
Usai foto-foto, Putri dan Rico mengantri tiket masuk. Karena, tadi sibuk berfoto keduanya harus mengantri paling belakang.
''Ya papi, kita dapat dibarisan terakhir,'' Putri mnenghela napas. Padahal sejak foto tadi matanya sudah fokus melihat ke arah kerumunan anak-anak yang sedang mengantri es cream.
''Sabar sayang, kita harus mengikuti aturan yang ada, dimana yang datang terakhir harus mendapat barisan terakhir.'' Rico menjelaskan dengan sabar.
''Tapi, Putri mau beli es cream.'' rengek Putri.
''Nanti ya, setelah kita dapatkan tiketnya baru papi beliin es cream. Jika, kita beli sekarang nanti Putri makin lama dapat tiketnya, waktu kita juga makin sedikit bermain di dalam sana." Rico menggendong Putri. Dia mengerti dimana-mana anak kecil pasti akan ikutan meminta, jika melihat teman-teman seusianya sedang memburu makanan kesukaan mereka.
"Baiklah." Putri melingkarkan tangan di leher Rico.
Akhirnya setelah tiga puluh menit mengantri Rico dan Putri berhasil membeli tiket masuk. Waktu yang cukup lama hanya untuk mendapatkan tiket saja, maklum hri ini weekend semua keluarga liburan di kebun binatang.
"Ramai sekali nya Papi." celetuk Putri
"Iya, karena weeked semua memilih berlibur di Zoo bersama keluarganya." sahut Rico.
"Ya, sayangnya Mami nggak ikut." Wajahnya menunduk mungkin dia sedih.
"Mami, nggak sengaja tadi kata Mami pekerjaan kantor Mami banyak sekali.Kasihan, jika pekerjaan mami nggak selesai nanti weekend minggu depan Mami nggak bisa ikut lagi." Rico mendaratkan kecupan di pipi Putri.
"Ya, Putri mengerti."
"Jangan cemberut begitu, nanti cantiknya hilang." goda Rico.
"Papi, anak Mami Lestari itu selalu cantik. karena, kata Mami wajah Putri mirip Papi selalu manis." Putri tersenyum.
"Ya, kamu sangat mirip papi." Rico terharu.
Putri dan Rico memang sangat mirip. kebanyakan orang mengatakan mirip Lestari itu karena di lihat sepintas tapi jika diamati dengan sebaik-baiknya Putri lebih mirip Rico.
"Makasih sayang." Rico mencium pipi Putri lagi.
"Sama-sama, Pi."
Setelah mendapat tiket masuk, Putri langsung turun dari gendongan Rico. Dia menggandeng tangan Rico berjalan menuju tempat jual es cream.
''Putri, mau yang rasa strowberry.'' ucap Putri kepada paman penjual es cream.
''Baik. Tunggu ya dua orang lagi baru kamu, anak manis.'' paman es cream berkata sembari menatap wajah Rico lalu menatap Putri, dia membandingkan wajah mereka lalu mengernyit.
''Anaknya, Tuan?''
''Ya, dia putri saya. Jika bukan Putri saya, mana mungkin saya mengajak anak orang lain?" sewot Rico kesal.
''Wajah anak tuan, mirip ibunya, kecuali mata dan hidung baru mirip tuan,'' sahut penjual es cream sembari menyajikan es cream pesanan Rico dan Putri.
"Emang kamu kenal istri saya?" Rico penasaran.
"Nggak Tuan, saya hanya menebak karena anak Tuan sangat cantik sedangkan Tuan__" penjual es cream itu menggeleng kepala.
__ADS_1
'Mungkin dia rabun masa aku dibilang jelek?Apa dia nggak lihat, ini penampilan aku yang paling keren.' batin Rico.
''Aku yang rasa vanila ya pak,'' ujar Rico ketika melihat penjualnya hendak mengambil rasa strowberry juga.
''OKEY.'' Dengan cegatan penjual itu mengganti rasa vanila.
''Tadaa, sudah selesai anak manis.'' Lalu penjual itu memberikan es cream itu kepada Putri dan Rico.
''Terima kasih paman.'' ucap Putri sopan lalu ia menerima dua cone es cream karena Rico masih mengambil uang didompetnya.
''Sama-sama anak manis.'' Penjual itu tersenyum.
"Ini,kembaliannya diambil aja buat kamu." uang Rico seraya memberikan satu kembar poundsterling kepada penjual es cream itu.
"Terima kasih Tuan. Maafkan saya atas ucapan saya yang tadi. Putri tuan sayang mirip dengan tuan, sumpah benaran saya tidak mau berbohong lagi." penjua es cream itu tersenyum.
" Tidak apa-apa, saya bukan orang yang mudah tersinggung lagian saya tau anak saya sangat mirip saya." sahut Rico.
'Dibayar lebih aja lu baik-baikin aku.Dasar penjual mata duitan.' batin Rico.
Setelah membayar dua cone es cream itu, Rico dan Putri bergegas masuk ke dalam kebun binatang sembari menikmati es cream yang berada ditangan mereka.
Hari ini Rico benar-benar menyenangkan Putri, dia mengikuti ke mana Putri pergi. Putri anak yang penurut dia terus menggandeng tangan Rico, terkadang Rico mengikuti gaya Putri, berlari kecil, melompat kecil sembari terus bergandengan tangan, keduanya pun selalu mengambil setiap moment, Rico tidak mau melewati moment indah ini.
''Papi, lihat, itu apa?'' tanya Putri. Tangannya menunjuk ke dalam kandang harimau
''Yang mana sayang,''Rico mencari apa yang di maksud Putri.
Namun, Putri cepat-cepat mengambil foto Rico.
''Hore berhasil, ini foto papi yangt terjelek.'' Putri berlari. Lalu, dikejar Rico gemas.
''Awas aja ya papi akan balas.'' Rico akhirnya mendapati Putri dia menangkap dan langsung menggendong Putri.
''Ampun pi, Putri udah capek lari nya.'' Napas Putri tersengal-sengal sembari terus mempertahankan camera ditangannya.
''Yuk kita istirahat dulu ya.'' ujar Rico sembari mencari tempat untuk duuduk, '' Itu ada kursi kosong.'' Rico menggandeng Putri mereka pun menuju kursi kosong.
Keduanya duduk dikursi yang terbuat dari kayu itu. Rico mengeluarkan minuman dan jajan yang dibawa tadi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara dibioskop Cinema Rich semua sudah diblokir yang dibolehkan masuk, hanya orang-orang yang memiliki tiket khusus berwarna gold. Dan yang memiliki itu hanya Bruce dan Lestari.
''Selamat pagi,'' sapa petugas yang dibioskop.
''Pagi,'' sahut keduanya.
Lestari bingung melihat sekitar bioskop sebesar itu sepi seperti kuburan. Dia mengernyit sembari terus melangkah masuk ke ruang teater bersama Bruce.
''Bruce, kamu tidak kelirukan?'' tanya Lestari bingung.
__ADS_1
''Keliru apa?'' Bruce menoleh menatap Lestari.
''Bioskopnya. Apa ini rumah hantu, semuanya gelap ditambah lgi sepi seperti kuburan.'' Lestari mempercepat langkahnya dia melingkarkan tangannya dilengan Bruce.
''Nggak lah sayang. Ini bioskop sengaja aku blokir. Aku belum terbiasa menonton bersama banyak orang. Maaf ya, kamu nggak nyaman atau kita buka untuk umum lagi saja jika kamu keberatan.'' Bruce mengusap-usap tangan Lestari.
Keduanya duduk dikursi yang disediakan didalam teater itu, '' Nggak apa-apa aku mengerti.'' Lestari tersenyum.
Dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya sementara pasangannya belum terbiasa berada disekeliling banyak orang. Dengan menonton bioskop hanya berdua saja diteater yang sebesar ini membuat Lestari penasaran siapa sebenarnya Bruce.
Yang dia tahu Bruce, pengusaha kaya raya, tidak main-main untuk menanam saham. Dia tahu Bruce orangnya tertutup, dia tidak biasa bergaul dengan orang asing selain dua orang kepercayaannya hanya itu yang selama in Lestari tahu karena itu juga yang muncul di laman pencarian internet. Karen, diam-diam Lestari mencari tahu seorang Bruce lewat internet.
Film mulai di putar, Bruce dan Lestari fokus menatap layar besar yang terpasang didepan mereka. Bruce menautkan jarinya ke jari kurus Lestari, sesekali dia mencium punggung tangan Lestari.
Namun, tiba-tiba Lestari menitikkan air matanya, saat ada seorang wanita yang sakit parah, sayangnya wanita itu hidup sebatang kara dia tidak memiliki keluaraga. Wanita, itu menahan sakit dalam kesendrian, walaupun tulangnya digrogoti penyakit wanita itu terus tersenyum setiap ada dokter atau perawat yang datang menanyakan kabarnya.
Lestari menyenderkan kepalanya dilengan kokoh Bruce. Mafia itu, mengusap kepala Lestari, ''Kamu, kenapa menangis? Kamu, nggak suka filmnya?' ini gendre romantis walaupun wanita itu sudah di vonis stadium tiga tapi akhirnya ada keajaiban, hmm?'' Dia pun melayangkan satu kecupan diujung kepala Lestari.
''Iya, tapi aku nggak tega lihat dia menderita begitu.'' Lestari benar-benar merasa sesak dihatinya.
Namun, saat keduanya sedang menikmati filmnya. Tiba-tiba ponsel Bruce berdering.
''Sebentar aku terima panggilan dulu, kwatirnya ada yang penting.'' izin Bruce. Tangan kirinya terus menggenggam tangan Lestari.
''Baiklah.'' jawab Lestari. Wanita itu pun memilih fokus di filmnya.
Bruce mengeluarkan ponsel dari kantong celana, dia menggeser layar ponselnya. Dia melihat panggilan masuk dari Felix.
''Dari Felix.'' Bruce menunjukan nama pemanggil yang tertera dilayar ponselnya kepada calon ibu dari anak-anaknya. Karena, bagi Bruce tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari orang yang dia cintai.
''Ya, terima saja.'' Lestari tersenyum sembari memberi isyarat segera diterima panggilannya.
''Baiklah, sebentar ya.''
''Hallo, ada apa? Kau sudah kembali ke markas?''
Tanya Bruce melalui sambungan telepon. Bruce pikir Felix masih mengatasi semua yang dihotel sana.
[Saya sudah diyayasan kanker yang tuan suruh,]
Sahut Felix, sembari menatap wanita yang sedang berbaring didalam ruangan seorang diri.
''Kau, sangat tepat waktu.Anak buah yang selalu aku andalkan.''
Canda receh Bruce.
[Terima kasih atas pujian dari Tuan. Tapi, tuan saya menelpon ini karena orang yang tuan suruh saya selidiki itu. Dia adalah----]
Felix menarik napas.
''Ha? Siapa? Kau jangan membuat saya penasaran, katakan siapa dia?"
__ADS_1
Bruce semakin mengeratkan genggaman jemari dia dan Lestari.
[Dia---]