
Lestari sudah tiba di restoran. Dia segera turun dari mobilnya, Security yang berjaga didepan pintu masuk segera membukakan pintu untuk Lestari.
"Selamat datang," sapa security itu sopan.
Ia pun membalas senyum. Matanya mengedar disekitar resto mencari keberadaan Julio. Ternyata pria botak tengah itu sudah menunggu dengan stelan jas berwarna hitam dan tuxudo kupu-kupu hitam. Dia melambaikan tangan kepada Lestari dengan bibir terus tersenyum.
"Menyebalkan!" gerutu pria yang sedang duduk dibagian pojokan itu, empat meja jarak dengan meja Lestari.
Felix hanya tersenyum dia menggeleng merasakan ada yang aneh dengan tuannya itu.
"Hai... sudah menunggu lama?" tanya Lestari sumringah.
"Lumayan," Julio berkedip seraya menggeleng.
"Oh... Maaf! aku kena macet dijalan. Belum lagi Putri kecilku sedikit rewel," balas Lestari. Dia meletakkan tas mahalnya di atas meja. Lalu...mereka bersalaman hangat.
"It's okey... yang terpenting sekarang kamu sudah datang. Cantik!" sahut Julio.
Mendengar pujian Julio, Lestari tersenyum.
"Duduk! " Julio mempersilakan.
"Terima kasih," ucap Lestari lalu menarik kursi untuk duduk.
"Sama-sama," balas Julio.
Lestari mengeluarkan ponselnya. Dia mengecek notif masuk.
[Happy banget ya,]
Lestari tersenyum.
"Tari...mau pesan apa, kamu ? Ini waitersnya uda datang," ucap Julio. Namun, Lestari masih fokus dengan benda pipih miliknya.
"Samakan saja," jawab Lestari asal.
"Okey..." Julio lalu pesan makanan yang sama untuk dia dan Lestari .
"Terima kasih," balas chatnya.
__ADS_1
[ Pulangnya jam berapa aku yang jemput,]
Lestari mengernyit.
"Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri,"
Bruce menggerutu dia tidak membalas chat itu lagi. Ponselnya langsung diletakan begitu saja diatas meja.
"Lihat saja nanti. Jika, kesabaran ku sudah habis maka akan ku geret pria itu keluar dari restoran ini," gumamnya.
Felix terkekeh pelan. Dia tidak berani mengeluarkan suara takut Bruce tau dan bisa mengomel.
'Tuan kenapa senang jadi pebinor? Padahal dokter Tifani tidak kalah cantik. Kenapa, dia memilih istri orang? satu anak pula, hmm,' batin Felix. Iya Felix memang tidak tau jika Lestari sudah bercerai dari Rico.
Bruce dan Felix duduk sedikit berjauhan dengan meja yang Lestari dan Julio duduk. Bruce dan Felix memilih pojokan dari belakang Lestari agar wanita satu anak itu tidak bisa melihat mereka. Walaupun, melihat Lestari tidak bisa mengenali Bruce. Karena Mafia itu menyamar dia tidak menggunakan pakaian rapi seperti biasanya. Melainkan Bruce mengenakan kaos kasual dipadu dengan Mantel hitam, kepalanya ditutupi topi berwarna hitam dan kaca mata. Berbeda dengan kebiasaan Bruce bertemu Lestari. Pakaian ini biasanya Bruce dan Felix gunakan untuk menangkap musuh.
"Tuan, aku mau terima telpon sebentar," izin Felix.
"Terima disini saja," perintah Bruce.
"Maaf ini wanita saya yang menelpon," sahut Felix.
[ Sayang, nanti saja. Aku masih diluar ada pekerjaan mendadak]
" Kenapa tidak jadi?" tanya Bruce heran. Ketika melihat Felix sudah mengembalikan ponselnya ke dalam kantong mantelnya.
"Nanti aja setelah pulang dimarkas," jawab Felix.
"Hmm...Jangan bilang kau ajak phons**ex dengan anak gadis, orang." Bruce melirik curiga dengan Felix.
"Ngga tuan. Dia wanita yang ku sayang. Jika saya ingin menyalurkan hasrat, saya lebih baik salurkan dengan Sisilia atau wanita malam di club'," ujar Felix.
Felix memang tidak berani karena kekasihnya itu anak dari bos mafia terkenal di Spanyol. Felix juga belum memberikan identitas kekasihnya itu kepada Bruce. Karena, Bruce orang yang tidak ingin mengetahui masalah pribadi anak buahnya.
🥰🥰🥰🥰🥰
Sementara berbeda dengan Lestari yang sedang merayakan perceraiannya dengan Julio.
Dokter cantik itu sudah berbicara sembarangan. Tampilannya acak-acakan rambut yang setiap hari tertata rapi, wajah yang selalu glowing mirip porselin licin dan kilap. Kini berantakan bak pecahan kapal Titanic. Bukan hanya tampilan Tifani saja tetapi ruang tamu apartemen juga sudah seperti serpihan kapal yang berceceran dimana-mana, sangat mewakilkan perasaan Tifani saat ini. Hancur!
__ADS_1
Tiga botol wine sudah habis diteguk langsung oleh Tifani. Tiga botol wine kosong itu juga dilempar sembarang di lantai ruang tamu. pecahan botol dari wine berserakan dimana-mana.
Lalu, ia membuka lagi satu botol wine.
Ciss...
Bunyi soda wine waktu dibuka.
Lalu Tifani mengangkat botol itu dan meneguknya langsung dari botolnya, seraya air matanya pun terus mengalir membasahi pipinya.
"Kamu harus pulang! Kamu harus kembali untuk aku. Aku tidak sudi dicampakkan begitu saja seperti ini. Rico..." Dia menjerit nama Rico sekuat mungkin. Untung saja Apartemen miliknya sudah ada peredam suara jadi suara Tifani tidak kedengaran sampai diluar.
Tifani meletakkan botol wine itu diatas meja lagi dengan kasar. Dia tertawa seraya menarik kasar rambutnya.
"Hahaha... Tadi dia mengatakan aku wanita pembawa sial?" oceh Tifani menirukan pembicaraan Rico siang tadi di ruang kerja Rico.
"Karena, kamu biangnya aku cerai dengan anak istriku," Rico membentak Tifani.
"Apa? karena aku? Aku tidak salah dengar, Rico?" Tifani menunjuk dirinya dia menatap dalam Rico.
"Justru kamu yang menghancurkan aku. Kamu yang meminta nomorku kamu juga yang mengajak aku ke hotel. Lalu... sekarang kamu menuduh akulah penyebab perceraian kamu? Kamu lupa? Karena, kamu aku didepak oleh Bruce. Jabatan aku di rumah sakit itu dicopot tidak dengan hormat. Apa yang aku miliki diambil kembali semua oleh Bruce. Untung saja Bruce masih ada hati memberikan aku apartemen itu dan satu buah mobil. Terus...sekarang kamu masih tetap menuduh aku penyebab perceraianmu?" Tifani menunjuk-nunjuk dada Rico dengan Jari telunjuknya. Ia terus menangis karena sikap manis Rico selama ini seketika hilang begitu saja.
"Okey... Aku akui itu semua. Aku yang meminta nomor kamu, aku pula yang mengajak kamu nginap di hotel. Tapi, kamu yang menahan aku untuk tinggal di Apartemenmu hingga hubungan kita diketahui Bruce." Rico memijit kepalanya.
Rico ingin mengembalikan keadaan, Dia ingin bahagia bersama Lestari dan Putri. Jika...waktu dapat diputar kembali oleh Rico, dia berharap tidak pernah bertemu Tifani, wanita pembawa sial untuk rumah tangganya itu, menurut Rico.
Sayangnya...waktu tidak bisa diputar lagi, semudah membalikkan telapak tangan.
Tifani tersenyum getir, dimana Rico menarik kasar tangannya, membawa ia keluar dari ruang kerja. Rico mengantar pulang Tifani ke apartemen. Di apartemen mereka bertengkar hebat. Bahkan, Rico mengancam akan menghancurkan karier Tifani jika Tifani masih terus ke kantor, tempat Rico bekerja tepatnya perusahaan milik Lestari.
"Aku bersumpah sekali lagi kamu menginjak kakimu dikantorku. Maka bersiap-siaplah untuk hancur!" Rico menunjuk tepat didepan wajah Tifani.
"Aku akan tetap datang. Aku ingin buktikan seberapa mampu kamu pertahankan egomu itu!" teriak Tifani.
" Kita lihat saja!"
Brakkk...
"Rico...." Tifani histeris.
__ADS_1
Ketika....