifani yang berusaha memeluk Rico.


__ADS_2