
Rico dalam perjalanan menuju rumah sakit, sesuai janjinya tadi malam kepada Rose sebelum dia ke kantor ia akan menjenguk Filipo terlebih dahulu.
Drtthh...
Rico melirik ponselnya, lalu kembali fokus menyetir, dia mengabaikan panggilan telepon itu. Namun, penelpon itu tidak menyerah dia terus melakukan panggilan berulang kali hingga Rico pun menyerah.
Ciiuutt....
Rico menepikan mobilnya ditepi jalan.
Dia meraih ponsel di dashboard mobil. Rico menggeser layar ponsel. Lalu menempelkan di telinga kirinya.
"Hallo...Ada apa? Aku sudah mengatakan jangan hubungi aku, jika kau hanya ingin mengajakku untuk berdebat," tekan Rico.Dia membuang napas kasar.
[Nggak ada apa-apa, aku hanya kangen. Aku pun sama, aku menelepon bukan ingin berdebat, aku kangen kamu. Hari ini tolong datang ke apartemenku,]
"Aku nggak janji, karena hari ini aku banyak jadwal meeting,"
[Baiklah.]
Rico pun mengakhiri panggilan.Dia melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
♥️♥️♥️♥️♥️
Tifani meremas ujung selimutnya, dia memejamkan matanya perlahan, air matanya luruh membasahi pipinya, hatinya seperti di cubit ketika mendengar penolakan dari Rico.
Tifani meletak'kan lagi ponselnya di samping bantalnya, kali ini dia tidak memiliki tenaga untuk bangun meletakan ponselnya diatas nakas. Seluruh ototnya lemas, tulang-tulang nya seperti ditusuk-tusuk jarum, tubuhnya panas. Tifani menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya berharap badan yang menggigil ini bisa hilang bola matanya pun terasa panas.
Sakit seperti ini, dia kangen Bruce. Walaupun dia seorang Mafia, Bruce tau cara merawat wanita, dia tau cara memperlakukan wanita dengan baik. Tifani merutuki dirinya namun tidak ada yang bisa ia salahkan.
Seulas senyum melengkung dibibirnya, "Aku hanya ingin kamu ke sini, aku sakit," lirihnya. Dia pikir Rico mengkhawatirkan dirinya.Tapi, nyatanya Rico sama sekali tidak menanyakan kabarnya sama sekali.
Tifani memejamkan kembali matanya namun tidak bisa, suhu tubuhnya benar-benar panas, dia memaksakan diri untuk bangun untuk mengambil obat.
Tifani menyibak selimutnya, kedua kakinya gemetaran, seluruh ototnya lemas untuk berjalan. Tifani menarik napas, " Kamu kuat Fani, jangan menyerah!" Kedua tangannya ditopang di tepi ranjang. Tifani mulai berjalan perlahan dengan kedua tangan berpegangan di dinding kamar. Akhirnya dia sampai juga diruang makan, tempat simpan kotak p3k miliknya. Tifani duduk dikursi, tangannya meraih tempat berbentuk segiempat berwarna putih itu. Tifani mulai membuka lalu mengambil dua tablet obat dan meminumnya.
Tifani memaksa diri menelan dua tablet obat itu. Lalu, tangannya meraih cangkir berisi air mineral diatas meja dan meneguk hingga tandas, setelah minum dia pun meletakkan lagi cangkir diatas meja. Tangannya meraih tisu untuk membersihkan mulutnya.
Tifani, merasakan dadanya seperti dicekram begitu keras, ia merasakan sakit, teramat sakit, dia menekan bagian dada kirinya. Dia pun mulai kesulitan bernapas. Tifani tau sakitnya kali ini berbeda tidak seperti biasanya. Dia menitikkan air mata, " Ibu aku takut," lirihnya.
__ADS_1
Tifani berharap, Rico bisa datang ke apartemen. Dia ingin meminta tolong kepada Rico menemani dia ke dokter untuk melaku USG. Karena, dia sama sekali tidak bisa menyetir sendiri. Sebagai seorang Dokter, dia tau gejala apa yang ia rasakan saat ini, namun dia menepis pikiran buruk itu.
Tifani mengedarkan pandang disekeliling ruang tamu. Bibirnya melengkung membentuk senyum. Setelah merasa tenaganya sudah terkumpul lagi. Tifani berdiri dia berjalan masuk kembali ke kamarnya, untuk beristirahat karena obat yang dia minum mulai bekerja.
♥️♥️♥️
Di ruang rawat.
Rose yang baru keluar dari kamar mandi, berjalan ke depan pintu dia tersenyum.
"Pagi-pagi, datangnya." Rose menyambut uluran tangan Bruce dan Lestari mereka bersalaman.
"Iya. Ayah lagi apa?" Lestari langsung berjalan ke arah bed pasien dimana Filipo sedang melirik ke arah pintu masuk.
"Ayah," Lestari langsung memeluk tubuh Filipo dia meletakan kepalanya diatas dada Filipo dengan lembut.
"Kamu pagi-pagi sekali ke sini. Cucuku ditinggal lagi?" tanya Filipo.
"Dia bersama Rico," sahut Lestari. Dia menarik kursi lalu duduk di samping
bed pasien.
"Bukannya, kalian_" Filipo menatap wajah Lestari.
"Ayah, tidak perlu cemas atau kwatir aku baik-baik saja. Aku tau batasan kami sekarang, Rico pun semakin baik." sambung Lestari ketika dia melihat ayahnya ingin mengucapkan kata maaf.
"Semua itu karena kesalahan ayah," sesal Filipo.
"Tidak. Anggap saja Rico, angin yang mampir lewat sebentar. Dia bukan jodoh Lestari," Lestari memijit tangan ayahnya, "Gimana sudah baikan?" tanya Lestari mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, kata dokter Ayah besok udah boleh pulang," jawab Filipo antusias, "Ayah ingin pulang melihat cucu Ayah." Filipo tersenyum membayangkan hebohnya Putri ketika menyambut Filipo menemui dia.
"Dia semakin cerewet. Dia juga sudah bisa protes jika Tari pulangnya malam," cerita Lestari.
"Ngomong-ngomong tadi Ayah melihat ada dua bayangan, siapa yang datang bersama mu tadi?" tanya Filipo.
"Oh dia temanku. Ayah juga pasti mengenal dia," jawab Lestari. Lestari menoleh mencari keberadaan Bruce.
"Lalu, dimana dia? Kenapa tidak masuk?" Filipo mengedarkan pandang mencari keberadaan Bruce.
__ADS_1
Lestari pun heran kenapa Bruce menghilanh seperti ditelan bumi, dia tidak ada disana. " Mungkin dia masih cari udara di luar," celetuk Lestari.
"Hallo pak Filipo." Tiba-tiba Bruce muncul dengan bucket bunga ditangannya. Dia meletakan bucket bunga itu diatas nakas dekat bed pasien Filipo berbaring.
Lestari mengernyit seingatnya tadi mereka datang, dia dan Bruce tidak membeli bunga karena tidak sempat mampir di tokoh bunga. Lalu? Bucket ini Bruce dapat dari mana?
"Pagi, Tuan Bruce." Filipo berusaha untuk bangun. Namun, Bruce memberi isyarat dengan mengangkat tangannya meminta Filipo tetap berbaring saja.
"Pak Filipo berbaring saja." ucap Bruce, dia menerima kursi dari Rose, " Terima kasih." ucapnya.
"Tuan, kenapa tuan repot-repot ke rumah sakit? Ternyata kabar ini sampai di telinga tuan juga." Filipo merasa tidak enak.
"Saya tidak merasa direpotkan. Saya ke sini bersama Lestari," Bruce melirik Lestari.
"Benar. Bruce yang selalu menemani saya. Beliau ini yang saya ceritakan kemarin kepada ayah." timpal Lestari.
"Maafkan anak saya, Tuan." Filipo menunduk.
Bruce tersenyum, " Tidak ada yang bersalah dan tidak ada yang harus dimaafkan. Saya ke sini murni dari hati saya, karena saya teman dari putri pak Filipo," jelas Bruce.
Lestari menghela napas, Bruce tidak membicarakan hubungan mereka kepada Filipo.
"Bagaimana keadaan pak Filipo?" tanya Bruce.
"Lebih baik. Rumah sakitnya bagus, pelayanannya pun bagus," puji Filipo.
Bruce tersenyum, ternyata dokter melakukan semua perintah dari dirinya.
♥️♥️♥️♥️♥️
Rico berdiri di koridor, dia menatap dari jendela. Air matany penuh dipelupuk matanya, ternyata Lestari tidak pulang karena lebih memilih bersama Bruce daripada pulang ke rumah.
"Mungkin dia tidak nyaman karena ada saya di rumahnya," batin Rico.
Rico melirik bucket bunga yang ada di genggamannya, lalu menatap lagi ke dalam ruangan. Dia melihat keakraban Filipo dan Bruce, membuat Rico tidak nyaman. Rico membalikan tubuhnya dia ingin ke kantor saja. Namun, saat dia hendak pergi meninggalkan rumah sakit, Rose datang.
"Rico, kenapa nggak masuk? Di dalam ada Tari dan temannya." tanya Rose.
Rico menghentikan langkahnya dia menoleh ke belakang matanya bertemu dengan mata Rose, "Bunda, maaf lain kali saja saya ke sini lagi. Tadi ada telepon mendadak dari kantor." Rico memberikan bucket itu kepada Rose.
__ADS_1
"Tapi, sebaiknya kamu masuk dulu," pinta Rose.
"Sore pulang kerja barulah Rico mampir ke sini lagi. Titip salam untuk Ayah." Rico membungkuk, 'kan badannya, " Permisi, Bunda." Lalu dia pun bergegas meninggalkan rumah sakit sebelum Bruce atau Lestari melihat kehadiran dirinya di rumah sakit.