Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Extrapart.


__ADS_3

Kembali ke Spanyol.


Waktu menunjukkan pukul empat sore waktu Spanyol Bruce baru saja selesai rapat bertiga dengan sisilia dan Felix di markasnya.


"Aku harus pulang. Sisilia tetap mengawasi rumah sakit begitu pun kau Felix terus pantau Black Scorpions. Aku seminggu ini masih sangat repot dan kau Felix mungkin aku juga akan melibatkan kau." Bruce berdiri dari sofa ia duduk.


"Baik, Tuan."


Felix berjalan lebih dulu dia menarik handle pintu lalu melangkah mundur memberi ruang untuk Bruce lewat.


Mafia itu bergegas keluar dari ruangan rahasia markas. Matanya menatap jam mahal yang melingkar di tangannya kakinya terus mengayun sangat cepat menuju halaman depan markas.


''Tuan,'' sapa anak buah yang berjaga di depan pintu markas.


''Hmmm...''


Pintu mobil di buka anak buahnya.


Bruce pun masuk ke dalam mobilnya. Kakinya menginjak pedal gas dan mafia itu memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Akhirnya hanya dua puluh menit dalam perjalan mobil Bruce berhenti di depan mansion. Dia keluar dari mobil lalu sedikit berlari memasuki mansion karena tidak ingin terlambat apalagi dia sudah merencanakan sesuatu.


Sesampainya di kamar Bruce menghempaskan tubuhnya di sofa dia mengeluarkan ponsel dari kantong celana lalu mulai mencari nomor Lestari. Setelah menemukan nomor Lestari, Bruce menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Drtthh...


''Hallo...Malam ini bisa temani aku?'' Tanya Bruce melalui sambungan telepon seluler.


[Malam ini?]


Terdengar Lestari sedikit kaget. Biasanya Jika ia ingin mengajak Lestari keluar sehari sebelumnya Bruce sudah memberitahu dia jadi Lestari selalu melakukan perawatan ke salon. Tapi malam ini tidak ada angin atau hujan Bruce mendadak mengajak Lestari keluar.


''Ya. Temani aku bertemu rekan bisnisku. Aku tidak enak pergi sendiri karena dia membawa istrinya. Sekarang bersiap-siaplah. Ingat jangan terlalu cantik tampilan biasa-biasa saja aku tidak ingin rekanku menatap wajah cantikmu.''


Lestari terkekeh sejak kapan mafia ini menjadi pelawak?


[Daridulu pun aku cantik.]


Lestari mencebik.


''Ya udah kamu siap-siap tiga puluh menit lagi aku sampai di rumahmu. Putri ke apartemen Rico, 'kan?''

__ADS_1


[Ya. Baru saja Tifani dan Rico menjemput dia pergi ke apartemennya.]


Klik...


Panggilan berakhir.


Lestari mencebik kebiasaan kalau mau bertemu selalu saja tidak sabaran, mengakhiri panggilan pun tidak mengucapkan salam.


"Dasar!" gerutu Lestari.


Sementara di mansion dengan dominasi warna hitam itu si mafia sedang membersihkan tubuhnya di bawah shower. Pria itu menggosok rambut dengan shampo sembari bersiul bahagia di bawah shower. Pria itu mengangkat kepala mendoangakkan kepalanya keatas membiarkan rintikan air hangat dari shower membasahi wajahnya.


Sepuluh menit membersihkan tubuhnya Bruce berjalan keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk putih di pinggannya. Tangannya mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih lalu melemparnya ke keranjang baju kotor samping lemari.


🌹🌹🌹🌹🌹


Lestari duduk di depan meja rias tangannya lincah memoles wajah cantiknya. Malam ini dia mengenakan dres tanpa lengan dengan belahan di dada.


Beep...


Mobil Bruce sampai di depan rumah Lestari satpam bergegas membukakan pintu pagar.


"Malam tuan,"


Bruce berjalan mengikuti satpam dari belakang keduanya masuk ke rumah Lestari.


"Nyonya ada di dalam, tuan. Mari silakan masuk."


"Terima kasih,"


Bruce pun masuk duduk di sofa ruang tamu dia tidak sabar menunggu wanitanya turun, sesekali Bruce menatap ke arah tangga tapi belum ada tanda-tanda Lestari turun.


"Huff...disuruh nggak boleh cantik-cantik kenapa jadi lama sekali?" Bruce mulai gusar.


Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.Mengirim pesan kepada seseorang. Usai mengirimkan pesan itu. Bruce mengirim pesan juga ke nomor Lestari.


[Masih lama? Apa kau mau aku mati penasaran dibawah sini?"]


Klik tombol send pesan terkirim.


Bruce tersenyum dia menunggu balasan dari Lestari. Namun, lagi-lagi tidak ada balasan. Justru terdengar hentakan high heels menuruni anak tangga.

__ADS_1


Bruce menelan Saliva dengan kasar, matanya sama sekali tidak berkedip minuman yang tadi di suguhkan Tati di atas meja diteguk Bruce sekali hingga tandas.


"Sudah lama menunggu?" tanya Lestari tanpa dosa.


"Belum.Kenapa sangat cantik? Sebaiknya kita disini saja aku tidak ingin pergi lagi."goda Bruce.


"Ck...sejak kapan kau berubah romantis sayang?"


"Sejak aku mengenalmu. Mari kita berangkat." Menggandeng tangan Lestari.


Bruce dan Lestari berjalan keluar menuju depan rumah. Security sudah membukakan pintu mobil untuk Lestari dan Bruce.


"Terima kasih."


"Sama-sama, tuan."


Lestari duduk dikursi depan samping Bruce.


Tanpa permisi Bruce meraih sabuk pengaman itu lalu memasang ditubuh Lestari.


Cup


Satu kecupan melayang dibibir indah Lestari seraya mengedipkan matanya. Lestari hanya tersenyum.


"Kita mau ke mana?" tanya Lestari seraya merapikan rambutnya.


"Ke hotel." jawab Bruce asal.


"Hotel?" Lestari menatap tajam Bruce.


"Bukannya tadi kau bilang ingin bertemu rekan bisnismu lalu mengapa kau mengubah rencana?" Lestari mencebik.


"Aku bercanda. Kita ke restoran, sayangku." Bruce meraih tangan Lestari dia mengisi jemarinya dengan jemari kurus Lestari di genggamnya begitu erat lalu mengangkat dan mengecup punggung tangan Lestari.


"Bagaimana aku tidak asal jawab? Sementara di sampingku ada malaikat tak bersayap yang menemani aku.Sungguh kau membangkitkan adikku." Bruce menatap lalu berkedip.


Wajah Lestari merona dia tidak mampu berkata lagi. Hanya bisa melayangkan satu cubitan di pinggang Bruce.


"Mulai. Nikah dulu."


"Ya, besok kita menikah." Wajah Bruce tampak begitu serius.

__ADS_1


"Jangan bermain-main dengan pernikahan sayang.Kita perlu mempersiapkan semuanya dengan matang." Protes Lestari.


"Ada Felix dan Sisilia yang diandalkan jangan takut soal kemampuan mereka."


__ADS_2