
''Hmmm...Begitulah realitanya.Ya udah lupain anggap aja aku beramal. Mau nggak? Kita nonton sekali lagi untuk dengarin percakapan di rekaman ini, hmmm?'' Dengan lembut Bruce mengajak Lestari untuk mendengar rekaman itu sekali lagi. Karena, Bruce tau tadi Lestari tidak fokus di rekaman suara.
''Hmmm... Iya deh, soalnya tadi aku juga kurang fokus.'' celetuk Lestari sembari memutar mata malas.
''Gimana kamu mau fokus? Kamu, lihat wajah dia aja uda kesal duluan,'' timpal Bruce. Dia menggeleng sengaja menggoda Lestari.
''Kesal dong, lihat wajah mantan anakmu atau mantan istri mu apalah itu bikin moodku rusak. Jadi, perempuan ganjen bangat nggak nunjukin kalau dia itu seorang dokter,'' cebik Lestari.
''Iya...iya... sudah ahh ngambeknya. Katanya kesini fokus kesehatan ayah malah ngambek gini, hmmm?'' Tangannya sudah mengelus rambut pirang Lestari. Dia juga berpikir untuk tidak menggoda Lestari lagi kwatir mood Lestari rusak maklum wanita kadang bapernya kebangatan. Keduanya kembali nonton video di laptop itu.
Tampak Tifani tertawa puas, sesekali dia melirik kearah kamar, mengawasi Rico keluar dari kamar.
''Hallo...selamat malam,'' sapa Tifani tersenyum sinis, sembari mendudukkan tubuhnya disofa.
Filipo yang awalnya berpikir panggilan dari teman lamanya. Karena, nomor baru dia pun tersenyum. Lalu. menempelkan ponsel mahal itu ditelinga nya.
[Malam. Ini dengan siapa?]
Tifani memutar bola matanya.
''Tifani.''
Dokter itu tertawa sembari matanya mengawasi Rico. Fani kwatir, Rico keluar mendapati dia sedang menelepon Filipo.
Filipo mengernyit.
[Tifani?]
''Ya Tifani, calon istri dari Rico. Anda, ayah dari Lestari'kan? Hahaha...'' Tifani melintir rambutnya dengan ponsel masih terus menempel di telinga.
[ Ya, saya ayah Lestari. Ada apa?]
Lagi-lagi Tifani memasang wajah kesal.
''Masih belum tau siapa saya? Dengarin baik-baik ya, saya calon Istri dari Rico, Rico__," Tifani mengulangi nama Rico.
[Kamu? Jangan bilang kamu yang menyebabkan keretakan rumah tangga putriku?]
Filipo mengepal dengan tangan satu tetap menopang di lengan sofa.
__ADS_1
''Justru putrimu itu yang nggak tau malu. Dia yang sudah merebut kebahagaian aku. Rico itu daridulu pacar saya." Tifani menunjuk dirinya, lalu tersenyum sinis.
[Kau! Ingat aku tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga anakku. Termasuk anda. Ingat itu baik-baik!!!]
Filipo mulai mencengkram dadanya. Menahan sesuatu yang sakit didalam sana.
Tifani tertawa puas, '' Sayangnya anda terlambat. Sepertinya anda juga belum tau, hahaha.'' Tifani masih tertawa membiarkan Filipo penasaran.
[Hallo...tidak tau apa? Ha?]
Filipo mulai memejamkan matanya untuk menahan dadanya yang sakit. Ponselnya masih tetap ditelinga, dia masih ingin mendengar semua ucapan Tifani sampai habis.
''Sayangnya, Putrimu dan Rico sementara menjalankan proses perceraian,'' Tifani menjentikkan jari lentiknya, ''Gimana? Dorrr!!'' Ia berkedip nakal sembari mengibas rambut indahnya.
Brukkk...
Filipo terjatuh dengan ponsel masih berada dalam genggamannya. Mendengar ada yang jatuh. Katarina yang sedang berada di ruang makan bergegas lari ke ruang tamu. Katarina berteriak meminta tolong.
"Ayah...Ayah...!"
"Tolong!!!"
"Siapkan mobil kita antar Ayah ke rumah sakit." Air mata Katarina menetes. Wanita paruh baya itu panik dan takut sampai lupa menelpon Lestari.
Sementara di Apartemen.
Tifani tertawa dengan kedua tangan menutupi mulutnya, "Oups... jangan-jangan dia pingsan!" Lalu ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa berbaring sembari menatap jari-jari lentiknya.
Rico keluar dari kamar.Ia melihat Tifani yang sedang baring dengan kaki kiri dinaikkan diatas kaki kanannya. Pria itu mengurungkan niatnya kedapur. Dia menghampiri Tifani. Rico bingung ada apa dengan Tifani sehingga ia begitu bahagia?
Melihat ponsel Tifani masih menyala. Dengan cepat Rico merebut ponsel itu dari tangan Tifani. Pria itu mulai menggeser layar ponsel Tifani memeriksa laporan panggilan keluar.
"Fan...kamu kenapa? Kamu jangan melewati batasanmu, Fan!!" bentak Rico.
Rico pikir Fani menghubungi Lestari. Dia mengecek lagi panggilan keluar namun tidak ada.Fani sudah menghapus laporan panggilan keluar.
Tifani yang kesal karena dibentak Rico bangun dari sofa. Dia berdiri menyamai tinggi Rico mendekati wajahnya dengan wajah Rico.
''Aku, kenapa? Aku hanya ingin hak ku? Kau masih menginginkan istri dan anakmu? Begitupun aku. Aku juga ingin kita cepat nikah!'' Tifani mendorong tubuh Rico lalu meninggalkan Rico sendirian di ruang tamu.
__ADS_1
"Kamu terlalu gegabah, Fan. Mereka tidak tau apa-apa. Ini urusan ku bukan urusanmu!" Rico mengejar Tifani. Namun, dengan cepat Tifani menutup pintu kamar.
Rico mengetuk pintu meminta untuk dibukakan, namun Tifani sudah berbaring diatas ranjang ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Rico menarik kasar rambutnya. Dia tidak habis pikir kenapa Tifani menghubungi Lestari?
Setelah menonton rekaman di apartemen Tifani. Bruce menatap Lestari.
"Bagaimana? Sudah jelaskan siapa penyebab ayahmu jatuh?" Bruce ingin memeluk Lestari namun tangannya hanya mengambang diudara. Dia belum ada nyali untuk melakukan itu.
Lestari mengangguk lemah. Berulang kali Lestari mengusap kasar wajahnya. Dia berusaha untuk tidak menangis lagi di depan Bruce. Namun, dia hanya wanita lemah. Akhirnya butiran bening itu jatuh membasahi pipinya.
Bruce meraih tisu dan mengusap pipi Lestari, "Jangan menangis aku sudah kembali. Kamu lupa? Apa yang sudah aku janji?" Bruce menatap wajah Lestari penuh arti.
Lestari mengangguk.Wanita itu belum bisa bicara. Ia menahan sesak didalam dadanya.
"Ya udah sekarang kamu maunya gimana? Ini aku ada video lagi dikirim orang kepercayaan ku tapi kamu janji jangan kaget. Aku akan mengikuti keputusan mu." Bruce meraih ponselnya dan mulai memutar video yang sudah tersimpan di galeri nya secara otomatis.
Lestari hanya menghela napas. Dia menatap ponsel Bruce.
"Ha? Itu?" Lestari menunjuk ponsel Bruce.
Mafia itu hanya diam saja. Dia fokus melihat video itu.
Lestari berdiri dari sofa dengan kasar dia meraih tas dan paperbag diatas meja.
"Aku masih ke kantor!" pamitnya.
"Tunggu aku. Kamu tidak boleh sendirian ke sana." Brucepun segera berdiri dari sofa. Lalu, mengikuti Lestari yang hendak memutar handle pintu.
Dia mengikuti Lestari. belum berdiri di samping Lestari. Tangannya menarik lembut tubuh Lestari. Entah sadar atau tidak Bruce menarik tengkuk Lestari, lalu langsung menyambar bibir Lestari. Pria itu menyesap sesaat lalu melepas lagi.
"Maaf," ucapnya.
Lestari masih bergeming. Ibu satu anak itu tidak percaya kenapa Bruce tiba-tiba mencium dirinya, jarinya mengusap bibirnya dia menatap Bruce penuh tanya.
"Ayo...Kita berangkat." Bruce memutar Handle pintu. Dia seakan amnesia dengan apa yang barusan terjadi diruang kerjanya.
♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Maaf ya pasti nunggu sampai lupa alurnya ya? Maaf aku akhir-akhir banyak sekali musibah. sekali meninggal dua orang itu semua orang-orang terdekat aku. sampai aku sendiri pusing🥺. Terima kasih🙏.