
Rico yang sudah membersihkan tubuhnya, menuruni anak tangga kembali ke ruang tamu. Namun, kakinya yang hendak menginjak anak tangga terakhir mengambang diudara, dia tersenyum ketika melihat Lestari dan Putri sedang bermain.
Dalam hatinya, Rico ingin bergabung. Mungkin sangat indah dan bahagia mereka bertiga saling bercanda dan tertawa bersama. Putri, yang sedang asyik tertawa berhenti, ketika melihat Rico tersenyum dengan dua tangannya menopang disisi kiri dan kanan tangga.
''Papi, sini bergabung mami lagi gelitik Putri.'' ujarnya. Ia berjalan menyambut Rico. Putri mengulurkan tangannya kepada Rico. Rico menyambut tangan kecil itu lalu menuruni satu anak tangga lagi.
Lestari tersenyum, ''Kamu, jadi ajak Putri nginap ditempatmu?'' tanya Lestari. Dia memperbaiki duduknya.
''Ya. Jika kamu memberi izin.'' Rico mengangkat Putri lalu mendudukkan tubuh kecil Putri diatas pangkuannya. Rico dan Putri duduk menghadap Lestari.
''Aku tidak melarang. Asal, jangan lalai karena Putri sangat aktif.'' pesan Lestari.
''Papi, kita jadikan liburan ke ZOO.'' sela Putri, dia mendoangak menatap wajah Rico.
''Jadi. Putri siap-siap malam ini Putri nginap ditempat Papi.'' Rico tersenyum sembari mengusap rambut Putri.
''Okey.'' Dia membuat lingkaran jari jempol dan telunjuk kepada Rico.
''Anak pintar.'' sahut Rico.
Putri bergegas turun dari pangkuan Rico, dia berlari ke kamar menyusul Nani[susternya] yang sudah berada di kamarnya menyiapkan segala keperluan Putri yang mau dibawa ke tempat Rico.
Sementara, Rico duduk bersama Lestari di ruang tamu, Rico berdehem untuk menghilangkan rasa canggung diantara keduanya. Ya, walaupun sering bertemu di kantor dan dirumah tetap saja Rico canggung. Mengingat Rico pernah meninggalkan kenangan buruk untuk Lestari.
"Hubungan kamu dengan Pria itu bagaimana?" Rico bertanya dia menatap Lestari.
"Baik.Dia juga sangat akrab dengan Putri." jawab Lestari yakin.
Ya benar, Bruce sangat menyayangi Putri, baru sebulan Lestari menerima cintanya. Bruce pun begitu cepat mengambl hati Putri, mereka bertiga sering jalan-jalan pagi sekedar bermain ditaman menemani Lestari jogging. Bruce yang dulu menutup diri di publik kini lebih membuka diri, dia tidak lagi mengurung diri di markas atau dikamarnya.Kini, Bruce bisa leluasa menikmati dunia luar seperti manusia pada umumnya. Ketiganya seperti keluarga sesungguhnya bahkan Putri pun sangat nyaman berada didekat Bruce.
''Syukurlah. Aku berharap kamu mendapatkan pengganti aku yang jauh lebih baik dari aku. Dia menerima kamu hari ini dan untuk selamanya begitupun dengan Putri kita.'' Rico, berdeham. Sebenarnya dia merasakan hatinya seperti diremas begitu kuat, tapi semuanya telah terlambat dia sendiri yang menghancurkan dan Lestari yang mengakhiri kehancuran itu.
__ADS_1
''Kamu, juga. Aku lihat kamu sekarang sering bangat bermain disini. Apa dibolehin sama Tifani?' Ini kali pertama Lestari menanyakan hubungan Rico dan Tifani.
Lestari masih ingat bagaimana egoisnya Rico dan Tifani waktu itu, Dia sementara mempertaruhkan nyawanya antara hidup dan mati di rumah sakit. Rico justru memikirkan wanita lain.
''Sudah hampir satu bulan saya kehilangan jejak dia. Tifani juga tidak ada di klinik, bahkan klinik itu setiap hari tutup tanpa ada keterangan tutup atau pindah. Di apartemen pun dia tidak ada, saya mencoba menghubungi nomor ponselnya namun tidak berhasil.'' Rico menghembuskan napas kasarnya.
Lestari mengenyit, dengan satu kaki kiri dinaikkan diatas kaki kanannya.
''Apa dia sudah memiliki pengganti baru?'' Lestari menopang dagunya dia mengamati wajah Rico.
Rico mengendikkan bahunya, ''Sejauh aku mengenal dia, Tifani bukan type wanita yang hobi menganti pasangan.'' Rico benar, Tifani, bukan wanita nakal dia dari kecil hingga saat ini hanya memiliki dua orang pria yakni Rico dan Bruce.
''Lalu?'' Lestari seperti penasaran. Dia takut jika Tifani menghilang untuk kembali merebut Bruce darinya. Seperti di film-film?
''Sudah lupakan. Aku dengar hari ini Ayah akan kontrol lagi?'' tanya Rico, mengalihkan pembicaraan mereka.
''Jam tujuh malam perjanjian dengan dokter Johan. Aku yang temani ayah ke rumah sakit.'' sahut Lestari. Saat keduanya bercerita, ponsel Lestari bergetar. Rico menghentikkan obrolnya dia pun mulai memainkan ponselnya tidak ingin mengganggu Lestari.
Putri sudah selesai bersiap-siap, Dia ditemani Nani keluar dari kamarnya. Nani membawakan tas ransel berisi perlengkapan Putri, sedangkan Putri sore ini sangat cantik, Rambut dikepang dua, mengenakan kaca mata berwarna pink dengan sudut atas ada pita kecil dipadu celana pendek biru dan kaos putih, sepatu berwarna pink bergmbar salah satu kartun prinses disamping kiri dan kanan sepatu Putri.
"Wow...anak papi cantik bangat," Rico melebarkan tangannya menyambut Putri memeluk dirinya.
''Papi, ayo berangkat. Putri sudah cantik.'' Dia melingkarkan tangan kecilnya di leher Rico.
''Pamit Mami dulu.'' titah Rico.
Putri pun menurut, dia menghampiri Lestari, melihat Putri menghampiri dirinya Lestati meletakkan ponsel miliknya diatas meja.
''Mam, Putri izin mau liburan bareng Papi.'' izin Putri.
Lestari memeluk putri semata wayangnya. Dia menatap wajah Putri, ''Jika di Zoo nanti Putri ngg boleh lari. Putri juga harus termenggandeng tangan Papi terus. Begitupun, di tempat papi jangan bermain dekat balkon, NGERTI?'' Lestari mencoel gemas hidung mancung Putri.
__ADS_1
''Okey. Putri berjanji.'' Putri pun mencium pipi kiri-kanan Lestari.
''Have fun, sayang.'' Lestari, menggendong Putri berjalan ke halaman depan mengantar Putri bersama Rico ke mobil Rico.
Rico membuka pintu mobil, Lesari mendudukkan Putri di kursi depan lalu memasangkan sabuk pengaman dengan baik di tubuh Putri.
''Rico, have fun.'' Lestari berujar seraya menatap Rico, '' Kamu juga sayang dengarin apa kata Papi. Jangan nakal.'' Lestari mencium pipi Putri. Lalu menutup pintu mobil. Dia melambaikan tangan dibalas lambaian tangan dari Putri.
Rico, menginjak pedal gas mobil meninggalkan halaman rumah Lestari menuju apartemen miliknya.
Lestari kembali ke dalam rumah, dia mengambil ponselnya di atas meja ruang tamu tadi. Lalu, berjalan ke kamarnya.
Dalam perjalanan Rico ingat percakapan tadi dia dan Lestari diruang tamu.
''Sayang, tadi kata Mami, Paman Bruce sering mengajak Putri bermain?'' Rico melirik Putri sebentar lalu kembali fokus ke jalanan.
''Iya. Paman Bruce sering ajak Putri dan mami lari pagi di taman.'' Cerita Putri benar adanya, mana ada anak kecil berbohong.
''Menurut Putri, paman Bruce baik?'' Rico masih belum menyerah menggali sifat Bruce.
''Baik. Paman pernah menggendong mami waktu mami lari terus jatuh, lutut mami luka mengeluarkan darah, paman Bruce yang mengendong Mami ke mobil.'' Mendengar cerita Putri, Rico meremas stir mobilnya. Mengapa dulu dia tidak memperlakukan Lestari semanis itu? Mengapa sejak Lestari hamil, sejak itu keromantisan mereka juga redup dalam rumah tangga mereka hingga yang tersisa pertengkaran diantara mereka sampai pada titik perceraian. Rico, menghela napas kasar. Tidak ada alasan lagi dia untuk menghasut Putri tidak menyukai Bruce. Karena, semua yang dicari Lestari ada pada Bruce.
๐น๐น๐น
Jika menemukan Typo tolong komentar, maklum mataku sedikit rabun kadang tulis apa muncul apa.
Othor juga mau mengucapkan terima kasih atas dukungan dan suporter kakak-kakak selama ini.Semoga rejeki para readers semakin lancar, dan sehat selalu, Amin๐๐.
Othor juga datang membawa sebuah kisah absurd, Kisha gadis bar-bar san seorang detektif muda. Silaha mampir jika suka๐.
selamat sore.
__ADS_1