Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
surat dari Lestari.


__ADS_3

Tifani meremas jemarinya sendiri, dia tidak percaya jika Bruce dan Lestari akan segera menikah. Itu berarti, Lestari akan tinggal di mansion Bruce. Mana sanggup dia juga tinggal di mansion? Berarti dia setiap hari harus bertatapan dengan Lestari? Wanita yang pernah dia sakiti, bukan hanya sakiti tapi dia juga sudah memisahkan kisah cinta Lestari dan Rico. Bahkan, memisahkan orang tua dan anaknya.


''Kapan?'' tanyanya ragu-ragu. Jujur entah perasaan apa yang dirasakan Tifani saat ini. Tapi, dia merasakan hatinya seperti dicubit, sakit teramat sakit.


''Segera.'' Bruce tersenyum bahagia. Dia berdiri dari tepi ranjang yang tadi dia duduk. Ia berjalan ke jendela Bruce memasukan tangannya ke dalam kantong celananya.


''Bagaimana apa kamu sudah punya keputusan?'' tanya Bruce. Dia memandang keluar jendela, dilapangan itu banyak wanita-wanita yang sedang duduk mereka tertawa bersama seperti sedang tidak terjadi apa-apa terhadap diri mereka. Padahal Bruce lihat sendiri, mereka ada yang sudah botak, ada yang rambutnya mulai jarang dikepala. Tapi, anehnya mereka tertawa bersama seperti layaknya orang sehat.


''Tifani, kamu harus ikut aku berobat." kata Bruce, suaranya hampir tidak kedengaran dia menahan kesedihan didalam hatinya.


"Baiklah. Aku mau berobat dimana saja ayah membawaku pergi. Tapi, izinkan aku tetap tinggal disini." Tifani berkaca-kaca, dia berharap alasannya ini Bruce bisa terima. Dia juga berharap semoga teman seperjuangan dia bisa seberuntung dirinya, ada yang siap membawa mereka berobat seperti dia.


''Baiklah. Aku pulang dulu karena ini sudah sore, besok pagi saya akan datang menjemput kamu, kita ke Jerman.'' Bruce mengusap lembut rambut Tifani.


''Baiklah. Terima kasih, sudah datang menjenguk aku disini.'' ujar Tifani.


''Hmmm...besok jam tujuh sudah siap karena kita harus berangkat pagi.'' pesan Bruce sebelum dia meninggalkan yayasan.


''Baik.'' Tifani mengikuti Bruce dari belakang. Dia mengantar Bruce ke parkiran mobil.


''Yah, sampaikan Terima kasihku untuk Lestari dan Aku juga benar-benar minta maaf, semoga Lestari mau memaafkan aku.'' lirih Tifani.


Bruce menghentikkan langkahnya, dia menatap Tifani, ''Jangan terus melihat ke belakang. Tapi, lihat lah kedepan fokus kesembuhanmu, mengenai Lestari, saya yakin dia sudah maafin kamu sepenuhnya.'' Bruce tersenyum.


''Terima kasih,'' lirih Tifani.


''Aku pulang dulu. Jangan lupa pesanku tadi. Karena, aku tidak suka menunggu.'' pamit Bruce. Dia masuk ke mobil nya. Dia memasang sabuk pengamannya. Kakinya mulai menginjak pedal gas mobilnya. Sebelum berangkat Bruce menatap Tifani.


Beep...beep..


Bruce membunyikan klakson. Tifani melambaikan tangannya lalu ia mulai melajukan mobil meninggalkan Tifani yang masih menatap mobil berwarna putih itu hingga menghilang dari pandangannya. Bruce kembali ke mansionnya, dengan hati yang lega. Sekarang tidak ada lagi sakit hati, marah atau dendam dihati Bruce, yang ada hanyalah perasaan anak dan ayah. Ya, dia harus menyembuhkan Tifani, dia ingin dokter itu sehat seperti semula lagi bekerja seperti sedia kala, ceria seperti dulu diawal dia menemukan gadis itu dijalankan.

__ADS_1


Tifani, menunduk dia berjalan masuk ke kamarnya tak terasa air matanya jatuh. Tifani menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, matanya menatap ke langit-langit kamar. Tifani tidak menyangka Bruce benar-benar datang menjenguk dia. Tifani, juga tidak percaya Lestari, mengirimkan dia bunga dan kue. Sementara Rico? Kemana laki-laki itu, yang dulu dia mati-matian membela sampai memutuskan pergi dari masion demi dia?


''Ahah...'' Tifani membuang napas kasar.


Mengingat Lestari, dia ingat titipan bunga dan kue dari Lestari. Dia juga ingat pesan dari Bruce ada kartu di buket? Tifani bergegas mengambil buket itu benar di buket itu terselip kartu berwarna pink. Tifani tersenyum dia membuka kartu itu dengan hati-hati, kwatir sobek.


''*Hai...Fan, ini aku Tari. Kamu mungkin sudah melupakan aku tapi aku masih ingat kamu dengan baik.πŸ™‚


Oya, kamu apakabar? Aku dengar kamu sementara sakit? Cepat sembuh ya. Jangan menyerah pada penyakit, apalagi kamu seorang dokter, kamu pasti paham tentang penyakit, aku yakin kamu pasti bisa sembuh.πŸ˜‡


Mungkin kamu terima buanga dan kue ini, kamu mikirnya aku membencimu, itu salah. Aku justru kasihan karena kamu terlalu cepat memutuskan sebuah keputusan yang belum tentu pasangan yang kamu pilih, benar-benar memilih kamu. Tapi, percayalah aku orang yang selalu mendorong Rico untuk selalu mencari kamu. Aku berjanji Rico harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya terhadap kamu. Aku wanita, aku dan Rico juga memiliki seorang putri, aku tidak ingin perbuatan Rico berimbas kepada putri. Aku bersyukur bisa mengetahui dari Bruce, jadi kamu yang tenang jangan pikiran nanti aku akan meminta Rico menemui kamu.


Semangat Fani, kamu bisaπŸ˜‡ cepat sembuh ya.🌹


Dari aku Lestari.😘*


Tifani meremas surat itu, tanpa dia sadari air matanya tumpah membasahi pipinya.


''Terima kasih untuk kemurahan hatimu, wanita hebat.'' gumam Tifani, bibir tipisnya melengkung senyum penuh kesedihan.


🌹🌹🌹🌹🌹


Rico dan Putri pun sudah pulang, sesuai janji, Putri, sore usai pulang dari kebun binatang dia langsung pulang ke rumah Lestari karena besok harus sekolah.


''Papi, makasih.'' Putri keluar dari mobil disambut Lestari yang sedari menunggu dipintu depan.


''Anak, mami sudah pulang? Gimana senang nggak jalan-jalan sama Papi?'' Lestari menggendong Putri, dia mencium pipi kiri-kanan Putri.


''Senang dong Mi. Putri punya oleh-oleh untuk Mami.'' Putri mengeluarkan satu bungkus gulali berbentuk hati. Ia memberikan kepada Lestari.


''Wow...ini kesukaan Mami.'' Lestari berbinar dia menerima gulali itu dari Putri, ''Terima kasih, sayang.'' Lestari mencium pipi Putri.

__ADS_1


''Sama-sama,'' balas Putri.


Lalu putri berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rico dan Lestari yang masih berdiri di teras rumah. Putri mencari Nanny dan Tati didapur karena dia juga membawa hadiah untuk Tati dan Nany.


πŸŒΉπŸŒΉπŸ˜‚πŸŒΉ


''Co, masuk dulu ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu.'' Lestari memberi jalan untuk Rico.


''Berita apa? Kamu mau nikah?'' Rico tampak begitu penasaran.


''Nggak, masuk aja dulu. Nggak baik kita cerita disini entar didengar tetangga.'' sahut Lestari.


''Baiklah.'' Rico dan Lestari masuk ke rumah. Keduanya duduk di sofa berhadapan.


''Hmmm...Aku ada kabar, aku sendiri pun nggak nyangka. Aku kaget, bahkan hampir nangis.'' Lestari menatap wajah Rico.


''Langsung saja Tari, kamu jangan membuatku penasaran.'' wajah Rico tampak tegang.


''Tifani. Aku tau info tentang Tifani.'' Lestari menatap Rico.


''Ha? Tifani?'' Rico, memajukan tubuhnya ke depan dia menelisik bola mata Lestari mencari kebohongan didalam sana.


''Ya, Tifani mungkin kamu juga nggak percaya dengar kabarnya. Tifani sakit kanker,'' sambung Lestari. Dia menelan salivanya.


''Ha? Kanker? Dari mana kamu tahu kabarnya?'' Rico masih belum percaya. Tapi, dia sama sekali tidak menemukan kebohongan didalam bola mata Lestari.


''Aku, tahu karena hari ini Bruce pergi menjenguk dia. Aku juga yang beli bucket dan kue untuk Bruce bawa ke Tifani.''


Rico meremas jarinya, buku-buku jarinya terlihat putih. Sungguh dia benci Tifani karena sikap Tifani yang terlalu menekan dia. Tapi, dia tidak minta Tifani sakit apalagi kanker, sakit yang mematikan.Hanya sepuluh persen pasien yang berhasil sembuh tapi sembilan puluh persen pasien meninggal karena kanker. Air mata Rico tertahan dipelupuk matanya.


''Dia sekarang dimana? Setidaknya kamu tau alamatnya, jika hari ini Bruce pergi menjenguk dia.'' Rico mendoangkkan kepalanya dia menatap Lestari memelas.

__ADS_1


__ADS_2