
Di hotel.
Felix mengumpulkan beberapa orang cleaning servis.
''Bereskan semua kekacauan ini, bunga-bunga itu jika ada yang memiliki kekasih atau istri berikan kepada mereka. Itu masih bagus dan seger sayang kalau dibuang-buang. Balon-balon itu boleh dibuang atau mau dibawa pulang juga terserah kalian. Intinya semua dekorasi ini sudah harus bersih sebelum pukul enam pagi. Karena, jam tujuh pagi hotel akan kembali dibuka.'' perintah Felix.
''Baik,tuan.''
Selesai memberi perintah kepada dua belas cleaning servis. Felix juga menemui pria pengiring musik yang masih setia menunggu di cafe yang berada di dalam hotel itu.
''Tuan, maafkan saya. Acaranya dibatalkan,'' Felix menarik kursi, lalu ia duduk berhadapan dengan pria itu. Tangannya mengambil amplop berwarna coklat itu dari kantong celananya, lalu menyodorkan amplop coklat itu kepada pria perut buncit itu.
''Baik. Mungkin, ada alasan penting sehingga acara sebesar ini bisa dibatalkan begitu saja.'' Dia meraih amplop coklat itu lalu langsung dimasukkan ke dalam saku celananya.
''Tuan, dihitung dulu jumlahnya.''
''Saya bukan baru pertama kali bekerja sama dengan tuan. Saya, percaya tuan orang jujur.'' Pria itu meletakkan cangkir kopinya diatas meja.
__ADS_1
''Terima kasih.''
''Sama-sama.'' balas pria itu.
''Baik. Saya pamit pulang.'' Pria itu melirik jam yang melingkar ditangannya.
"Silakan, sekali lagi maaf,'kan saya." Felix membungkuk.
"Tidak masalah, tuan. Anda tidak perlu tidak enak hati dengan saya." Pria itu tersenyum, lalu mengambil jasnya yang tadi dia letakkan diatas senderan kursi. Dia mengenakan jasnya itu kemudian berjalan menuju lobby dan pulang ke rumahnya.
Felix, merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Dia tersenyum, membayangkan kekonyolan yang dibuat Bruce. Felix tidak percaya rencana yang dibuat Bruce sendiri dia juga dengan tidak bersalahnya membatalkan begitu saja.
Felix, meletakan kedua tangannya diatas keningnya, perlahan matanya pun tertutup. Ya, tubuhnya sangat lelah seharian tidak istirahat akhirnya dia pun menuju dunia mimpinya.
🏊🏊🏊🏊🏊🏊🏊🏊🏊
Dua belas cleaning sevis itu sudah selesai membereskan semua kekacauan itu. Sesuai saran dari Felix, balon-balon itu dikumpulkan dua orang cleaning servis untuk dibawa pulang. Sementara mawar-mawar itu diambil mereka juga.
__ADS_1
Sebelum pukul enam pagi, hotel sudah kembali bersih seperti sedia kala. Felix sudah bangun dia bergegas menemui dua belas cleaning servis itu untuk membayar mereka.
''Ini tanda terima kasih saya untuk kalian yang mau membantu saya dengan subuh-subuh seperti tadi, semoga bermanfaat.'' Felix memberikan dua belas amplop berwarna coklat kepada masing-masing mereka.
''Terima kasih, Tuan.'' Mereka membungkuk lalu bergegas pulang karena pertukaran shif g dengan karyawan yang lain. Hotel pun kembali dibuka tepat pukul tujuh. Felix juga masuk ke mobil sport berwarna kuningnya ia meninggalkan hotel menuju yayasan kanker.
🧚🧚🧚🧚🧚🧚
Alarma jam berbunyi, Rico segera mematikan alarm jamnya. Dia bergegas bangun karena harus membuatkan sarapan untuk dia dan Putri sebelum berangkat ke ZOO, sesuai janji dia kepada Putri.
Selesai, membuat sarapan pagi yang simpel, sandwich dan jus jeruk. Rico masuk ke kamar untuk membangunkan Putri.
''Sayang, bangun yuk. Katanya, mau ke ZOO.'' Rico menggerakan bahu Putri dengan lembut.
''Hmmm...Mami. Putri, nggak mau Mami dan Papi tinggal beda-beda rumah. Putri aunyankita bersama seperti Tasya, teman Putri.'' Mata Putri masih terpejam. buliran kristal itu menetes dari sudut matanya. Rico menyeka air mata dari sudut mata Putri. Dia diam, Rico habis kata-kata ternyata perceraian mereka membawa efek yang besar untuk mental Putri. Memang anak itu tidak pernah jujur kepada kedua orang tuanya namun dari dia berbicara tadi Rico bisa menyimpulkan, mental Putri.
"Maafkan Papi sayang.. Semua atas kesalahan papi bukan Mami."Rico mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1