Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Selamatkan syaraf.


__ADS_3

Setelah membaringkan Lestari. Yakin Lestari sudah nyaman tidurnya. Bruce segera masuk ke mobil. Sebelum menginjak pedal gas mobilnya. Tangannya merapikan rambut yang menutup wajah Lestari.


"Ck...Untung aku mengawasi kamu, Tari. Kalau, ngga si botak tengah itu pasti sudah melakukan hal buruk terhadap kamu," Gumam Bruce. Kemudian dia menginjak pedal gas mobil melaju menuju rumah Lestari.


Lestari menggeliat, dia mulai merasa tubuhnya kepanasan, dresnya di angkat ke atas, membuat paha indahnya terekspos nyata di depan Bruce.


"Duh...Tari!" Bruce menelan salivanya dengan kasar. Lalu kembali fokus mengemudi.


Bruce menambah suhu mobil. Sudah sangat dingin namun Tari tetap merasa gerah. Bruce tau, obat itu mulai beraksi. Bruce menambah kecepatan mobil, Ia membanting stir mobil berbelok ke perumahan Lestari. Namun, tiba-tiba Bruce menghentikan mobilnya ditengah jalan. Dia, baru ingat disana ada Rico.


Bruce tau, kondisi Lestari seperti ini bisa berbahaya untuk Lestari. Mengingat, Tari dan Rico pernah menjadi pasangan suami-istri. Bisa, saja'kan Rico memanfaatkan keadaan Lestari saat ini?


"Tidak!" Bruce segera memutar balik mobilnya lagi , menuju hotel miliknya terletak dekat rumah sakit saat ini Filipo dirawat.


Bruce menghentikan mobilnya di basement hotel. Dia menggendong Lestari lagi, Ia melangkah masuk lobby. Tidak peduli dengan tatapan banyak mata yang melihat mereka.


Lift berhenti. Bruce bergegas masuk, tidak menunggu lama lift sampai di lantai ruangan khusus Bruce. Dengan, bantuan salah satu karyawan, membantu Bruce membukakan pintu kamar hotel.


Bruce segera masuk ke kamar hotel. Dia membaringkan Lestari di atas ranjang hotel, berukuran big size itu.


"Huft.. badannya kecil tapi lumayan berat." Ia mengacak pinggang seraya tersenyum menatap Lestari yang tidak sadarkan diri diatas ranjang. Bruce benar-benar mengamati wajah indah itu tiap incinya.


"Manis, cantik, baik dan sabar, sayangnya lugu," Bruce mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang. Dia menunduk, tangannya mengambil anak rambut yang menutupi wajah cantik Lestari.


Lestari menggeliat.

__ADS_1


"Panas..." gumam Lestari. Tanpa sengaja tanganya menarik tangan Bruce.


Bruce jatuh tepat di tubuh bagian atas Lestari. Bruce kaget, dia berusaha bangun namun tangan Lestari sudah memeluknya.


"Gawat!" gerutu Bruce, Ia berusaha bangun dari tubuh Lestari. Tapi, tangan Lestari semakin erat memeluk tubuhnya.


Obat itu semakin beraksi, membuat Lestari menci*um bibir Bruce dengan kasar. Awalnya Bruce hanya diam, namun karena dia pun terbawa dengan sentuhan Lestari, Bruce mulai membalas lum*atan Lestari.


Kedua bibir saling beradu, lidah mereka saling melilit hingga ke tenggorokan, mereka bertukaran saliva didalam sana. Lestari menghentikan aksinya. Tangannya melepas dresnya, saat ini hanya Br*a dan segitiga berwarna pink itu yang membungkus kedua harta indah itu. Bruce pasrah, dia menatap tubuh indah yang selama ini menjadi bahan berfantasi dirinya di kamar mandi.


"Sh**ift ! Da**m'n it!" Bruce mengutuk dirinya.


"Tolong aku!" Lestari memohon.


Saat ini juniornya pun beraksi. Dia berusaha sekuat dirinya. Bruce tidak mau mengambil kesempatan. Bruce memang cinta Lestari, dia memang lelaki brengs*ek tapi dia ingin melakukan atas persetujuan Lestari. Oke...mungkin saat ini Lestari sangat menginginkan tapi ini di luar kesadaran Lestari.


"Tari...Stop!" Bruce menahan tangan Lestari.


"Nggak...please tolong aku! Aku menginginkan nya," Lestari memasang wajah melas.


"Tidak! Ikut aku." Bruce menggendong Lestari. Dua gundukan indah itu menempel di dada Bruce membuat Bruce berkali-kali menelan salivanya. Lestari mengalungkan tangannya dileher Bruce, deruan napas Lestari menembus saraf leher Mafia itu, membuat Bruce berulang kali memejamkan matanya. Ha**sratnya kini mulai menguasai akal sehatnya.


Ia segera memutar Kran shower, Membiarkan air shower membasahi seluruh tubuh Lestari. Pemandangan indah di bawah sana yang berbentuk segitu membuat Bruce mengusap kasar wajahnya.


"Oh my God! Bentuknya indah, rambutnya tipis membungkus benjolan berbentuk kacang itu, Ahh..." Bruce perlahan mendekati Lestari.

__ADS_1


"Sayang...tolong aku! Aku nggak kuat lagi!" Walaupun tubuhnya sudah basah, namun tidak berpengaruh. Lestari terus memohon dia, memainkan lidahnya dengan nackal. Tangannya mengusap dua gunung indah itu. Tangan satu lagi mengusap rambut perlahan turun hingga kebawah sana.


"Tari!" desis Bruce.


"Stop.Please...You make me crazy!" Bruce memukul dinding kamar mandi.


"Lelaki.. brengs*ek itu! Dia memberi obat dosis tinggi, jika tidak di tolong bisa berakibat fatal untuk saraf Tari." Bruce menggigit jari telunjuk dia berpikir keras bagaimana caranya mencegah dirinya untuk tidak menyentuh Lestari.


Karena, reaksi obat semakin bekerja.Tari menggeliat dibawah shower air bak penari erotik.


"Bruce...You are not love me? Aku tidak tahan lagi kepala ku serasa mau pecah, tubuhku panas banget. bantu aku tuntaskan ini." Tari menjepit tombol kecil berwarna pink miliknya.


"Aku uda kesakitan, banget. Laku'kan please!" pinta Tari.


" I'm sorry!" Bruce melepas seluruh pakaiannya. Dia menggantung pakaiannya dengan baik di gantungan baju yang tersedia di kamar mandi itu.


Bruce melangkah perlahan mendekati Lestari.


" Disini saja!" Lestari sudah memasang lehernya tepat dibibir Bruce.


Bruce segera melakukan dengan baik. Dia tidak ingin meninggalkan tanda merah seperti biasanya dia dengan wanita malam.


Kali ini dia bermain dengan baik. Dia menyes*ap setiap lekukan tubuh Lestari dengan lembut.


" Manis!" Ini kali kedua, dia meny*esap bibir Lestari namun malam ini terasa berbeda manis, dan gurih.

__ADS_1


Lestari memencet dua tombol kecil milik Bruce. Dia tau benar titik lemah seorang pria disana.


Tangan Bruce mulai bergerilya dibawa sana. Dia menunduk, Bruce mulai memberikan kecupan yang membawa Lestari tebang ke awan. Kupu-kupu itu terbang diatas Lestari. Sensasi yang nikmat. Tiga tahun berpuasa, ini kali pertama Bruce menyentuh lagi.


__ADS_2