Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Ayah?


__ADS_3

"Apa sakitnya sudah parah?" tanya Bruce. Dia kesulitan membawa titipan Lestari untuk Tifani.


"Sesuai cerita Ibu Lucy, Nona sudah masuk stadium tiga." Felix menunduk.


''Tuan, izinkan saya membantu tuan membawa bunga dan paperboxnya.''tawar Felix. Keduanya jalan berjejer menuju yayasan.


''Tidak mengapa, biar saya bawa sendiri saja.'' jawab Bruce.


''Baiklah,''


Kepala yayasan yang melihat Bruce dan Felix berjalan menuju yayasan, dia pun menyambut kedatangan Bruce dan Felix.


''Hola, Tuan Bruce. Apakabar?'' sapa kepala yayasan.Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bruce.


''Baik. Ibu apakabar?'' Bruce bersalaman dengan ibu Lucy.


''Seperti yang tuan Bruce lihat, saya juga sehat dan bahagia.'' jawab ibu Lucy, iya tersenyum tulus.


Ketiganya jalan memasuki ruangan khusus terima tamu. Bruce meletakkan bunga dan paperbox diatas meja.


"Silakan, duduk." ucap Ibu Lucy.


"Terima kasih." ucap Bruce dan Felix bersamaan.


"Sama-sama." balas ibu Lucy.


Bruce, dan Felix duduk disofa panjang. Ibu Lucy duduk di sofa singel, menghadap Bruce dan Felix.


"Ehem..." Ibu Lucy berdehem.

__ADS_1


Sementara Bruce hanya diam, dia menaikkan satu kaki kiri diatas kaki kanannya.


''Sebelumnya, Maafkan saya, tuan. Tadi saya sudah mendengar semua dari pak Felix. Sekali lagi saya minta maaf, saya sungguh-sungguh tidak mengetahui jika Nona Theresia itu anak angkat dari Tuan Bruce. Karena, awal Nona Theresia masuk di yayasan ini, dia mengaku hidup sebatang kara. Ibunya telah meninggalkan dia dua puluh tahun silam dengan riwayat penyakit yang sama.'' Ibu Lucy menjelaskan secara detail.


''Theresia?'' Bruce menatap Felix, menautkan kedua alisnya.


''Betul, tuan. Apa yang dikatakan ibu Lucy semuanya benar. Nona Tifani mengubah identitas dirinya, karena dia tidak ingin semua mengetahui keberadaannya saat ini.'' sahut Felix.


''Mengapa?'' Bruce, mengepal dia menggertakan gerahamnya.


''Karena dia ingin menghilang dan tidak ingin tuan atau teman-temanya mengetahui keadaannya.'' jelas Felix. Di angguki Ibu Lucy.


''Hmmm...sekarang dia dimana? Apa saya sudah bisa menemui dia? Atau dia tidak ingin bertemu saya?'' Wajah Bruce berubah jadi dingin.


Bruce pikir sudah satu jam dia menunggu disini tanpa ada kepastian dimana Tifani berada, apakah Tifani mau bertemu dengan dia atau tidak Bruce belum tahu. Melihat wajah Bruce yang dingin dan tatapannya yang kosong, ibu Lucy berdiri dari kursinya.


Ibu Lucy dan Bruce melewati koridor yayasan. Akhirnya, mereka sampai juga di kamar nomor enam puluh dua.


Tok...tok...tok...


Ibu Lucy mengetuk pintu kamar nomor enam puluh dua itu. Bruce berdiri disamping Ibu Lucy menunggu pintu dibukakan, sesekali dia menarik napas.


'' Maaf tuan, kita tunggu sebentar, biasanya jam dua belas siang Nona Theresia berdoa.'' ujar Ibu Lucy.


''Baik.'' jawab Bruce.


"Mari, kita duduk disini dulu sembari menunggu Nona Theresia selesai berdoa." Ibu Lucy menunjuk kursi yang tersedia di koridor samping kamar Tifani.


"Baik." jawab Bruce.

__ADS_1


Ibu Lucy dan Bruce duduk di kursi itu sembari menunggu Tifani selesai berdoa. Setengah jam sudah, Ibu Lucy yang sudah hapal kebiasaan Tifani, dia bangkit berdiri dari kursi, dan mengetuk pintu kamar lagi.


Tok...tok...tok...


''Hola, Nona Theresia.''


Terdengar langkah kaki datang mendekati pintu kamar dengan sahutan suara yang sudah lama dirindukan Bruce.


''Hola,''


Tifani membuka pintu.


Bruce masih tetap duduk di kursi tadi, menunggu jawaban dari Tifani bisa tau tidak bertemu dengan dia.


''Ibu, ada perlu apa? Maaf tadi Theresia masih berdoa. Silakan, masuk ibu.'' Tifani melebarkan pintu kamarnya. Dia mempersilakan Ibu Lucy masuk.


''Terima kasih, Nona Theresia. Tapi, saya kesini membawa seseorang yang ingin bertemu dengan Nona, apa bisa? Jika bisa saya akan panggil beliau?" Ibu Lucy menjelaskan.


''Siapa?'' Tifani ragu-ragu dia pikir Lestari yang mengetahui keberadaannya. Tapi, dia ingin semalam dia menelepon dua orang yang sangat dekat dengan dia untuk datang menemui dia disini. 'Dia atau dia?' batinnya.


Ibu Lucy yang mengetahui kegelisahan Tifani, '' Orang yang akan Nona temui dia orang yang sangat saya hormati. Wajahnya dingin tapi hatinya sangat mulia.'' Ibu Lucy mengusap lengan Tifani.


''Baiklah.'' Tifani pikir jika Ibu Lucy saja menghargai dia. Berarti dia, orang penting diyayasan ini. Tifani mencelos, ternyata orang yang dia harapkan tidak datang.


Setelah mendapat persetujuan dari Tifani, Ibu LUcy bergegas menemui Bruce yang masih duduk dikursi.


''Tuan, anda di izinkan untuk bertemu dengan nona Theresia.'' ucap Ibu Lucy.


''Terima kasih.'' Bruce berdiri dari kursi, dia meraih paperbox dan bucket mawarnya yang tadi dia letakkan disamping kursi dia duduk.

__ADS_1


__ADS_2