Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Wanitaku.


__ADS_3

"Rico...Jangan pergi!" teriak Tifani.


Tifani berusaha menahan Rico untuk tidak pergi meninggalkan dia sendiri di Apartemen. Namun, dengan kasar Rico membanting pintu dan tetap pergi meninggalkan Tifani di apartemen. Tifani pasrah, menangis, ia menyenderkan tubuhnya di balik pintu. Sakit, hancur, lengkap sudah penderitaannya saat ini. Tifani menghela napas, langkahnya tergontai menuju lemari pendingin, dengan sesunggukan ia mengeluarkan tiga botol wine sekaligus.


Tifani tertawa seraya meneguk wine dibotol. Tidak seperti biasanya Tifani meneguk Wine menggunakan cangkir. Sedangkan, Rico menghentikan mobil di depan toko mainan, Rico membelikan boneka teddy bear untuk Putri, anaknya. Setelah membeli boneka Teddy bear dan dua kotak coklat. Rico pun melajukan mobilnya menuju sebuah Bar disekitar perumahan Lestari. Rico mendudukkan tubuhnya di stol Bar.


"Cocktail dicampur wine!" titahnya.


Seorang pria yang bertugas sebagai Tenderbar dengan sigap langsung meracik dua minuman yang dipesankan Rico. Kemudian, Tenderbar itu meletakkan cangkir yang berisi alkohol itu diatas meja.


"Silakan," ucap Tenderbar.


"Hmm...Terima kasih," balas Rico.


"Sama-sama,"


Rico meraih cangkir alkohol racikan itu lalu meneguknya hingga tandas. Rico meletakkan lagi cangkir diatas meja, dia melirik pria itu lagi.


" Lagi!"


Hingga satu botol wine dan cocktail habis diteguk Rico. Dia termenung lalu tertawa sendiri tanpa Rico sadari air matanya kini telah membasahi pipinya.


"Papi...ayo cepatan! Mami udah nggak kuat nahan sakitnya." Rico menarik kasar rambutnya. Kemana dia? waktu Lestari mengeluh sakit? Dia lebih memilih berlama-lama dikamar menggunakan parfum demi menarik perhatian wanita lain. Lalu, sekarang? Dia ingin mempertahankan rumah tangganya setelah ada putusan perceraian dari hakim?


"Gila lu, Co," Rico memaki dirinya sendiri.


Bayangan drama Lestari berangkat ke rumah sakit untuk melahirkan Putri terlintas dipikiran Rico. Tangannya melonggarkan dasi dilehernya lalu dia menunduk sedih.


"Sudah terlambat!" gumamnya. Saat ini Dia memang menyesal.


♥️♥️♥️♥️♥️


Kepala Tifani berputar seperti baling-baling helikopter. Apa yang ada didepannya semuanya berputar seakan datang menghampiri dia dan mengejek.


"Pergi kalian semua, jangan mendekat!" Dia berlagak seperti orang tidak waras. Menaikkan kedua kakinya diatas sofa lalu menekuk, Ia melingkarkan kedua tangannya memeluk kedua kakinya begitu erat. Takut.


"Jangan mendekat, Kalian jahat!" Tifani menggeleng, air matanya jatuh. Kemudian menyembunyikan wajahnya ke dalam lututnya.


"Okey...lebih baik seperti ini. Kamu diam disitu aja ya, aku mau tidur!" Dia terus berbicara sendiri hingga akhirnya tubuh ramping itu perlahan luruh diatas sofa panjang. Ia tertidur bak seekor kelinci kecil yang kedinginan.


♥️♥️♥️♥️


__ADS_1


"Satu cangkir," Bruce menghitung wine yang diteguk Lestari bersama Julio.


Lestari tidak menyadari kehadiran Bruce. Dia asyik bercerita dengan Julio.


"Thanks, loh pak. Atas bantuan pak kini aku bebas, aku tidak sakit lagi, aku tidak tertekan lagi," ucap Lestari, dia tertawa tanpa ia sadari tangannya menepuk tangan Julio diatas meja.


"Oh my God!" Bruce memejamkan matanya, dia mencoba menahan rasa yang membakar hatinya. Jujur dia tidak suka lihat Lestari begitu akrab dengn Julio bahkan lelaki manapun.


"Sama-sama. Apa sih yang nggak buat kamu?" Julio mulai merapatkan kursinya mendekati Lestari.


"Lagi dong, hm?" Julio menawarkan wine lagi.


"Boleh!" Lestari menerima cangkir wine itu. meneguk lagi.


"Dua cangkir," Bruce mendesah kasar. Bukan hanya mendesah tapi ia pun mengepal.


Felix tersenyum.


"Jadi, gimana rencana kamu ke depannya. Kan, kamu sekarang, singel parents?" Julio memasukkan satu butir kecil berwarna putih ke dalam cangkir Lestari.


"Lagi?" Julio mengangkat cangkir mengajak Lestari untuk melakukan cheers.


"Cheers!" kedua cangkir di tangan Julio dan Lestari ke atas untuk bersentuhan.


Glek...


Lestari dengan lugunya meneguk hingga tandas. Julio mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir tipis Lestari.


"Oh my God." Bruce tidak bisa menahan emosi nya lagi. Dia memukul keras mejanya lalu segera berjalan menuju meja Lestari dan Julio. langkahnya begitu lebar.


"Tari...Stop!" titah Bruce. Namun, karena sudah terpengaruh alkohol, Lestari hanya diam dia menatap Bruce lalu tersenyum.


"Kamu! hahaha." Lestari tertawa.


Bruce tersenyum sinis. Dan...


Burgh..


Satu pukulan melayang di pipi Julio.


"Itu pukulan untuk pria rendahan seperti, kau!" Bruce menunjuk tepat di bola mata Julio.


Julio kaget. Dia menyentuh pipinya yang sakit, " Awww," Julio merintih kesakitan.

__ADS_1


"Siapa kau? Beraninya mengganggu urusan aku!" Julio mengangkat tangannya hendak membalas pukulan Bruce.


Brugh!!


Kali ini satu tendangan melayang Di dada Julio.


" Harusnya aku yang tanya 'siapa kau?' Sehingga beraninya kau ingin menyentuh wanitaku!" Bruce menaikkan sudut bibirnya, alis matanya pun ikut terangkat, jijik dengan sikap yang barusan Julio lakukan.


Wanitaku? Sejak kapan Bruce menjadi kekasih Lestari? Sehingga Bruce mengklaim seenaknya?


"Ha.. dia janda! Jadi, bebas untuk siapa saja! Aku yang tangani kasus dia hingga dia menjanda!" Julio tertawa. Dia berusaha mengangkat tangannya lagi untuk membalas Bruce.


Krek...


Bruce dengan cepat menangkap tangan Julio. Dia memutar kedua tangan Julio ke belakang.


"Aku calon suami dari wanita yang kau ajak kencan ini," Bruce berbisik di telinga Julio. Matanya mengawasi Lestari yang sudah mulai oleng. Lalu, dengan kasar dia mendorong Julio hingga terpental di lantai.


Lestari meletakkan kepalanya diatas meja. Kepalanya mulai terasa pusing, tubuhnya terasa panas dan desiran darahnya mulai terasa aneh. Gelisah.


"Felix urus pria tidak tau malu itu! Sebelum aku nekat mencincang tubuhnya disini!!" perintah Bruce . Lalu meninggalkan Julio yang menatap Bruce penuh kebencian.


"Ayo pulang," Bruce meraih tangan Lestari.


Tapi, Lestari hampir saja jatuh. Bruce dengan sigap mengangkat tubuh kecil Lestari, bak bridal style.


Bruce melangkah lebar menuju mobilnya , yang terparkir didepan restoran. Dia tau Lestari sudah dijebak Julio. Hidup di dunia hitam membuat Bruce paham benar masalah murahan seperti yang dilakukan Julio barusan terhadap Lestari.


Security yang melihat Bruce menggendong Lestari keluar dari dalam restoran. Ia segera berlari untuk membantu Bruce.


"Buka saja pintu mobilku. Wanita ini biar hanya aku yang menggendong dia," ujar Bruce.


"Baik. Tuan!" Security itu membuka pintu mobil.


"Turunkan kursi mobil, agar wanitaku bisa tidur dengan nyaman," titah Bruce.


Bruce tidak peduli lagi dengan jawaban yang belum juga Lestari jawab. Dia ingin menjaga wanita ini dari godaan pria hidung belang.


Security segera melakukan sesuai perintah Bruce. Dia menurunkan jok kursi mobil sedikit lebih ke bawah Lalu, dia melangkah mundur kebelakang memberi ruang untuk Bruce membaringkan Lestari diatas kursi.


"Makasih,"


"Sama-sama, Tuan." balas Security itu.

__ADS_1


__ADS_2