Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Panik.


__ADS_3

Bruce duduk disamping Lestari. Dia menarik lembut tangan wanita itu.


''Mendekat ke sini,'' ucapnya seraya menyalakan laptop Rico.


Lestari bergeser mendekat sesuai permintaan Bruce. Rico mengepal melihat kedekatan Bruce dan Lestari. Tapi, Bruce kesulitan memasukan file cctv apartemen di laptop Rico. Dia tidak tau pasword laptop Rico. Pria itu menggertakkan giginya dia mendongak menatap Rico.


''Kau masih jadi patung disitu? Kau tidak dengar daritadi kekasihmu ngotot minta bukti?'' Terpaksa dia harus berbicara dengan Rico.


''Tari, kamu bisakan nyalakan laptopku? Bukannya pasword ku kamu yang kasih ide?'' celetuk Rico.


Bruce mengepal. Pria itu sangat kesal kenapa Rico mengabaikan pertanyaan dia? Malah balik bertanya pada Lestari?


''Ciuh,'' Tifani berdecih, Dia menopang dagunya sembari menggoyangkan kaki. Dokter itu begitu kesal kenapa kedua pria ini seakan berlomba-lomba menunjukkan sikap manis mereka untuk Lestari.


Bruce menatap tajam Tifani. Dia tidak percaya anak kecil yang dulu dia didik dengan baik bisa berperilaku seperti orang tidak berpendidikan.


Sementara jari Lestari mulai menari diatas laptop. Dia mengambil file itu dan memasang dilaptop Rico. Rekaman mulai berputar.


''Kemari lihat juga rekamannya. Biar tau kelakuan kekasihmu ini,'' ujar Bruce. Dia menatap tajam Rico.


Rico melangkah, dia datang duduk disamping Tifani. Wajahnya kini mulai memerah, dia melirik wanita yang berada disampingnya. Sementara Tifani mulai keringat dingin.Namun, dia masih berusaha tenang.


'Tenang,' batin Tifani menghela napas.


Rekaman mulai bergerak sama persis dengan yang dilihat Lestari dan Bruce di ruang kerja Bruce. Tifani mulai panik, dia memeluk tasnya lalu bergeser mendekati Rico lebih rapat lagi. Rico menoleh Tifani sebentar lalu kembali fokus dilayar laptop.


Bruce menggenggam tangan Lestari tidak peduli dilihat Rico. Dia semakin menunjukan perasaannya untuk Rico.


''Nggak sayang, jangan percaya aku yakin ini manipulasi mereka berdua,'' ucap Tifani. Jarinya menunjuk Bruce dan Lestari. Dia menggeleng lalu menggenggam tangan Rico. Sedangkan Bruce tersenyum sinis.

__ADS_1


''Jangan percaya rekaman itu sayang,'' pinta Tifani lagi.


''Diam!'' Tiba-tiba Rico membentak Tifani. Dia meremas tangannya begitu kencang. Ketika ada adegan dimana Tifani tertawa puas.


''Sayang?'' Tifani menatap Rico. Air matanya mulai membasahi pipinya. Dokter itu tidak percaya kenapa Rico bisa membentak dia didepan Bruce dan Lestari.


''Aku mau pulang,'' Tifani berdiri. Dia menenteng tas dibahunya. Namun, dengan cepat Bruce berdiri dan memaksa dia kembali duduk.


''Duduk!'' tegas Bruce. Mafia itu bangkit berdiri lalu dengan kasar mencengkram bahu Tifani.


''Lepaskan!' pekik Tifani berusaha melepas cengkraman Bruce di bahunya.


''Aku suruh duduk. Kau mau duduk atau aku yang bertindak?'' Sorot matanya menatap tajam Tifani dengan menaikkan satu alis matanya.


Tifani yang sudah mengenal Bruce dengan kesal kembali duduk di sofa.


''Ihhh...'' Bruce berdengus kesal. Lalu kembali duduk disamping Lestari.


Rico semakin penasaran hubungan seperti apa antara Bruce dan Tifani? Dia mulai curiga dengan kedekatan kedua orang itu. Tapi, dia tidak ingin bertanya niatnya nanti setelah pulang baru akan ia tanyakan di Tifani saja.


''Tadi kau minta bukti itu buktinya sudah ada. Terus kenapa kau dan Rico hanya diam?'' tanya Lestari.


''Aku tidak diam,'' celetuk Tifani.


''Terus apa? Daritadi bicara nggak jelas Bukannya fokus dengan rekaman itu.'' timpal Lestari. Wanita itu sudah lebih tenang.


''Aku nggak percaya. Aku yakin itu hasil rekayasa,'' cebik Tifani.


''Sejak kapan rekaman itu rekayasa? Sekarang kau berani memutar lidah. Sebelum aku yang bongkar sebaiknya kau jujur atau aku hubungi pihak berwajib? Aku berharap kau tidak lupa hubunganku dengan aparat keamanan dinegara ini,'' ancam Bruce.

__ADS_1


Tifani menelan kasar salivanya. Sebenarnya dia sangat panik namun demi kepercayaan Rico ia rela berbohong apapun cara dan akibat yang ditanggung nantinya.


''Panggil saja!'' tantang Tifani.


Bruce tersenyum sinis, ''Aku kasih kau satu kesempatan lagi.'' Dia merangkul pinggang Lestari. Wanita itu mulai risih dengan perlakuan Bruce yang begitu lembut namun dia hanya diam.


Tifani tercekat dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


''Kalau bukan manipulasi apalagi? Aneh saja ada orang asing tiba-tiba masuk dalam apartemenku itu lucu,'' sindir Tifani.


''Siapa yang orang asing?'' Bruce balik bertanya.


''Itu rekaman dalam apartemenku, pertanyaanya siapa yang berani masuk apartemenku selain aku dan Rico? Nggak ada orang lagi yang tau pasword apartemenku,'' ucap Tifani.


''Kau masih sehat? Belum amnesia dadakan,'kan?'' celetuk Bruce.


''Aku sehat,'' cebik Tifani.


''Lalu kenapa kau mulai ngelantur?'' Bruce berdiri dia melepas rangkulan dari pinggang Lestari.


''Kau mau apa?'' Tifani menatap Bruce yang semakin mendekati dirinya.


''Mau sadarkan kau dari mimpimu,'' ucap Bruce sinis.


Lestari dan Rico hanya diam, mereka hanya menjadi penonton. Bruce mendekatkan wajahnya ditelinga Tifani. Dokter itu berusaha menjauhkan telinga dari wajah Bruce. Namun, dengan cepat Bruce menahan kepala Tifani.


"Kau lupa siapa pemilik sesungguhnya apartemen itu? Kau mau saat ini juga aku usir kau darisitu? Lalu kau hidup seperti dulu lagi? DIJALANAN!!!" Bruce menautkan kedua alisnya. Tifani mendorong wajah Bruce menjauh dari wajahnya.


Rico mengepal. Rasanya dia ingin keluar dari ruang kerjanya saja. Tapi, dia ingin menyelesaikan masalah ini.Karena, Rico juga tidak ingin terjadi hal buruk dengan Filipo akibat perbuatan Tifani. Dia tau hubungan baik ayahnya dan Filipo.

__ADS_1


__ADS_2