
Bruce menghentikan mobil di didepan lobby sebuah hotel mewah.Mafia itu keluar dari mobil lalu bergegas berjalan ke pintu kanan ia membukakan pintu mobil untuk Lestari.
"Ayo sayang kita udah telat." Ia menunggu Lestari keluar dari mobil. Tangannya menahan pintu mobil.
Lestari turun dari mobil. Ia tidak langsung melangkah wanita itu masih berdiri didepan mobil matanya mengedar disekitar hotel.Tinggi, mewah hotel berbintang lima namun ada yang aneh hotel itu sepi tidak ada orang sama sekali kecuali satu orang Security yang berjaga di depan pintu masuk lobby hotel dan satu Resepsionis yang sedang berdiri di bagian terima tamu.
Aneh, ia semakin bingung mengapa tidak ada tamu hotel? Lestari sadar yang dia pacari ini bukan pria sembarangan tapi bukannya tadi Bruce mengajak Lestari menemani dia bertemu dengan kolega bisnisnya? Tapi, mengapa yang ia lihat sekarang hotel itu sepi?
''Sayang, kenapa hotelnya sepi?'' Karena tidak ingin mati penasaran Lestari akhirnya bertanya.
Bruce menutup pintu mobil lalu menghampiri Lestari. Ia mengisi jemarinya dengan jemari kurus Lestari.
''Ayo, masuk. Mereka sudah menunggu kita.'' Bruce berbicara ia mengabaikan pertanyaan Lestari. Keduanya berjalan memasuki lobby berjalan menuju lift.
"Kata kamu mereka menunggu tapi kamu nggak lihat hotelnya sepi." Lestari mencebik karena di abaikan Bruce.
"Ada. Mereka di dalam." sahut Bruce.
''Hanya dua orang. Resepsionis dan satu orang Security.'' sewot Lestari.
''Lalu?'' Bruce merapatkan tangannya di pinggang ramping Lestari.
''Biasanya ada tamu lain sayang." Ia semakin merasa aneh ketika ada tangkai mawar di lantai tepatnya di letak bersusun mengikuti arah lift.
Keduanya pun masuk ke dalam lift dua menit berada di dalam lift akhirnya lift berhenti tepat di lantai lima belas, depan restoran mewah milik hotel itu.
Bruce menggandeng tangan Lestari keduanya melangkah keluar lift. Tangan Bruce masih nyaman menggandeng tangan Lestari kedua berjalan menuju Restoran mewah itu disana semua gelap pintu restoran masih tertutup. Lestari mengernyit. Mafia itu memilih mengabaikan reaksi Lestari. Sesampai di depan pintu Bruce meminta Lestari menutup mata.
"Pejamkan matamu, sayang. Iangan di buka sebelum aku yang meminta nya." pintanya seraya mendaratkan satu kecupan di kening Lestari.
Wanita satu anak itu semakin curiga ada yang tidak beres namun dia memilih diam dan menuruti permintaan Bruce.
Setelah mata Lestari tertutup, pintu restoran terbuka Bruce menggandeng tangan Lestari ia menuntun wanitanya masuk ke dalam restoran.
Sesampainya di dalam restoran Bruce melepas tangan Lestari. Dia perlahan membungkuk meletakkan satu lutut kaki kirinya di lantai satu lutut menyanggah tangan kanan yang membawa kotak cincin berbentuk hati sementara tangan kiri masih berada dipunggung belakang dengan sebuket mawar merah.
"Buka matamu, sayang." pinta Bruce lagi. Ia menatap memuja wanita yang sedang berdiri didepannya.
__ADS_1
Benar.
Wanitanya itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kaget.
Matanya berkaca-kaca, ia mengedarkan pandangan di sekitar ruang restoran. Luar biasa. Lestari menunduk menatap mesra pria yang tengah berlutut didepannya.
Tidak percaya dengan semua yang di kasih Bruce. Balon berwarna pink berbentuk hati bertebaran di dalam restoran, ada mawar putih dan merah dan lebih menakjubkan lagi pria itu sudah berlutut didepan Lestari dengan satu tangan membawa buket mawar merah berada dipunggung belakang
nya. Matanya menengadah menatap mesra Lestari. Tidak lama terdengar suara musik dibalik dinding Restoran satu pintu VIP terbuka lagi.
"Will you Merry me Lestari Filipo?" Pertanyaan dari Bruce itu diiringin alunan musik nan indah.
Saat Bruce bertanya tiba-tiba ada langkah kaki keluar seraya bertepuk tangan mereka berteriak, " Say yes."
Mereka Putri, Rico, Tifani, Filipo, Rose, Felix dan Sisilia.
Lestari menangis dia belum menjawab. Tidak percaya dengan apa yang ada sekarang. Brucenya bukan pria romantis dia kaku, dingin, tegas, orangnya To The Poin tidak suka bertele-tele tapi malam ini kekasihnya telah menunjukkan sisi lainnya yang Lestari sendiri tidak tau.Romantis. Melihat wanitanya hanya diam dan masih kaget dengan surprise yang diberikan. Bruce bertanya lagi.
"Hey..are you hear me? I ask again will you merry me?"
"Yeah.. yes i do." Tetesan bening itu sudah berlomba-lomba membasahi pipi tirus itu tanpa permisi.
Bruce mencium lagi jari manis yang sudah di isis cincin berlian itu, " Maafkan aku karena melamarmu tiba-tiba." Bruce masih meletakkan punggung tangan Lestari di bibirnya.
Lestari menggeleng air matanya terus berlinang. Bibirnya kelu untuk berkata hanay sekedar menjawab, 'Nggak apa-apa' Rasa bahagia yang tidak bisa Lestari ungkapkan dengan kata-kata. Hanya mampu ia tunjukkan dengan air matanya.
Kemudian Bruce mengeluarkan buket mawar yang ia pegang lalu memberikan kepada Lestari juga. Lestari pun menerima bunga itu dengan wajah sumringah. Bahagia.
"Terima kasih, sayang. Sudah menerima aku dengan banyak kekurangan ku ini." Perlahan Bruce berdiri dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Lestari. Mereka berhadapan, Lestari pun tidak mau kalah dia mengalungkan kedua tangannya di leher Bruce.
Mafia itu menciu*m bibir Lestari begitu lama dan dalam Lestari pun membalas ciu**man Bruce.
" Dua hari lagi kita menikah. Kau tidak keberatan?" Ia bergumam dengan bibirnya masih melu**mat bibir Lestari.
"Ya. Aku tidak keberatan." Sahut Lestari. Berhasil membuat Bruce memberi gigitan lembut di bibir bawah Lestari.Gemas, dan tidak sabar menunggu.
" Hole...Paman akhilnya melamal Mami." Tepuk tangan Putri berhasil membuat kedua pasangan itu melepas ciuman mereka. Bruce menunduk melihat Putri sudah berdiri di samping dia dan Lestari dengan menunjukkan puppy eyesnya.
__ADS_1
"Sayang." Bruce meraih anak itu lalu menggendong Putri. Lalu, Lestari dan Bruce Mencium pipi Putri bersama, "Putri bahagia?" tanya Bruce dengan wajah tersenyum.
"Putri bahagia cekali." Putri pun membalas kecupan di pipi Bruce dan Lestari bergantian.
Ketiganya jalan bersama menuju meja yang sudah di sajikan berbagai macam menu makanan mahal tidak lupa diiringi musik dari salah satu band ternama Di Spanyol.
Filipo dan Rose menghampiri Bruce, " Terima kasih tuan Bruce. Kau sudah memperlakukan anak kami dengan begitu romantis." Pria tua itu memeluk calon menantunya penuh cinta.
"Ahh..Papi. Bruce mencintai Lestari.Mulai hari ini jangan panggil Tuan lagi cukup panggil Bruce saja. Bruce men cintai Lestari karena dia wanita tangguh dan hebat." Ia menatap Lestari lagi. Kemudian melepas pelukan Filippo.
Bruce beralih memeluk Rose, ia mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkan calon istrinya itu dengan penuh hormat.
"Mami izinkan Bruce menikahi Putri Mami." Izin itu berhasil meluruhkan air mata Rose.
"Tolong jaga anak satu-satunya Mami dengan baik. Jangan lukai dia lagi." Pesan Rose berhasil membuat Rico menunduk malu.
Tifani meraih tangan kekasihnya itu dia mengusap punggung tangan Rico memberi dukungan kepada Pria itu, " Jangan tersinggung. Onty benar kan?" bisiknya pelan ditelinga Rico.
"Ya. Aku tahu itu." balas Rico.
Tifani, Rico, Felix, Sisilia mereka pun menghampiri Bruce dan Lestari mereka memberi ucapan selamat atas pertunangan Bruce dan Lestari.
Malam itu acara makan malam di restoran yang sudah diblokir itu penuh dengan keromantisan.
Putri menatap Lestari, " Mami cantik sekali."
Bruce tersenyum sembari mendaratkan kecupan di kening Putri, " Putri juga cantik karena anak Mami." ucap Bruce.
"Tapi Putri nggak mau menikah dengan paman." celotehan Putri berhasil membuat semua tertawa. Karena bagi Putri jika ia dibilang cantik oleh Bruce berarti Bruce mau menikahi dia. Karena dia sering mendengar ucapan Bruce kepada Lestari yang mengatakan Lestari cantik.
" Tentu tidak. Karena Putri anak paman juga. Mulai hari ini Putri akan panggil Paman dengan sebutan Papa. Boleh?" Bruce menetap Putri.
"Baiklah. Papa."
"Anak pintar." sahut Bruce seraya mengecup pipi Putri.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Author minta maaf ya sering lama up nya. Maklum duta ku menyita waktu bangat. sekali lagi minta maaf ya🙏.